Terpaksa Menjadi Istri CEO

Terpaksa Menjadi Istri CEO
Episode 50


__ADS_3

Pagi ini mood Anisa tiba-tiba anjlok. Entah apa yang membuatnya begitu. Bahkan saat putrinya menangis pun ia enggan mendekat. Padahal setahu kiden istrinya adalah seorang ibu yang selalu sigap dan siaga apalagi menyangkut semua hal mengenai putri mereka.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Daniel lembut.


Anisa tampak mengabaikan ucapan suaminya. Ia terlena dalam lamunannya. Pria itu menghela napas lelah menghadapi mood istrinya yang datang tak diundang pulang harus di antar. Ini sangat menyebalkan tapi ia tidak berani menganggu istrinya atau semua benda akan melayang.


"Savana, main sama Papa yuk."


Gadis kecil yang tadi menangis kini berceloteh ria saat diajak bermain sama ayahnya. Mereka berdua meninggalkan Anisa menyendiri di sana. Daniel pergi membawa Savana untuk bermain dan jalan-jalan ke sebuah taman yang berada tidak jauh dari rumah mereka.


Hal itu dilakukan oleh Daniel guna memperkenalkan alam pada putrinya yang selalu antusias diajak jalan-jalan.


Ponsel Anisa berbunyi dan berhasil membuat lamunannya berhenti. la memeriksa ponselnya dengan mata terbelalak. Di sana terlihat sebuah poto suaminya bersama putrinya yang sedang bermain. Nomor baru yang tidak ia ketahui milik siapa ini mengiriminya sebuah gambar.


"Suami dan putrimu tampak manis, tapi akan terlihat manis kalau dua-duanya berada dalam satu peti mati, bukan begitu?"


Anisa terperanjat dengan bunyi pesan kedua yang ia terima. Tangannya gemetar menahan amarah dan ketakutan sekaligus. la dengan nekat membalas pesan tersebut.


"Kau! Jika menyentuh putri dan suamiku, aku akan membalasmu!" peringat Anisa. Namun, balasan selanjutnya membuat jantung Anisa seolah berhenti berdetak. Di sana Si penelpon mengirim sebuah poto lengkap dengan seseorang yang sedang memegang pisau tepat berada di belakang suaminya. Kondisi taman yang masih sepi semakin membuat Anisa kalang kabut.

__ADS_1


"Apa maumu?" tanya Anisa geram.


"Aku akan kembali menghubungimu! Ingat jangan berani macam-macam."


Setelah itu nomor tersebut tidak aktif. Anisa bisa menebak bahwa orang yang sedang mengancamnya memakai kartu ganti. Ia lalu menghubungi suaminya.


"Mas, pulang sekarang!"


"Mas , sekarang!" teriak Anisa sambil meneteskan air matanya.


la belum siap jika harus kehilangan dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Cukup dulu ia kehilangan kedua orang tuanya. la tidak ingin lagi kehilangan siapa pun.


"Kamu apa-apan sih?" tanya Daniel sambil meletakkan Savana ke sebuah kursi khusus bayi.


"Aku hanya takut kalian kenapa-napa?"


"Anisa, jangan drama deh. Kami bukan lagi mau perang, kami cuma main ke taman." omel Daniel.


"Kamu nggak ngerti, Mas ."

__ADS_1


"Apa yang bisa ku mengerti saat kamu sendiri enggak berbagi. Aku ini suamimu Anisa! Aku bukan pria asing yang menumpang hidup di rumahmu."


Anisa menangis mendengar ucapan suaminya. la bukan menganggap Daniel sebagai pria asing. Hanya saja ia tidak tahu


memulainya dari mana. Bagaimana ia akan menjelaskan semuanya. Bisa saja ia disangka halusinasi atau mengada-ngada.


"Sudahlah, kamu mungkin sangat butuh waktu sendiri untuk berpikir."


Daniel kembali pergi sambil membawa putrinya ke kamar tamu. Di sana keduanya main bersama. Sebenarnya Daniel tidak tega berbuat seperti ini. Hanya saja ia tidak ingin menjadi suami yang tidak berguna untuk istrinya. Mereka membangun rumah tangga berdua maka, setiap masalah sudah sewajarnya mereka selesaikan bersama.


Bersambung.....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa jadiin favorit ya, biar bisa dapat notifikasi saat novel ini up. Dan jangan lupa like, vote, dan komentar yang positif. Terimakasih, kalau mau ngasih kritik dan saran juga boleh, itu bagus. Jadi saya tahu mana yang salah dan mana yang benar. Salam hangat dari  saya. 🤗


Oh iya, kalau mau lebih dekat dengan sang penulis, teman-teman bisa Follow ig aku @Aisyahsnisa.07atau fb aku Aisyahanisa


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2