
Anisa bersama mertuanya masuk ke ruangan Daniel . Kedatangan Laras disambut hangat oleh putranya. Anisa sendiri langsung memilih duduk di sofa hitam yang membentang di tengah ruangan. la segera membuka makanan yang tadi dibawa oleh mertua terkasihnya. Laras dan Daniel pun segera menyusul mendaratkan bokong mereka di sofa.
"Tumben, Mama kemari." Daniel melihat jam rolex yang bertengger indah di tangannya.
"Kangen, Anisa ," ucapnya pelan.
"Sama Anisa doang?"
"Ya iyalah, sama kamu ngapain Mama kangen, setiap hari ketemu. Kadang ya, Mama bosan lihat muka kamu!"
"Mama, ngomongnya jahat banget." Daniel terlihat cemberut sebelum kemudian tertawa saat melihat sudut bibir istrinya sudah belepotan.
"Sayang, kamu ini udah segedek gajah, tapi makannya masih blepotan." decak Daniel sambil mengambil beberapa lembar tisu dan mengusap bibir Istrinya.
"Habis, aku lapar gara-gara disindir mulu, ups hehe kelepasan." Anisa menyengir kuda melihat mata Eiden melotot horor.
"Siapa yang menyindir kamu?" Tanya Daniel memicing dengan curiga.
"Bukan siapa-siapa."
"Jangan berbohong Anisa, tadi kamu dengan jelas mengatakannya. Mama aja mendengarnya, ya Kan Ma." Daniel melihat ibunya menganguk serius.
"Yah, ketahuan nggak bisa ekting." Desahnya sedih.
"Sayang, bilang sama Mama. Siapa yang menyindir kamu, hm?"
__ADS_1
Anisa menggigit bibirnya dengan pelan, ia menunduk lesu lalu suara isakan terdengar pelan. la mengusap air matanya. Daniel yang melihat itu semua segera mendekati istrinya sambil bertanya.
"Sayang ... aku," ucapnya terpotong oleh suara cicitan Kanaya.
"Seseorang pernah mengatakan kalau aku ini bukan wanita baik-baik," ucapnya sambil menarik ingus yang hendak keluar. Air mata perlahan turun membasahi pipinya. Melihat hal itu membuat amarah Daniel yang terpendam mendadak keluar dengan sendirinya.
"Tapi, kalau dipikir-pikir, aku ini sebenarnya wanita baik-baik, ya kan Ma." Anisa menangis tergugu. Anita tersenyum lalu memeluk menantunya dengan sayang.
"Bukan dipikir-pikir lagi, tapi menantu Mama memang wanita baik-baik, paling baik di antara yang terbaik" ujar Laras menenangkan.
"Seriusan, Ma."
"Serius dong, emang Mama pernah bohong? Enggak kan."
Anisa menggeleng pelan.
"Makasih, Mama. Baik banget nggak kayak anaknya." sindir Anisa .
Daniel membelalakan mata menatap kesal ke arah istrinya.
"Maksudnya apa coba." Bisiknya kesal.
Daniel masih memikirkan ucapan Anisa mengenai orang yang sudah menyindir istrinya. Memang sampai saat ini, tidak ada yang mengetahui hubungan keduanya. Namun, hari ini akan menjadi momen paling mengejutkan banyak orang. Anisa sekretaris yang sedang bunting ternyata menantu dari pemilik perusahaan terbesar di Indonesia. Saat Anisa pulang, tidak ada lagi yang menyindirnya. Bahkan ada yang secara terang-terangan menjilat seolah tempo lalu bukan mereka yang merendahkannya. Wajah Anisa selalu datar saat melewati mereka semua. Wajah dua bukan tipe Anisa.
"Daniel , kayaknya aku mau cuti aja, susah juga bawa pasukan setiap hari," ucapnya.
__ADS_1
"Hah! Pasukan?"
Anisa menepuk jidat suaminya lalu menunjuk perutnya yang sudah menonjol besar.
"Ya ampun, kirain pasukan perang."
Anisa berdecak kesal, lalu matanya berubah sendu. Ia menunduk sambil memilin jari jemarinya.
"Ada apa?" tanya Daniel pelan.
"Kalau seandainya aku mencintaimu, kira-kira kamu akan marah nggak?" Tanyanya sambil menggigit bibir
"Kenapa harus seandainya, kenapa nggak beneran aja." Daniel menjahili istrinya.
"Beneran juga nggak papa, tapi kalau mantanmu minta balikan gimana?"
Daniel terdiam sejenak. la mencoba mencerna semua ucapan istrinya.
"Pernah dengar kata pepatah?"
Anisa menggeleng. Daniel dibuat gemas akan tingkah laku istrinya.
"Buanglah mantan pada tempatnya!" Daniel tertawa melihat wajah istrinya yang minta dicium Sangking gemes nya..
...******...
__ADS_1
...Happy Reading All 😉...
...********...