Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda

Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda
Bab 49 Cemburu Part 2


__ADS_3

Mark terus mengikuti mobil laki-laki yang tadi di peluk Shita saat di halaman kampus. Dugaan Mark benar, ternyata mobil laki-laki itu menuju rumah sakit tempat Ara di rawat. Membuat kemarahan Mark kian memuncak.


"Sial! Berani-beraninya mereka janjian di rumah sakit untuk mengelabuiku! Awas kau Shita, aku tidak akan memberimu kebebasan lagi, mentang-mentang kuberi izin untuk kerumah sakit menemui kedua orang tuamu, kau malah janjian dengan kekasihmu di sini!" Gerutu Mark yang penuh emosi, dia menumpahkan kemarahannya dan menggerutu sendiri dalam mobilnya.


Dengan perasaan yang teramat kesal, Mark melajukan mobilnya menuju Gedung Emanuel Group. Sambil mengendarai mobil, Mark menelpon pegawainya, untuk mengawasi keadaan di kamar Ara.


"Baik tuan muda, saya akan kabari anda jika nona muda kemari." Jawab seseorang di ujung telepon sana.


Mark menutup panggilan teleponnya, dia kembali fokus mengemudi.


Tidak ada satupun pegawai yang berani menyapa Mark, jika wajahnya nampak begitu kesal seperti saat ini. Apalagi langkah kakinya terlihat sangat cepat. Semua orang yang di lewati Mark hanya diam dan sedikit menundukan kepala mereka.


***


Dalam ruangan kerja Mark.


"Apa karena laki-laki itu Shita tidak mau mencitaiku?" Mark bergumam sendirian.


Tokkk tok tok!


Terdengar bunyi ketukan pintu, Mark menekan tombol yang ada di dekatnya, kunci pintu itupun terbuka otomatis, lampu hijau juga menyala, tanda boleh masuk. Terlihat sosok Gimar masuk dengan membawa beberapa berkas di tangannya.


"Selamat pagi tuan muda." Sapa Gimar.


Seperti biasa, Mark tidak menjawab salam darinya.


"Tuan muda, ini beberapa berkas yang sudah selesai." Gimar memberikan berkas yang dia bawa pada Mark.


Mark memeriksa satu file. "Kinerja kamu sama seperti kinerja Abi." Seru Mark sambil meneliti file yang dia pegang.


"Terima kasih tuan muda, itu suatu pujian buat saya," seru Gimar menutupi kecangungannya.


Gimar masih memasang senyuman memaksa. "Bukan sama tuan muda, tapi itu memang kinerja Abi." Gerutu hati Gimar.


"Bagus, sisanya aku periksa lagi nanti, aku sedang tidak mood." Gerutu Mark. Dia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kerjanya.


"Maaf tuan muda, bukannya saya lancang, tapi wajah tuan muda seperti ada masalah." Ucap Gimar.


Mark menarik nafasnya begitu dalam. "Aku jatuh cinta." Ucap Mark.


Mendengar pengakuan Mark, mulut Gimar menganga lebar, dia tidak percaya dengan pengakuan tuan mudanya.


"Aku jatuh cinta pada Shita, tapi wanita itu malah bahagia dengan pria lain!"


"Apa perlu saya habisi orang itu?" Tanya Gimar.


"Aku tidak menginginkan siapapun celaka, aku hanya ingin Shita mencintaiku." Jawab Mark dengan nada ketus.


"Paksa saja dia," jawab Gimar dengan entengnya.


Mark mendengus mendengar jawaban Gimar.


"Tuan muda sangat mudah memaksa dia menjadi istri anda, kenapa tuan muda tidak bisa memaksa dia untuk mengatakan cinta? Biar saja hatinya kemana, tapi paksa lidahnya berkata aku cinta anda." Seru Gimar.


"Itu juga yang aku pikirkan."


"Tuan muda, beri dia sedikit demi sedikit kebahagiaan. Buat dia nyaman berada di samping tuan. Bila dengan cara itu gagal, biar dengan caraku, aku akan membuat dia takut, jika dia nekat pergi dari sisi tuan muda." Seru Gimar.


"Itu juga yang sedang aku usahakan, aku menyuruhmu mengambil alih kembali perusahaan mertua ku hanya untuk kebahagiaan dia, aku yakin dia bahagia jika kedua orang tuanya menetap kembali di sini." Jawab Mark.


Gimar tersenyum kecil. "Ada lagi hal kecil yang akan membuat nona muda bahagia." Seru Gimar.


