
"Anisa ... Savana minta makan!" panggil Daniel sembari bergoyang untuk menenangkan putrinya yang menangis. Terdengar suara langkah kaki menaiki tangga, Daniel menghela napas lega. Laras datang sembari mengambil cucunya.
"Cup cup cucu, Oma. Jangan nangis lagi sayang. Mamanya lagi mandi biar segar."
Daniel merebahkan tubuh di sofa, matanya sangat kelelahan akibat begadang semalam. Savana sangat rewel jika menjelang malam. Sedikit saja disentuh oleh nyamuk, langsung menangis kencang. Kamarnya sudah seperti rumah hantu di taman permainan yang dulu sering ia masuki bersama teman-temannya saat SMA. Sekitar sepuluh menit kemudian, Anisa keluar dari kamar mandi sembari meletakkan handuk di tempatnya. Ia berjalan cepat ke arah Savana yang sedang didiamkan oleh mertuanya. Matanya melihat kearah suaminya yang sudah tidur lelap.
"Savana lapar, Ya! Kasian anak Bunda kelaparan." Wanita itu segera memberi asi pada putrinya. Raut wajah mungil itu terlihat sangat bahagia saat bibirnya sudah bersentuhan dengan sumber makanan yang selalu memberinya kekuatan untuk menangis..
"Mama, makasih bantuannya." Anisa tersenyum tulus. Banyak hal yang ia syukuri di dunia ini, termasuk memiliki mertua yang sangat baik, ia bahkan bisa merasakan cinta yang tulus.
"Mama senang melakukannya, apalagi buat cucu Mama yang tersayang. Lagi pula kamu pasti sangat kerepotan karena harus mengurus dua bayi kan." kekeh Laras kemudian berlalu pamit dari sana. la teringat saat putranya cemburu saat perhatian Anisa terkuras untuk Savana.
Anisa menatap Daniel dengan kasihan. Ia ikut duduk di sofa sembari mengelus pelan rambut suaminya. Selesai dengan kegiatan itu, ia merebahkan diri ke bahu Daniel yang sangat kekar. Putrinya juga sudah terlihat mengantuk, terlihat dari matanya yang mulai kuyu. Daniel membuka mata pelan. Sebuah senyuman terbit di bibir yang terlihat seksi. Meski pun rasa lelah kerap mampir. Namun, rasanya terbayar saat melihat istri dan putrinya tertidur nyaman bersandarkan bahunya. Mengambil Savana dari gendongan Anisa. Lalu meletakkan ke ranjang kecil yang berada di samping tempat tidur mereka. Setelah itu, kakinya kembali berjalan dan membopong istrinya. Jika dibandingkan dengan rasa lelah yang ia terima, tentu Anisa menduduki peringkat pertama bandingkan dia, dengan pelan membaringkan tubuh itu ke ranjang sembari lagi-lagi tersenyum.
Siang itu ia habiskan menatap wajah damai istrinya, rasa kantuk menguap seketika. Jika dulu ia tidak dikhianati oleh Risma, tentu tidak akan bertemu dengan Anisa. Untuk itu, ia sangat bersyukur dengan segala ketentuan pencipta. Terkadang apa yang menurut umatnya baik, belum tentu baik bagi penciptanya. Namun, apa yang menurut penciptanya baik, maka akan baik untuk umatnya. Mungkin kalimat di atas sedang ia alami saat ini. Anisa tampak merengut dalam tidur, Daniel segera memindahkan kepala itu ke dada bidang miliknya. Sesekali ia mengecup gemas pucuk kepala wanita yang sudah memberinya miliaran kebahagiaan dengan cara yang sederhana.
******
Usia Savana menginjak satu bulan, bayi itu terlihat sangat menggemaskan dengan segala tingkahnya. la suka menatap mata Anisa . Namun, tidak suka dengan mata Daniel yang terkesan tajam. Padahal ia suka menganggu pria itu di saat malam.
__ADS_1
"Daniel , pegang Savana sebentar," ucap Anisa sambil menyerahkan bayi mungil tersebut. Anisa segera melipir menuju kamar mandi untuk membuang hajat. Sekaligus menyiapkan tempat mandian untuk si kecil.
Tubuh kecilnya terlihat menggeliat, Daniel mengelus pelan kepala bayi mungil itu sambil tersenyum.
"Anak, Papa gadis yang pintar." kekeh Daniel , tangan kekarnya mengelus pelan tangan mungil yang masih rapuh. la terlihat snagat nyaman dalam dekapan ayahnya.
Anisa tersenyum dari balik pintu, suaminya selain kaya juga berprikebapakan dan ia sangat bersyukur atas kehidupannya saat ini.
"Saatnya bayi kecil mandi," serunya dengan ceria.
"Itu gimana cara megangnya tanpa baju Sayang, tubuhnya masih lembek," ucap Daniel sambil memperhatikan dengan ngilu.
Daniel menganguk paham meskipun dia kurang paham. Dia gtersu memperhatikan cara istrinya melepas mulai dari baju kaosnya, celana hingga popok. Semua terlihat sangat telaten dan membuat Daniel takjub.
"Aw, lihat dia sangat lembek," ucap Daniel dengan takut-takut.
"Namanya juga bayi, kalau mau yang keras, ambil batu sana. Lagi pula, kamu juga dulu selembek putrimu," ucap Anisa dengan kesal. Suaminya terus saja mengoceh tanpa membantunya.
"Iya, Mama muda suka marah dan sensi."
__ADS_1
Anisa menatap dongkol suaminya yang sedang melihat bayinya dengan takut-takut. Bahkan tangan kekarnya terlihat gemetar saat Kanaya menyodorkan bayi mungil itu. Karena takut bayinya kenapa-napa, pada akhirnya kiden hanya memberikan handuk dan mengambil berbagai macam perlengkapan bayi.
...***********...
...HAI!! Terima kasih buat para pembaca...
...yang sudah mendukung saya agar tetap...
...semangat melanjutkan cerita ini setiap harinya!! Agar saya tetap semangat update, dukung saya terus dengan memberikan LIKE, dan VOTE sebanyak-banyaknya ya!!...
...Jangan lupa tinggalkan bintang lima...
...( ⭐⭐⭐⭐⭐)...
...dan klik FAVORIT agar tak ketinggalan episode selanjutnya ya!!...
...Terima kasih. 😘😘😘...
...**********...
__ADS_1