
Sepanjang perjalanan pulang wajah Gildan menampakkan raut kekecewaan. "Kakak kenapa?" Tanya Ara.
"Tidak kenapa-napa, hanya sedikit kecewa, karena di beri harapan palsu sama teman," jawab Gildan. Terbayang akan janji-janji yang Nesya berikan padanya, ternyata wanita itu akan menjadi istri pengusaha muda yang berkuasa di kota itu, bukan cuma kota itu, bahkan negara itu.
"Jangan cemberut, aku gak tahan, kakak tambah ganteng kalau begitu," ucap Ara.
Gildan tersenyum mendengar ucapan Ara. Dia merubah arah jalan pulangnya.
"Kita kemana?" Tanya Ara melihat jalanan yang di lalui bukan jalanan menuju arah pulang.
"Aku ingin ajak kamu ke pantai," seru Gildan.
"Pantai? Nanti aja kak, sudah malam gini," rengek Ara.
"Justru malam ini yang asyik, karena hanya ada kita nanti," seru Gildan.
Ara diam, dia tidak tahu harus berkata apa. Tanpa mereka sadari, ada mobil yang selalu membuntuti mereka.
***
Benar saja Gildan memarkirkan mobilnya di tepian Pantai. Melihat Gildan turun, Ara melepas hilsnya.
"Ayo turun," seru Gildan membuka pintu mobil samping Ara.
"Sebentar aku melepas hils aku, mana bisa berjalan pakai hils di pasir," rengek Ara.
Setelah turun dari mobil, Ara dan Gildan berjalan di tepi pantai, sapuan ombak yang menyapa bibir pantai ikut menerpa kaki mereka.
"Aku suka ke sini jika sedih," ucap Gildan.
"Sapaan angin pantai serasa menyapa hati," ucap Ara yang memejamkan matanya, merasakan hembusan angin pantai.
"Kamu benar, ucap Gildan.
Ara membuka matanya dan tersenyum pada Gildan. Gildan mendekatkan dirinya pada Ara. Mengulangi lagi ciumannya seperti di mobil sore tadi. Tubuh kecil Ara di gendong Gildan menuju pasir yang tidak kena sapaan air laut. Seketika tubuh itu ambruk terbaring di pasir pantai. Keduanya larut dalam kehangatan mereka.
Gildan semakin rakus menikmati tubuh kecil Ara. Tangan Gildan menelusup kebagian dada Ara, berkelana di bagian itu, membuat yang punya tubuh seakan kehilangan arah. Perlahan tangan itu turun, menyusuri kebagian bawah perut, dan berkegiatan manja di daerah sana.
"Kakak jangan ... aku nggak mau melakukannya sekar--" Suara Ara terputus, perbuatan jemari Gildan membuatnya kehilangan suaranya.
"Kak ... nanti saja setelah kita menikah ...." Leguh Ara.
Gildan tidak menjawab, jemarinya tetap bergerak nakal di sana, tidak perduli dengan expresi Ara, yang seakan tidak kebagian oksigen untuk bernapas. Wajah Gildan terus menciumi leher Ara, menghirup wangi parfum Ara yang semakin membuat syahwatnya bangkit.
Perlakuan Gildan pada bagian tubuh Ara membuat Ara pasrah, dia seakan kehilangan kesadarannya, tubuhnya pun refleks mengikuti apa saja yang Gildan lakukan. Tanpa Ara sadari dres mini yang dia kenakan sudah terlepas dari tubuhnya.
Tubuh Ara polos, Gildan sangat mudah menikmati semuanya dengan buas, sedang Ara tidak bisa apa-apa, perasaan yang timbul membuatnya tidak berdaya dan menenggelamkan dirinya pasrah menikmati semua itu.
"Kakak, jangan!" Rengek Ara saat melihat Gildan akan melepas celananya.
Gildan tidak menghiraukan Ara, dia tetap melepas celananya lalu memasang balon mini pada miliknya.
"Kakak jangan," rengek Ara. Ara baru sadar kalau dirinya tidak mengenakan apa-apa.
"Kenapa?" Bisik Gildan yang langsung menindih tubuh Ara.
"Kata mama jangan---" mata Ara melotot karena Gildan langsung menerobos mahkotanya.
Di pasir itu, dua orang tenggelam dalam kegiatan mereka, tanpa mereka sadari, ada orang lain yang mengabadikan momen, yang mereka kira rahasia.
******
Setelah lama berguling bebas di pasir pantai, Gildan melepas pengamannya yang sudah berisi cairan putih kental itu, tanpa mengikatnya dia menguburnya di pasir pantai. Ara memegangi miliknya. Entah kenapa ada rasa perih di bawah sana.
