Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda

Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda
Bab 65 Mengingkari Janji


__ADS_3

Mereka bertiga masih berjalan di area pelabuhan itu, berbaur dengan orang lalu lalang di sana. Sedang mata mereka tidak berhenti memandangi sejauh mana mata mereka mampu memandang. Mata Mark, terfokus pada satu arah, dia menepuk tangan Gimar yang mendorong kursi rodanya. "Lihat di sana, apakah dia Shitaku?" Mark menunjuk ke arah itu. Dimana terlihat seorang gadis berdiri sambil memainkan handphone nya.


"Shita …." Bibir Mark bergetar, saat melihat wanita yang mirip Shita itu.


"Ayo, kita cari tempat aman, untuk melihatnya." Seru Abi.


"Gimar! Bawa wanita itu padaku!" Perintah Mark.


"Tuan muda, anda jangan mengingkari janji anda." Seru Abi.


"Aku tidak perduli, Shita harus kembali padaku!" Jawab Mark.


Abi mengetik pesan pada ponselnya.


"Tuan muda, lihat wanita itu kabur!" Seru Gimar.


"Cepat kejar dia! Mana anak buah kita!" Teriak Mark.


Gimar langsung memberi perintah lewat ponselnya, seketika banyak orang yang mengejar wanita yang berlari itu.


"Semakin kau kejar, wanita itu akan semakin cepat dia berlari, apakah aman seorang wanita yang masih hamil muda berlari cepat?" Seru Abi.


Gimar menatap Mark . "Abi benar tuan muda, bagaimana kalau nona muda keguguran karena kita kejar?"


"Aku tidak perduli pada bayi kami, aku hanya ingin Shitaku kembali," jawab Mark, setengah berteriak.


Abi tersenyum kecil, dugaannya benar lagi, ternyata Mark mengingkari kesepakatan mereka.


"Anda membuat saya kecewa tuan muda, tadinya saya berharap, anda tidak mengingkari kesepakatan kita ternyata." Abi membulatkan bibirnya dan mengangkat kedua bahunya.


"Aku tidak ingin melihat Shita dari kejauhan, aku ingin Shita kembali padaku." Seru Mark.


Senyuman Mark mengambang, saat melihat dari kejauhan anak buahnya membawa seorang wanita yang dia lihat sebelumnya. "Shita." Mark bergumam, wajahnya nampak begitu ceria, hingga bibirnya melengkung menjadi sebuah senyuman manis.


Anak buah Mark, yang membawa wanita itu semakin dekat, namun semakin dekat wanita itu, senyuman Mark malah hilang seketika, saat menyadari, itu bukan istrinya Shita.


"Maaf tuan muda, dia bukan nona muda, tapi kami menangkapnya, agar tuan muda percaya." Seru salah satu anak buah Mark yang menangkap wanita itu.


Abi berusaha kuat, untuk menahan senyumannya, agar Mark tidak marah. Abi menepuk bahu Mark dengan lembut. "Yakinkan aku kalau anda memegang teguh janji anda, saat aku yakin anda bisa ku percaya, maka saat itu juga anda bisa melihat Shita yang asli." Seru Abi.

__ADS_1


Mark dan Gimar mematung, mereka tidak menyangka, kalau Abi punya rencana khusus.


"Aku sudah percaya anda, namun aku jaga-jaga saja, ternyata geritik hatiku benar, kalau anda tidak akan memenuhi janji anda." Abi langsung pergi meninggalkan Mark dan Gimar.


"Lepasakan wanita itu." Ucap Mark begitu lemas.


***


Mereka semua meninggalkan pelabuhan itu, sepanjang perjalanan kembali, Mark sangat menyesal karena bertindak gegabah. Andai dia tidak mengingkari kesepakatan, pasti Shita yang asli benar-benar dia lihat.


Melihat Mark dan anak buahnya pergi, Abi yang sedari tadi bersembunyi, segera menemui gadis yang sekilas mirip Shita.


"Kerja bagus nona," sapa Abi sambil mendekati gadis itu.


"Benarkah?" Wanita itu girang karena dia melakukan pekerjaan yang memuaskan.


"Sangat bagus, ini honormu, senang bekerja sama denganmu." Seru Abi.


Setelah memberikan amplop pada wanita itu, Abi pun pergi dari sana. Sedang wanita yang di bayar Abi, untuk pura-pura jadi Shita, terlihat begitu bahagia. Karena mendapat bayaran yang sangat luar biasa dari Abi.


Mobil yang disetir oleh Gimar melaju cepat di jalanan.


