
Mendengar mangsanya sudah di dapat, Mark langsung membuka lebar pintu kamar hotelnya. Dalam kamar hotel itu saat ini hanya ada dia dan Gimar. Tidak lama datang tiga orang suruhannya kedalam ruangan itu. Sedang salah satunya membopong Shita di bahunya.
"Awh!" Ringis Shita, saat dirinya di lempar kasar dia atas tempat tidur. Kemudian orang suruhan Mark membuka tutup wajah Shita. Rambut Shita nampak berantakan.
"Hallo nona?" Sapa Gimar.
"Kau?" Wajah Shita seketika pucat melihat Gimar dan tiga orang yang berbadan tegap itu. Terlebih lagi saat ini dirinya berada di atas tempat tidur.
"Kakk---kak kalian mau apa?" Shita sungguh ketakutan.
Prush!
Minuman yang tadi tegak Mark tiba-tiba menyembur, saat melihat raut wajah gadis itu yang nampak begitu ketakutan. Namun Mark masih menahan tawanya.
"Kami ingin memberikan kesepakatan denganmu manis!" Seru Gimar sambil menaikkan kakinya yang masih mengenakan sepatu ke atas tempat tidur. Dia menumpukan sebagian tubuhnya dia bagian kaki yang naik ketempat tidur tersebut.
"Apa yang kalian inginkan dari wanita jelek sepertiku?" Jerit Shita.
Tiba-tiba Mark tertawa mengakak, membuat Gimar menyatukan kedua alisnya.
"Huhhh! Ternyata kamu sadar juga kalau kamu jelek!" Seru Mark.
"Apa mau kalian?" Tanya Shita.
"Kamu harus menjadi istri tuan muda Mark, jika kamu mau, maka kami akan membebaskan papa kamu," seru Gimar.
"Apa? Menikah? Aku tidak mau kalau menikahi laki-laki bej*t itu!" Teriak Shita sambil menatap ke arah Mark.
"Apa! Kau bilang aku apa!" Mark membentak Shita begitu keras, hingga membuat Shita pun terperanjat.
"Kalau kau menolak! Aku pastikan papamu akan membusuk di penjara dan aku akan jadikan ibumu pel*cur! Bagaimana?" Seru Mark dengan seringai jahatnya.
"Aku tidak mau!" Teriak Shita.
"Kau gila! Kau tahu? Banyak wanita yang mengemis agar bisa bersamaku, tapi kamu?" Mark semakin mendekati Shita. Membuat Shita semakin tertekan oleh rasa takutnya.
__ADS_1
Di luar batas kendalinya, tiba-tiba Shita pingsan.
"Astaga! Dia sepenakut itu?!" Gerutu Mark saat melihat gadis itu pingsan.
"Sudah saya katakan tuan, kalau dia gadis yang penakut! Apa tuan yakin mengikat wanita ini dalam pernikahan, aku takut wanita ini malah mati saat bertatap muka dengan tuan muda." Seru Gimar.
"Gimar, ini asyik banget, akan ada boneka yang penakut rupanya!"
"Gimar, pastikan dia setuju menjadi istriku, hemm aku tidak sabar melihat dia pingsan setiap waktu!" Seru Mark dengan seringai jahatnya. Dia langsung pergi dari kamar itu.
Kini di kamar itu hanya ada Gimar dan Shita yang masih tidak sadarkan diri. Gimar mulai bosan menunggui gadis pengecut yang masih pingsan itu. Waktu ini Gimar gunakan untuk menghubungi Abi, untuk melakukan tugas perusahaan yang di luar batas kemampuan Gimar.
Beberapa Email sudah Gimar kirim pada Abi, kini tangannya memungut benda pipih persegi panjang itu, lalu mengusap layarnya dan menelpon seseorang.
"Ada apa Gimar?" Suara itu tersengar sangat malas.
"Aku mengirim file pekerjaan yang baru aku dapat, aku mengirim DP nya dulu buatmu," seru Gimar.
"Aku belum buka Email, nanti aku kirim kembali kalau sudah aku selesaikan," jawab Abi.
Gadis itu mulai bergerak, perlahan dia mengerjapkan kedua matanya. Melihat sosok lelaki yang memandanginya, Shita langsung terbangun dan refleks duduk di kasur tersebut.
"Mau apa kau?!"
Pertanyaan Shita membuat Gimar tertawa. Namun tawa Gimar sangat menakutkan bagi Shita. Gimar berjalan mendekat ke arah Shita, membuat Shita semakin ketakutan. Langkah kaki Gimar berhenti tepat di samping tempat tidur, salah satu tangannya merog*h sakunya, mencari ponselnya. Setelah dapat dia mengusap layar ponsel tersebut.
