
Anisa sedang bersiap-siap pergi ke kantor suaminya. Namun, baru saja ia di depan pintu sang mertua sudah datang sambil membawa beerapa bingkisan yang berisi mainan untuk Savana dan sekantung buah-buahan.
"Mama, baru nyampek aja." kekeh Anisa sambil menuntun Laras ke sofa.
"Kamu mau kemana Nis ? Savana mana?"
"Rencana mau ke kantor Ma, Savana tadi keluar sama si Mbak." jelas Anisa sambil tersenyum.
"Yah, Mama ganggu yah," ucap Laras tidak enak hati.
"Tentu aja nggak dong, Ma. Lagian tadi Mas Daniel juga udah bilang kalau Mama bakalan datang cuma nggak dikasih tahu kapan dan tau-tau Mama udah di depan."
Laras memperhatikan Anisa yang sedang menatapnya dengan senang. Wanita yang masih cantik diusianya yang sudah tidak lagi muda. Ia senang mengetahui Anisa sesuai dengan pikiran awalnya. Sederhana dan tidak suka berfoya-foya.
Apalagi saat putranya bercerita mengenai Anisa yang ngotot dibelikan baju tiga puluh lima ribu.
Tawa Laras meledak saat putranya mencak-mencak dan curhat karena kelelahan mencari pesanan istrinya.
"Nis, gimana kamu sama Daniel? Pernah bertengkar?" tanya Laras dengan hati-hati.
Anisa mengernyit heran mendengar pertanyaan mertuanya. Tapi ia tetap menjawab dengan sopan.
"Nggak pernah, Ma. Karena Mas Daniel juga bukan tipe yang pemarah sebagai suami dan aku juga nggak banyak nuntut," ucap Anisa senang.
Mendengar hal itu membuat Laras senang. Ia tidak mau terjadi sesuatu angan rumah tangga putranya yang sudah susah payah move on dari wanita yang bahkan tidak ingin Laras sebut namanya.
"Memangnya kenapa, Ma?" tanya Kanaya karena penasaran.
"Nggak ada, Nisa . Mama senang mendengar hubungan kalian baik-baik aja."
"Ya ampun, Ma. Sampai lupa kan!" Anisa menepuk jidatnya sampai lupa menyajikan minuman.
"Kenapa? Kamu telat datang bulan?" tanya Laras terlihat senang.
"Bukan, Ma. Ya ampun sebentar
"Anak itu meski udah jadi ibu masih aja seperti anak-anak."
Beberapa menit kemudian, Anisa datang membawa nampan lalu menghidangkan kehadapan mertuanya.
"Maaf, ya Ma. Sampai lupa."
"Kamu ini, Mama kira apaan."
Keduanya tertawa bersama sebelum sebuah panggilan terdengar. Laras membuka tasnya dan nama sag suami terpampang nyata. la sedikit menyunggingkan senyum sesaat setelah mengangkat panggilannya.
"Halo, Pa. Kenapa?"
__ADS_1
"Gombal," ucap Laras sambil tertawa.
Anisa mendengar sembari menyaksikan interaksi keduanya yang sangat romantis di matanya. Ia iyaa ingin seperti mertuanya. Meski menyaksikan interaksi keduanya yang sangat romantis di matanya. Ia juga ingin seperti mertuanya. Meski sudah menua tapi tetap menyayangi selamanya.
"Kan, Mama pulang dulu, kapan-kapan aja ya kita belanjanya. Papamu minta ditemani ketemu sama teman lamanya."
"Oke, Ma."
Anisa mengantar Laras ke depan pintu. Ia lalu melihat jam sudah menunjukkan pukul 12:00 WIB. Setelah kepergian Laras si Mbak datang sambil menggendong Savana yang sedang tidur.
"Dari mana aja mainnya Mbak?"
"Dari taman belakang, Buk. Tadi ada kupu-kupu dan Vana nggak mau pergi," ucapnya dengan logat khas banjarmasin.
Anisa menganguk, "Mbak saya mau ke kantor sebentar, tolong jagain Savana ya."
"Baik, Bu."
Anisa megambil kunci mobil lalu segera pergi ke kantor suaminya. Sekitar 20 menit kemudian ia sampai di sana. Di lobi ia disambut ramah oleh beberapa pekerja yang berpapasan dengannya.
Clara yang masih setia duduk di tempatnya menatap kedatangan Kanaya dengan alis mengerut heran. Siapa wanita itu sampai disapa banyak karyawan, pikirnya.
Clara perlahan bangkit dari kursinya dan mengikuti arah kepergian Anisa. Keduanya sidah berada dalam satu lift.
"Mbak, mau ke lantai berapa?" tanya Anisa sopan.
"Dua lima," ucapnya singkat.
