Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda

Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda
Bab 48 Cemburu


__ADS_3

Hari baru menyapa kembali, Shita berusaha mengerjapkan kedua matanya, berulang kali mengerjap, akhirnya mata itu bisa terbuka sempurna. Shita kaget melihat dirinya hanya berbalut selimut, tidak mengenakan apapun. Perlahan Shita membuat otaknya bekerja, memikirkan kejadian tadi malam. Dia hanya menarik nafasnya, saat mengingat bagaimana kejadian tadi malam, dirinya dan Mark. Dia menggulung selimut itu agar membalut tubuhnya.


"Kenapa kau susah-susah menutupinya? Aku sudah melihat semuanya dan menikmatinya." Seru Mark.


Mata Shita memandang tajam kearah Mark, wajahnya datar tanpa expresi.


"Jangan menggodaku, ini sudah siang aku mau bekerja," seru Mark, dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Namun langkahnya tertahan saat mendengar suara ketukan pintu.


Shita kembali berbaring dan menyelimuti dirinya. Sedang Mark berjalan kearah pintu.


Saat pintu terbuka, nampak Shima adik Mark yang berdiri di depan pintu.


"Ada apa Shima?" Tanya Mark.


"Ini kak, berkas ini sangat di perlukan, sedang kaka belum memeriksa dan menanda tanganinya. Sekilas Shima melirik keadaan dalam kamar itu. Sedang Mark sibuk membaca dan memeriksa berkas yang Shima berikan. Mata Shima tertuju pada sosok yang berbalut selimut di tempat tidur itu.


"Kaka ipar sakit?" Tanya Shima.


"Tidak, dia hanya kelelahan," jawab Mark begitu santainya. "Ini sudah sana pergi!" Seru Mark.


Shima terpaksa pergi, karena Mark mendorongnya dengan lembut keluar kamar dan mengunci pintu kembali.


***


Setelah Mark selesai di kamar mandi, Shita segera berjalan menuju kamar mandi dengan menyeret selimut, untuk menutupi tubuhnya, membuat Mark tersenyum dengan tingkahnya.


Selang beberapa menit, keduanya sudah rapi, Mark melingkarkan tangannya di pinggang Shita. Shita nampak keberatan dengan perlakuan Mark. Dia menurunkan tangan Mark yang melingkar di pinggulnya


Mark mendengus, melihat Shita tidak mau dia Gandeng. "Kau ingat? Kau bilang akan melakukan apapun agar aku tidak melaporkan Ara bukan? Kalau kau menolak sedikit saja ke inginanku, aku pastikan dalam itungan menit, sahabatmu itu akan jadi pasien tahanan polisi." Bentak Mark. Shita diam, dia benar-benar takut jika Mark melaporkan Ara.


Mark tersenyum, melihat ketakutan dan ke khawatiran di wajah Shita. Mark merubah arah posisi Shita, hingga dia mudah menenggelamkan wajahnya, di ceruk leher Shita. Menikmati wangi tubuh istrinya itu. Sedang Shita, dia hanya diam, membiarkan Mark melakukan apa saja yang dia mau. Shita menahan nafasnya, perbuatan Mark membuatnya merasa aneh.


Mark mengangkat wajahnya dari lekukan leher Shita. "Ayo turun, kita sarapan dulu." Ucap Mark dengan nada yang lembut. Shita patuh begitu saja, baginya Mark berjanji tidak melaporkan Ara itu sudah lebih dari cukup.


"Kamu akan diantar oleh Gimar," seru Mark, namun Shita tetap bungkam.


"Ikuti saja Shita, jika dia puas, dia juga akan melepaskanmu," lirih hatinya.


***


Randha dan Shima melotot, saat melihat sepasang suami istri itu menuruni tangga, apalagi saat melihat tangan Mark yang melingkar di pinggul Shita.


Mark menarikan satu kursi untuk Shita, setelah Shita duduk, dia pun duduk di samping Shita. Perlakuan Mark sangat manis pada Shita saat di meja makan. Membuat Randha berpikir keras untuk bersikap baik pada menantunya ini.


Shima menatap Mark dan Shita. "Apa benar kaka menganggap wanita ini istrinya? Kalau benar kaka jatuh cinta padanya, aku harus ikut menjaga wanita ini, agar kakakku tidak terluka lagi karena kehilangan wanitanya." Gumam Shima di hatinya.


Mark terus berusaha bersikap manis pada Shita, namun wanita itu bagai boneka yang hanya diam, menerima perlakuan Mark padanya.


