
" Kenapa lagi dengan sekretaris mu,?" Angga duduk sambil meletakkan cangkirnya dimeja.
Daniel menghela nafas dan insiden kehilangan tender miliaran rupiah rawat marah masih terlihat jelas di matanya masih untung dia memecat bukan membunuh wanita itu kewarasan masih menyuruh untuk sekedar marah.
" Papa tau, proyek A&N Company hilang begitu saja padahal Daniel bekerja bagai kuda agar bisa memenangkan tender tersebut." terangnya dengan dramatis.
"Ini sudah kesepuluh kalinya Daniel. " Laras datang dan meletakkan cemilan kehadapan keduanya.
"Mereka tidak ada yang kompeten sama sekali, pa. semuanya hanya menang tampang tapi otak nihil ! "
Anisa datang membawa minuman kemudian ikut Duduk di ruang tamu tersebut harus melihat kearah Anisa dengan sesama ia sedang menilai Mana tahu bisa dijadikan sekretaris di perusahaan keluarga mereka.
" Anisa Kamu lulusan apa?" tanya Laras penasaran selama ini ia tidak pernah mengetahui mengenai pendidikan mantunya.
Anisa yang sedang makan keripik singkong menghentikan kunyahannya.
" S1 perkantoran, Ma. " Ia kembali melanjutkan mengunyah keripiknya.
"Terus riwayat pekerjaan kamu bagaimana? "
"Nisa pernah bekerja di A&N Company sebagai sekretaris. "
Mereka bertiga melongo melihat kesantaian. Anisa wanita itu terlihat biasa saja padahal perusahaan A&N Company merupakan perusahaan terbesar di Asia Tenggara. Bahkan setiap dibuka lowongan pekerjaan pasti akan banyak yang mendaftar dan mengantri panjang hanya untuk mengikuti interviewnya.
"Terus kenapa kamu keluar sayang? " tanya Laras penasaran.
"Anisa mengundurkan diri karena suatu insiden,Ma." Desah Anisa dengan sedih.
"Insiden apa? "
"Hus, itu hal pribadi istri kamu jangan kepo deh! " tegur Anita.
Daniel mengambil keripik dan menyumpah penuh ke mulutnya. Di sela kunyahannya ia mendemel kesal sambil misuh tak jelas. Sedangkan Anisa sedikit nostalgia, ia sebenarnya sangat merindukan lingkungan kantor namun insiden tersebut membuat trauma bekerja di area perkantoran.
" Nah jawabannya sudah dapat." Laras tersenyum misterius.
__ADS_1
" Memangnya soalnya yang mana Mah." Anisa bertanya dengan bingung tahu tuh sudah ada jawaban yang dia dengar.
" Kamu tinggal terima beres aja, nanti semua biar suamimu yang ngatur."
Anisa mengangguk patuh ia mengelus perut yang sudah sedikit menonjol rasa haru kerap ia rasakan saat melihat dirinya sedang mengandung selama Tiga bulan tidak jarang ia sering curhat adakan pada buah hatinya ia berharap saat sudah Tujuh bulan, Daniel akan ditendang tentang oleh calon bayi mungilnya.
" Apa kamu udah siap?" Daniel membawa flat shoes milik Anisa yang ia beli kemarin sore di mall.
" Sudah," ucapkan Anisa mengambil sepatunya tapi Daniel untuk memakai kan pada istrinya.
" Terima kasih."
" Cuma itu?"
" Thank you my husband!"
"Bibir suaminya nggak sekalian minta dicium dari tadi buruan."
Anisa mendengkus selalu mencium bibir suaminya Sekilas. Daniel kesel dan mencium Anisa lama sampai Wanita itu menjewer telinga Daniel saat nafasnya mulai tersengal. kemersaan ambyar ditelan kata teriakan kesakitan suaminya suka sekali mencari Kesempatan Dalam kelapangan.
" Siapa suruh yang sampai aku nggak bisa nafas." dumelnya. jantung Anisa kembali berdetak tak karuan ingatan tentang tetangganya dan ucapan dokter dan selalu membuatnya sedikit lega meskipun masih khawatir.
"Ayo kita berangkat! " Daniel mengambil tas Anisa dan mengacungkan kelepet istrinya.
Keduanya berjalan pelan menuruni tangga, di bawah Laras dan Angga terlihat sedang menunggu mereka untuk sarapan.
Selesai sarapan mereka segera menuju kantor. Di sinilah Annisa berada di kantor suaminya. Saat memasuki lobi perusahaan, puluhan mata melihat kearah Anisa yang berpenampilan sangat sederhana, sangat berbeda jauh dengan penampilan mereka yang ada disana danilla membawa Anisa menuju ruangannya dengan memasuki lift khusus petinggi perusahaan.
"perusahaanmu besar juga. "
"Sudah dibilang, selain tampan abang juga makan dek. " Goda Daniel berhasil membuat Anisa mencubit perut sixpacknya.
" Baiklah Tuan tampan dan mapan tapi ditinggalkan Sang Mantan."
" Anisa!" Daniel mengurungkan kekesalannya saat lip sudah terbuka.
__ADS_1
" Di sana meja kerjanya." tunjuknya.
"Lumayan, " Ucap Anisa sambil mengitari interiornya.
"Apa? Kamu bilang Lumayan? "
"Iya lumayan untuk ukuran seorang sekretaris."
"Memangnya dulu gmana ruang kerjamu diperusahaan itu.?"
Anisa merogoh tasnya lalu mengambil benda pipi mengutak-ngatik sebentar lalu menunjukkannya pada Daniel. wajah Daniel mengerut kesal.
" Besok akan ku ganti sama yang lebih mewah dari itu."
" Nggak usah aku nyaman gue sama ruangannya."
" Daniel karyawanmu tahu kalau kita ini sepasang suami istri?"
" Nggak ada yang tahu kecuali petinggi perusahaan kemarin yang diundang hanya menggelintir petinggi." terang Daniel membuat Annisa mendesah lega.
" Oh baguslah kamu nggak mau mereka tahu kalau aku ini istri kamu," ucapan Isa penuh harap.
" Kenapa begitu?" tanya Daniel kurang senang Padahal di luar sana banyak yang ingin menyandang status sebagai istrinya Tapi tetap saja dana maunya sama Anisa seorang.
" kamu tahu terkadang orang berteman Untuk memanfaatkan status seseorang."
Daniel mengangguk paham." Baiklah Hus hus kerja yang bener ya istriku yang manis."
" Emangnya aku kambing. Jangan pernah meragukan kinerja ku Tuan Daniel!"
Daniel tertawa pelan melihat raut kesal di wajah istrinya. Wanita itu meskipun polos. Namun, seperti menyimpan sesuatu Entahlah sekarang ia sudah sangat nyaman dengan kehadiran Anisa dalam hidupnya. Daniel tahu bahwa istrinya bukan gadis sembarangan. Betapa ruginya pria yang sudah mencapai kan sang istri. Namun Daniel sangat bersyukur karena istrinya pernah dicampakkan. Coba kalau tidak mungkin Iya akan memperistri wanita matrealistis.
...******...
...Happy Reading All 😉...
__ADS_1
...******...