
Perusahaan Daniel hampir saja mengalami masalah serius. Salah satu pegawai yang menjabat sebagai bendahara, berusaha membawa kabur uang perusahaan. Untungnya pegawai yang selama ini loyal terhadapnya segera melaporkan kejadian tersebut. Jika tidak maka perusahaannya diambang kehancuran. Daniel keluar dari ruangannya, ia menatap Anisa serius.
"Anisa, ikut saya!" perintahnya.
Anisa mengernyit bingung. Namun, tetap mengikuti langkah suaminya. Mereka berdua sudah sampai di ruang rapat. Pelaku yang selama ini menangani keuangan, tertunduk lesu dengan wajah sembab. Wajahnya yang cantik terlihat memerah menahan tangisan agar tidak keluar. la sangat menyesal melakukannya. Tapi saat itu dirinya sangat membutuhkan uang untuk biaya operasi ibunya yang bernilai ratusan juta rupiah.
Daniel segera duduk di kursi kebesarannya, Kanaya juga duduk disampingnya.
"Jelaskan!" perintah Daniel dingin. Wajah tampannya terlihat mengetat menahan amarah.
Anisa menatap wajah suaminya takut, ia belum pernah melihat Daniel semarah sekarang. Bahkan tangannya sedikit gemetar menahan tangis. Lalu ia mengalihakan tatapan pada wanita yang sedang disidang oleh suaminya. Wanitan itu juga sangat ketakutan dengan tangannya yang gemetar dan wajahnya gugup.
"Pak, mohon maafkan saya," ucap wanita itu dengan suara parau.
"Saya tidak pernah menerima maaf dari wanita licik seperti kamu!" Tekanan kalimat Daniel mampu membuat ngilu siapa saja yg mendengarnya.
"Pak, saya ...." Daniel menatap tajam manik kehitaman tersebut sehingga kalimatnya berhenti sejenak. Wanita itu meneguk rakus oksigen saat dadanya terasa sesak.
"Pak, beri saya kesempatan kedua, saya akan menebus semuanya." Ia terlihat memohon dengan tulus.
Anisa yang tidak bisa menahan rasa ibanya juga melihat suaminya. Ia tidak ingin membela meski kondisinya sangat memprihatinkan. Yang salah tetap harus dikasih pelajaran untuk memberi efek jera serta tidak mengulangi kembali perbuatannya.
__ADS_1
"Pak, saya rasa dia bisa diberi kesempatan. Lagi pula uangnya masih ada kan."
Beberapa petinggi yang hadir di sana tidak menyetujui usulan Anisa yang bisa membahayakan kembali perusahaan yang menaungi mereka. Wanita itu melihat sekretaris yang sedang membelanya. Perut buncit menjadi daya tariknya. Mata bulat itu memperhatikan tubuh sedang itu dengan saksama. Sudut bibirnya tersenyum licik. Dalam hati ia merutuki kebodohan sekretaris naif itu. Daniel melihat Kanaya tajam, ia tidak suka istrinya membela wanita yang tidak benar. Namun, ia tidak bisa mengabaikan tatapan yang selalu membuatnya nyaman meski dalam badai sekali pun.
"Roni, awasi wanita itu, jangan sampai dia mengacau di perusahaanku, paham!" hardiknya lalu meninggalkan mereka semua. Laila mengusap air mata lalu menghampiri Anisa yang hendak beranjak dari sana.
"Terima kasih, Bu! Sudah memberi saya kesempatan kedua," ucapnya dengan wajah culas.
Anisa tersenyum kecil melihat wanita tersebut,
"Jangan berterima kasih untuk sesuatu yang belum tentu bisa kau tepati." Lalu Anisa pergi dari sana menuju ruang suaminya. Ia akan memberi sesuatu pada pria itu agar tidak selalu emosi menghadapi orang seperti Laila.
Beberapa karyawan tampak berkasak kusuk saat melihatnya melintas di depan mereka. Pasalnya dua bulan yang lalu karwayan baru mengetahui kalau dirinya sudah menikah. Namun, tidak mengetahui siapa suaminya. Kedekatan Anisa dengan Daniel masih menjadi perbincangan hangat dikalangan wanita pemuja CEO tampan dan mapan milik mereka.
"Namamu siapa?" tanyanya dengan intonasi lembut.
"Buat apa lo tau nama gue," ucap wanita tersebut sedikit sinis.
Anisa tersenyum melihatnya, "Hanya ingin tahu saja, barang kali nanti Anda butuh bantuan saya."
Sorot mata wanita tersebut berubah mengejek, "gue, minta bantu sama lo! Emangnya siapa lo, cuma sekretaris aja belagu."
__ADS_1
Beberapa karyawan tampak tersenyum mengejek Anisa. Mereka bersyukur memiliki lidah tajam seperti wanita yang kini berdiri di hadapan Anisa. Wanita yang sangat mereka benci lantaran iri.
"Anisa!" panggil sebuah suara sambil membawa beberapa bekal makanan. Para karyawan seketika berubah menjadi bunglon. Siapa yang tidak mengetahui wanita yang masih cantik di usia yang tidak lagi muda.
"Selamat datang Nyonya," ucap wanita yang tadi mengatai Anisa. Laras melalui wanita tersebut lalu menghampiri dirinya.
Sudut bibir Anisa melengkung sempurna membentuk bulan sabit.
"Mama bawakan empat makanan sehat lima sempurna buat cucu tunggal keluarga Wijaya," ucap Laras dengan gembira.
Laras tidak mengetahui jika di sana tidak ada yang mengetahui identitasnya sebagai istri dari Daniel . Rahang semua karyawan hampir saja jatuh, wajah mereka memucat tak kecuali wanita yang tadi. Bibirnya terasa sangat kering, bahkan untuk menghirup udara saja rasanya sangat susah. Mereka sudah bersikap kurang ajar selama ini.
"Ayo ke ruangan suamimu." Laras menggandeng manja lengan menantunya, untuk keseribu kalinya mereka menyayangkan kehadiran wanita yang sudah mencerca istri CEO masuk ke perusahaan yang menaungi mereka.
"Jadi ... jadi," ucapnya terpotong oleh sebuah kenyataan.
"Siap-siap aja lo hengkang dari perusahaan ini," sinis semua karyawan.
Wanita itu mengepalkan tangannya, kenapa dari semua hal yang ada di perusahaan, ia harus berurusan dengan menantu keluarga Wijaya. Hidupnya sudah tamat sekarang, dan mungkin ia akan di coret dari semua perusahaan.
...*******...
__ADS_1
......Happy Reading All 😉......
......********......