
Pembunuh
Keringat mengalir deras dari kedua pelipis. Tidurnya tampak gelisah, raut wajah yang biasa terlelap tenang kini tampak mengerut ketakutan. Daniel yang baru saja tidur, segera bangun saat mendengar dengkusan istrinya. la belum pernah melihat wajah yang selalu ceria kini terlihat berbeda meski sedang menutup mata.
"Hei, Anisa... Anisa !" Daniel menepuk pelan pipi yang kini mulai berisi dan terlihat chubby.
"Tidak ... bukan aku yang melakukannya," ucap Anisa dengan napas tercekat. Alis Daniel pun menukik tajam mendengar istrinya mengigau.
"Anisa!"
Sudut matanya meneteskan air asin yang membuat jantung Daniel berdenyut nyeri. Ia tidak suka melihat istrinya menangis walau dalam mimpi sekalipun. Daniel mengangkat kepala Anisa dan meletakkan tangan kekarnya sebagai bantal. Ia membawa yubuh rapuh tersebut ke dalam pelukannya.
"Semua akan baik-baik aja," ucapnya sambil mengecup lama kening istrinya.
Wanita itu kini tampak mulai bernapas dengan teratur. Daniel tersenyum mengetahui hal tersebut.
"Aku tidak tau apa yang membuatmu sampai mengigau, tapi apa pun itu kuharap ketampananku bisa mengusir mimpi burukmu, Sayang."
Keesokan harinya, keluarga Wijaya dikejutkan oleh kedatangan Clara yang menangis tersedu-sedu. la mengatakan bahwa sedang mengandung anak dari Daniel. Hal tersebut membuat Laras hampir pingsan. Untungnya Angga dengan sigap memeluk pinggang istrinya.
Anisa dengan mata dua puluh lima watt datang menghampiri mereka.
__ADS_1
la dengan perut buncitnya berjalan seperti bebek angsa masak di kuali. Tidur lelapnya terganggu akibat suara beberapa orang di ruang tamu.
"Ada apa, Pa?" tanya Anisa sambil mengusap matanya yang sedikit bengkak.
"Entahlah, Nak. Papa sendiri tidak paham apa makna kehidupan bagi wanita itu!" Tunjuk Angga tanpa minat.
Anisa menoleh ke arah Risma yang sedang menangis darah. Kening wanita itu mengernyit heran dengan kedatangan Risma.
"Ada gerangan apa datang kemari?" tanya Anisa penuh selidik.
Clara berjalan pelan ke arah Anisa lalu berlutut meminta belas kasihan darinya.
"Anisa , suamimu sudah menghamiliku," ucapnya dengan tangis pecah berai.
"Aku tidak bisa luluh seperti catatan hati seorang istri yang tayang di indosiar. Jadi kalau mau bangun, berdirilah sendiri."
Laras antara mau mengecup dan membanggakan menantunya, dan memamerkan sekeliling komplek perumahan saking gemasnya. Clara bangun perlahan dan menatap mata Anisa dengan sendu. Namun, tatapannya belum seampuh itu untuk membuat Anisa mengusap air mata Clara.
"Anisa, tolong! Aku hamil," isak Clara.
"Loh, kenapa minta tolong sama aku, kan yang menghamilimu Daniel ." tutur Anisa dengan sangat polos.
__ADS_1
"Bukan begitu, maksudku ...," ucapannya terhenti saat Daniel menepuk pipi istrinya yang sedang menyebutkan berbagai jenis burung dengan keras.
"Anisa ... bangun, atau mau di Cium dulu?"
Daniel tersenyum nakal melihat bibir isttinya yang sedang terbuka lebar. la mendekatkan wajahnya pada sepasang bibir ranum tersebut sebelum sebuah pekikan terdengar dari mulutnya.
"Anisa ! Kamu apa-apaan sih? Sakit tau." Dengkusnya kesal sambil mengusap batang hidungnya yang hampir saja patah.
Anisa membuka matanya dengan napas ngos-ngosan. la menatap tajam mata suaminya yang sedang mengaduh kesakitan.
Untung saja semua hanya mimpi, andai kenyataan dia akan mengutuk suaminya dengan seluruh kekuatannya. Jangan meremehkan kutukan istri yang sedang hamil.
"Awas kalau kamu berani menghamili Clara !" Ancamnya lalu kembali tidur.
Mulut Anisa menganga lebar, apalagi saat melihat istrinya yang dengan tega kembali tidur, setelah menyakitinya dengan kejam.
"Nasib diriku gini amat jadi suami," rutuknya.
...******...
...Happy Reading All 😉...
__ADS_1
......***********......