Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda

Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda
Bab 33 Kado Pernikahan


__ADS_3

Shita sudah siap, dia segera pamit kepada kedua orangtuanya untuk bertemu Jane. Dia mempercepat langkahnya, agar sampai di halte bus lebih cepat. Sesampai Halte , Shita berdiri bersama calon penumpang yang lain, menunggu bus mereka. Keberuntungan berpihak pada Shita kali ini, dia tidak perlu menunggu lama, karena bus yang dia tunggu telah tiba di halte tersebut. Beberapa waktu membelah jalanan, akhirnya Shita sampai di halte yang dekat dengan Caffe yang dijanjikan Jane.


Shita mempercepat langkahnya, takut Jane menunggunya di dalam, namun saat sampai di area parkir Caffe tersebut, ternyata Jane juga baru datang. Shita menghentikan langkahnya, menunggu Jane selesai memarkirkan mobilnya.


Selesai memarkirkan mobilnya di tempat yang benar, Jane berlari kecil ke arah Shita dan langsung memeluknya. "Terima kasih, karena mau menemuiku," seru Jane.


"Aku juga, aku sangat berterima kasih, atas bantuan kakak selama ini," seru Shita.


"Ayoo kita masuk!" Seru Jane. Mereka berdua melangkahkan kaki indah mereka memasuki Caffe tersebut. Jane memilih meja VIP, agar obrolan mereka tidak terganggu.


Setelah duduk ditempat yang dipilih Jane, Jane menerima buku menu yang diberikan pelayan padanya. "Kita pesan makanan dulu, biar obrolan kita tidak terganggu lagi," seru Jane sambil memberikan buku menu pada Shita. Shita menerima buku menu tersebut sambil tersenyum pada Jane.


Setelah menunggu beberapa menit, mereka berdua hanya bicara ringan masalah kampus dan hal-hal yang berkaitan dengan kuliah mereka. Kini pesanan mereka datang, dengan semangat Jane melahap makanan yang tersuguh di depan matanya.


"Ayo Shita, makan dulu, biar aku bisa cepat bicaranya nanti," seru Jane. Namun tidak menghentikan aktivitas menyuap makanannya.


Apalagi yang Shita bisa? Ya itu, hanya tersenyum sambil menyendok makanannya dan memasukan sendok yang berisi makanan ke mulutnya. Hening, hanya bunyi gercikkan Sendong yang beradu dengan garpu yang menyentuh permukaan piring.


Akhirnya dua perempuan cantik itu habis melahap makanan mereka. Jane mengatur nafasnya, menarik dan menghembuskannya perlahan. "Shita, apa benar kau dan tuan muda Emanuel Group akan menikah?"


"Uhukkk!" Shita yang tadi sedang meneguk air putih langsung tersedak.


"Maafkan aku," rengek Jane.


"Tidak apa-apa, aku hanya kaget," jawab Shita sambil mengelap bagian bibirnya. "Darimana kau tau?" Tanya Shita dengan nada setengah berbisik.


"Apa itu benar?" Tanya Jane kembali.


Shita menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang dia duduki. Matanya terpejam merasakan kembali perihnya duri yang tertancap di hatinya karena pernikahan ini.


"Shitaaa!" Panggil Jane kembali.


"Memang benar," rengek Shita.


"Kenapa kau mau?"


"Siapa yang mampu menolak ke inginan tuan muda itu, jika tuan muda itu sudah berkehendak." rengek Shita yang masih pada posisi bersandarnya.


Jane mematung mendengar perkataan Shita barusan, memang selama ini tidak ada yang bisa menolak perintah Mark, kecuali dirinya dan Nesya.


"Shita," ucap Jane lirih.


Shita menegakkan punngungnya dan menatap Jane. "Iya,"

__ADS_1


"Shita, tolong jadilah pahlawan bagi dirimu sendiri, Mark sangat suka menakuti orang, jangan kau biarkan dia memanfaatkan ketakutanmu, Shita ingat film Batman? Tokoh utama yang menjadikan ketakutannya menjadi kekuatanya," ucap Jane sambil memegang tangan Shita dengan lembut.


Shita terdiam, dia mencerna kata-kata Jane barusan, memang benar dia selama ini terlalu ketakutan. Dia sadar kalau Mark begitu bahagia dan sangat puas melihat dirinya ketakutan.


Jane menepuk punggung telapak tangan Shita. "Satu lagi, selama ini kau berpenampilan tertutup hanya untuk melindungi dirimu bukan? Sekarang itu tidak perlu." Ucap Jane sambil menaik turunkan alisnya. "Jangan biarkan Mark menjadikan dirimu bahan hinaannya, ayo, berubahlah," seru Jane.


"Aku akan berusaha, kasian Mark kalau aku seperti ini terus, dia bilang melihatku seperti seperti ini, rasanya dia tidak bisa bernafas, ku harap itu benar, jika selama satu jam aku bersama dia dan dia tidak bisa bernafas, maka luar biasa, orang sombong dan semena-mena berkurang satu orang. Tanpa repot-repot aku membunuhnya."


Jane berusaha menahan tawanya, ucapan Shita seperti menggelitiki perutnya.


Jane memberi bermacam Nasehat dan motivasi untuk Shita, agar Shita siap mental hidup bersama seseorang yang paling menyebalkan.


"Terima kasih kak Jane," nasehat Jane membuat Shita merasa lebih tenang.


Jane hanya tersenyum. "Ayo ikut aku, aku ingin memberimu kado pernikahan!" Jane langsung meletakkan uang tunai di meja lalu menarik tangan Shita meninggalkan Caffe tersebut.


