Terpaksa Menjadi Istri CEO

Terpaksa Menjadi Istri CEO
Episode 22


__ADS_3

Anisa menggigit bibir bawahnya sampai berdarah. la menunduk malu di meja makan. Sesekali air mata keluar dari sudut matanya.


"Ma, aku mendadak kenyang." Ia bangkit dari kursinya masih dengan tatapan menunduk.


Daniel memperhatikan gerak gerik istrinya.


"Kamu mau kemana? Tadi katanya lapar, sekarang mendadak kenyang."


"Habis aku nggak bisa makan."


"Kenapa nggak bisa?"


"Aku salah menggigit bibir sampai berdarah dan rasanya sangat perih." isaknya seperti anak kecil.


Daniel menghela napas menghadapi kelabilan istri ajaibnya.


"Tunggu di kamar," ucap Daniel. Pria itu membawa piring Anisa beserta lauknya. Angga dan Laras hanya jadi penonton setia drama receh ala menantu dan putranya.


"Kira-kira mereka mau ngapain?"


"Jangan kepo nanti ketularan." peringat Laras membuat Angga cengegesan.


Daniel sudah sampai di kamar. Ia langsung meletakkan sepiring makanan ke atas nakas beserta gelasnya. Kemudian ia beralih ke arah istrinya yang sedang menangis menahan perih akibat luka di bibirnya.


"Masih perih?" tanya Daniel dengan bodohnya. Kanaya mengangguk sambil menunjukkan bekas gigitannya. Daniel meneliti dengan saksama.


"Lukanya nggak dalam, hanya terkena permukaannya. Ayo itu masih bisa diberi makanan." terang Daniel dengan songong.


"Perih tau, coba bibirmu yang terluka." rungut Anisa. Sesekali ia mengelus perutnya saat merasakan sebuah tendangan kecil.

__ADS_1


"Sabar ya Nak, ini Emakmu lagi kena musibah. Jangan ditendang dulu." Anisa berbicara sambil mengelus perut buncitnya.


"Anak kita kelaparan. Ayo makan sayang, nanti kasian dedeknya."


Semenjak kehamilannya menginjak tujuh bulan, ia sangat sensitif. Bahkan jika Daniel memanggil aku, kamu, ia langsung merajuk. Alhasil Daniel harus mengubah kebiasannya. Ia juga harus dimanjakan, tidak boleh ada suara meninggi jika sedang berbicara dengannya. Daniel juga tidak boleh merasa kesal jika Anisa membuatnya kesal.


"Kenapa yang kamu pikirin cuma dedeknya." kembali Anisa menangis.


Daniel sangat gemas melihat tingkah istrinya. la mendongakkan kepala Anisa lalu mencium bibir istrinya dengan lembut. Berhasil, Anisa berhenti menangis. Daniel melepaskan ciumannya saat Anisa kehabisan oksigen. Wanita itu bernapas dengan terengah-engah.


"Mau lagi?" tanya Daniel saat melihat wajah istrinya memerah. Wanita itu menggeleng horor. Tadi saja nyawanya hampir melayang, suaminya sudah bosan menjadikan dia sebagai istri. Daniel mau membunuhnya secara perlahan.


"Seru kan Yang," ucap Daniel sambil menaikturunkan kedua alisnya.


"Seru apaan, nyawaku hampir aja melayang." rungutnya kesal. Daniel tertawa mendengar gerutuannya. Mana ada orang ciuman menyebabkan kehilangan nyawa.


"Bibirnya masih perih?" Tanya Daniel sembari menggambil sesuatu dari dalam sakunya.


"Tadi masih," ucapnya.


"Sekarang?"


"Masih juga," ucap Anisa dengan polos.


"Artinya kalau sebelum dan sesudah ciuman rasanya masih perih, bibirnya minta lebih."


"Maksudnya bibirnya mau dimonyongin kayak pinokio?" tanya Anisa serius.


"Itu hidung panjang." dengkus Daniel.

__ADS_1


"Terus makna dari minta lebih itu


"apa?"


Daniel mendekatkan bibirnya ke telinga Anisa lalu membisikkan sesuatu dengan gaya sensual. Alhasil cubitan maut mendarat di perutnya yang rata. Daniel tidak memiliki perut sixpack seperti Jimin BTS. la kemudian mengembuskan napas membuat ke telinga Anisa sampai bergelinjang geli menahan sesuatu yang lain. Kembali ia mencubit perut Daniel karena ia sedang menahan air kecil. la segera berjalan ke kamar mandi dan segera menadaskan hajatnya, setelah itu ia kembali berbaring ke ranjang.


"Aw... sakit Yang." Ringisnya sambil mengusap-usap perutnya yang terasa nyeri, bukan nyeri datang bulan.


"Lagian perut udah sebesar ini masih mau gerepe-gerepe, enak aja, Awas ya kalau macam-macam!" ancam Anisa sambil mengepalkan tangan kanan di depan wajah suaminya.


"Punya istri galak bener, mau manja-manja malah dapat cubitan.


"Mau nelpon Sayang dulu ah."


Anisa memelototkan mata mendengar nama Sayang keluar dari bibir suaminya. la memegang lengan pria itu lalu merebahkan kepalanya di pundak Daniel. Pria itu tersenyum simpul melihat kelakuan Anisa.


"Jangan pernah pergi apalagi berniat meninggalkanku ya!" seru Anisa dengan serius, lalu memejamkan matanya.


Daniel meresapi semua perkataan istrinya, ia bisa merasakan ketakutan di setiap kata yang terucap. Ia mengelus lembut kepala istrinya.


"Mana mungkin aku meninggalkanmu sedangkan hatiku sudah kamu milik sepenuhnya."


la menunggu jawaban haru dari istrinya. Namun, yang terdengar suara dengkuran. Daniel tersenyum geli. Di saat wanita lain sangat menjaga image, istrinya terlihat apa adanya. Daniel merasakan kebahagiaan memeluknya dengan hangat saat berada di sisi Anisa. ia mulai berpikir bahwa Tuhan memiliki banyak cara menyatukan semua insan yang berjodoh.


...******...


...Happy Reading All 😉...


...******...

__ADS_1


__ADS_2