"Beib, mau tambah lagi?" Tawar Mark pada Shita.


Shita menggelengkan kepalanya, untuk menjawab pertanyaan Mark.


"Makan yang benar beib, masa makan segini saja belepotan, Mark mengusap selai yang menempel di sisi bibir Shita dengan jarinnya, lalu mengec*p jarinya yang mengusap selai yang menempel tadi. Membuat yang menonton kejadian barusan menggeleng.


'Kenapa dia tiba-tiba manis? Mark, tolong jahatlah dan kasarlah padaku, maki aku, agar aku selalu membenci kamu. Jangan buat hatiku oleng seperti ini." Ringis batin Shita.


"Sepulang kuliah, kau boleh menjenguk Ara, jangan lupa, belikan makanan buat papa dan mama." Seru Mark.

__ADS_1


"Terima kasih," jawab Shita singkat.


"Akhirnya dia bicara juga," ucap batin Mark.


"Kau kuliah sampai jam berapa?" Tanya Mark lagi.


"Aku belum tau." Jawab Shita, dia tetap fokus dengan makanan yang ada di piringnya.


"Apakah dia tidak bisa menerima kebaikanku? Apakah dia juga tidak bisa menerimaku?" Gerutu hati Mark. Dia meneruskan memakan sarapannya, namun pandangan matanya hanya terfokus satu arah, yaitu pada Shita.


***


Selesai sarapan Mark dan Shita berjalan bersama menuju mobil mereka. Tapi tangan Mark masih menempel di pinggul Shita, membuat Gimar melongo melihat pemandangan itu.


"Semangat ya beib, sampai jumpa lagi." Satu kecup*n dari bibir Mark mendarat di pucuk kepala Shita, sedang Shita hanya diam, dia masuk kedalam mobil Gimar.


"Tunggu apa lagi!" Bentak Mark pada Gimar yang masih terdiam.


"Apa saya sudah boleh berangkat?" Tanya Gimar.


"Kalau kau tidak berangkat sekarang, istriku akan terlambat!" Bentak Mark.


"Baik tuan muda, saya permisi." Gimar segera berlari menuju mobilnya. Perlahan mobil Gimar meninggalkan kediaman Mark.


Setelah mobil Gimar berangkat, Mark segera melajukan mobilnya. Dia mengikuti mobil Gimar dari belakang.


Selama perjalanan Gimar tersenyum, saat melihat mobil Mark membuntutinya di belakang.


"Dasar! Kenapa bukan anda yang mengantar!" Gumam hati Gimar. Namun lamunan Gimar terhenti, saat menyadari ada yang berbeda dari wanita yang duduk di belakangnya.


"Hem," tanggap Shita.


"Nona muda sakit?" Tanya Gimar sambil melihat Shita lewat spion depan mobilnya.


"Tidak." Jawab Shita.


"Nona muda sariawan atau kehabisan tenaga?"


"Awhh!" Ringis Gimar, ketika Shita memukulnya dengan bantal kecil yang ada dalam mobil itu.


Gimar fokus menyetir tanpa bertanya lagi.


***


Di belakang sana, Mark memelankan laju mobilnya, karena mobil Gimar sudah berhenti di gerbang utama kampus, tempat Shita kuliah, terlihat gadis itu turun dari mobil, wajahnya masih terlihat lesu. Mobil Gimar meninggalkan area kampus itu. Sedang Mark masih memperhatikan Shita yang mulai berjalan memasuki area kampus.


Shita turun dari mobil Abi, dengan langkah yang lemas Shita menyeret kakinya memasuki area kampusnya.


"Selamat pagi." Sapaan seorang laki-laki yang terdengar tidak asing di telinga Shita.


Shita merubah arah pandangannya, seketika senyumnya mengambang, melihat sosok laki-laki yang menyapanya. "Loiz!" Seru Shita. Dengan semangat Shita langsung memeluk Loiz, melepaskan rasa rindunya pada sahabatnya itu. Loiz menepuk lembut pungung Shita.


Shita melepaskan pelukannya pada Loiz. "Kau jahat! Kau tidak pernah menelponku." Rengek Shita sambil memukul bahu Loiz.


"Maafkan aku." Seru Loiz. Shita dan Loiz kembali berpelukan.


Setelah melepaskan pelukan mereka, Loiz mulai bicara. "Bagaimana keadaanmu?"

__ADS_1


"Aku baik," jawab Shita.