"Kalau tidak penting saya tutup sekarang," ucap Anisa kesal saat tidak ada suara dari coring telpon.
"Halo Anisa sayang."
Jantung Anisa kembali berdetak menggila, ia kenal suara ini. Ia segera mematikan panggilan. Raut wajah ia atur sedemikian, ia berjalan menuju ruangan suaminya.
"Bapak ada di dalam?" tanya Anisa sopan.
"Ada Bu. Tapi sedang ada tamu," ucap sekretarisnya.
"Apa tamunya penting?"
"Sepertinya tidak, Bu."
Anisa segera berjalan masuk dan melihat suaminya sedang memeluk seorang wanita yang tadi ia satu lift dengannya.
" Mas Daniel!" teriak Kanaya dengan marah.
Daniel kaget dan langsung melepas pelukannya. Ia berjalan cepat ke anisa yang sedang menahan amarah. Terlihat dari pernapasannya yang memacu cepat.
__ADS_1
"Ngapain kamu meluk-meluk wanita yang bahkan belum kamu nikahi!" suara Anisa naik satu oktaf membuat Daniel ketar ketir.
"Sayang, anu ini nggak seperti yang kamu bayangkan. Dia cuma...." Ucapan Daniel langsung dipotong oleh Clara.
"Kami memang berpelukan karena saling mencintai. Kuharap kamu tidak tersinggung mengetahui hal ini," ucap Clara
"Clara!" hardik Eiden kesal.
Mata Anisa membola mendengar ucapan Clara. Dia berjalan ke depan lalu menatap Clara dengan seksama. Kini ia tahu siapa lawannya.
"Sayang, ini semua ...," ucapnya terpotong oleh tatapan tajam milik Anisa.
" Dan jelaskan siapa dia!" tunjuk Anisa datar.
"Dia ... wanita yang dulu meninggalkanku di hari pernikahan." Anisa menatap Clara dengan tatapan intimidasi.
"Jadi apa alasanmu masih mengejar suamiku setelah kamu mencampakkannya?"
"Aku masih mencintai suamimu dan asal kamu tahu, suamimu juga masih mencintai aku!" ucapnya dengan bangga.
"Clara jangam fitnah kamu!"
"Biar kutebak sekali, hanya ada dua alasan kenapa kau kembali muncul dihadapan suamiku." Anisa mendekati Clara perlahan.
"Pertama, kau kena karma karena sudah mencampakkan suamiku dan kini kau juga dicampakkan. Kedua, suamimu jatuh miskin! Dari kedua hal di atas, mana yang kamu alami?" tanya Anisa serius.
Clara mengepalkan tangannya kuat, ingin sekali rasanya ia menampar wajah Anisa yang menurutnya sangat menyebalkan.
"Jangan berpendapat jika kamu tidak tahu apa-apa!"
"Lalu, kenapa kau ingin sekali aku mempercayai ucapanmu mengenai suamiku? Sedangkan kau tidak tahu apa-apa!"
Skak mat, Clara dibuat bingung gendak bereaksi bagaimana di saat seperti ini.
"Jika kau berharap aku seperti yang kau bayangkan maka buang jauh-jauh anganmu untuk merebut suamiku! Kau tahu? Aku sangat hafal tipe mantan sepertimu!" Ucapan Anisa berhasil membuat emosi Clara meledak. la menampar Anisa sampai tersungkur ke belakang. Alhasil Daniel menatap marah pada Clara.
"Mas , kamu nggak lagi ingin nampar perempuan kan?" tanya Anisa sambil mengelus pipinya yang terasa panas.
"Mas aku tadi nitip makanan, kamu ambil sebentar ya! Harus kamu yang ambil," ucap Anisa . Sejujurnya Daniel berat hati melangkah dari sana. Namun, tatapan memelas istrinya tidak mampu ia abaikan.
Setelah kepergian Daniel, Anisa menatap dingin wanita yang kini dengan congkak melawan tatapannya. Anisa tanpa segan melayangkan tamparan keras sampai sudut bibir Risma membiru. Seolah tidak terima ia kembali menyerang Anisa. Namun, sayang karena kakinya tersandung oleh kaki milik Anisa sampai tersungkur.
Bersambung.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa jadiin favorit ya, biar bisa dapat notifikasi saat novel ini up. Dan jangan lupa like, vote, dan komentar yang positif. Terimakasih, kalau mau ngasih kritik dan saran juga boleh, itu bagus. Jadi saya tahu mana yang salah dan mana yang benar. Salam hangat dari saya. 🤗
__ADS_1
Oh iya, kalau mau lebih dekat dengan sang penulis, teman-teman bisa Follow ig aku @Aisyahsnisa.07atau fb aku Aisyahanisa
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...