
Malam yang ditunggu datang. Daniel sudah bersiap dengan setelan casual nya. Ia turun dari mobil dan menunggu Anisa yang belum menampakkan batang hidungnya. Di dalam rumah, Anisa masih bingung harus mengenakan pakaian apa. Namun, saat ia mendengar suara mobil dan yang sudah di depan. Annisa Segera memakai pakaian yang ia pilih secara acak dengan polesan make up sederhana. Anisa berjalan cepat menuju pintu utamanya. Daniel melihat kearah pintu dan langsung ternganga melihat penampilan seperti biasa dari Anisa sampai ia tidak menyadari kehadiran Anisa dihadapannya.
"Ada apa?" Tanya Anisa saat melihat bola mata Daniel hampir saja jatuh.
Anisa berpikir kalau Daniel sudah terpesona dengan kesederhanaannya.
"Apa kamu dayang yang turun dari kayangan?" Daniel bertanya sarkastik.
"Ah, tentu saja bukan", ucapannya saja sedikit malu-malu. meskipun hanya sebatas dayang tapi bukan kada yang berada di lingkungan istana. Sudah sewajarnya Anisa tersipu.
"Dasar tidak peka!" Dengkus Daniel pelan.
"Maksudnya? "
"Kau terlihat cantik!"
Pipi Anisa kembali merona mendapatkan pujian tersebut . Ia tidak tahu bahwa Daniel sedang ingin memakannya bulat-bulat titik lagipula penampilannya sudah sangat bagus. Dia juga telah sangat cantik kalau dilihat dari sedotan pipet Aqua yang dijual di kedai titik sebagai seorang wanita, ia tidak suka menunjukkan hal yang terlalu menonjol. Lagipula apa yang bisa ya Tunjukkan karena hidupnya saja sudah menuju sebagai orang susah. Dan yang sendiri tidak ingin berdebat dengan Anisa, ia memilih mengalah dan membukakan pintu mobil untuk Anisa.
" Terima kasih" ucap Anisa.
Daniel berdehem pelan kemudian segera menuju kursi kemudinya. pria itu segera menjalankan mobilnya dengan pelan.
Tiga puluh menit kemudian mereka sudah sampai di kediaman Daniel saat Anisa keluar dari mobil ke Annisa menganga lebar melihat kemewahan rumah tersebut. Bahkan semua ornamen yang berada di sana tampak sangat mahal dan mungkin kalau diculik ia bisa jadi orang kaya.
" Ayo!" Ajaknya sambil menggandeng tangan Anisa Gadis itu menerimanya dengan logowo lagipula Daniel hanya menggandeng tangannya. Ia kemudian melihat wajah daniel dengan takjub.
"Kenapa? "
__ADS_1
"Ternyata kamu bener-bener kaya." Bisiknya pelan.
Daniel dan menyambung sejenak sebelum akhirnya membawa Anisa masuk untuk menemui keluarganya. Kemudian berjalan menuju pintu utama rumah terlihat seorang asisten rumah tangga membukakan pintu.Anisa ingat semua ini ia pernah membaca sebuah novel yang menayangkan apa yang ia sedang alami saat ini Ia mendadak seperti Tuan Putri di negeri dongeng.
" tuan muda, Nyonya sudah menunggu di dalam dalam. " serunya dengan sopan.
"Terima kasih !"
Anisa tersenyum melihat asisten rumah tangga tersebut kemudian mengikuti Daniel kedalam. Anisa semangat dibuat tercengang dengan kemarahan yang tersaji di ruangan tersebut. Cara keemasan berpadu dengan warna pastel membuat ruangan ini sangat mewah tiada duanya. Jika dibanding dengan rumah Anisa dulu semua ini belum ada apa-apanya.
" apa kamu,Memang sekaya ini?" Bisik Anisa pelan.
Daniel lagi-lagi tersenyum menyombong. Alhasil Anisa menyenggol tubuh tegapnya pelan kemudian tertawa kecil itu aja kesel Anisa, di mata Daniel ekspresi Anisa sangat imut.
"Dasar lelaki sombong!"
Dari kejauhan wanita tua yang masih terbilang cantik terlihat tersenyum melihat interaksi keduanya. Entah mengapa gitu alami tanpa dibuat-buat, baginya ia adalah anak yang paling sulit tersenyum Tapi saat melihat keduanya Entah mengapa ia tertarik mengenal lebih jauh yang sedang bersama putranya.
Keduanya sudah sampai dihadapan kedua orang tua Daniel. Daniel yang membawa Annisa duduk disampingnya.
"Mah, Pah kenalin ini Anisa. "
" selamat malam, nyonya, Tuhan." Siapa Anisa sampai tersenyum grogi. Iya takut biji cabai tersangkut di sela giginya. Mana tahu biji cabenya khilaf.
" Malam juga Jangan panggil Nyonya panggil aja Mama, " ucap Laras dan Angga tersenyum.
Anisa yang mendengar itu hanya mampu tersenyum kikuk, ia duduk dengan kaki sedikit gemetar. Rasa asing menderanya telak hingga menatap wajah kedua orang tua dari dan ia pun ia tidak berani titik kini berubah menjadi rasa hangat yang menjalar koma-an saat Laras menyuruhnya memanggilnya mama Ia ingat kisah Iya yang ia baca dalam novel menunjukkan kalau orang tua lebih suka bergaul ataupun mengenal sesama mereka .Tapi saat ini untuk pertama kali dalam hidupnya bertemu dengan orang kaya raya dan tidak memandang statusnya.
__ADS_1
" Apa ini wanita yang kamu katakan tempo hari? " tanya ada sembari menatap Daniel yang serius.
"Ya Ma." Daniel menjawab dengan kalem maksimal.
Wanita mengalihkan tatapannya pada Anisa. "Kalian sudah lama kenal?"
"Tidak!"
"Sudah!"
Jawaban Annisa membuat jantung dan berdetak tak karuan. Jika ibunya juga sudah Mampuslah dia.
" Err, Ma. Maksud Anisa kami tidak ingin mengenal lebih lama dalam masa pacaran , Kami ingin langsung menikah." terang Daniel dengan bibir sedikit kering.
"Iya kah?" Tanya Anisa polos. Setahunnya ia tidak pernah mengatakan hal itu pada dana sebelumnya.
Reaksi Anisa membuat Laras dan Angga heran. Mereka menilai seolah Anisa dan Daniel tidak sedang pacaran.di mana-mana orang pacaran pasti jawabannya akan kompak.
" sayang, kamu ngomong apa. Kan kita sudah berjanji akan segera menikah, aku pasti lupa ya."
" Kapan? aku nggak lupa sama sekali" Kembali gurat bingung tercetak jelas di wajah Anisa.
Laras dan Angga menatap Daniel serius. Keduanya mencium Aura tidak sedap antara hubungan keduanya. Pasti ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh putranya. Dia harus mencari tahu, bisa saja ini hanya akal-akalan nya.
...******...
...Happy Reading All 😉...
__ADS_1
...******...