
Kondisi Ara semakin membaik, Arum dan Pram tengah membereskan barang-barang mereka. Sedang Ara mematung menatap nanar ke arah luar jendela yang ada di kamar perawatannya itu.
"Ara," panggil Arum. Ara tersentak dari lamunannya.
"Ayo sayang, kita pulang," Arum mendorong kursi roda yang kosong mendekat pada Ara. Ara langsung duduk di kursi roda tersebut.
Semuanya sudah beres, mereka bertiga meninggalkan kamar perawatan itu. Pram membawa barang-barang mereka, sedang Arum mendorong kursi roda yang di duduki Ara. Batin Arum sungguh tersiksa, Ara yang manja, cerewet dan ceria jauh berubah. Semenjak kejadian itu Ara banyak melamun, berbicarapun hanya sekedarnya saja.
Sesampai bagian luar rumah sakit, mobil sudah menunggu, mereka bertiga meninggalkan rumah sakit tersebut tanpa pamit pada Ana dan Shita, padahal mereka berada di rumah sakit yang sama.
Kondisi Sammy yang mulai stabil, bagaikan setetes air yang didapat saat di tengah gurun. Tidak menghilangkan haus, namun sangat terasa menyejukkan. Itulah yang di rasa Shita, sedikit tenang melihat keadaan Sammy yang membaik, tidak lagi di ruangan icu, namun tetap sangat khawatir dan takut, karena papanya itu belum juga sadar.
"Mamaaa, kenapa bambang tidak pernah datang?" Tanya Shita pada Ana.
"Kakakmu menorehkan luka yang dalam pada banyak orang, juga melempar kotoran yang sangat banyak ke wajah mama dan papa," jawab Ana.
Shita sama sekali tidak mengerti perkataan ibunya. Karena keadaan nampak biasa-biasa saja. "Apa maksud mama?" Tanya Shita yang nampak bingung.
Ana mulai menceritakan proses perjodohan Ara dan Gildan. Juga menceritakan Gildan yang meninggalkan Ara begitu saja.
"Siapa wanita yang kabur sama bambang?"
"Mama tidak tahu sayang," jawab Ana.
"Kenapa Ara mau nikah sama bambang? Bambang itu banyak pacarnya mah, setiap minggu, eh ralat! Setiap kali jika aku tidak sengaja bertemu dia di luar, teman wanitanya selalu beda."
"Ara sangat mencintai kakakmu, tapi Gildan malah pergi keluar negri meninggalkan kita semua," ringis Ana.
"Mamaaa." Rengek Shita memeluk ibunya yang nampak hancur.
"Selamat siang," sapa perawat.
Sontak Shita dan Ana menghapus air mata mereka.
"Maaf mengganggu, utusan dari Emanuel Group menunggu kalian berdua," sapa perawat.
"Kalau kami pergi, siapa yang jaga papa?" Tanya Shita.
"Saya akan menjaga tuan Sammy," sapa perawat yang baru datang.
__ADS_1
Shita dan Ana berjalan mengikuti langkah perawat yang memanggilnya. Langkah mereka sampai pada lift khusus, mereka bertiga masuk kedalam lift tersebut.
"Apa masalah kalian pada Emanuel Group?" Tanya perawat itu membuka pembicaraan.
"Kami tidak melakukan apa-apa," jawab Ana.
"Tapi utusan itu nampak sangat marah, semoga kalian bisa keluar dari ruangan itu tanpa kekurangan sesuatu apapun juga," jawab perawat itu.
Mendengar perkataan perawat, membuat Shita ketakutan, dia menggandeng lengan mamanya.
"Jangan takut sayang, kalau kita tidak salah, kenapa takut?" Ana memberi semangat pada putrinya.
Mereka sampai di lantai tujuan mereka, di lantai itu terlihat banyak orang yang berpakaian rapi, namun wajah-wajah itu nampak menakutkan bagi Shita. Dia kembali menggandeng lengan mamanya.
"Pak Wishu?" Ana kaget melihat pengacara keluarganya sudah ada di ruangan itu.
"Banyak hal yang ingin saya sampaikan bu Ana," Wishu berdiri dan menyalami Ana dan Shita.
Gimar menatap tajam ke arah Ara. "Kami memang kejam, tapi kami masih punya belas kasih, makanya kita berbicara di ruangan ini, andai Emanuel Group tidak punya belas kasih, kami akan membicarakan ini di ruangan suami anda," seru Gimar.
"Boleh kami tahu, kenapa kami harus kesini?" Tanya Ana.
"Bu Ana, dia adalah pak Gimar, sekretaris utama tuan muda Mark, pemilik Emanuel Group," Wishu mengenalkan sosok Gimar pada Ana.