"Kita ikuti rencana Abi, mungkin ini hukuman buatku, atas kejahatanku selama ini, aku tidak pernah menghargai wanita, kini wanita yang sangat berharga dalam hidupku, tidak akan kembali kesampingku."


"Di mana Abi menyembunyikan Shita." Ringis Gimar.


"Entahlah, tapi, aku harus merasa bahagia, walau hanya bisa melihat Shita, itu berat, tapi aku akan berusaha." Rungis Mark.


"Maafkan ketidak mampuanku tuan muda," ucap Gimar.


"Kamu sudah bekerja dengan sangat baik Gimar, kau juga aset berharga Emanuel Group, tetaplah mengabdi, Gimar, aku sudah kehilangan Abi, aku tidak mau lagi kehilangan aset berharga yang dimiliki Emaneul Group."


Gimar tersenyum dan mengangguk.


*****


Perkiraan Abi melenceng, dia mengira kalau akan berada di tempat sebelumnya beberapa hari, namun ternyata hanya beberapa jam, karena Mark mengingkari janjinya. Setelah menempuh perjalanan yang panjang, akhirnya Abi sampai di kota tempat dia tinggal. Dia melajukan mobilnya menuju pemakaman, di mana jasad tuan besarnya itu di kuburkan. Seperti biasa dia mampir di toko bunga, untuk membeli bunga Anyelir putih.


Sesampai di pemakaman Haka, Abi bersimpuh di sisi batu nisan itu, sambil menaruh bunga yang dia bawa. Dia mengusap nama tertulis di nisan itu.

__ADS_1


"Tuan besar, maafkan aku, karena aku menyembunyikan menantumu, semua ini aku lakukan demi memberi pelajaran bagi Mark, saat ini rencana awalku berhasil, semoga rencanaku berikutnya juga berhasil, restui aku tuan besar." Seru Abi. Dia segera bangkit dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan pemakaman itu.


…..


Senyuman Abi tidak hilang dari wajahnya, kejadian bersama Gimar dan Mark, membuat dia begitu bahagia, karena maju lebih jauh dari dua orang itu. Abi begitu semangat masuk kedalam rumahnya. Sesampai di ruang tamu, Abi melihat Jane nampak santai, dia langsung memeluk istrinya itu.


"Rencana kita berhasil!" Seru Abi.


"Selamat, aku juga bahagia." Seru Jane. Namun wajah Jane nampak murung kembali.


"Kenapa?" Tanya Abi.


"Aku memikirkan Shita, wanita itu benar-benar mencintai Mark." Ringis Jane.


Mendengar perkataan Jane, Abi juga bungkam, dia juga bisa merasakan, sepasang suami istri itu sama-sama menderita. Abi menarik nafasnya dengan lembut. "Kita hanya bisa membuat keduanya melanjutkan kehidupan mereka, kita tidak bisa memaksa keduanya bersatu." Seru Abi.


"Kamu benar sayang. Terus apa yang akan kita lakukan?"


"Biarkan Shita hidup bahagia di panti itu, kalau Mark, jika dia benar- benar bisa merelakan Shita, aku akan beritahu di mana Shita, namun itu dia, Mark harus benar-benar bisa menerima keputusan Shita terlebih dahulu."


"Aku ragu, kalau Mark, mau menerima keputusan Shita, bukankah selama ini, hanya keputusannya saja yang berlaku?" Gumam Jane.


"Kalau dia seperti itu, maka selamanya dia tidak akan melihat Shita.


*****


Di panti asuhan Emanuel Group


Melihat kehebohan dan kelucuan kehidupan anak-anak panti Asuhan, membuat Shita melupakan sedikit beban di hatinya. Dia menghabiskan waktu bermain dengan anak-anak panti, juga terkadang membantu pengurus panti, untuk mengurus urusan apa saja yang ia bisa, buat penghuni panti asuhan yang lainnya, kali ini, dia membantu para pengurus panti, mengurus penghuni panti yang masih bayi.


Mamandangi beberapa bayi mungil itu, Shita tersenyum. Dia mengelus perutnya yang masih rata.


"Kamu beruntung sayang, walau nanti kamu hanya punya mama, kamu sangat beruntung, lihat mereka, mereka tidak punya mama dan papa." Seru Shita.


Tepukan lembut di bahu Shita menyadarkan dia dari lamunannya.


"Sebentar lagi giliran kamu, ayo sana ke ruangan dokter Marien." Seru mama Al.


Shita tersenyum dan mengangguk, dia segera melangkahkan kakinya, menuju ruangan dokter Marien, untuk memeriksa kehamilannya.

__ADS_1


__ADS_2