
Anisa menguncir rambutnya asal. la menyuapi Savana yang kini sudah makan bubur khusus bayi. la membuat buburnya dari bahan alami bukan yang instan. Gadis kecil itu juga mukai aktif berceloteh di saat usianya menginjak sembilan bulan.
Anisa menatap sendu wajah putrinya yang sangat cantik. Kekuatan tak kasat mata seolah merasuki jiwanya. la tidak ingin kembali jatuh ke lubang yang sama. la ingin bahagia bersama suami dan anak-anaknya sampai kelak.
"Sayang, makasih ya sudah hadir dalam hidup Bunda, kamu sama Papa adalah kekuatan Bunda."
Bayi kecil itu membalas ucapan Anisa dengan celotehan yang hanya ia yang mengetahui artinya. Namun, sebagai seorang ibu, Anisa mengetahui bahwa putrinya sedang menyemangatinya.
"Bunda sayang banget sama Savana," ucapnya tulus.
Daniel datang sembari membawa beberapa berkas. la mencium kepala Anisa dan mengecup pipi putrinya. la segera pamit tanpa sarapan padahal sarapan menjadi kegiatan favoritnya yang haram untuk dilewati.
Anisa menempatkan Savana ke kursi bayinya. Ia berjalan mendekati Daniel yang terlihat sangat terburu-buru.
"Mas , kamu nggak sarapan dulu?" tanya Anisa sedikit heran.
"Tidak sempat lagi Anisa , aku harus segera pergi."
"Tapi Mas biasanya kamu sarapan."
"Jangan sekarang Anisa , aku sudah telat."
"Nanti kamu bisa sakit, ayo sarapan sedikit." Anisa mengambil roti beserta selainya. Namun, Daniel menolak.
__ADS_1
"Aku sarapan di kantor aja," ucap Daniel kukuh.
"Tapi Mas ...."
"Anisa ! Aku bilang aku sarapan di kantor! Tolong jangan memaksaku." hardik Daniel tanpa sadar sudah menaikkan intonasi suaranya. Hal langka yang tidak pernah ia lakukan pada sang istri.
"Oh, oke." Anisa berjalan menuju Savana. la menyuapi kembali gadis kecilnya.
"Sayang, kalau kamu nanti nggak sayang lagi sama Bunda, jangan pernah membentak Bunda, ya. Nanti Bunda ngambek dan ninggalin kamu loh!"
Daniel yang hendak pergi segera menghentikan langkah kakinya.
"Apa maksudmu? Aku membentakmu bukan karena tidak lagi menyayangimu." Daniel berjalan mendekat.
"Yang bicara sama Situ siapa? Kepedean!" dengkus Anisa . Savana terlihat tertawa sambil berceloteh riang.
"Iya tahu kok kalau kamu nggak sengaja, kamu kan nggak sayang lagi sama istrimu. Aku tahu aku ini datar kayak triplek, nggak seksi kayak sekretaris kamu, nggak cantik kayak mantan kamu, nggak...." Daniel segera mengunci bibir Anisa dengan bibirnya. la memejamkan mata menikmati kelembutan dari benda kenyal yang sedang ia bungkam saking cerewetnya.
"Jangan berbicara seperti itu lagi, Sayang. Aku tidak suka."
"Ya habisnya kamu duluan kan, dasar nyebelin!"
"Iya, tahu goreng, aku minta maaf ya istriku." anisa kembali ******* benda kenyal yang selalu membuatnya mabuk berkepanjangan. la sangat bersyukur karena Tuhan tidak meciptakan kadaluarsa pada bibir istrinya.
__ADS_1
Anisa menampar pipi Daniel saat ia mulai kehabisan napas.
"Cium-cium ada waktu, giliran sarapan nggak ada waktu dasar pria hidung mancung!" kesal Anisa .
Daniel yang sedang terkena tekanan batin di kantornya perlahan mulai merasa rileks. Meski Anisa tidak membantunya melalui tenaga, setidaknya ia mampu mengurangi bebannya. Daniel tersenyum menatap Anisa yang kini sudah kembali bermain bersama putrinya.
"Sayang, makasih ya sudah hadir dan setia menemaniku. Maaf sudah membentakmu tadi." Sesalnya. Anisa tersenyum misterius.
"Aku bakalan maafin kamu asal beliin aku baju di toko serba 35 ribu," ucapnya dengan wajah berbinar.
Daniel mengernyit heran mendengar harga baju 35 ribu. Adakah baju semurah itu di zaman sekarang, pikirnya.
"Ya ya, mau ya."
Daniel menganguk, ia segera pamitan.
"Jangan lupa, toko serba 35 ribu!" teriak Anisa memperingatkan.
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa jadiin favorit ya, biar bisa dapat notifikasi saat novel ini up. Dan jangan lupa like, vote, dan komentar yang positif. Terimakasih, kalau mau ngasih kritik dan saran juga boleh, itu bagus. Jadi saya tahu mana yang salah dan mana yang benar. Salam hangat dari saya. 🤗
__ADS_1
Oh iya, kalau mau lebih dekat dengan sang penulis, teman-teman bisa Follow ig aku @Aisyahsnisa.07atau fb aku Aisyahanisa
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...