Shita sedari tadi ketakutan, duduk sambil merem*s jari-jemari tangannya, apalagi setelah melihat Gimar, memang Gimar nampak muda dan ganteng, namun seketika darah Shita mendidih melihat sorotan tajam dari Gimar. Tangan Shita terasa dingin, di luar kendalinya, dia pingsan di ruangan itu.
"Shita!" Teriak Ana, melihat putrinya pingsan.
Wishu dan Ana membetulkan posisi berbaring Shita.
"Jangan panik, dia hanya ketakutan," seru Gimar.
Ana duduk di dekat Shita sambil membelai rambut dan wajah putrinya. Sedang Wishu kembali ke tempat duduknya.
"Kita lanjutkan," seru Gimar. "Tuan muda Mark adalah calon suami Nesya, heemmm dan Nesya itu, wanita yang kabur keluar negri bersama putra anda,"
Mendengar kata-kata barusan membuat jantung Ana meledak, kini dia tahu kenapa dia ber urusan dengan Emanuel Group. "Gildan, apa tidak ada lagi wanita lain, kenapa kamu harus mengusik kehidupan orang yang paling berkuasa," ringis hati Ana.
"Kami menarik semua investasi dan lainnya, kami tidak mau bekerja sama dengan perusahaan anda," seru Gimar.
__ADS_1
"Karena kejadian ini, semua rekan dan yang lainnya juga mundur bu, saya sudah mulai membereskan semua ini, hanya yang ada di rekening ini dan mobil nona Shita yang tidak di tarik kantor," Wishu memberikan berkas pada Ana.
Dengan tangan yang gemetaran Ana menerima berkas yang diberikan pengacara keluarganya. Membaca semua itu, cairan bening menetes dari pelupuk mata Ana, mereka semua tidak memiliki apa-apalagi, yang tersisa hanya uang yang ada di rekening yang tidak seberapa, mobil Ara dan rumah kecil yang di berikan cuma-cuma oleh Emanuel Group. Ana mengusap air matanya.
"Pak, apakah tidak ada kelonggaran, kasihani kami, lihat ... suami saya sedang sakit," ringis Ana, dia memohon, berharap sekretaris itu bisa berbaik hati lagi.
"Anda beruntung tidak kami lempar ke jalanan begitu saja," jawab Gimar ketus.
"Maaf bu Ana, sebaiknya ruang perawatan pak Sammy dipindahkan, saya takut, ibu tidak bisa membayar semuanya," ucap Wishu.
"Gildan … kenapa kamu membuat keluarga kamu dalam kesulitan seperti ini," ringis hati Ana.
"Semuanya sudah saya sampaikan pada pengacara anda, saya undur diri permisi," ucap Gimar, dia bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan ruangan itu.
"Maafkan saya bu Ana, saya tidak bisa berbuat banyak, saya sedang membantu kepindahan anda, karena rumah anda akan di ambil oleh perusahaan," ucap Wishu.
"Saya mengerti pak, terimakasih," ringis Ana.
Semua urusan sudah selesai, kini hanya Ana dan Shita yang ada di ruangan itu. Ana membelai halus wajah putrinya. "Maaf ya sayang, kamu sepertinya tidak bisa kuliah, pengobatan papa juga mama bingung, harus bagaimana kita sayang," ringis Ana.
"Kenapa dengan pengobatan papa?" Tanya Shita yang baru sadar.
"Kita bangkrut sayang, kita akan pindah ke pingguran kota, kita akan tinggal di rumah yang kecil," ucap Ana lirih.
"Jadi, mereka tadi orang-orang perusahaan mah?"
Ana menjawab pertanyaan Shita dengan anggukan kepala.
"Maaf ya sayang, kamu harus mengubur mimpi kamu, jangankan kuliah, untuk biaya hidup saja mama tidak tahu," ringis Ana.
"Tidak apa-apa mah, kita mulai semuanya dari nol, mungkin … jalan hidup ini mau mengajarkan pada Shita, bagaimana papa dan mama berjuang dari nol, mama semangat ya," Shita menggenggam tangan Ana kuat.
"Makasih sayang," ringis Ana.
Shita bangkit dari posisi rebahannya, dia langsung memeluk Ana.
"Terima kasih Tuhan, setidaknya ada satu anak yang kami miliki, yang mengerti keadaan ini," ringis hati Ana sambil mengelus lembut punggung Shita.
"Kita kembali ke ruangan papa sayang," seru Ana.
__ADS_1
Shita mengangguk santai. Mereka berdua segera meninggalkan ruangan itu dan kembali ke ruang perawatan Sammy.