
Setelah turun dari mobil Mark, Nesya melepas kepergian Mark, Nesya masuk kedalam rumahnya, dia hanya mandi dan ganti baju dengan gaun malam, dia berencana untuk menghabiskan malam di tempat biasanya, untuk berkumpul dengan teman-temannya. Nesya langsung meninggalkan rumahnya menuju tempat hiburan malam langganannya.
***
Sesampai di sana.
Mata Nesya fokus pada seorang laki-laki yang duduk di bar, "Gildan?" Nesya menyeringai. Gildan terus menegak minumannya, terlihat jelas wajahnya itu dalam masalah. Nesya melangkahkan kakinya mendekati Gildan.
Nesya melingkarkan lengannya pada bahu Gildan, "Kenapa beib?" Nesya bergelayut manja pada Gildan.
"Impianku," ringis Gildan.
"Mimpiku hancur sebelum aku memulainya, sakitnya lagi, desaign ku sudah aku serahkan, rancanganku itu malah yang diterima, tapi bukan namaku, hasil jerih payahku, tapi nama orang lain," Gildan menggenggam kencang gelas minuman keras yang dia pegang.
"Bukannya mimpimu terwujud jika kamu menerima perjodohan?" Nesya merebut gelas minuman yang dipegang Gildan, lalu menegak minuman itu sendiri. Setelah menegak habis minuman itu, Nesya tersenyum kecil.
"Kenapa dengan proyek impianmu?" Tanya Nesya.
"Aku tidak tahu, mendadak calon mertuaku mengatakan kalau dia tidak bisa menunjukku jadi Arsitek untuk pembangunan itu, tanpa alasan mimpiku kandas begitu saja," ringisnya.
"Aku ingin berkesepakatan denganmu," Nesya berbisik di telinga Gildan. "Bagaimana?" Tanya Nesya.
"Apapun aku lakukan demi mimpiku," ringis Gildan.
"Bersabar sedikit saja, aku akan mewujudkan mimpimu, tidak ada seorangpun yang mampu membatalkan dan merenggut mimpi kamu Beib," bisik Nesya.
"Tapi, habiskan malam ini bersamaku, sangat lama kita tidak bersama," tangan Nesya menggerayang ke beberapa bagian tubuh Gildan.
"Tunggu, apa hubunganmu dengan tuan muda pemilik Emanuel Group? Aku tidak mau ber urusan dengan pengusaha muda yang menguasai seluruh kota ini."
"Tenang beib, dia hanya pecinta gila, itu urusanku."
"Kemana kita?" Tanya Gildan.
"Ketempat biasa," bisik Nesya.
Mereka pergi meninggalkan club malam tersebut, Nesya menitipkan mobilnya pada temannya, sedang dia pergi bersama Gildan. Kesuatu tempat dimana biasanya dia menghabiskan waktu bersama Gildan.
***
Dari jam 9 malam, hingga jam menunjukkan jam 12 malam, Pram masih setia menunggu Mark di kediaman Mark. Tanpa kejelasan apakah Mark mau menemuinya. Semua ini dia lakukan demi kebahagiaan Ara putri tunggalnya. Tidak mudah agar bisa masuk kekediaman Mark, harus melewati bermacam prosedur keamanan, namun demi kebahagaian Ara, Pram rela melakukan semua ini. Hatinya sangat khawatir Gildan memutuskan perjodohan karena proyek buat Gildan lepas, karena perintah dari Mark. Apalagi melihat reaksi Gildan sore tadi saat dia berkunjung mengatakan pembatalan proyek Gildan. Gildan terlihat begitu terpukul.
Dalam rumah Mark. Iqmal mendekati Mark yang nampak sibuk. "Maaf tuan muda, orang yang tadi datang masih menunggu tuan," ucap Iqmal pelan.
"Aku tidak bisa terima tau pak," jawab Mark dingin.
__ADS_1
"Yang datang itu seorang ayah, apakah tuan--"
"Baik aku temui dia," Mark meninggalkan Iqmal begitu saja.
Mark sangat menghormati Iqmal, walau Iqmal hanyalah kepala pelayan di rumah besarnya. Namun bagi Mark, Iqmal seperti seorang ayah, yang selalu memberi nasehat secara perlahan padanya.
Walaupun Mark menghormatinya, tidak membuat Iqmal besar kepala, dia tetap profesional menjalankan tugas penanggung jawab seluruh pelayan yang bekerja di rumah besar itu. Apalagi Mark memberikannya sebuah rumah khusus untuk dia, anak dan istrinya. Rumah itu tepat berada di bagian belakang rumah besar Mark, satu barisan dengan mes(kamar yang berjejer seperti kost) khusus untuk semua pembantu Mark.
Semua pembantu Mark di bawah perintah Iqmal dan istrinya Halia, sedang putri semata wayang Iqmal tengah menempuh pendidikan di sebuah fakultas, dibiayai oleh Mark. Semua pembantu pria ber urusan langsung dengan Iqmal, sedang pembantu wanita ber urusan langsung dengan Halia. Jika ada permasalahan rumit, maka Abi dan Gimar lah yang akan menghukum mereka.
Pram yang masih melamun memikirkan Gildan, lamunannya tersentak mendengar bunyi langkah kaki. Pram langsung bangkit. "Selamat malam tuan muda Mark Lew-" Pram tidak melanjutkan kata-katanya melihat isyarat cukup dari Mark.