"Kalau kamu menolak jadi istri tuan muda, malam ini akan jadi malam yang paling kelam dalam hidup mama kamu!" Seru Gimar dengan nada ancaman. Gimar melakukan panggilan video ke salah satu anak buahnya.
"Sudah kalian tangkap istri Sammy?" Tanya Gimar.
"Sudah, ini dia kami kurung di sebuah kamar!" Anak buah Gimar mengarahkan kamera ponselnya ke laptop yang tengah menampilkan tekaman cctv dari ruangan Ana disekap.
Melihat Ana yang kebingungan lewat kamera ponselnya, Gimar tersenyum. "Masih mau menolak menikah dengan tuan muda? Kalau kau menolak, aku pastikan wanita ini, bekerja sebagai pelac*r di tempat hiburan malam, ini bukan ancaman kosong manis." Seru Gimar sambil memperlihatkan layar ponselnya ke arah Shita.
Shita masih tegang, dia sangat mengkhawatirkan ibunya. Mata Gimar yang tadi menatap tajam Shita, berubah arah pandangannya, saat mendengar suara nada dering ponsel Shita.
__ADS_1
"Angkatlah, barangkali ada kabar yang baik," perintah Gimar dengan nada yang mengejek.
Shita meraih ponselnya yang tergeletak di sampingnya, lalu menggeser icon yang bewarna hijau, saat melihat nama pengacara Wishu yang memanggilnya.
"Iya pak?" Jawab Shita langsung.
"Shita, ada kabar bagus, pemilik Emanuel Group bersedia bantu kebebasan buat papa kamu, tapi dia minta Syarat padamu,tapi persyaratan ini hanya di ketahui aku, kamu dan beberapa orang Emanuel Grop. Bapak harap kamu bisa jaga rahasia ini, Shita penuhi saja permintaannya, agar papa kamu bisa bebas," seru Wishu di seberang telepon sana begitu semangat.
Mata Shita sekilas melirik Gimar, ternyata Gimar masih menatapnya, saat mata Shita dan mata Gimar beradu pandang, Gimar menyeringai dengan liciknya.
"Baik pak, saya akan tanya, apa ke inginan petinggi Emanuel Group itu." Jawab Shita.
Wishu mengatakan banyak hal tentang papanya, melihat wajah Gimar seperti mengancam, Shita pun meminta izin pada Wishu untuk meng akhiri pembicaraan. "Maaf pak Wishu, nanti kita bicarakan lagi, saya ada sedikit tugas lagi,"
"Oh iya, pikirkan kebebasan papa kamu nak, bapak tidak bisa berbuat banyak," ucapan Wishu seakan pisau yang menikan langsung ulu hatinya. Shita hanya menahan nafasnya. Memendam kekecewaannya. Panggilan telepon pun ber akhir. Shita masih menatap layar ponselnya.
"Bagamana nona muda?" Tanya Gimar dengan nada mengejek.
"Nona muda?! Kalau bukan karena keselamatan papa mamaku, tak sudi aku menjadi istri tuan mudamu itu!" Ucap Shita penuh kemarahan.
Sedang Gimar menyeringai penuh kemenangan. "Kalau kau setuju, tanda tangani berkas ini!" Tangan Gimar meraih sesuatu di laci yang ada di dekatnya.
"Apalagi!?" Gerutu Shita. Gimar melempar berkas itu padanya begitu kasar. Shita langsung membaca map yang Gimar lempar padanya. "Apa-apa an ini?" Teriak Shita. Membuat Gimar mengorek telinga dengan telunjuknya.
"Itu perjanjian nona," jawab Gimar begitu santai.
"Iya perjanjian, tapi perjanjian apa ini, ngaco!"
"Tidak ada yang ngaco nona, semua yang tuan muda inginkan itulah peraturan, aku bukan Tuhan yang tahu dari awal apa ke inginan tuan muda, jadi … cepat tanda tangani itu, sebelum ibumu laku di jual, karena ibumu masih cantik," seru Gimar.
Dengan sangat terpaksa Shita membubuhkan tanda tangannya dalam surat perjanjian itu. "Ini!" Shita melempar balik berkas itu.
Gimar meraihnya, lalu memeriksanya, memastikan Shita tanda tangan di tempat yang benar.
"Hem, bagus nona muda, sekarang kau boleh pulang, eee tunggu dulu, kau harus ke alamat ini, ini tempat di mana ibumu di sekap, tuan muda akan menyusul nanti," seru Gimar.
__ADS_1
Shita mengambil dengan kasar kertas kecil yang ada di tangan Gimar. Dia segera berjalan meninggalkan kamar hotel tersebut.