
13 tahun yang lalu
Di sebuah desa kecil nan indah, hidup sebuah keluarga yang harmonis. Meski ekonominya kelas bawah. Keluarga itu selalu tampak bahagia. Dua anak yang memakai seragam SD berlalu lalang di rumah itu. Ayah mereka selalu duduk di sebuah kursi sambil menyesap teh hangat di pagi hari, sedangkan sang ibu memasak di dapur sambil mencuci piring kotor, lalu tampak menghidangkan makanan seadanya.
"Nak, habiskan sarapannya. Ibu dan Ayah akan mengantarmu ke pementasan seni."
Anak itu tampak kegirangan dengan segala pikiran kekanakannya.
"Yeay, terima kasih Ibu," ucapnya dengan senang.
"Kakak bagaimana, Bu?" Tanya gadis kecil itu.
"Kakak akan dijemput oleh Nenek, sebentar lagi juga sampai." Selang beberapa menit, wajah keriput itu tiba dan segera membawa Kakaknya. Wanita itu sangat bersyukur karena anaknya bisa menjadi teman bagi ibunya yang sudah tua. Namun, masih memiliki stamina yang kuat.
"Ibu, Kakak pergi dulu ke rumah Nenek, kalian cepatlah kembali." Gadis itu melambaikan tangan pada ketiganya dan berlalu pergi sambil bernyanyi riang sepanjang perjalanan. Tidak ada firasat apa pun yang ia rasakan.
Bagi pasangan itu, tawa dan kebahagiaan kedua putrinya menjadi prioritas utama. Setiap tawa gadis kecil itu menjadi kebahagiaan bagi keluarga tersebut. Mereka berangkat pukul 09:00 WIB menuju tempat pertunjukkan. Perjalanan itu menempuh satu jam dua puluh menit untuk sampai di sana.
Mereka menaiki sebuah bus yang biasa beroperasi ke lokasi tersebut.
Sepanjang perjalanan gadis kecil itu berceloteh riang dan menceritakan semua yang sudah ia alami beberapa
waktu yang lalu.
"Ayah, kemarin adek dikasih permen sama teman sekelas," ucapnya dengan senang.
"Oh, ya! Adek bilang apa sama temennya?" tanya sang ibu dengan antusias.
__ADS_1
"Adek bilang makasih karena sudah baik, Adek janji kalau sudah besar nanti akan jadi orang yang baik juga."
Kedua orang tuanya tersenyum mendengar penuturan gadis itu.Gadis yang kini berusia sepuluh tahun itu melempar pandangan ke luar jendela. Dari kejauhan ia melihat sesuatu menghampiri mereka. Sebelum kemudian suara pecahan ban terdengar nyaring di telinga kecilnya. Mobil itu oleng ke kiri, bertepatan dengan jurang yang cukup dalam. Sang sopir tidak mampu mengendalikan lagi mobil tersebut. Sebelum jatuh ke bibir jurang. Ayah dari gadis itu memeluk erat tubuh mungilnya. Begitu pun sang ibu. Sang ayah melempar tubuh itu dari jendela mobil hingga terpental di jalan dan kepalanya mengenai sebuah batu sedang. Bertepatan dengan itu suara dentuman suara besi bertemu dengan bebatuan menghasilkan bunyi yang keras.
Gadis itu memandang langit dengan mata mengabur. Kelopaknya tertutup rapat saat itu juga saat rasa sakit dan pusing mengelilingi kepalanya. Kanaya bangun saat mendengar suara tangis putrinya. Napasnya terdengar mgos-ngosan dengan ritme tidak beraturan. Keringat membasahi seluruh wajahnya. la hendak meraih tubuh putrinya. Lalu sebuah tangan memegang jemariny. Mata yang sayu itu terbuka dengan perlahan. Sedikit tersentak saat melihat ada air mata menetes di pipi wanita tercintanya.
"Sayang, kamu kenapa nangis?" tanya Daniel sembari mengusap lembut pipi itu.
"Aku ... seharusnya ikut jatuh," ucapnya dengan sendu. Banyak nada kesedihan bercampur di sana membuat Eiden bingung.
"Apa maksudmu, Sayang?"
"Ah, Savana menangis, sepertinya kehausan."
Daniel turun dari ranjangnya. la mengambil bayi mungil itu di box pink lalu membawanya ke pangkuan sang istri untuk menyusu. Sepertinya bayi mungil itu juga memahami kegelisahan ibunya. Tidak biasanya terbangun di jam seperti ini.
"Sayang," ucap Daniel sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Kamu kenapa, hm?" tanyanya lembut.
Anisa memindahkan putrinya Anisa memindahkan putrinya ke tengah dan menghadap Daniel . Wajah itu masih diliputi kegelisahan dan terlihat sangat khawatir.
"Aku ketakutan," ucapnya dengan suara gemetar. Air asin bahkan sudah bertengger di matanya, sekali kedip akan langsung jatuh.
"Ada aku di sini, aku akan melindungimu, Sayang."
Anisa menumpahkan air matanya. Daniel bangkit lalu mengangkat pelan tubuh putrinya yang sudah terlelap lalu meletakkan kembali ke box. la kemudian kembali lagi ke ranjang. Dengan lembut tubuh yang terlihat rapuh itu sudah berada
__ADS_1
dalam pelukannya.
"Aku berjanji dengan nyawaku, aku akan menjadi pelindungmu, tamengmu, dan perisaimu. Jangan pernah segan untuk menggunakanku di saat kamu ketakutan, Sayang." bisik Daniel menenangkan. Hati
Kanaya menghangat seketika.
"Terima kasih," ucapnya
"Tidak ada terima kasih dalam sebua hubungan karena melindungimu, membuatmu nyaman adalah sebuah kewajiban."
Anisa sangat mencintai Daniel dan keluarga kecilnya. Ia berharap mereka akan sepertinya ini selamanya.
...****************...
...HAI!! Terima kasih buat para pembaca yang sudah mendukung saya hingga saya bisa merealisasikan karya Pertama ini !!...
...Agar saya tetap semangat update, dukung saya terus dengan memberikan LIKE, dan VOTE sebanyak-banyaknya ya!!...
...Jangan lupa tinggalkan bintang lima...
...(⭐⭐⭐⭐⭐)...
...dan klik FAVORIT agar tak ketingalan episode selanjutnya ya!!...
...Terima kasih ❤...
...****************...
__ADS_1