"Langsung saja," ucap Mark begitu angkuh.
Hembusan nafas Mark saja begitu memilukan bagi Pram, entah, apakah dia sanggup mengutarakan maksudnya. Namun tatapan tajam dari Mark lebih menakutkan lagi. "Tuan, apa saya boleh meminta kejelasan, kenapa tuan memutuskan kerja sama-"
"Em!" Seru Mark sambil mengangkat tangannya. Seketika Pram bungkam, tidak mampu bicara lagi.
"Aku tidak suka dengan Arsitektur kamu, kalau kamu mau melanjutkan proyek ini, ganti Arsitek mu, atau lepaskan proyek ini," Mark langsung berdiri, dia mulai melangkah meninggalkan Pram.
"Pernikahan anak saya tergantung proyek ini, anak saya sangat mencintai Arsitek itu, mereka akan menikah jika saya mampu mewujudkan mimpi Gildan, Arsitek itu," Pram memohon.
"Apa susahnya? Carikan lagi laki-laki lain buat putrimu," Mark meninggalkan Pram begitu saja.
"Kalau dia tidak keluar juga, seret dia keluar!" Perintah Mark pada keamanannya.
Lama menempuh perjalanan, akhirnya Pram sampai kerumahnya. Rumah nampak gelap, karena lewat jam satu malam semua orang pasti sudah tertidur. Sedang Pram tidak sanggup memejamkan matanya. Satu sisi, usahanya saat ini penting, satu sisi kebahagiaan Ara bersama Gildan. Gildan mau bersama Ara asalkan dapat posisi tersebut.
Pram bingung harusmengambil langkah apa, tanpa terasa, matanya terpejam. Pram tertidur di sofa tamu yang ada dalam rumahnya.
***
Pagi hari.
"Mamaaa, apa sarapan sudah si---" ucapan Ara terhenti melihat papanya yang tertidur dalam keadaan posisi duduk di sofa. Ara langsung mendekati papanya.
"Papa," ucap Ara sambil menepuk lembut bahu Pram.
"Hem?" Pram tersentak.
"Papa tidur disini?"
"Papa ketiduran sayang," jawab Pram berusaha bangkit.
"Papa cuci muka dulu sana, kita sarapan, aku mau berangkat sekolah, sebentar lagi kami lulus pah," seru Ara.
__ADS_1
Pram berusaha tersenyum walau sangat berat.
"Pah, kapan aku dan kak Gildan bisa nikah?" Tanya Ara.
Degggg!
Jantung Pram seakan copot.
"Nakal sekarang kamu ya, kamu ngebet mau nikah!" Arum datang langsung mencubit Ara.
"Mamaaa," rengek Ara.
"Ayo kita sarapan," seru Arum. Arum berjalan lebih dulu meninggalkan Ara dan Pram.
"Ara, bagaimana kalau kamu dan Gildan batal nikah?" Tanya Pram.
"Aku gak akan nikah selamanya, aku terlanjur cinta pah sama kak Gildan," jawab Ara sambil membayangkan Gildan.
Perasaan Pram semakin tersiksa melihat cinta yang sangat besar dari Ara buat anak sahabatnya itu.
"Ayukkk pah, kita sarapan," rengek Ara.
"Kamu duluan sayang, papa mau mandi dulu, kamu makan aja dulu, jangan nunggu papa," seru Pram.
Ara melangkahkan kakinya menuju meja makan, dia berjalan sambil melompat kecil membayangkan Gildan yang akan menjadi pasangannya nanti.
"Apakah harus semahal ini untuk menebus kebahagiaan buat putri kecilku?" Ringis hati Pram terus menatap Ara yang melangkah begitu ceria.
Pram masuk keruangan kerjanya, dia menyiapkan beberapa berkas sebelum menemui Ana dan Sammy orang tua Gildan. Keputusan Pram saat ini bulat. Dia akan mengambil jalan ini untuk menjaga perasaan semua orang. Sangat sulit keputusan ini di ambil, namun menurutnya langkah ini yang terbaik saat ini untuk di ambil.
Saat Pram turun menuju ruang makan, tidak terlihat lagi sosok putri kecilnya yang manja itu. "Ara sudah berangkat mah?" Tanya Pram pada Arum.
"Sudah, kan sebentar lagi ujian, Ara harus masuk lebih pagi, kata Ara ada kegiatan tambahan."
"Mah, kita tidak bisa memenuhi janji kita pada Ana dan Samy, padahal Gildan menerima perjodohan ini karena proyek ini, perusahaan lain setuju dengan desaign rancangan Gildan, namun mereka meminta agar bukan Gildan yang mengurus itu," ringis Pram.
"Maksud papa, mereka suka dengan kerja keras Gildan, tapi mereka tidak mau memakai nama Gildan?" Arum histeris, dia membayangkan bagaimana perasaan Gildan juga perasaan Ana sahabatnya.
"Mereka memberi papa dua keputusan," Pram menceritakan tawaran yang diberikan oleh perusahaan Mark jika masih ingin meneruskan proyek kerja sama mereka.
"Ini berat pah," ringis Arum.
"Sangat berat mah, itu sebabnya papa akan menemui Sammy dan Ana setelah sarapan."
"Mama ikut ya," pinta Arum.
__ADS_1
Pram mengangguk, dia segera memulai sarapan paginya.