
Setelah pergi dari kamar Shita, Mark meninggalkan hotel tersebut dan pergi ke apartemen Ara, dengan mudah dia bisa masuk ke Apartemen Ara, karena dia tahu kode kemanan Apartemen itu. Dalam ruangan itu terlihat seorang gadis tengah duduk, sambil membaca majalah di sofa yang panjang.
"Beib," sapaan Mark membuat gadis itu menoleh padanya.
"Hai calon pengantin," seringai Ara membuat Mark kembali teringat Shita. Ara meletakkan majalahnya di meja dan dia langsung melangkahkan kakinya mendekati Mark. Tatapan mata Ara dan Mark bertemu.
Ara di depan matanya namun bayangan Shita yang terngiang. "Shit! Kenapa Shita selalu dalam pikiranku!" Gerutu hati Mark.
"Beib," ucap Ara begitu manja sambil menggelayut di tubuh Mark.
"Hem," tanggap Mark, dia memandang sayu wajah Ara, tapi kenapa hatinya tidak merasakan hal yang sama saat memandang Shita.
"Menurutmu, besok aku datang apa tidak?" Tanya Ara sambil menciumi leher Mark.
"Terserah kamu beib, apa kamu sanggup melihatku bersanding di altar dengan musuhmu?"
"Tentu saja beib," senyuman Ara begitu lebar.
Mark merasa putus asa dengan perasaan yang ia rasa. "Ara, kenapa bukan kamu saja yang menjadi istriku? Bukankah dendam ini akan sangat indah, Shita datang dengan gaun pengantin, tapi aku dan kamu yang mengikat janji suci pernikahan?"
Ara terdiam dengan tawaran Mark, memang pasti sangat memalukan, jika pernikahan Shita batal, namun dia sama sekali tidak mencintai Mark.
"Beib, maukah kau menikah denganku besok?" Pertanyaan Mark membuat Ara gundah.
"Mark, aku memang ingin Shita menderita, tapi aku ingin menyiksa dia perlahan, aku tidak bisa menikah denganmu, karena aku sudah terikat kontrak, tolong, mengerti aku," rengek Ara.
Mark mendengus, tarikan dan hembusan nafasnya terasa sangat berat.
"Beib, walaupun kita tidak menikah, tapi aku milikmu," bisik Ara sambil memeluk Mark. Berharap ucapannya barusan membuat Mark lebih baik.
Mark menghabiskan waktu memadu kasih dengan Ara. Entah kenapa dia sangat menyukai tubuh kecil Ara tersebut. Hingga di rela membuang beberapa wanitanya.
Keduanya masih dalam balutan selimut, karena tubuh mereka tidak memakai apapun. Ara merebahkan kepalanya di dada bidang Mark.
"Beib, aku berpikir, bagaimana kau hamili Shita, lalu tinggalkan dia setelah dia hamil," ucap Ara.
Seketika Ara di dorong oleh Mark. Membuat gadis itu terkejut dengan perubahan sikap Mark.
"Aku memang bej*t, tapi aku tidak akan membuang anakku, kalau Shita hamil karena aku, maka yang terlantar adalah anakku," Bentak Mark.
__ADS_1
"Aku memakai pengaman setiap bercinta, agar benihku tidak tumbuh menyebar, aku memangan bajing*n! Tapi aku tidak akan menelantarkan anakku!" ucapan Mark terdengar bergetar karena menahan kemarahannya atas ide Ara.
"Maafkan aku, aku hanya ingin membuat Shita menderita," ringis Ara.
Mark tidak perdulikan Ara, dia pergi ke kamar mandi dengan wajah kesalnya, Mark menyegarkan dirinya. Pikirannya sungguh kacau, bercinta dengan Ara, tapi bayangan Shita yang selalu terlintas.
Dalam kamar mandi Mark berdiri di bawah guyuran air yang deras keluar dari Shower, namun masih saja Shita yang menari-nari di pikirannya. Mark berulang kali meninju dinding porselen kamar mandi yang tidak bersalah. Meluapkan kekesalannya karena terus terbayang wajah Shita. Hingga pungung telapak tangannya memerah karena meninju begitu keras.
Selesai mandi, Mark pergi meninggalkan Ara. Dia kembali kekamarnya yang ada di hotel yang sama dengan Shita dan menghabiskan waktu di sana.
*******
Keesokan harinya.
Sumpah pernikahan akan dilangsungkan jam dua siang. Kini Shita tengah memandang dirinya yang sudah mengenakan gaun pengantinnya di cermin. Rambutnya masih tergerai.
Hatinya saat ini hampa, ingin rasanya dia lompat dari jendela kamar hotelnya. Namun meng akhiri hidupnya hanya menyisakan luka di hati kedua orangtuanya. Sentuhan tangan perias pengantin di rambut Shita membuat dirinya tersadar dari khayalannya, yang ingin terjun bebas dari jendela kamarnya.
Perias pengantin tengah mempersiapkan untuk menata rambutnya. Namun baru selesai menata sedikit bagian rambut Shita, yang merias dirinya tengah izin pergi kekamar mandi. Karena kebelet.
Pintu kamar hotel terbuka, terlihat sosok pria yang mengenakan kemeja putih berdiri di tengah pintu, gayanya begitu angkuh. Dia berjalan mendekati Shita yang masih mematung memandangi dirinya. Dia berdiri tepat di hadapan Shita, tangannya meraih dagu Shita.
