Terpaksa Menjadi Istri CEO

Terpaksa Menjadi Istri CEO
Episode 30


__ADS_3

Daniel membabi buta memacu kenderaannya. Perasaan khawatir dan takut bercampur menjadi satu, itulah Daniel . Sesekali ia menekan klakson mobilnya dengan ganas saat beberapa sepeda motor mencoba menghalangi jalannya. Sekitar dua puluh menit ia berjibaku dengan jalanan, kini mobilnya sudah terparkir di depan rumahnya. la segera keluar dan membuka pintu depan dengan kasar. Napasnya terlihat ngos-ngosaan. la berlari menapaki anak tangga, lalu sebuah panggilan masuk ke ponselnya. la segera mengangkatnya dengan asal tanpa melihat nama pemanggil.


"Anisa sudah di rumah sakit bersama Mama," ucap sebuah suara dari seberang.


"Oh," sedetik kemudian dia tersadar.


"Apa! Oke Ma, Daniel segera kesana, iya, Ma. Udah dulu ini otewe kesana. Apa? Nanti aja Ma jangan sekarang! Oke oke baiklah."


Pria itu segera keluar dari rumah dan kembali membelah jalanan menuju rumah sakit. Di tengah perjalanan ia teringat dengan pesanan ibunya. la segera mampir ke penjual martabak telor. Setelah selesai, ia kembali melanjutkan perjalanan. Jarak rumah sakit dengan posisinya sekarang terasa sangat jauh. Padahal jaraknya sangatlah dekat jika keadaan sedang normal. Sayangnya Daniel dalam mode panik.


"Suster, istri saya di mana?" tanyanya setelah sampai di rumah sakit. Martabak telur tidak lupa ia tenteng.


"Istri Bapak di mana memangnya?" tanya suster yang terpesona dengan ketampanannya. Aroma martabak telur sesekali menusuk hidung suster yang ada di sana. Sampai bunyi cacing meronta tak bisa dihindari.


"Anisa ," ucapnya terputus-putus.


Suster yang bersangkutan merasa tersipu. la membenarkan letak poninya lalu menatap Daniel dengan senyuman manis.


"Iya, Pak. Saya memang Anisa."


"Anisa itu nama istri saya! Di ruang berapa dia dirawat." dengkus Daniel kesal.


Suster tersebut terlihat panik melihat tatapan pria tampan yang mendadak menjelma sebagai lucifer. la dengan gemetar membuka buku pasien. Setelah dapat ia segera memberitahu.


"Terima kasih," ucap Daniel lalu pergi dari sana.

__ADS_1


Tujuannya adalah kamar raflesi 212, tempat istrinya dirawat. Ia membuka pintu dengan pandangan mengharu biru. Kedatangannya disambut baik oleh Anita yang langsung mengambil martabaknya. Daniel sedikit speechless melihat kelakuan ibunya yang jauh dari kata


anggun.


"Sayang," ucap Daniel dengan haru.


"Anisa sudah dibawa ke ruang persalinan, Nak."


Jantungnya berdetak menggila, antara takut dan bahagia. la segera dipersilakan masuk ke ruang persalinan untuk menemani istrinya melalui proses melahirkan yang konon menjadi momok menakutkan bagi sebagian perempuan.


"Bu Anisa sudah pembukaan sepuluh, dengarkan aba-aba dari saya, ya." ucap dokternya.


Anisa memandang ke arah pintu, ia senang melihat kedatangan Daniel. Rasa takutnya seketika menguar dengan perasaan bahagia. Pria itu terlihat mendekatinya sambil tersenyum penuh ketenangan.


Ia tidak ingin membuat suaminya khawatir.


Seolah ribuan tangan menopang tubuhnya memberi kekuatan. Ia mengikuti instruksi dari dokternya. Daniel dengan setia memegang tangan serta mengecup keningnya dengan sayang. Tidak lupa ia selalu membisikkan kalimat yang membuat Anisa merasa nyaman. Pertarungannya usai pada menit ke tiga puluh. Pria itu tersenyum bahagia menyambut buah hati mereka yang berjenis kelamin perempuan, sangat cantik.


"Terima kasih, istriku. Tanpamu apalah aku."


"Aku tanpamu butiran debu," jawab Anisa. Keduanya terkekeh geli dengan kalimat masing-masing. Semua dia lakukan hanya supaya tidak begitu tegang dan takut.


Anisa sangat bahagia atas kedatangan Daniel. Ia tidak menyangka perjalanannya


melahirkan putri kesayangannya akan semenakjubkan ini. Kapan lagi dia merasakan sakit yang luar biasa sekaligus indahnya perjuangan seorang ibu.

__ADS_1


Disela canda keduanya, seorang suster masuk sambil menggendong bayi mungil yang terlihat sangat cantik. Daniel sampai dibuat terpukau dengan kecantikan putrinya.


"Dia sangat cantik sepertimu," gumamnya.


"Dari pada cantik sepertiku, dia lebih terlihat tampan, sama sepertimu. Bedanya dia perempuan."


Daniel mengernyitkan alis mendengar penuturan istrinya. "Bagaimana bisa gadis cantik disebut tampan. Kamu ini."


"Aku ini ibunya, tentu lebih tahu seluk beluk soal kemiripannya." dengkus Anisa terlihat kesal.


Sudut bibir pria itu terangkat sempurna. la senang saat melihat istri dan putrinya baik-baik saja.


...**********...


...HAI!! Terima kasih buat para pembaca...


...yang sudah mendukung saya agar tetap...


...semangat melanjutkan cerita ini setiap harinya!! Agar saya tetap semangat update, dukung saya terus dengan memberikan LIKE, dan VOTE sebanyak-banyaknya ya!!...


...Jangan lupa tinggalkan bintang lima...


...( ⭐⭐⭐⭐⭐)...


...dan klik FAVORIT agar tak ketinggalan episode selanjutnya ya!!...

__ADS_1


...Terima kasih. 😘😘😘...


...**********...


__ADS_2