
Seperti biasa, Ara kuliah di antar lelaki yang berbeda, sehingga kabar miring tentang Ara santar tersiar kemana-mana, datang dengan lelaki yang mana, pulang juga dengan lelaki yang berbeda. Namun makian mereka hanya mampu mereka simpan di hati. Sedikit saja membuat Ara marah, sanksinya bisa dikeluarkan dari kampus mereka.
Ara berjalan santai di lorong kampus itu, dia melihat banyak mahasiswa dan mahasiswi yang bergerumul didepan salah satu ruangan.
"Ada apa?" Tanya Ara pada salah satu mahasiswi yang ada di dekatnya.
Mahasiswi yang ditanya Ara bingung dan tertegun, tegang memandangi Ara.
"Hei! Aku tanya!" Seru Ara sambil menjentikkan jarinya ke depan wajah mahasiswi itu.
"I---ituuu lagi ujian calon mahasiswi baru yang akan kulian di sini dengan beasiswa penuh," jawabnya.
"Minggir! Aku mau lihat!" Seru Ara.
Seketika semua yang tadi berjejal memberi jalan untuk Ara serentak. Mereka takut pada Ara, bukan Ara nya, tapi akibat jika membuat anak itu marah.
Mata Ara membelalak melihat seorang gadis yang sedang tanya jawab dengan salah satu dosen. Tepukan tangan menggemuruh dalam ruangan itu, karena semua hasil tes gadis itu sangat luar bisa, kalimat itu yang Ara dengar dari salah satu dosen. Ara masih mematung di depan ruangan itu, menyaksikan semuanya.
"Selamat Rashita, kamu dapat beasiswa penuh untuk menjalani pendidikan di fakultas ini." Seru salah satu dosen yang menyalami Rashita.
Tepukan tangan kembali menggemuruh dalam ruangan itu. Mendengar di dalam ruangan ada seruan dan suara tepukan tangan, mahasiwa dan mahasisiwi yang menonton di luar ruangan juga ikut bertepuk tangan.
Hati Ara terasa di cabik-cabik, dia sangat tidak rela Shita bisa bahagia. "Kenapa anak itu selalu beruntung? Punya orang tua yang sayang padanya, sekarang mimpinya terkabul. Lihat aku! Aku punya orang tua, tapi rasanya seperti yatim! Mimpiku hanya ingin bersama Gildan, tapi juga di renggut!" Gerutu hati Ara.
Ara langsung meninggalkan kampus itu, dia kembali ke apartemennya menaiki taksi. Sejak didalam taksi, air mata Ara terus menetes, meratapi nasibnya.
"Mama benar, andai waktu itu aku berani menolak Gildan, semua hal jelek ini tidak akan terjadi," Ara menyesal karena telah menyerahkan diri pada Gildan dulu.
"Andai semua itu tidak terjadi, maka tidak akan sesakit ini, saat Gildan pergi," ringis hatinya lagi.
Ara turun dari taksi, namun air matanya terus menetes. Dia berjalan cepat menuju apartemennya.
***
"Aaakkkk!" Teriak Ara setelah pintu apartemennya terbuka. Dia melihat Mark bersama dua perempuan seksi di dalam ruangan itu.
Ara ingin lari, namun dua pengawal Mark sudah menangkapnya.
"Jangan memancing kegaduhan! Bawa anak itu kedalam!" Perintah Mark.
Ara di dorong pengawal Mark masuk kedalam apartemennya. Sedang pengawalnya kembali keluar ruangan itu dan menutup pintu kembali.
"Kenapa berteriak!" Bentak Mark.
Ara ketakutan melihat wajah Mark.
"Ingat! Kau wanitaku! Jangan berpikir untuk kabur atau!" Mark mencengkr*m rahang Ara kuat, membuat gadis itu meringis. "Atau kubuat kau dan semua keluargamu hancur berkeping-keping!" Bentak Mark sambil melepaskan tangannya.
Ara memegang rahangnya yang ngilu karena cengkraman Mark. Dia baru sadar, siapa Mark dan seperti apa Mark.
__ADS_1
"Kamu tidak bisa lari dariku, aku berkuasa atas negara ini, berani macam-macam?" Tanya Mark dengan nada ancaman.
Ara menggeleng.
"Bagus, anak manis," ucap Mark sambil membelai kepala Ara.
"Kenapa kamu pulang? Kamu tidak kuliah?" Tanya Mark lagi pada Ara.
"Ada Shita di kampus, dia bisa kuliah," ringis Ara.
Mark mengerti kenapa Ara menagis dan pulang secepat ini.
"Hei ladies, pakai baju kalian, nanti kita lanjut nanti malam di hotel," seru Mark pada dua wanita yang tadi bersamanya.
Kedua wanita itu langsung memakai pakaian mereka. "Sampai jumpa nanti malam tuan muda," seru kedua wanita itu manja, sambil mencium Mark bergantian.
"Ceritakan, apa yang kamu inginkan, aku akan membantu kamu," bisik Mark manja di telinga Ara.
"Aku hanya ingin Shita menderita, aku tidak rela dia bahagia!" Ringis Ara.
"Bukankah, dia sudah menderita, jatuh miskin dan kehilangan sahabat dan menjadi pelayan di sebuah club malam, apa itu kurang?" Seru Mark, sambil menciumi leher Ara.
