Terpaksa Menjadi Istri CEO

Terpaksa Menjadi Istri CEO
Episode 36


__ADS_3

Siang itu Daniel pergi menemui temannya yang bekerja sebagai detektif di perusahaan swasta. Karirnya di dunia detektif sudah tidak diragukan lagi. Banyak kasus besar yang sudah ia pecahkan. Mereka bertemu di kantor Daniel.


"Selamat siang, Pak. Ada tamu ingin menemui Bapak." Sekretarisnya memberi tahu.


"Persilakan beliau masuk."


"Baik, Pak."


"Pak, silakan masuk," ucapnya dengan sopan. Sudut bibir pria itu terangkat sedikit melihat tutur kata sekretaris itu.Pakaiannya juga tergolong sopan.


"Terima kasih," ucapnya sambil memberi senyuman kecil dan berlalu dari sana menuju ruangan Daniel .


"Ada apa memanggilku kemari?" tanyanya dengan serius.


"Sepertinya istriku ada masalah dengan orang di masa lalunya. Entahlah, aku juga tidak mengerti." desahnya lesu.


"Oke, aku akan membantumu, tapi sebelum itu aku harus tahu dulu akarnya. Ibarat ingin menanam pohon, bukankah kita harus tahu terlebih dahulu hidupnya harus pakai akar atau tidak."


"Apa yang kamu butuhkan? Uang? Ketenaran?"


Pria yang biasa disapa Elka itu, mengetok keras kepala Daniel membuat pria itu meringis. "Apaan sih!" dengkusnya.


"Aku sudah memiliki semuanya jika kau lupa," sinis Elka.

__ADS_1


"Ya, baiklah. Sekarang apa yang harus aku lakukan?"


"Pertama-tama sadap ponsel istrimu, paling mudah itu sadaf wattsap-nya."


"Terus!"


"Dari sanalah kita bisa tahu akarnya, jika kamu keberatanenyadapnya kamu bisa mengambilnya saat dia tidur atau


dengan alasan lain, Terserah!"


Daniel mendengarkan dengan khidmat. Kepalanya sudah mirip burung pelatuk. "Terima kasih, Bro. Nanti kalau ada perkembangannya akan fiberitahu lagi ya."


"Ok sama-sama."


"Betewe, sekretarismu cantik juga," bisiknya.


la kembali duduk dan merenung di kursi kebesarannya. Sebagai suami jelas ia tidak becus. Sedangkan Anisa, sejak kapan istrinya pandai bermain rahasia-rahasiaan. la mengambil ponselnya, rasa rindu mampir dalam detakan jantungnya. la tersenyum membayangkan Anisa dengan celemek sambil sesekali menggendong Savana.


Anisa sedang memasak untuk nanti malam. Putrinya ia taruh di tempat dudukan khusus bayi. Tangannya dengan cekatan menggoreng ikan gurame dengan  sambel kasar khas Padang. Sesekali matanya mengawasi Savana. Ponsel yang ia letakkan di atas meja makan pun berbunyi. Awalnya terlalu malas meninggalkan pekerjaannya. Namun, suara ponselnya tidak juga berhenti berdering.


"Siapa sih, iseng banget sama bu-ibu," kesalnya. la mematikan kompor terlebih dahulu baru berjalan menuju meja makan. Keningnya mengernyit sempurna melihat si pemanggil tidak terdaftar dalam kontaknya.


la menggeser pelan touch ke arah hijau dan kini Anisa bisa mendengar suara di seberang.

__ADS_1


"Halo Kesayangan," bisik seseorang yang membuat bulu kuduk Kanaya merinding seketika.


"Si... siapa ini?" tanya nya untuk memastikan.


"Apa kau sudah lupa denganku?"


tanya suara itu dengan berat.


"Jangan mengangguku!"


Anisa sengera menonaktifkan ponselnya. la mulai ketakutan, matanya sudah tidak fokus. Rasa itu, begitu dekat dengan indranya. la mual dan pusing. Tubuhnya jatuh ambruk ke lantai.


"Bu Anisa !" panggil salah satu pembantunya yang baru pulang dari super market.


"Bi... Tolong hubungi Daniel ," ucapnya dengan terbata.


la seperti kehilangan oksigen serta paru-paru untuk sekadar bernapas. Rasanya menyesakkan. Kenangan yang coba ia kubur kembali menghantuinya. Pria itu sumber dari segala kekacauan yang ia hadapi selama ini. Tubuhnya jatuh pingsan.


"Tuan, Nyo ... nyonya pingsan!" teriak Levi membuat Daniel kalang kabut di seberang sana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa jadiin favorit ya, biar bisa dapat notifikasi saat novel ini up. Dan jangan lupa like, vote, dan komentar yang positif. Terimakasih, kalau mau ngasih kritik dan saran juga boleh, itu bagus. Jadi saya tahu mana yang salah dan mana yang benar. Salam hangat dari  saya. 🤗

__ADS_1


Oh iya, kalau mau lebih dekat dengan sang penulis, teman-teman bisa Follow ig aku @Aisyahsnisa.07atau fb aku Aisyahanisa


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2