"Apa itu?" Wajah Mark nampak sangat penasaran.


"Nanti, besok pagi aku usahakan untuk mengantar hal kecil itu di depan pintu rumah tuan muda." Jawab Gimar.


"Aku akan menunggu, aku penasaran, apa yang membuat bahagia Shita jika melihat kejutan darimu."


Mark kembali mengerjakan pekerjaannya. Sesekali dia melirik ponselnya, menunggu laporan dari orang yang mengawasi di rumah sakit.

__ADS_1


******


Selesai kuliah, Shita berjalan menuju kelas yang biasa di ikuti Jane. Beberapa bulan ini dia tidak melihat Jane.


"Ada apa Shita?" Salah satu teman Jane mendekatinya.


"Aku mencari Kak Jane." Jawab Shita.


"Jane sudah selesai dengan mata kuliahnya, beberapa bulan lalu, dia bilang akan pergi, dia akan menikah dengan kekasihnya."


"Kalau kaka ketemu kak Jane, aku titip salam ya." Seru Shita.


Teman Jane tersenyum dan mengangguk. Shita segera berjalan keluar kampus, tujuannya adalah Rumah Sakit di mana Ara dirawat. Shita masih berdiri di pinggir jalan menunggu taksi.


"Mau kemana kau?" Satu tangan melingkar di bahunya. Shita memutar sedikit wajahnya, menoleh orang yang menggandengnya.


"Aku mau kerumah Sakit Cind, menemui Ara dan kedua orang tuaku."


"Aku antar ya." Tawar Cindy.


"Ayuukkk" seru Shita.


***


Shita dan Cindy berada didalam mobil, mobil itu melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit.


"Aku tahu dari Ara, kalau laki-laki yang bersama dia malam itu suamimu. Tapi, setelah kau melihat kejadian itu, bagaimana keadaan rumah tanggamu?"


"Aku tidak bisa apa-apa Cind, aku tidak pergi dari suamiku." Jawab Shita.


"Kenapa?"


"Aku---"


Ucapan Shita tertahan. Dia memikirkan dampak perkataannya nanti. "Tunggu, aku tidak terlalu mengenal Cindy, bagaimana kalau dia anak buah Mark?" Kata hati Shita.


"Karena aku mencintai suami aku, walau dulu pernikahan ini karena perjodohan, ternyata sekarang kami saling cinta, bahkan saat malam aku mabuk itu, aku dan dia bercinta semalaman." Jawab Shita.


Cindy membisu, ada yang remuk di dalam sana, dia berusaha mengukir senyuman di wajahnya. Gedung rumah sakit mulai terlihat. "Nah, kita sampai sayangku, aku nggak turun ya, aku ada jadwal pemotretan." Seru Cindy.


"Iya, makasih ya Cind, sudah antar aku."


"Sama-sama sayang, titip salam buat Ara." Seru Cindy.


Shita mengangguk dan tersenyum. Setelah mobil Cindy memasuki halaman gedung rumah sakit, Shita langsung turun, setelah mengucap salam perpisahan pada Cindy.


***


Gedung Emanuel Group.


Mark nampak sibuk dengan lembaran kertas yang dia pegang, sesekali matanya fokus memandangi layar laptopnya. Konsentrasinya tiba-tiba buyar, saat melihat panggilan dari utusan yang mengawasi di rumah sakit. Mark langsung mengangkat panggilan teleponnya.


"Iya!" Jawab Mark dengan nada suara yang begitu tegas.


"Tuan muda, ini nona muda sudah datang ke rumah sakit."


Mark langsung menutup panggilan teleponnya. Kemudian meraih telepon yang ada di mejanya. Apalagi, kalau bukan memanggil Gimar.


"Iya tuan muda," jawaban di ujung telepon sana.


"Cepat keruanganku, amankan dan rapikan berkas yang ada di meja kerjaku." Perintah Mark. Selesai mengucapkan perintahnya. Mark menutup telepon dengan kasar


Dengan langkah kaki yang cepat, Mark melangkah menuju pintu. Tujuannya untuk kerumah sakit, untuk menamgkap basah Shita. Saat Mark membuka pintu, terlihat sosok Gimar yang ingin mengetuk pintu.


"Bereskan semuanya, setelah selesai, kunci saja ruangan ini, setelah ini aku akan langsung pulang." Perintah Mark sambil berjalan cepat meninggalkan ruangannya.


Gimar hanya mengangguk, dia tersenyum kecil melihat tingkah Mark.


***

__ADS_1


Mark sudah berada dalam mobilnya, dia menelpon direktur utama Rumah Sakit tempat Ara di rawat.