"Tapi, tadi wajahmu tidak mencerminkan kau baik-baik saja, kenapa kau murung?"


"Aku kesal, karena semenjak kamu pergi, kau tidak pernah menelpon." rengek Shita.


"Oh, kau sangat merindukanku rupanya." seru Loiz.


"Kau datang tiba-tiba, ada apa ini? Kau mau bagi undangan?" Tanya Shita. Terlihat wajah itu kini terlihat sangat bahagia, karena bisa melihat lagi sahabatnya.


"Aku dapat izin untuk kuliah di sini," seru Loiz dengan mengukir senyuman di wajahnya.


"Kau?" Wajah Shita semakin terlihat bahagia.


Loiz tersenyum. "Aku tidak bisa jauh dari kalian, aku yakin, kalian juga tidak bisa jauh dari aku," seru Loiz.


"Awwh!" Seketika Loiz menjerit, karena Shita memukulnya.


"Kau mau mengingkari kutukan ketampanan yang melekat padaku?" Seru Loiz.


"Dasar!" Gerutu Shita. Mereka berdua tertawa.


Di saat yang sama, dalam mobil yang terparkir di ujung jalan sana.


Senyuman yang sedari tadi menghiasi wajah Mark tiba-tiba berubah, kini wajah itu nampak marah. Dia dibakar oleh api cemburu yang tiba-tiba berkobar. Saat melihat Shita begitu semangat dan terlihat sangat bahagia saat seorang laki-laki menghampirinya. Kemarahan Mark kian memuncak, saat melihat Shita memeluk laki-laki itu lebih dulu. Belum lagi keceriaan Shita yang tidak pernah dia lihat, tapi, dia malah melihat keceriaan Shita seperti itu, saat Shita bersama laki-laki lain.


"Sial!!! Kau tidak pernah sebahagia dan sesenang itu saat bersamaku! Kau bahkan tidak pernah memeluk aku lebih dulu." Gerutu Mark.


Kemarahan Mark kian memuncak. Melihat Shita memukul bahu laki-laki itu. Apalagi melihat keduanya tertawa lepas. "Awas kau Shita! Kau akan tau bagaimana kemarahanku! Cukup sudah, selama ini aku terlalu baik padamu! Aku tidak menyentuhmu karena kau masih takut padaku. Jangan salahkan aku Shita! Aku akan kasar padamu!" Bentak Mark sambil memukul keras kemudinya, hingga kena klakson mobilnya. Membuat Kalkson mobilnya berteriak.


Suara klakson mobil yang keras mengejutkan dirinya dan menyita perhatian dua orang yang nampak asyik berbincang di halaman kampus.


Mendengar bunyi kalkson mobil yang mengejutkan, membuat Shita memandang ke arah sumber suara itu. Shita menahan nafasnya, matanya terbuka lebar, saat melihat itu adalah mobil Mark.


"Astaga? Itu mobil Mark." Guman hati Shita.


"Ada apa Shita?" Pertanyaan Loiz mengejutkan Shita.


"Tidak apa-apa Lou, oh ya, Ara kecelakaan, dia saat ini tengah di rawat di rumah sakit," Shita menyebutkan nama Rumah Sakit tempat Ara dirawat.


"Aku akan kesana, untuk menjenguknya." Jawab Loiz.


"Aku kuliah dulu, oh, ya, di Rumah Sakit ada papa dan mamaku yang menemani Ara." Seru Shita.


"Papa dan mama kamu sangat menyayangi menantu mereka."


"Ara dan bambang, eh maksud aku Gildan, dia dan Gildan tidak menikah, ceritanya panjang, nanti akan aku ceritakan, tapi saat ini aku harus masuk kampus dulu." Rengek Shita


"Tidak apa-apa, aku akan tunggu, sampai jumpa." Seru Loiz.


Shita meneruskan langkahnya memasuki area kampus, sedang Loiz melajukan mobil yang dia kendarai menuju rumah sakit tempat Ara di rawat.


*****


Sepanjang Shita mengobrol dengan Loiz, Mark marah-marah sendirian dalam mobilnya. Saat melihat Loiz masuk kedalam mobil, Mark segera menghidupkan mesin mobilnya.


"Aku yakin, pasti laki-laki itu pergi kerumah sakit, secara Shita nanti akan kesana. Pasti mereka janjian di sana. Awas kau Shita!" Gerutu Mark, sambil melajukan mobilnya, mengikuti mobil Loiz.

__ADS_1


__ADS_2