Gildan tersenyum, dia faham akan penderitaan Ara. Dia menarik tubuh Ara yang di penuhi pasir berbaring di atas dadanya, air mata Ara terus menetes sepanjang percintaan mereka tadi hingga kini.
"Mahkotaku," ringis Ara dalam hati.
"Apa terlalu sakit?" Tanya Gildan sambil membelai rambut Ara.
"Kenapa kakak melakukannya sekarang, akan lebih indah kak, jika kita melakukannya di malam pertama, pernikahan kita."
Gildan diam. Dia menarik Napas dalam dan menghembuskannya kasar. "Kamu tidak suka?" Tanya Gildan.
"Bukan begitu," rengek Ara.
"Nanti kita akan melakukannya lagi," seru Gildan.
"Ternyata kamu sangat luar biasa, aku pasti tidak bisa jauh dari kamu ini," Tangan Gildan menggerayang kemana-mana.
Ara bingung harus protes apa, protes pun percuma, semua sudah terjadi, Gildan sudah mengambil mahkota yang selama ini dia jaga.
"Pakai bajumu, kita pulang," seru Gildan.
Dengan menahan penderitaan baru, Ara berusaha memakai kembali pakaiannya. Selesai memakai kembali pakaian mereka, Gildan segera menggendong Ara menuju mobilnya. Dia tersenyum. Memandangi wajah Ara.
"Kita harus melakukannya lagi, biar kamu terbiasa." Gildan mengedipkan sebelah matanya.
Setelah memposisikan dirinya dengan nyaman, Gildan segera menghidupkan mesin mobilnya, dan segera mengantar Ara pulang.
***
Hari kelulusan semakin dekat, Ara harus puas lolos dari SMA namun tanpa prestasi yang cemerlang, karena nilainya rendah,
"Shita benar, karena sibuk model aku lupa sama pendidikanku, beruntung aku masih lulus," rengek Ara sambil memandangi pengumumam kelulusan yang ada di mading.
__ADS_1
"Kamu nanti kuliah di mana Ra?" Tanya seseorang.
"Loiz? Sapa Ara,
"Aku, kakakku dan kedua orang tuaku pindah keluar negri Ra, jadi aku kuliah di sana nanti," seru Loiz.
"Yah, kita gak ketemuan lagi dong," rengek seseorang dari belakang mereka.
"Weihhh siswi dengan prestasi terbaik akhirnya keluar juga setelah menerima banyak penghargaan," seru Loiz.
"Selamat Shita," seru Ara langsung memeluk Shita.
"Makasih Ra," seru Shita
Shita memandangi tubuh Ara lekat. "Mata aku yang rabun, apa memang tubuh kamu yang berubah?" Ucap Shita lirih.
"Berubah kenapa?" Tanya Ara sedikit kikuk.
Shita berbisik di telinga Ara. "Bagian dada kamu lebih besar dari biasanya," bisik Shita.
"Ya iyalah besar, hasil perbuatan kakak kamu itu," gerutu hati Ara.
"Sengaja, biar lebih menantang," seru Ara santai.
"Kita ke rumah aku yuk, kata mama ada acara kecil, soalnya Loiz sekeluarga akan pindah," seru Shita.
"Acaranya di rumah kamu Ta?" Tanya Loiz.
"Iya, ayuk Lo, ayuk Ra" ajak Shita. Mereka bertiga menuju mobil mereka, mobil itu melaju ber iringan menuju kediaman Shita.
Di rumah Shita semua orang tua sudah berkumpul.
"Akhirnya anak-anak datang," seru Arum melihat Shita, Ara dan Loiz masuk kedalam rumah.
"Aku turut bahagia, ternyata prestasi Shita luar biasa," Tanny.
"Shita anak yang masih polos, cuma pendidikan yang ada di otak dia, sedang Ara, otaknya sudah tercemar karena kebelet nikah," goda Arum.
"Ara nikah?" Tanya Loiz, seketika hatinya remuk, impiannya melamar sahabatnya nanti saat kepergiannya di bandara nanti kandas.
"Iya, samaaa"
"Apa itu tante, aku mau dong," seru Ara memotong perkataan Ana.
Ana tersenyum sendiri, dia faham, kalau Ara malu ketahuan Shita atau Loiz jika dia akan menikah dengan Gildan.
"Kalau mau cuci tangan dulu sana," seru Ana.