****


Setelah meninggalkan Caffe Jane membawa Shita ke salon, untuk perawatan. Dia dan Shita menikmati pelayanan para pekerja salon. Kini mereka merasa lebih bertenaga. Jane melajukan mobilnya menuju butik, dia memburu beberapa pakaian yang dia suka dan langsung membelinya.


"Ayo pulang!" Seru Jane dengan membawa banyak paper bag di tangannya.


Shita sangat terkejut, dari tadi dia melamun melihat Jane belanja. Dia segera mengikuti langkah kaki Jane yang mulai berjalan meninggalkan butik tersebut.


Mobil Jane melaju di jalan raya. Tujuannya mengantar Shita pulang. Perlahan mobil itu menurukan kecepatannya karena rumah Shita sudah dekat. Hingga mobil itu berhenti dan terparkir sempurna, tepat di depan rumah yang Shita tinggali.


"Ini terlalu banyak kak, satu saja ya," ucap Shita berusaha hanya mengambil satu paper bag.


"Kau melukai hatiku Shita, aku membeli semua ini untukmu," rengek Jane.


"Tapi …." Shita tidak berani menolak karena melihat raut kekecewaan dari wajah Jane. "Terima kasih kak," jawab Shita sambil menerima semua paper bag yang Jane berikan.


Sunggingan senyum terukir di wajah Jane saat Shita mau menerima pemberiannya. Dia menganggukkan kepalanya, merespon perkataan Shita.


"Tapi kak,"


"Tapi apalagi?" Wajah Jane kembali masam.


"Kata Gimar, tamu tidak akan bisa masuk tanpa memperlihatkan undangan digital yang mereka kirim, aku tidak bisa mengundang siapapun kecuali Mark yang mengundang," wajah Shita sendu, dia merasa tidak enak karena tidak bisa mengundang Jane di pernikahannya nanti. Padahal Jane sosok yabg sangat berjasa dalam hidupnya saat ini.


"Hei, jangan sedih, aku nggak apa-apa, aku mengerti Mark seperti apa, ayo semangat! Buat Mark jatuh cinta padamu, padamkan api kesombongan Mark dengan telaga yang engkau miliki, tidak bisa langsung padam, perlahan saja, padam atau tidak, setidaknya kamu sudah berusaha," seru Jane.


Shita tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


Tokkk tok tok!


Ketukan seseorang dari luar pada kaca mobil Jane mengejutkan Shita dan Jane.


"Astaga! Pangeran api itu di sini!" Rengek Shita, dia dan Jane saling pandang, satu tangan Jane meraih tombol yang ada di pintu mobil di sampingnya, dia membuka kaca mobil di bagian pintu di samping Shita. Hingga kaca pintu mobil itu terbuka.


Orang yang mengetuk barusan langsung membungkuk, memasukkan sedikit kepalanya ke bagian kaca mobil yang terbuka. Sehingga wajahnya dan wajah Shita sangat dekat. Matanya dan mata Shita saling pandang.


"Astaga! Kenapa dia bisa cantik seperti ini?" lirih hati Mark. Dia segera mengejutkan dirinya yang tengah mengagumi Shita, karena Shita yang membuang pandangannya. Sedang Jane hanya membisu, hatinya senang, dia bisa melihat Mark mengagumi Shita.


"Putri Profesor Jecco, berani sekali kamu menculik calon istriku," seru Mark dia menatap tajam kearah Jane.


"Maaf tuan muda, Jane memberiku kado pernikahan," sela Shita.


Mark langsung menegakkan tubuhnya dan membuka pintu mobil Jane. "Turun sayang, pangeranmu ini ingin menjemputmu," seru Mark.


"Pangeran? Pangeran kegelapan iya! Kau kan, akan menggelapkan semua kehidupanku nanti!" Gerutu hati Shita.


Shita berusaha menarik bibirnya walau kelu, hingga terukir senyuman di wajahnya. "Terima kasih anda mau berkunjung di gubuk kami," seru Shita sambil turun dari mobil Jane dan tersenyum pada Mark yang membukakan pintu mobil buatnya.


Shita merubah arah tubuhnya menghadap kedalam mobil, senyuman tulus terukir di wajahnya buat Jane, dia belum mengucapkan salam perpisahan pada Jane. "Kak Jane, terima kasih," seru Shita, dia menutup pintu mobil Jane kembali.


"Sampai jumpa Shita, semoga kebahagiaan selalu menyertaimu," seru Jane. Jane segera menghidupkan mesin mobilnya, mobil yang dia naiki pun perlahan meninggalkan area rumah Shita.


"Kapan tuan muda datang?" dengan memasang senyuman yang dipaksakan.


"Baru saja! Aku tidak bisa parkir di sini karena mobil anak profesor itu tadi di sini,"


"Maaf, apa tujuan tuan muda datang kemari?" Namun Shita masih setia menunduk.


"Aku ingin menjemput kalian semua,"


Jawaban Mark sontak mebuat Shita menegakkan kepalanya. "Menjemput?"


"Besok sumpah pernikahan kita akan berlangsung, maka cepatlah!" Perintah Mark.


Shita langsung masuk kedalam rumahnya dan mempercepat langkahnya. Lagi-lagi jantungnya hampir meledak saat melihat beberapa koper yang bersususun dan juga melihat Gimar sudah ada di dalam rumahnya.


"Sayang, barang-barang kamu sudah siap, ayo kita berangkat seru Ana.


"Kenapa secepat ini?" Rengek Shita.


"Lebih cepat lebih bagus!" Seru Mark yang langsung melingkarkan tangannya di pinggul Shita.

__ADS_1


***


Apa yang Mark mau maka itulah yang terjadi, mereka langsung berangkat dengan dua buah mobil meninggalkan kediaman Shita menuju hotel tujuan mereka.


__ADS_2