
Ara memutar tubuhnya menghadap Arah yang Mark maksud. Mulutnya menganga melihat Shita dan Cindy berdiri di depan pintu.
Air mata Shita seketika tumpah, orang yang dia anggap sahabatnya malah mengiginkan dirinya menderita. Dia melempar ke tong sampah cake dan kado yang dia bawa buat Ara. Tanpa berkata sepatah katapun dia langsung pergi meninggalkan Apartemen Ara. Cindy tersenyum dalam hati, namun raut wajahnya memancarkan raut kekecewaan yang tertuju pada Ara. Dia juga melempar kado yang sudah dia siapkan buat Ara. Lalu berlari mengejar Shita.
"Kau menjebakku?" Ara menatap tajam ke arah Mark.
"Apa maksudmu?!"
"Kau sengajakan melakukan ini, agar Shita melihat kita lalu dia benci padaku?"
"Ara! Apa ke inginanmu!" Bentak Mark.
"Kau ingin Shita menderita, sekarang dia pasti sangat menderita!" Teriak Mark.
"Iyaaa! Aku ingin dia menderita, tapi, aku tidak ingin dia membenciku," rengek Ara.
"Kau munafik! Kau ingin menjadi pahlawan bagi Shita? Tapi kau sendiri yang bernafsu menyakitinya." Mark menatap tajam Ara yang mulai tidak tau diri.
"Sepertinya keputusanku untuk melepaskan kamu sangat tepat! Tidak ada perjanjian apapun lagi di antara kita!" Mark merobek surat perjanjian dirinya dan Ara, di depan mata Ara. Mark pergi begitu saja dari Apartemen Ara.
Ara mematung, dia berjalan pelan menuju tong sampah, memungut kado yang Shita dan Cindy lempar kesana. Ara menagis memeluk kado itu. "Shitaa." Ringisnya. Ara terus menangis dan meratapi nasibnya sendiri. Kehilangan sahabatnya juga di tinggal begitu saja oleh Mark. Nasehat Shita di masa lalu terngiang di pikirannya.
Ara menutup pintu dan menguncinya. Dia berjalan menuju sofa sambil menatap kue ulang tahun yang ada di meja dari Mark. "Shita benar, laki-laki seperti Gildan atau Mark, pasti akan meninggalkanku begitu saja tanpa peduli dengan perasaanku." Ara menangis sendirian dalam Apartemennya.
***
Berulang kali Cindy mengirim pesan pada Mark, namun Mark tidak juga membalasnya. Sambil mengemudi Cindy berulang kali melirik ponselnya, sedang wanita di sampingnya hanya menangis saja sepanjang perjalanan.
Ponsel Cindy bergetar, dengan sebelah tangan Cindy mengusap layar ponselnya dan membaca pesan yang masuk.
[Ada apa?] Mark
[Bagaimana istrimu? Dia selalu menangis, kemana aku harus bawa dia?] Cindy.
[Bawa saja kemanapun kau mau, aku tidak perduli!] Mark.
Cindy menyimpan ponselnya, mulai mengatur nafasnya untuk bicara pada Shita. "Shita, kamu mau kemana? Pulang kerumah suamimu? Apa pulang ke Apartemenku?" Cindy berusaha mengajak Shita bicara.
"Aku ingin melupakan semua ini." Ringis Shita.
"Kau ingin melupakan semuanya?"
"Iya, aku ingin melupakan semuanya, tapi aku tidak bisa!" Ringis Shita.
"Ikuti apa yang aku suruh, aku jamin kau akan lupa semuanya." Seru Cindy sambil menambah kecepatan mobilnya.
__ADS_1
Cindy membawa Shita ketempat Club malam langganannya. Shita nampak canggung mengikuti langkah kaki Cindy. Club malam yang dia pijak saat ini lebih liar dari Club malam milik Bo'im. Shita nampak ketakutan.
"Kenapa wajahmu?" Seru Cindy.
Shita menggeleng.
"Tenang saja, rilex, aku jamin kau akan lupa semuanya, aku selalu ke sini jika hatiku ditimpa beban yang berat." Suara Cindy hampir ikut tenggelam bersama dentuman musik yang bermain di ruangan itu.
Cindy menarik Shita ke bar, lalu dia memesan minuman dengan kadar Alkohol yang cukup tinggi pada beertender yang bertugas.
"Aku tidak pernah minum, aku tidak mau," Shita menggeser gelas minumannya ke arah Cindy.
"Hei, kau bilang ingin lupa segalanya, ayo minum." Rayu Cindy.
Shita memegang gelas minumannya, mulai mendekatkan gelas pada bibirnya. "Aku tidak bisa." Ringis Shita.
Cindy mengambil gelas minuman Shita, lalu berjalan mendekati Shita. "Bagaimana perasaan kamu tadi, saat melihat Ara mengatakan kalau dia--"
Shita langsung mengambil gelas yang Cindy pegang dan langsung menegak habis isi minuman pada gelas itu.
"Herhhhhggg!" Shita tidak tahan dengan minuman yang baru dia tegak.
"Lanjutkan sayang …." Rayu Cindy. Dia menambah lagi minuman di gelas Shita.