"Ya udah deh, aku mau ke kamar mandi aja dulu, panggilan alam," seru Ara. Ara pergi meninggalkan mereka semua.
"Mungkin di kamarnya," jawab Ana.
"Ya sudah, aku ganti baju dulu, kalau Ara kembali suruh aja kekamar aku, kali aja Ara mau ganti baju juga," seru Shita. Shita meninggalkan mereka semua menuju kamarnya.
***
Di kamar mandi, Ara melangkah santai menuju kamar mandi yang ada di lantai bawah.
Brukkk!
Ara di dorong masuk kedalam kamar mandi.
"Kak Gild-" mulut Ara langsung di bekap Gildan.
"Selamat ya," bisik Gildan. "Akhirnya kamu lulus, berarti bentar lagi kita nikah, aku gak sabar biar kita bisa bersama setiap waktu," ucap Gildan pelan, sambil membelai wajah Ara.
"Kak Gildan, keluaaar! Aku mau pipis," bisik Ara.
"Pipis aja, siapa yang larang," bisik Gildan balik.
"Keluar …." bisik Ara.
"Nggak mau!" Gildan menggeleng.
"Aku malu ...."
"Ngapain malu, aku sudah sering melihatnya, menyentuhnya dan menikmatinya," bisik Gildan.
Ara pasrah, terpaksa dia pipis walau dilihat Gildan.
"Sudah?" Tanya Gildan.
"Hem,"jawab Ara sambil menutup kembali tutup closednya.
"Kita …." Gildan mulai nakal.
"Kak, tadi malam kita sudah dua kali lho, masa melakukan ini lagi."
Gildan tidak memperdulikan rengekan Ara, dia tetap mengambil kesempatan untuk bercinta dengan Ara. Keadaan kamar mandi menjadi memanas.
***
"Lama banget Ara di kamar mandi," seru Arum.
"Panggilan alamnya yang besar kali," seru Tanny.
__ADS_1
"Aku cek Ara dulu ya," seru Arum.
"Aku mau ke belakang, aku belum cuci tangan," seru Loiz ikut pergi, Loiz berjalan menuju arah kamar mandi, berharap bisa berbicara dengan Ara, setelah Ara keluar dari kamar mandi nanti.
Arum segera melangkah menuju kamar mandi. Sedang Loiz berjalan di belakangnya, saat Arum sampai di depan kamar mandi, Loiz menahan langkahnya dan bersembunyi.
Tokkk tok tokkk!
Suara ketukan pintu membuat Ara panik, karena dia tengah merajut kasih bersama Gildan, dalam kamar mandi.
"Ara sayang, kamu baik-baik aja kan?" Tanya Arum dari balik pintu.
Gildan yang sedari tadi menutup mulut Ara dengan telapak tangannya agar Ara tidak kelepasan meleguh karena hantamannya, perlahan melepas telapak tangannya dari mulut Ara. "Santai," bisik Gildan. Gildan menghentikan gempurannya sesaat. Memberi kesempatan Ara untuk bernafas dan bersuara normal.
"Baik aja mahhh, Nangguuung maaah ...." sahut Ara dari dalam kamar mandi.
Arum menggeleng mendengar suara Ara yang aneh. Dia segera kembali bergabung lagi dengan sahabatnya.
Di dalam kamar mandi.
"Kamu pinter, karena saat ini kita benar-benar nanggung," seru Gildan melanjutkan lagi kegiatan mereka dan menutup kembali mulut Ara dengan telapak tangannya, dan melanjutkan kembali hantaman tanpa ampun, dengan tenaga penuh.
Mata Ara melotot, menahan ledakan perasaan yang tidak bisa dia lepaskan. Sedang Gildan tersenyum bahagia, tanpa repot-repot pergi keluar dia bisa melepaskan kehausannya akan tubuh wanita. Dengan bangga dia melancarkan keinginannya.
Lama berpetualang bersama, Akhirnya sampai juga di garis finis. Napas keduanya masuh memburu. Gildan tersenyum. Melihat Ara tidak berdaya karenanya. Setelah membilas beberapa bagian tubuh Gildan mendaratkan ciuman lembutnya di bibir Ara, sebelum keluar dari kamar mandi.
"Kamu luar biasa Sayang, aku duluan ya ...." bisik Gildan.
Ara hanya menganggukkan kepalanya, menjawab perkataan Gildan. Dirinya masih terduduk lemas, di atas closed sambil mengumpulkan sisa tenaganya yang seakan habis terkuras karena ulah Gildan.