"Selamat sore tuan muda." Sapa seseorang di ujung telepon sana.


"Andreas, tolong kamu siapkan kamar khusus buatku di rumah sakit itu sekarang!" Perintah Mark.


"Anda sakit tuan muda?"


Apa harus sakit dulu baru bisa menginap di rumah sakit milikku?!" Bentak Mark.


"Maafkan saya tuan muda, baiklah saya akan siapkan."


Mark mendengus, dengan begitu kasar dia menggeser icon bewarna merah untuk meng akhiri panggilannya.


Sudah cukup Shita, aku sudah sabar menunggumu, kali ini aku tidak menunggu lagi, siap atau tidak aku akan memberitahu siapa aku dan apa hubungan kita. Dia segera melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit dengan kecepatan tinggi.


***


Di rumah sakit. Sejak sampai di rumah sakit, Ana menceritakan banyak hal pada Loiz, termasuk pengkhiatan Gildan, hingga membuat hubungan Ana dan Arum renggang.


Suasana kini hening, Sammy terlihat sangat nyaman tidur ber alas karpet di lantai itu, sedang Loiz memandangi Ara, membuat Ara merasa Risih, karena di pandangi Loiz terus menerus.


Kedatangan Shita menyita perhatian Loiz sebentar. Setelah menyambut dan berbincang ringan dengan Shita, Loiz kembali memandangi Ara, sedang Shita duduk di sofa di samping Ana.


Shita menatap tajam ke arah Loiz yang tidak merubah arah pandangannya pada Ara, membuat unjung bibirnya sedikit tertarik dan melengkung menjadi sebuah senyuman, karena perkiraannya pada Loiz.


"Kenapa om dan tante tidak mengabari kami atas konflik yang terjadi antar keluarga kalian dan keluarga Ara?" Tanya Loiz.


"Kami tidak ingin membuat mamamu bingung untuk berpihak pada siapa. Lebih baik kami diam, tapi semuanya mulai membaik." Jawab Ana.


"Lou, bisa kita bicara di luar?" Ajak Shita.


"Tentu," jawab Loiz. Loiz segera mengikuti langkah kaki Shita yang berjalan lebih dulu. Shita dan Loiz berjalan menuju lorong yang sepi.


"Lou, ku harap kamu tidak membenci Ara dan keluarganya, bagaimanapun mereka korban Lou." Ucap Shita langsung.


"Aku tidak akan membenci Ara ataupun om Pram dan tante Arum, justru aku kasian pada Ara, keadaan dia seperti ini, malah kedua orang tuanya tidak datang juga."


"Kudengar, tante Arum dan Om Sammy takut datang, karena sebab Ara kecelakaan, dia mencoba untuk menabrak suamiku."


"Apa? Ara ingin mencelakai tuan muda?" Loiz begitu terkejut.


"Dia mengira hidupku tidak bahagia karena pernikahan paksa ini. Dia hanya ingin melindungiku."


"Apa Ara benar? Maksudku apa kau tidak bahagia dengan pernikahanmu?"


"Itu tidak benar, Mark sangat sayang padaku, aku bahagia." Ucap Shita yang berusaha mengukir senyuman di wajahnya.


"Baguslah, aku takut kalau Ara benar."


"Lou, maukah kau jujur padaku?"


"Jujur? Bukankah aku selalu jujur padamu?"


"Lou, kamu harus jujur menjawab pertanyaanku."


"Baiklah, aku akan jujur."


"Apakah kamu mencintai Ara?"


Pertanyaan Shita membuat Loiz salah tingkah.


"Kita kelamaan di luar, lorong ini juga sepi, aku takut kalau aku dituduh merayu istri tuan muda." Seru Loiz. Dia melangkahkan kakinya begitu cepat pergi dari tempat itu.


"Loiz!" Teriak Shita.


"Pelankan suaramu, ini rumah sakit." Namun Loiz tetap berjalan cepat meninggalkan Shita.


Shita berlari mengejar Loiz, tepat di depan lift, Shita berhasil mendahului langakah Loiz. dia berhenti di depan Loiz menahan langkah Loiz dengan posisi merentangkan kedua tangannya. "Jujur padaku tentang perasaanmu. Aku melihat ada cinta di matamu."

__ADS_1


Saat yang sama pintu lift terbuka. Membuat mata seseorang melotot, saat mendengar sedikit pembicaraan dua orang di depannya, juga melihat pemandangan di depan matanya tersebut.


__ADS_2