
Anisa termenung panjang di sudut kamar. masa lalunya yang menyakitkan tak mampu ia lupakan sampai sekarang. kilasan orang-orang yang sangat ia sayangi terus mendokrin pikirannya. Tanpa terasa sebulir air mengalir dari sudut matanya yang terlihat murung.
" Andai Mama dan Papa masih ada aku tidak akan hidup seperti ini." tapi sosok mereka hadir dalam diri kedua mertuanya setidaknya bisa mengobati luka hati yang ia simpan sendirian tanpa sepengetahuan siapapun.
"Nisa...? " Panggil sebuah suara.
Anisa mengusap air air matanya kemudian tersenyum polos.
"Nisa....! "
Wanita itu dengan segera membuka pintu kamarnya. Wajah pria tampan terpampang nyata dihadapkannya. Maka dusta mana lagi yang kau inginkan.
"Tara.....! " Anisa dibuat kaget oleh ulah suaminya.
" Suamimu yang tampan bahwa sesuatu untukmu eits jangan terharu dulu." ucap Daniel yang jahil wajah Anisa terlihat melihat sebuah kolom yang bermata kan berlian benar-benar mewah.
" Ini beneran buat aku," ucap Anisa masih tidak sadar.
" Kan nggak lucu kalau untuk papa hilang macho-nya dong."
Daniel Memakai kalung tersebut keleher Anisa. pria itu terlihat sangat mempesona dengan rambut yang sedikit acak-acakan. mata keduanya bertemu di depan sebuah cermin kembali jantung Anisa berdetak dengan ritme laju.
"Cantik. " Puji Daniel membuat pipi Anisa bersama malu.
" Terima kasih! kamu tahu, aku belum pernah memakai perhiasan semua hal ini." Daniel tertawa pelan mendengarnya.
" Makanya kamu harus bersyukur memiliki suami kayak suami ini. aku ini ya Selain tampan mapan, rajin menabung juga kagak pelit sama istri. bersyukur nggak!" Daniel berseru dengan bangga.
Anisa memutar bola mata malas tapi bukan semua itu yang membuatnya bersyukur melainkan karena suaminya pandai menghiburnya.
" Iya bersyukur banget jadi pengen aku porotin sampai Kamu miskin."
__ADS_1
Keduanya tertawa Laras yang kebetulan melewati pintu kamar Mereka pun tersenyum bahagia.
" Anak itu meskipun rada error tapi Tuhan masih baik karena memberinya istri seperti Anisa sungguh kelangkaan yang Hakiki." Laras kemudian berlalu dari sana.
"Sekali lagi terima kasih, ucapan Anisa Tulus.
Daniel tersenyum bahagia ribuan kupu-kupu berterbangan di perutnya rasa bahagia yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya bahkan saat Sama Risma.
Pria itu tidak tahan untuk tidak memeluk tubuh mungil istrinya kembali gelombang seperti sengatan listrik kembali memenuhi rongga hatinya.
" Jantungnya berdetak kencang lagi. "
" Iya, apa jantungku bermasalah ya? tapi kata dokter kemarin itu hal wajar tapi seseorang sedang panik atau...," ucap Anisa terpotong saat menyadari sepenggal kata iya lupa kan.
" Atau apa?"
" Masa sih, aku jatuh cinta."
" Nah kan, Mana mungkin in!"
" apanya?"
" aku."
" kenapa?"
" jatuh cinta."
" sama aku kan."
" Maksudku Mana mungkin aku jatuh cinta sama kamu secara kamu suka pamer."
__ADS_1
kepolosan Anisa membuat sesosok makhluk tak kasat mata berterbangan di kedua pundak Daniel.
"Ceraikan dia, Apa gunanya memilihara wanita polos." bisik sosok mungil yang di sebelah kiri.
Wajah Daniel berkerut memikirkan ucapan sosok tersebut.
" Jangan Daniel sesungguhnya perceraian itu sesuatu yang sangat dibenci oleh sang pencipta." bisik sosok putih di sebelah kanan.
kerutan wajah Daniel menghilang dalam hati ia membenarkan semua itu.
" Kamu bisa mencari wanita yang jauh lebih cantik dan bohay daripada istrimu lihat aja body-nya kerempeng begitu."
Wajah Daniel tampak menyeringai dusta memikirkan ide tersebut.
" Jangan Daniel sesungguhnya body tidak menjamin kelanggengan nya suatu hubungan rasakan betapa nyaman saat kamu bersamanya."
Kembali Daniel merasa selama Anisa menyandang status sebagai istri ,rumah serta dirinya terasa begitu nyaman.
Daniel menempuk kedua pundaknya membuat kedua makhluk tersebut menghilang dari khayalan nya.
" kamu kenapa?"
" aku baik-baik aja."
" kirain udah enggak waras."
" Anisa....!"
...******...
...Happy Reading All 😉...
__ADS_1
...******...