
Menginjak usia delapan bulan, Anisa sudah berhenti bekerja. Kini posisinya sebagai sekretaris digantikan sebentar oleh seseorang, mengingat pekerjaan Daniel tidak bisa ia atasi sendirian. Awalnya Anisa menolak untuk cuti. Namun, desakan dari mertuanya membuat ia akhirnya mengalah. Ditambah suaminya yang semakin hari semakin menjadi alaynya. Bahkan Anisa tidak diizinkan untuk Berjalan-jalan di rumah tanpa Pengawasan langsung darinya.
"Selamat siang, Pak!" seseorang masuk dengan langkah gemulai menuju ruangan Daniel.
"Silakan duduk," ucap Daniel lalu menatap gadis tersebut dengan tajam sehingga membuatnya grogi.
"Kamu sekretaris saya yang baru?" tanya Daniel datar.
"Be... benar, Pak."
"Apa kau nyaman dengan pakaian tersebut?"
Gadis itu sedikit menarik roknya ke bawah lantaran setengah dari pahanya sudah terpampang nyata.
"Pak, tolong kondisikan matanya,"
ucapnya sambil mendesah manja.
"Oh, maaf kalau kamu merasa tersinggung ,mata saya hanya mendadak juling melihat pakaian kamu yang tidak berprikewanitaan. Tapi jika kamu nyaman maka lanjutkan." sarkas Daniel sambil menyerahkan satu file ke arah wanita tersebut.
Raut gadis itu sedikit berubah mendengar ucapan Daniel. Daniel menaikkan alisnya saat sekretarisnya tidak juga pergi dari sana.
"Apa ada lagi yang mau kamu katakan?"
"Bapak sangat tampan." pujinya
yang membuat tawa Daniel muncul.
"Tentu saja, karena ketampanan itu aset berharga yang perlu dijaga dari gadis seperti kamu." lagi-lagi Daniel menjawab dengan sarkas.
Gadis itu membuang mukanya ke samping untuk mengisi kekeringan giginya. Telpon berbunyi, ia segera menyambungkannya.
"Baik, suruh dia masuk."
__ADS_1
"Tolong kamu kerjakan laporannya di sofa, sebentar lagi saya akan menyusul." perintah Daniel. la kembali sibuk dengan laporannya.
Beberapa menit kemudian, ia mendengar suara ketukan. Dengan senyum lebar ia berjalan ke sana dan membukanya. Anisa masuk sambil memeluk pinggang suaminya.
"Hubby tahu nggak sih, aku mendadak kangen sama kamu. Padahal biasanya enggak kan."
Gadis yang duduk di sofa tadi terlihat terkejut. Ekpresinya sangat kentara.
"Oh, ya! Bukannya kamu selaku merindukanku tapi sok jual mahal." goda Daniel membuat pipi Kanaya bersemu.
Deheman seseorang memutus rantai keharmonisan mereka. Sejenak Anisa melihat dengan seksama penampilan wanita tersebut.
"Siapa dia Hubby?"
"Sekretaris yang dipilih oleh HRD untuk menggantikan posisi yang Sedang kosong."
"Apa?" teriak Anisa syok.
"Maaf atas reaksi saya Nona, tapi apa saya bisa memberi sedikit masukan?" tanya Anisa sembari berjalan mendekat.
Gadis itu sudah berwajah pucat. la tahu akan seperti apa endingnya. Istri dari Bosnya akan mengamuk dan menjambaknya dengan keji.
"Perkenalkan saya Anisa, istri Pak Daniel Wijaya." Anisa sengaja menekankan kata istri saat memperkenalkan dirinya.
"Halo, Bu Anisa, saya Lea sekretaris baru Pak Daniel ," ucapnya dengan gugup.
"Kamu yakin mau jadi sekretarisnya?"
gadis itu menganguk, terlihat raut antusias di matanya.
"Dengan pakaian seperti ini?"senyumnya seketika memudar, ja heran mengapa pakaiannya dipermasalahkan. Raut tidak suka jelas terlihat.
"Maaf, Bu. Apa ada yang salah?"Anisa menatap suaminya yang sedang bekerja di mejanya.
__ADS_1
"Tidak salah sebenarnya. Hanya saja kamu berada di ruangan yang salah!"
"Jika kamu ingin bekerja sebagai sekretaris, tunjukkan kehormatanmu sebagai sekretaris dari suamiku. Tapi jika kamu ingin menjual diri pergilah ke diskotik atau klub malam."Mata gadis itu menatap Anisa dengan tajam.
"Siapa Anda yang dengan lancang menjudge pakaian yang sedang saya kenakan?"
Anisa menatap suaminya, "Hubby, dia bukan pekerja yang cocok untuk mengisi posisiku."
"Kenapa Anda begitu kejam!" hardik Lea sambil menangis.
"Bukan saya yang kejam, tapi kamu tidak menyayangi dirimu sendiri." Anisa menghela napas.
"Jika kamu berpikir mau menggoda suamiku, bukan di kantor tempatnya."
Anisa berjalan meninggalkan Lea. Gadis itu sepertinya tidak terima dikritik. Dengan asal ia menjulurkan kakinya sehingga membuat keseimbangan Anisa hilang. Gerakan jatuhnya bagai slow motion hingga sebuah bunyi membuat Daniel tersadar. Anisa mengaduh kesakitan dan memegang perutnya yang terasa sedikit nyeri. la menatap tajam kearah Lea.
"Sekali lagi kamu melakukan hal itu, siap-siap jadi pengangguran sampai tua!" ancam Daniel membuat nyalinya menciut. Daniel segera mengurut kaki istrinya lembut akibat kejadian tadi, ia hanya takut kaki Anisa kenapa-napa.
...**********...
...HAI!! Terima kasih buat para pembaca yang sudah mendukung saya hingga saya bisa merealisasikan karya Pertama ini !!...
...Agar saya tetap semangat update, dukung saya terus dengan memberikan LIKE, dan VOTE sebanyak-banyaknya ya!!...
...Jangan lupa tinggalkan bintang lima...
...(⭐⭐⭐⭐⭐)...
...dan klik FAVORIT agar tak ketingalan episode selanjutnya ya!!...
...Terima kasih ❤...
...**********...
__ADS_1