Perasaan yang sangat hancur saat melihat Ara dan suaminya bermesraan belum lagi saat mengetahui, kalau Mark menikahinya hanya karena Ara, membuatnya nekat kembali menegak minuman beralkohol tersebut. Entah berapa gelas yang habis di tegak oleh Shita. Gadis itu mulai mabuk.
[Di mana kalian?] Mark.
Cindy membalas pesan dari Mark, dia mengetik pesan, memberitahu Mark di mana mereka berada sekarang.
***
Mark menggeleng setelah membaca pesan Cindy, dia sudah menduga kalau Cindy membawa Shita ketempat itu, Mark sudah berada di parkiran tempat Club malam tersebut dari tadi, dia segera berlari masuk kedalam Club malam. Sapuan mata Mark terhenti saat melihat dua orang wanita duduk di bar yang masih menghadapi deretan gelas minuman yang sudah kosong.
Mark berjalan cepat mendekati kedua wanita yang masih minum tersebut. "Kenapa kau membawanya kemari!" Mark mencengkr*m lengan Cindy begitu kuat. Dia sangat geram melihat Shita yang mabuk berat. Sedang Cindy hanya setengah mabuk.
Cindy menangkis tangan Mark yang memegang kuat pergelangan tangannya. "Hei, kau sendiri yang bilang terserahku." Jawab Cindy.
Mark menjantikkan jarinya memanggil salah satu petugas keamanan Club malam tersebut. Orang yang Mark panggil langsung berlari menghampiri Mark.
"Siap tuan muda." Sapanya.
"Kau, jaga wanita ini, kalau dia ingin pulang, antarkan ke Apartemennya, jangan biarkan dia sendirian." Perintah Mark.
"Baik tuan muda." Jawabnya.
__ADS_1
"Besok aku transfer jasamu menjaga wanita ini." Seru Mark. Dia langsung mengendung Shita yang mabuk berat. Semua mata di Club malam itu terfokus pada Mark yang menggendong seorang wanita yang mabuk berat.
Mark membawa Shita ke mobilnya. Sedang Shita masih mengoceh tidak karuan. Mark tersenyum sendiri mendengarkan Shita yang meracau sembarangan.
Shita di dudukkan Mark di kursi mobil bagian depan, dia memasang safetybelt pada Shita. Dia segera masuk menuju kursi kemudi, membawa istrinya yang mabuk berat itu pulang ke rumah.
Mobil Mark mulai melaju membelah jalanan malam yang mulai sepi.
"Hei bambang! Semua ini gara-gara kau! Aku kehilangan sahabatku, Ara membenciku dan ingin menyakitiku karena dia sakit hati padamu!" Gerutu Shita yang dibawah pengaruh alkohol.
"Bambang? Siapa bambang?!" Bentak Mark.
Shita tertawa mendengar Mark berteriak padanya. "Wah, bambang! kau bisa marah juga?" Racau Shita sembarangan.
"Astaga, kenapa aku bodoh! Mana nyambung bicara dengan orang mabuk!" Gerutu Mark memaki dirinya sendiri.
"Apa kau bisa bahagia bambang!" Rengek Shita.
"Bambang … siapa bambang!" Gerutu Mark bingung sendiri.
Shita terus meracau sepanjang perjalanan. Curhatan Shita yang di bawah pengaruh alkohol membuat Mark iba padanya.
"Aku rela melakukan apa saja untuk kebahagiaanmu Ara, kenapa kau malah ingin menghancurkanku? Yang salah bambang! Bukan aku!" Rengek Shita.
"Apa bambang itu Gildan? Atau pacar Shita dan Ara?" Gerutu Mark. Namun dia memilih diam dan mendengar semua ocehan Shita yang kadang nyambung dan kadang ngawur.
Kini mobil Mark memasuki halaman rumahnya. Dia langsung keluar dari mobil dan langsung menggendong Shita. Baru melangkah sampai teras rumah.
Uwekkkk! Shita mengeluarkan semua isi perutnya. Mark hanya membuang nafasnya, raut wajahnya begitu kesal, karena muntahan Shita mengenai badannya.
"Dasar!" Gerutu Mark sambil mendengus.
"Panggilkan pelayan perempuan, suruh dia membersihkan tubuh istriku." Perintah Mark pada pelayan yang berdiri di dekatnya.
"Baik tuan muda." Jawab mereka serentak.
Pelayan yang melihat hal itu hanya diam. Setelah Mark melangkah masuk kedalam, mereka langsung membersihkan muntahan nona muda mereka yang ada di lantai teras rumah tersebut.
Mark terus menggendong Shita hingga sampai di kamar mereka. Mark merebahkan Shita di tempat tidur. Tidak lama seorang pelayan perempuan datang.
"Bersihkan tubuh istriku!" Perintah Mark. Sedang dia segera membersihkan masuk ke kamar mandi.
*****
Alhamdulillah bisa ngetik walau malam😁😁😁🤭
__ADS_1
Warnai tanda jempol itu dengan warna merah ya☺
Author belum bisa up rutin, tapi akan di usahakan🙂