
Sudah dua hari berada di tempat asing dengan orang yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Gadis kecil itu masih sedikit takut saat kedua orang itu mendekatinya. Trauma akan disakiti oleh orang lain terus menggema di benaknya. Seluruh bagian dari tubuh itu bergetar hebat. Sungguh, ia sudah melalui masa paling menyedihkan dalam hidup.
"Nak, jangan takut, kami ini orang baik," ucap wanita yang kini tidak lagi muda. Raut wajah yang lembut membuat hati gadis itu sedikit tenang.
"Iya, Nak. Bapak yang menolongmu beberapa hari yang lalu." jelas Pak Tua itu dengan lembut.
"Maaf, Nek. Sa ... saya di mana?" tanya suaranya yang terdengar lemah.
"Kamu ada di kampung Mutiara, Sulawesi Selatan."
la berjengkit kaget mendengar nama daerah yang belum pernah ia dengar.
"Maaf, Kek. Apa tempat Kakek jauh dengan Jambi?"
Pria itu tampak terkejut dan terpegun mendengar pertanyaan tersebut.
"Apa kamu dari sana, Nak?"
la menganguk dengan raut sedih. Bayangan saat kecelakaan kedua orang tuanya masih terngiang jelas. la menangis tersedu-sedu membuat keduanya kelimpungan.
"Nak, jangan menangis, Kakek janji akan membawamu ke Jambi kalau sudah ada uang."
__ADS_1
Gadis itu menengadah dan menganguk riang. Namun, sbuah fakta membuatnya tidak bersemangat. "Kakek, apa aku boleh tinggal bersama kalian dalam waktu lama?" Keduanya tentu sangat gembira
meskipun banyak pertanyaan berseliweran di kepalanya. Namun, apa pun itu kalimat si gadis kecil sangat membuat mereka bahagia. Sudah tiga puluh delapan tahun lamanya mereka menikah dan tidak juga dikarunia anak.
"Nak, namamu siapa?"
"Namaku Anisa, Nek."
"Nisa, semoga kamu betah tinggal bersama kami ya."
Gsdis kecil itu menganguk. Ia tidak tahu sampai kapan harus tinggal di sini. Namun, terakhir kali ia hampir mati untuk itu mengambil langkah gegabah sangat ia hindari untuk saat ini.
Anisa mengusap air mata. Ia teringat akan sosok yang sudah merawatnya selama 10 tahun dengan limpahan kasih sayang. Ketulusan yang mengalir tanpa batas tanpa ada jarak di antara mereka. Momen yang sangat ia rindukan dari kedua sosok tersebut. Kesederhanaan yang memberinya cinta luar biasa tanpa pamrih. Mereka berdua sudah seperti orang tua kandung.
Anisa menumpahkan segala kesesakan di hatinya. Di dada bidang Daniel ia merasa nyaman untuk meluapkan semuanya.
"Air matamu sangat berharga, kenapa menangis? Apa ada yang melukai hatimu?"
Anisa menggeleng pelan. la mengusap hidungnya yang memerah. "Aku kangen sama Nenek dan Kakekku di kampung."
"Apa mau kita kesana?"
__ADS_1
Anisa menggeleng kuat. Andai ia bisa menjenguk makan keduanya pasti sudah ia lakukan sejak dulu.
"Kenapa?"
"Daniel , apa kamu percaya kalau aku pernah mengalami hal yang tidak pernah bisa dibayangkan oleh orang lain."
Daniel mendengarkan dengan serius.
"Aku bahagia menjadi wanita seperti sekarang yang terlihat tanpa beban Daniel . Tapi semakin kuabaikan beban itu semakin mendekat dan menindihku sampai rasanya sangat menyesakkan."
"Ada tiga hal yang membuatku sangat bahagia. Bahkan belum pernah sebahagia ini." Daniel mendengarkan dengan Cermat.
"Pertama, meski banyak kesakitan dan kehilangan, Tuhan memberiku sepasang suami istri yang sangat menyayangiku layaknya anak dan cucunya sendiri. Kedua, Tuhan lagi-lagi memberiku pria tampan yang sangat mencintaiku meski pertemuan kita tidak romantis sama sekali. Ketiga Tuhan memberiku malaikat kecil yang sangat imut dan menggemaskan." Anisa tersenyum membayangkan putri cantiknya. Namun, ia murung dan kembali menangis membuat Daniel kelimpungan.
"Sayang, apa aku membuatmu sedih?"
Gelengan Anisa membuat Daniel bingung.
"Tuhan sudah memberiku kebahagiaan, dan aku takut ia mengambil semuanya dariku." isaknya membuat hati Daniel berdenyut nyeri.
Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah menyukai tangisan kecuali tangisan bayi. la mencoba menenangkan Anisa bahwa semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1
Bersambung....