Terpaksa Menjadi Istri CEO

Terpaksa Menjadi Istri CEO
Episode 16


__ADS_3

Anisa sedang sibuk dengan pekerjaannya. Sesekali ia mengusap perutnya saat rasa lapar melanda. Semenjak hamil, napsu makannya semakin meningkat, ia akan mudah merasa lapar. Namun, kali ini Anisa menahan sampai pekerjaannya selesai. Sebagai istri dari pemilik perusahaan, ia harus bersikap profesional. Disela konsentrasinya ketukan sepatu menggema di lantai yang sama mengganggu aktivitasnya. Daniel juga tidak pernah memberinya pekerjaan yang berat. Tapi ia selalu meyakinkan pria itu kalau dia akan baik-baik saja.


"Mana Daniel ?" tanya seorang wanita dengan angkuh. Make up tebal dengan polesan lipstik merah darah menghiasi bibirnya.


Anisa melihat sosok tersebut dan hampir terjungkal jika saja tidak berpegangan pada sisi mejanya.


"Astaga, saya kira Mbak Kun," ucapnya pelan.


Mata wanita itu terlihat bulat sempurna melihat sekretaris di hadapannya bersikap kurang ajar.


"Apa yang kau bilang barusan!" Tanyanya dengan tatapan tajam.


"Saya tidak mengatakan apa pun Mbak, oh iya ada kepentingan apa?" Tanya Anisa dan bersikap biasa saja bahkan aura intimidasi wanita itu tidak menularinya.


"Mana Daniel ?" dengkusnya kasar.


Anisa menatap kiri dan kanan lalu menatap wanita tersebut.


"Anda sedang berbicara dengan saya?"


"Memangnya siapa lagi di sini selain kita berdua!" Raut kesal terlihat jelas di wajah dewasanya.


"Apa Anda sudah membuat janji?" tanya Anisa serius.


"Aku tidak perlu berjanji untuk menemui kekasihku!"


Anisa menaikkan alisnya, otaknya mulai bekerja. Kekasih kayalan, batinnya.


"Maaf, jika Anda belum membuat janji maka, Pak Daniel tidak bisa diganggu karena sedang sibuk."


"Sudah kukatakan bahwa aku kekasihnya. Siapa kau berani melarangku!" teriaknya kesal.


Anisa menutup kupingnya, lalu bangkit dari kursinya.


"Saya sekretaris Pak Daniel, apa Anda tidak menyadarinya?"


Anisa berkata dengan kesal. Hormon kehamilannya membuatnya gampang emosi, apalagi wanita yang kini berdiri di hadapannya sudah bertindak kurang ajar. Wajah perempuan tersebut sangat kesal.Tiga kali rasa kesal menggerogoti hatinya. Dengan kesal ia segera melangkah menuju ruangan Daniel. Anisa segera menyusul langkah kaki perempuan tersebut. Namun, langkah kakinya kurang cepat untuk mengejarnya.

__ADS_1


Anisa ikut masuk dan meminta maaf.


"Maaf, Pak. Nona ini memaksa masuk.” lapornya.


Daniel terpaku pada wanita yang kini sedang berada di hadapannya. Anisa memilih berdiri sampai Eiden menyuruhnya pergi.


"Kau boleh keluar, ucap Eiden “..


Anisa tanpa mengalihkan tatapannya dari | wanita tersebut.


Anisa menatap mata suaminya dalam, ia tahu ada sesuatu di antara keduanya. Ia lalu pergi keluar sambil menutup pintu. Anisa kembali ke mejanya dengan raut wajah kesal. Ia curiga keduanya memiliki hubungan gelap. Suaminya benar-benar jahat. Istri sedang hamil malah mencari perempuan lain. Mood nya semakin hancur akibat ulah suaminya.


"Sayang." panggil wanita itu dengan nada menggoda, sayangnya terdengar menjijikkan di telinga Daniel.


"Apa yang membawamu kemari?" nadanya terdengar dingin.


"Sayang, aku tau banyak kesalahan tapi aku sangat menyesalinya. Selama ini hanya kau yang Naa benar-benar mencintaiku dengan tulus."


Sudut bibir Daniel terangkat sebelah, matanya menatap sinis wajah wanita yang dulu pernah ia cintai setengah mati.


"Risma," ucap Daniel. Pria itu berjalan pelan ke arahnya. Risma sudah menduga bahwa Eiden masiii mencintainya.


Wajah Risma tersenyum. Gejolak bahagia sedang menari di dalam perutnya.


"Aku juga sangat mencintaimu." jawabnya senang.


Daniel tersenyum lalu tatapannya kembali datar.


"Namun, itu semua menjadi kesalahan terbesarku. Kau tahu, aku sangat bersyukur pada Tuhan karena sudah membuatku menjauh darimu, meski awalnya sangat sulit, tapi semua ada faedahnya."


Binar bahagia memudar dari wajahnya. "Daniel, aku tau sudah menyakitimu tapi aku sangat menyesal." Risma menangis untuk | mengharapkan Daniel memeluknya.


"Aku tahu kau sangat menyesal karena itu aku sudah memaafkanmu. Aku bahkan sangat ingin berterima kasih." Daniel tersenyum dan terlihat sangat bahagia.


"Apa maksudmu?"


"Kau lihat cincin ini?" tunjuknya angkuh.

__ADS_1


"Kau ... kau sudah menikah? Dengan siapa?" tanyanya dengan wajah memucat.


Daniel menekan sebuah tombol. "Sayang, masuklah." perintanya.


Raut Risma semakin kebingungan.


Saat suara pintu ruangan terbuka, muncullah wajah wanita yang sudah membuatnya kesal setengah mati.


"Ada apa, Pak?" Tanya Anisa sedikit ketus. Wajahnya bahkan merajuk tapi berusaha dia sembunyikan.


Daniel tersenyum lembut menatap wajah serius istrinya. "Sayang, kenalkan ini mantanku."


Anisa menatap Risma dengan wajah menganga.


"Dia wanita yang dulu meninggalkanmu demi pria lain?" bisik Anisa disela tatapan syok Risma. Anisa sedikit tertawa,


"Awalnya kukira pacarmu Mbak Kun, ternyata dia pacarmu."


"Jangan mengejekku sayang!" dengkus Daniel.


"Nah, Risma. Kenalkan dia istri yang sangat aku cintai bahkan sebentar lagi kami akan segera memiliki anak."


Mata Risma terlihat berkaca-kaca saat melihat pria yang pernahia sia-siakan kini memiliki istri yang sedang mengandung.


"Maaf, Anda mungkin sedikit sakit hati tapi dia suamiku jadi jangan mengaku-ngaku lagi sebagai kekasihnya." ceramah Anisa.


"Apa dia mengatakan hal itu tadi?" Tanya Daniel penasaran.


"Kamu senang ya?" Anisa kembali merajuk.


Sudut bibir Daniel terlihat sedikit tertarik membentuk senyuman kecil. la tidak menyangka istrinya akan seposesif itu. Risma seolah mendapat penghinaan. Dengan segera ia melangkah keluar dari sana dengan perasaan marah.


"Bukankah aku ini hanya milikmu." Goda Daniel yang berhasil membatu Anisa tersipu. Ia tidak jadi merajuk, padahal tadi sudah berpikir macam-macam pada suaminya. Tapi ia tidak akan mau mengatakan pikirannya pada pria itu.


"Jadi dia kekasihmu." ledek Anisa membuat Daniel kesal.


...******...

__ADS_1


...Happy Reading All 😉...


...******...


__ADS_2