
Semakin mendekati kelahiran, Anisa sering merasakan kontraksi palsu. Kadang-kadang ia merasakan sakit perut seperti buang air. Ia juga cepat lelah. Tidurnya tidak nyaman, sesekali napasnya berembus pendek. Seringnya terjadi kontraksi membuat Daniel kelimpungan akibat khawatir berlebihan. Selama mendekati kelahiran buah hatinya, tidak jarang ia pulang dengan cepat dari kantornya. Seperti pagi ini, Anisa mengeluh sakit saat ia mengalami kontraksi palsu. Laras sudah sejak seminggu yang lalu menghentikan aktivitas sosialitanya.
la ingin fokus menjaga menantu beserta cucu kesayangan di keluarga
mereka.
"Anisa , makan dulu, Mama sudah buat salad buah kesukaan kamu." Laras membawa nampan berisi pisang, kiwi dan yogurt yang sudah ia campur menjadi satu. Anisa menyambut bahagia nampan tersebut dan tersenyum.
"Terima kasih, Ma." Anisa segera melahap makanannya. Ketika perutnya sudah terasa penuh ia segera menghentikannya.
"Sayang, aku berangkat dulu ya, kamu jaga diri baik-baik. Hari ini aku pulangnya agak malam." Daniel mengecup bibir Anisa dengan lembut. Wanita itu sampai tersipu malu saat mata Laras menatapnya dengan jahil.
"Iya, kamu jaga diri, jaga mata dan jaga hati. Jangan tergoda sama wanita lain karena istrimu sedang membawa pasukan di sini." ceramah Anisa sambil menunjuk perut buncitnya membuat Daniel terkekeh geli.
"Baik, Nyonya Wijaya yang tercinta, tidak akan ada wajah mana pun yang bisa menggantikanmu."
Anisa memberi jempol dan Pria itu melangkah pergi menuju mobil. Dengan segera ia melajukan kenderaannya membelah padatnya kota metropolitan.
"Anisa, Mama pergi sebentar ya. Ada urusan mendadak. Mama cuma sebentar sayang." Laras pamitan lalu ikut pergi setelah menerima pesan dari temannya.
__ADS_1
Kini Anisa tinggal sendirian di rumah yang megah. Asisten rumah tangganya sedang pergi berbelanja ke pasar. anisa menyibukkan diri dengan melakukan beberapa gerakan yoga yang ia pelajari selama dua bulan belakangan ini. Rasa nyeri kerap hadir di pangkal serta pinggangnya. Terkadang rasanya sudah membasahi keseluruhan dari wajahnya. Ia berjalan pelan ke arah matrasnya untuk mengambil ponsel. Anisa merasa takut luar biasa, apalagi tidak ada siapa pun di rumahnya. Dengan susah payah ia mengambil ponselnya. Ia segera menekan nomor suaminya.
Panggilan pertama tidak terjawab, ia tidak menyerah sampai panggilan ketiga.
"Kan, aku lagi rap-" ucap Daniel terpotong oleh suara Anisa yang tampak menahan sakit.
"Daniel , kayaknya aku mau melahirkan. Tidak ada siapa pun di rumah," ucapnya dengan suara lemah. Jantung Daniel mendadak memompa dengan kencang. Rasa khawatir mulai menyusup dalam tulang.
"Kamu tunggu di sana," ucapnya
dan segera mematikan panggilan.
Sekretarisnya segera menjumpai dia memberitahukan rapat akan segera dimulai.
"Tapi Pak, mereka sudah datang jauh-jauh," sanggah sekretarisnya memberitahu.
Daniel menatap tajam manik kehitaman yang menatap dirinya dengan sedikit ketakutan.
"Kamu tahu, istriku sedang bertaruh sendirian. Jika anak serta istriku sampai kenapa-napa. Apa kau mau tanggung jawab? Hah!" teriak Daniel dengan marah. la segera mengambil kunci mobilnya dan
__ADS_1
segera pergi dari sana.
Anisa sudah menangis menahan sakit yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Tangannya mulai gemetar saat melihat cairan kental keluar dari paha. la benar-benar akan segera melahirkan. Bagaimana jika ia tidak sempat melihat anaknya. Bagaimana kalau ia tidak sempat bertemu dengan suaminya. Bagaimana jika ia meninggalkan anaknya menjadi piatu karena ia meninggal lebih cepat. Semua itu membuatnya menangis.
"Nak, jika nanti Bunda tidak sempat melihatmu, percayalah Mama sangat menyayangi kamu," ucap Anisa dengan berderai air mata.
...**********...
...HAI!! Terima kasih buat para pembaca...
...yang sudah mendukung saya agar tetap...
...semangat melanjutkan cerita ini setiap harinya!! Agar saya tetap semangat update, dukung saya terus dengan memberikan LIKE, dan VOTE sebanyak-banyaknya ya!!...
...Jangan lupa tinggalkan bintang lima...
...( ⭐⭐⭐⭐⭐)...
...dan klik FAVORIT agar tak ketinggalan episode selanjutnya ya!!...
__ADS_1
...Terima kasih. 😘😘😘...
...**********...