
Anisa sedang fokus menonton serial fantasy dari negeri gingseng. Hotel Deluna menjadi salah satu film favoritnya semenjak ia hamil. Mungkin anaknya ingin setampan atau secantik pemeran utamanya. Kisah yang disajikan sangat menakjubkan, bahkan ia sampai memutar beberapa kali karena sangat menyukai filmnya. Banyak scen yang membuat air mata Anisa tidak bisa ia bending. Ia jadi membayangkan, bagaimana jika ia yang berada di posisi gadis itu, apa ia akan sanggup bertahan selama itu.
"Sayang, lagi apa?" Daniel baru selesai membereskan berkasnya yang tidak sempat ia selesaikan di kantor.
"Lagi nonton Oppa Kurea," jawabnya asal tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Kakek-kakek kok ditonton." ejek Daniel.
"Walaupun kakek-kakek tapi gantengan dia dari pada kamu!"
"Tidak ada sejarahnya pria lebih tampan dariku sayang."
"Lihat! Dia ganteng nggak?" Anisa menyodorkan laptopnya ke arah Daniel.
Bertepatan saat hantu yang mengikuti tokoh utama membuka kaca matanya. Hal itu berhasil membuat Daniel menjerit ketakutan.
"Kamu kenapa? Nggak kuat lihat ketampananya? Ah, aku tahu nih, pasti iri ya kan! Makanya jangan sombong jadi orang."
Daniel menggeleng keras dengan tatapan horor. Jantungnya bahkan bergetar dengan hebat saat tatapanhantu itu menatapnya dengan ngeri.
"Gila ya, ngapain nonton film begituan malam-malam!"
"Seru tau!" Jengkelnya.
"Seru ndasmu! Apanya yang seru dari hantu yang matanya bolong. Apanya!"
Anisa memberenggut kesal. Ia meletakkan laptopnya lalu turun dari ranjang menuju ke luar.
"Sayang, kamu mau kemana?" Daniel masih merasa was-was.
__ADS_1
"Bukan urusanmu!" Anisa keluar dari kamar, dari nada suaranya terlihat bahwa perempuan itu sedang marah.
"Buset, ngambek lagi njir!" Daniel kembali membuat istrinya marah.
la diam cukup lama sampai musik mistis menganggu pendengarannya. la mencari sumber suaranya. Sampai sebuah teriakan membuatnya ambyar seketika. Tanpa peduli ketampanannya tercela, ia memilih keluar dari sana sambil berteriak kencang. Seluruh penghuni rumah kaget mendengar teriakan Daniel yang membelah kesunyian malam. Laras, Angga serta Anisa yang sedang duduk di sofa ruang tamu, menatap aneh ke arah Daniel yang terlihat sangat ketakutan.
"Kamu kenapa teriak malam-malam?" tanya Angga heran. Apalagi wajah putranya terlihat pucat.
"Ada hantu pa!" teriaknya dengan napas terputus-putus.
"Hantu? Kamu ngigo kali Dan.”
"Serius, Ma. Ada hantu."
"Di mana?" tanya Angga merasa was-was juga.
"Di laptopnya Anisa Pa, sumpah hantunya serem banget."
"Papa! Ngapain?" tanya Laras takut saat suaminya malah menatap sekeliling.
"Mau nyari benda yang bisa dilempar ke wajah putramu, Yang."
Daniel spontan memeluk istrinya untuk meminta perlindungan. Ayahnya bisa saja terjerat kasus untuk meminta perlindungan. ni Ayahnya bisa saja terjerat kasus penganiayaan anak di atas umur seperti dirinya. Tapi Anisa masih mengunyah cemilannya tanpa terganggu dengan drama ketiganya. la masih merajuk karena Daniel mengatainya barusan. Apa pun yang terjadi, ia tidak akan mau berbicara dengan suaminya sebelum pria itu minta maaf.
"Hm, enak!"
Setelah selesai dengan cemilannya. Kanaya memutuskan kembali ke kamarnya tanpa menghiraukan Daniel yang masih ketakutan di sampingnya.
"Ma, Anisa ke kamar dulu ya."
__ADS_1
Ketiganya menatap Anisa sambil mengangguk. Lalu Daniel tersadar dan segera mengikuti langkah kaki istrinya. Mengingat posisinya sangat tidak menguntungkan untuk tetap tinggal. Dari belakang ia memperhatikan langkah istrinya yang terkesan lamban. Padahal dirinya bisa berlari melewati dua tangga. Matanya menatap ke arah kaki Anisa yang terlihat sedikit membengkak. Daniel mengaduh ngilu membayangkan berada di posisi istrinya. Mereka memasuki kamar dengan tertib, di mana Daniel mengekor di belakang Tanpa disuruh, Daniel membenarkan letak bantal serta guling milik istrinya.
"Silakan Tuan Putri." Daniel memamerkan senyum ciptadent.
"Tumben," ucap Anisa heran.
"Biasanya ucapan terima kasih, ini yang keluar malah lain." rungutnya.
"Terima kasih suami."
"Sama-sama istri."
Keduanya tertawa dengan kekonyolan mereka. Lalu Daniel mengalihkan tatapannya pada betis istrinya.
"Siniin kakinya!" perintahnya.
"Buat apa?"
"Amputasi, ya mau dipijat. Siniin! Pasti letih kan sayang," Daniel menatap Kanaya dengan sendu. "
Anisa menyelonjorkan kedua kakinya ke arah Daniel. Suaminya terlihat mengambil minyak gosok dan segera menyapu ke betis Anisa. Perlahan dengan penuh kelembutan, tangan kekarnya menari lincah di permukaan kulitnya. Sensasi yang ditimbulkan membuat Anisa sangat nyaman hingga tertidur pulas. Napasnya nampak teratur. Daniel tersenyum melihatnya. Selesai dengan kegiatannya ia segera mencuci tangan lalu menutupi tubuh istrinya dengan selimut. Dalam diam ia memperhatikan pahatan wajah milik istrinya. Terlihat cantik meski dalam kesederhanaan.
"Istriku sangat cantik."
Anisa tersenyum dalam tidurnya. Daniel yang gemas langsung mencuri kecupan dibibir ranum istrinya.
...******...
...Happy Reading All 😉...
__ADS_1
...******...