"Kak Gildan, kamu kok kuat banget, bagaimana nanti ya kalau kita sudah nikah," gerutu Ara sambil membayangkan Gildan yang selalu meminta untuk di layani, jika ada kesempatan.
***
Dari tempat persembunyiannya, Loiz mematung, melihat Gildan yang keluar dari kamar mandi. Dengan senyuman yang menghiasi wajahnya, Gildan berjalan santai menuju ruangan tempat semua orang tua berkumpul, tidak lama Gildan pergi, Loiz melihat Ara yang keluar dari kamar mandi yang sama, sambil memasang kancing seragam sekolahnya. Loiz segera pergi dari tempat persembunyiannya, berjalan menuju tempat sebelumnya tadi dan duduk di dekat Gildan. Loiz sesekali melihat wajah Gildan, namun wajah yang dia lihat itu sangat santai. Loiz berusaha santai namun mimik kekecewaan tidak pergi juga dari wajahnya.
"Ara mau kemana?" Tanya Tanny.
"Mau ke kamar Shita tante, mau ganti baju, aku kan bisa minjam baju Shita," sekilas Ara melirik ke arah Gildan.
"Ya sudah sana," seru Ana.
Acara perkumpulan terakhir Ana, Arum dan Tanny berlalu sangat indah, Gildan dan Ara nampak santai, seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka. Hanya Loiz yang memasang wajah cemberut, namun semua menyangka Loiz sedih karena akan berpisah dengan kedua sahabatnya.
Padahal kekecewaan Loiz karena patah hati sebelum berjuang. Belum lagi, saat melihat kejadian tadi sore, semakin membuat hatinya terluka.
Selesai acara, semua orang kembali kerumah masing-masing, hanya Ara yang tinggal, dia ingin menghabiskan waktu bersama Shita, mungkin tepatnya, agar bisa mencuri waktu agar bisa bersama Gildan.
***
Selesai makan malam semua nampak santai.
"Ra, ke kamar yukkk," ajak Shita.
Ara mengangguk dan tersenyum. Mereka langsung meninggalkan meja makan setelah izin pada kedua orang tua dan Gildan.
"Gildan, kamu ke apotek ya, tolong tebusin resep obat papa," pinta Ana, dia memberikan kertas resep dan uang.
"Biasanya Shita kan yang biasa menebus? Shita aja ya," tawar Gildan.
"Ya terserah kamu, mama sama papa juga mau ke kamar, kalau sudah nanti kasih ke mama obatnya," seru Ana.
Gildan menyeringai nakal, dia berjalan menuju kamar Shita. Dia langsung membuka pintu kamar Shita. "Shita, kamu ke apotek ya, ini resepnya, tebusin obat papa," seru Gildan sambil memberikan kertas resep, pada Shita.
Shita menerima kertas resep tersebut. "Sakit apa sih papa? Sering banget aku nebus obat-obat ini," rengek Shita sambil memandangi kertas resep tersebut.
Gildan memberi kode pada Ara, membuat Ara malu dan menunduk. "Sudah sana pergi," seru Gildan.
"Ra kamu ikut ya," pinta Shita.
"Kak--kamu aja gak bisa ya, aku ngantuk," jawab Ara.
"Ya sudah, kamu aku tinggal dulu ya," seru Shita.
Shita dan Gildan keluar kamar bersamaan. Namun setelah Shita pergi Gildan kembali ke kamar Shita. Untuk melancarkan ke inginannya bercinta dengan Ara di kamar adiknya itu. Membuat kamar Shita yang rapi menjadi berantakkkan karena kegilaan mereka.
***
Shita kembali kerumahnya membawa kantong yang berisi obat yang dia beli. "Mah ...." Shita mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya.
"Sudah sayang?" tanya Ana yang membuka pintu kamar.
"Ini," Shita memberikan kantong yang dia tenteng.
"Makasih sayang," seru Ana.
Shita mengangguk dan tersenyum. Dia berjalan meninggalkan kamar kedua orang tuanya, dia langsung menuju kamarnya.
Shita masuk kedalam kamarnya, dia merasa aneh dengan hawa kamarnya, keadaan kamarnya juga aneh, Shita berjalan menuju Ara yang nampak acak-acakkan.
"Ra, kamu mimpi buruk?" Tanya Shita sambil mengguncang badan Ara yang berbaring ditempat tidurnya
"Iya ...." rengek Ara.
"Hem ... pantas kasur aku jadi berantakan begini," rengek Shita sambil merapikan tempat tidurnya. Ara perlahan bangun dan membantu Shita merapikan tempat tidur yang acak-acakkan karena ulah dia dan Gildan.
__ADS_1