Terpaksa Menjadi Istri CEO

Terpaksa Menjadi Istri CEO
Episode 53


__ADS_3

Daniel disambut wajah jutek jelek milik istrinya. Untungnya Kanaya jadi tetap cantik meski dengan wajah masam. Daniel mengambil Savana dari gendongan Anisa dan mengajak putrinya mengobrol. Wanita itu membawa tas kerja suaminya ke kamar lalu turun kembali ke dapur. Karena akan menyiapkan makan malam untuk Daniel yang sudah bekerja keras banting kertas di kantornya. Bukankah sudah kewajibannya memberikan pelayanan maksimal sesampainya di rumah.


Dia tahu bahwa, istri yang suaminya butuhkan adalah dia. Di situ terkadang Aniaa sangat bangga atas prestasinya sebagai istri yang baik dan budiman tapi kadang-kadang melawan. Tapi dari semua itu yang paling penting adalah, dia tidak masuk kategori durhaka. Setidaknya belum


merambah ke sana.


"Yank, aku mau makan yang kamu buatin satu tahun lalu!" teriak Daniel yang terdengar seperti regues.


"Memangnya kamu makan cuma sekali dalam satu tahun ke belakang, mana aku ingat apa yang pernah kamu makan dan aku masak," omel Anisa kesal.


Daniel tampak terkekeh mendengarnya, ia mengikuti Kanaya ke dapur. Savana sendiri sangat senang saat ayahnya menggoda ibunya. Gadis kecil yang masih belum tumbuh gigi itu sangat senang. Daniel sekarang jadi tahu kalau putrinya bisa diajak kerja sama kelak.


"Mas, kamu bantuin masukin itu dong."


"Masukin apa?" tanya Daniel bingung. la mengajak putrinya berbicara.


"Savana, apa kamu tahu apa yang Mamamu maksud?"


Gadis kecil itu menggeleng sambil mengeluarkan bahasa bayinya yang hanya bisa dimengerti oleh dia sendiri. Anisa melipat kedua tangan di dada dan menatap keduanya tajam. Savana yang tidak dikecualikan juga akhirnya menangis. Yang salah di sini adalah ayahnya bukan dia. Lalu kenapa dia juga ikut kena pelototan tajam ibunya.


"Sayang, kamu membuat putri kita ketakutan, cup cup anak ayah kembang kuncup." bayi mungil itu tampak menepuk kedua tangannya dengan gaya abstrak. Lagi-lagi ia sudah berkonspirasi menyudutkan Anisa .


"Sekarang kamu ketawa, kalau Mama pelototin kamu nangis," omel Anisa gemas lalu mencubit pipi gembul putrinya sehingga terdengar suara tangisan.

__ADS_1


"Ya ampun, sayang maafin Mama, nyubitnya kekencengan ya, cup sayang anak Mama." Anisa membawa putrinya menjauh dari dapur dan melotot ke arah Daniel .


"Selesaikan masakannya, kamu tinggal kasih aja garam halus di sudut sana ya." tunjuk Anisa. Daniel hanya mengangguk saja tanna membantah karena dia tidak tahu harus membantah apa.


"Duh, ini garamnya takarannya berapa, salahku juga nggak pernah lihat Anisa masak, dasar suami."


Daniel berjalan ke sana kemari untuk mencari takaran garam untuk sayur buatan istrinya. Mana tahu ada terselip di bawah meja, atau di atas kulkas. la membuka semua lemari dapur tanpa terkecuali. Namun, takaran yang dia cari tidak ditemukan. Daniel menghela napas kasar dan kembali melanjutkan masakan istrinya.


"Terserah deh, takarannya mau gimana. Yang pasti kalau garamnya banyak, nanti akan asin dan kalau garamnya sedikit tidak akan ada rasa." gumam Daniel. Kalau dipikir-pikr dia pintar juga menemukan takaran garamnya.


"Lalalala... Masak begini sih gampang, lalalalala gampang banget masaknya," ucap Daniel bangga. Ia berdendang ria di dapur sedangkan Anisa menidurkan putrinya ke kamar.


"Biarkan aja Papamu masak sendirian, biar dia tahu sesulit apa masak tanpa ilmu." Anisa tertawa jahat dalam hati. Tapi ia sedikit takut, bagaimana kalau masakan suaminya menjadi racun. Bisa mati mereka


sekeluarga.


"Jadi, gimana masakannya?" tanya Anisa dari belakang.


"Oh my love, akhirnya kamu datang juga. Masakan gini mah mudah tuh lihat, masakannya sudah jadi."tunjuk Daniel pada sebuah mangkuk.


"Wow sayang, aku nggak nyangka kamu bisa masak. Kamu benar-benar suami idaman." puji Anisa lalu mencicipi masakan suaminya. Sebenarnya ini masakannya, Daniel hanya bertugas memberi garam saja.


"Gimana sayang, enak nggak?" tanya Daniel dengan was-was, sebentar lagi ia akan menerima sebuah pujian."

__ADS_1


"masakannya lumayan," ucap Anisa misuh-misuh.


"Mendinglah Yank," ucap Daniel dengan bangga


"Emang mending dan lumayan membuat orang muntaber!" sarkas Anisa, ia segera mengambil gelas dan meneguk air dengan rakus. Bahkan rasa asin tidak juga pergi dari lidahnya.


Daniel juga mencicipi masakan buatannya dan berhasil merebut gelas istrinya. Keduanya rebutan mendapatkan air minum untuk menghilangkan rasa asin di lidah


masing-masing.


"Gila, ini gila!" teriak Daniel dan kembali meneguk air minumnya.


"Kamu ambil gelas lain sana, ini gelasku." Anisa merebut gelasnya dan meneguk isinya sampai tandas.


"Aku selalu rela membagi segalanya denganmu, masa kamu gelas aja nggak mau berbagi." Daniel kembali merebut gelasnya.


Mereka berdua saling berebutan sampai guling-guling di lantai dapur dan siap dijadikan pepes.


Bersambung....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa jadiin favorit ya, biar bisa dapat notifikasi saat novel ini up. Dan jangan lupa like, vote, dan komentar yang positif. Terimakasih, kalau mau ngasih kritik dan saran juga boleh, itu bagus. Jadi saya tahu mana yang salah dan mana yang benar. Salam hangat dari  saya. 🤗

__ADS_1


Oh iya, kalau mau lebih dekat dengan sang penulis, teman-teman bisa Follow ig aku @Aisyahsnisa.07atau fb aku Aisyahanisa


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2