
Anisa dan Daniel sudah berangkat ke kantor. Pagi ini mereka akan rapat dengan beberapa pemegang saham di perusahaannya. Untuk membahas proyek yang akan mereka tangani. Mobil Daniel sudah sampai di depan kantor. Ia beserta Kanaya segera turun dari sana. Puluhan bola mata memandang takjub pada sosok Daniel yang menjadi ikon ketampanan di perusahaan tersebut.
"Bersyukur banget ya Bu Anisa menjadi istri seorang CEO tampan dan kaya raya." celetuk salah satu karyawan di sana.
Amelia menatap kesal ke arah Kanaya. Tangannya mengepal erat, wanita itu mengumpulkan semua amarah di bola matanya. Jika itu laser maka apa pun yang ia tatap pasti akan hancur. Daniel adalah pria pertama yang sangat ia sukai dengan segenap jiwanya. Namun, Anisa merusak segalanya. Sewaktu pria itu bersama Risma dulu, kebencian Amelia tidak sedalam ini.
"Selamat pagi, Bu Anisa , Pak Daniel!" sapa beberapa karyawan yang berada di lobi. Keduanya tersenyum singkat lalu segera masuk ke dalam lift.
"Bu Anisa benar-benar beruntung ya. Andai aku yang sama Pak Daniel." Angel melihat keduanya dengan tatapan iri.
"Jangan menginginkan rumput tetangga!" tegur salah satu karyawan yang lumayan senior di sana. Angel melihat tak suka pada wanita tadi. Ia tidak berniat merebut Daniel. Namun, kalau bisa ditikung why not.
"Jangan coba-coba jadi bibit pelakor," ucap wanita tersebut dengan mata tajam.
"Nggak minat juga, Bu." kesalnya lalu kembali menuju ke kubikelnya.
Wanita tua itu mendesah sambil menggelengkan kepala.
"Daniel, resep supaya kaya raya selain memiliki karya banyak apa?" tanya Anisa serius sambil mengunyah makanan yang disuapi oleh suaminya.
__ADS_1
Daniel menghentikan tangannya menyuapi Kanaya. la menatap serius wajah istrinya.
"Kerja keras," ucapnya asal.
"Pemulung juga hidup kerja keras, tapi masih terbilang miskin." Anisa menjawab dengan serius.
Alis Daniel mengernyit. "Artinya usahanya belum maksimal."
Anisa melototkan mata tak suka saat suaminya menjudge para pemulung. Bahkan mereka sangat bekerja keras bertahan hidup.
"Mereka lebih bekerja keras dari pada orang kaya. Jika milyarder berusaha keras untuk menimbun kekayaan. Maka pemulung bekerja keras untuk bertahan hidup." terang Anisa membuat mulut Daniel menganga lebar.
Pria itu bahkan selalu kalah jika berdebat dengan istrinya. la menghela napas kemudian melanjutkan jawabannya.
Wanita itu tampak kembali mengernyit heran.
"Keturunan tidak bisa menjamin sebuah kekayaan. Tidak semua anak berbakat jadi orang kaya."
"Terus abang harus jawab apa Dek?" kesal Daniel, tangannya mengambil tisu dengan cekatan untuk mengusap mulut istrinya.
__ADS_1
"Jawab yang benar!" dengkus Anisa sambil mengambil paksa minuman botol yang sedang dipegangi oleh suaminya.
"Baiklah Nyonya, sekarang minum dulu yang benar baru nanti kita sambung obrolannya."
Anisa merenggut tak suka. Namun, tetap mematuhi suaminya. Sebuah panggilan mengalihkan atensi Daniel. la melihat nama pemanggil. Dengan segera ia menolak dan kembali menatap istrinya.
"Udah selesai? Kalau sudah kembali ke mejamu. Sebentar lagi kita akan rapat mingguan," ucap Daniel lembut sembari mengusap pelan perut buncit istrinya.
"Nak, jangan tiru ayahmu ya," ucap Anisa dengan ambigu.
"Jangan racuni otak bayi kita!" peringat Daniel dengan mata menyipit.
"Ya, ya baiklah. Aku kerja dulu untuk mencari sesuap nasi." seloroh Anisa membuat kiden gemas.
"Baik-baik ya istriku." kekehnya lalu kembali ke meja kerjanya.
...*******...
...Mohon maaf iya guys kalau upload nya segini dulu soal nya saya lagi bantuin jagain ayah saya Yang sedang sakit, mohon doanya guys buat ayah saya, Mohon like, komen, vote, dan kalau ada hadiahnya juga ya! 🤗...
__ADS_1
...Biar saya Makin semangat buat upload episode lain nya.....😘...
......***********......