Mark tersenyum melihat wajah Shita yang nampak tidak suka dengan kedatangannya. "Kata orang, sebelum sumpah di ikrarkan, pengantin pria tidak boleh menemui pengantin wanita, kecuali di Altar. Kalau salah satunya nekat menemui, maka hal buruk akan terjadi dalam pernikahan itu. Ini kode manis, kode kalau pernikahan ini adalah hal yang paling buruk untuk kehidupanmu saat ini dan seterusnya." seru Mark, sambil melepaskan tangannya dari dagu Shita.
Setelah mengucapkan kata-katanya, dia langsung pergi dari kamar Shita dengan senyuman kebahagiaan. Bahagia karena meneror Shita atau bahagia melihat Shita yang nampak cantik dengan gaun pengantinnya.
Kini perias sudah selesai merias wajah Shita dan menata rambutnya dia segera pergi dari kamar itu. Tidak lama perias pergi Ana dan Sammy masuk kedalam kamar Shita. Sunggingan senyuman terukir di wajah Sammy dan Ana, mereka sangat bahagia melihat Shita yang terlihat semakin cantik mengenakan gaun pengantinnya.
"Anak mama sangat cantik," seru Ana sambil mendekati Shita lalu memeluknya.
"Papa merasa ini bukan kamu, kenapa kamu bisa secantik ini sayang," seru Sammy.
Sedang Shita hanya tersenyum menanggapi ucapan kedua orang tuanya.
"Ayo sayang, kita turun, semua orang sudah menunggu di bawah," seru Ana.
__ADS_1
Ana dan Sammy berjalan bersama. Mereka berjalan bergandengan, posisi Shita di tengah-tengah antara Sammy dan Ana. Mereka segera turun menuju tempat acara pernikahan yang akan segera di langsungkan.
***
Saat Ana dan Sammy memasuki Aula bersama-sama, semua mata yang tadi asyik memadang ke penjuru arah, kini mata-mata itu terfokus satu arah, yaitu memandang pengantin wanita yang kini berjalan dengan papanya, sedang Ana menepi, kini Shita dan Sammy berjalan bergandengan menuju tempat sumpah pernikan.
Alunan musik mengiringi langkah kaki Shita dan Sammy yang berjalan bergandengan. Sedang di depan sana Mark berdiri tegap menanti pengantin wanitanya. Melihat bagaimana wajah pengantin pria dan pengantin wanita, orang tidak akan tahu apa yang ada di hati keduanya. Bagi mata yang memandang, gadis yang berjalan mengenakan gaun pengantin itu adalah gadis yang beruntung, karena bisa mendapat posisi sebagai nona muda Emanuel Group.
Shita memasang wajah ceria, seakan dia sangat bahagia atas pernikahan ini, semua ini dia lakukan demi laki-laki yang kini menggandeng tangannya. Sesekali Shita memandangi wajah Sammy yang nampak begitu bahagia.
"Papa, jika papa dan mama bahagia, aku rela hidup di kandang emas ini selamanya, walau sekelilingku api yang berkobar," lirih hati Shita, dia menatap sayu wajah papanya. Sebentar lagi wajah itu tidak bisa dia lihat langsung lagi. Karena laki-laki yang bediri tegap di depan sana memindahkan papa dan mamanya menangani perusahaan yang jauh dari kota ini.
Tidak terasa langkah kaki mereka sampai di tempat dimana sumpah janji suci akan di ikrarkan. Mark mengulurkan tangannya, menanti Sammy memberikan tangan Shita padanya. Kini tangan Shita melingkar di lengan Mark, dia melanjutkan langkahnya menuju tempat sumpah bersama Mark.
Kini langkah keduanya berhenti, berdiri sejajar mendengar segala nasehat yang diberikan. Sumpah pernikahanpun terucap di lisan kedua mempelai.
"Silahkan mencium pasangannya," Mendengar kalimat barusan Shita dan Mark saling pandang. Mengingat banyaknya mata yang memandangi mereka, membuat Shita perlahan merubah posisi tubuhnya. Begitu juga Mark. Mark dan Shita berdiri berhadapan.
Suasana mendadak hening. Menanti pasangan pengantin itu melakukan ciuman mereka. Mark menarik nafasnya begitu dalam dan menghembuskannya begitu kasar. Mark menggerakkan tangannya, dia memegang leher Shita dengan kedua telapak tangannya, perlahan dia mendaratkan cuiman di alis Shita. Ciuman itu bertahan beberapa detik, ada sesuatu yang mendidih didalam diri Mark. Namun dia segera melepaskan Shita.
Melihat hanya ciuman di alis, membuat para undangan bersorak sorai serentak mengucapkan kalimat.
"Cium!"
"Cium!"
"Cium!"
"Cium!"
Mark memandang wajah Shita kembali, keduanya medekatkan wajah mereka. Hingga bibir mereka bertemu, Kedua bibir itupun bertemu sekejap tanpa mengec*p, membuat gemuruh tepukan tangan yang begitu meriah menggema di ruangan itu. Bukan hanya ruangan resepsi yang menggemuruh, namun batin Mark juga ikut bergemuruh, perasaan aneh yang dia rasakan dari kemaren kembali meledak-ledak.
Selesailah sumpah pernikahan Mark dan Shita. Kini acara berlanjut pada pesta pernikahan seperti pada umumnya.
__ADS_1
***