"Dia belum cukup menderita! Aku ingin membuat dia merasakan penderitaan yang lebih dahsyat lagi!" Teriak Ara.
"Penderitaan?" Mark menatap sayu wajah Ara.
"Mark mengusap air mata Ara dengan jemarinya. "Aku juga masih belum bisa menerima pengkhianatan Nesya, baiklah, kita buat adik laki-laki itu menderita," ucap Mark lembut.
Mark menggendong Ara menuju tempat tidur dan menghabiskan waktu di sana.
****
Sejak keluar dari ruangan tes tadi, wajah Shita nampak sangat ceria, dia tidak bisa menyembunyikan mimik kebahagiaannya. Selama dalam bus, senyuman tidak bisa pergi dari mimik wajahnya. Setelah turun dari bus, Shita berlari kencang menuju rumahnya.
"Mamaaa! Papaaa!" Teriak Shita.
Ana dan Sammy yang tadi santai terkejut dengan kedatangan putrinya.
"Sayang?" Ana sangat senang melihat putrinya begitu sumringah.
"Mamaaa aku bisa kuliah!" Seru Shita.
"Selamat sayang," Ana langsung memeluk putrinya tersebut.
"Kalau kamu Kuliah, kamu harus berhenti jadi pelayan di club malam, fokus dengan kuliah kamu," seru Sammy.
"Jangan pah, aku senang bekerja ditempat kak Bo'im, di sana aku banyak teman," ringis Shita.
"Papa akan melamar kerja, lihat perusahaan ini," Sammy memberika koran yang dia baca.
__ADS_1
"Papa, jangan bekerja dulu, papa harus sehat terlebih dulu," ringis Shita.
"Justru papa sakit melihat putri papa banting tulang untuk kehidupan di rumah ini," ucap Sammy.
"Okey papa boleh kerja, izinkan aku bekerja juga, aku sudah menyukai pekerjaan ini," ringis Shita.
"Baiklah, papa tidak bisa melarang jika itu membuat kamu bahagia sayang," ringis Sammy.
***
Kebahagiaan baru dan semangat baru. Dengan semangat Shita melangkah pergi dari rumah menuju kampus. Sedang Sammy sangat semangat bersiap pergi untuk melamar kerja di salah satu perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan. Sammy tidak malu sedikitpun, walau dulunya di seorang direktur utama, saat ini jika dia diterima bekerja, dia hanya seorang pegawai kantor biasa.
Hari baru Sammy mengantri melamar pekerjaan, hari baru Ana kembali melakukan pekerjaan rumah sendiri, sedang hari baru Shita, dia bisa kuliah di fakultas impiannya.
Dengan semangat yang luar biasa Shita mengikuti kelasnya, bahkan dosen di buat kagum dengan kemampuan Shita. Membuat sosok wanita yang sangat membenci Shita semakin sakit.
Rasa sakit Ara melihat kebahagiaan Shita kembali berlanjut, saat melihat Shita sangat mudah mendapatkan teman yang tulus berteman dengannya, tidak seperti dirinya, teman-teman yang ada di sekelilingnya hanya tersenyum di depan matanya, namun Ara merasa jika dibelakangnya, mereka membenci dirinya.
Shita yang melihat Ara berjalan cepat meninggalkan area kampus, segera berlari mengejar Ara. Dia sangat merindukan sahabatnya itu. Namun saat melihat Ara masuk kemobil mewah, pintu mobil itu di bukakan seorang lelaki yang berbadan tegap, membuat langkah Shita terhenti.
"Kenapa kamu Ta mengejar jal*ng itu, dia itu simpanan bos tajir, makanya teman-teman takut dekat sama dia, takut ketularan sama hobby dia," seru salah satu teman baru Shita.
Shita kembali ke area kampus, dia masih sangat berharap bisa memperbaiki hubungan persahabatannya dengan Ara membaik.
****
Setelah menunggu beberapa minggu, akhirnya Sammy di terima di perusahaan tempat dia melamar kerja waktu itu. Kini setiap pagi Sammy dan Shita berjalan bersama menuju halte bus yang dekat dengan tempat tinggal mereka.
"Papa, jangan capek-capek!" Seru Shita sambil merapikan kemeja yang Sammy pakai sebelum mereka naik bus.
"Iya sayang, kamu yang semangat belajarnya, buat papa kamu ini bangga dengan prestasi kamu," seru Sammy sambil membelai pucuk kepala Shita.
Mereka naik bus yang sama, namun Ara turun lebih dulu, sedang Sammy melanjutkan perjalanan, karena Sammy akan turun di Halte yang berikutnya.
***
Tiga bulan sudah Shita kuliah, namun dia tidak pernah bertegur sapa dengan Ara, padahal Shita sangat merindukan sahabatnya itu. Namun Ara selalu menjauhi dirinya. Melihat Ara yang diantar jemput dengan lelaki yang berbeda membuat Shita menyerah untuk mendekati sahabatnya itu, Ara yang sekarang bukan Ara yang dia kenal dulu. Di tambah lagi shita sangat sering melihat Ara menghabiskan malam di club malam tempatnya bekerja.
"Bambang, bagaimana keadaan kamu? Apa kamu bisa bahagia setelah membuat banyak orang terluka?" Ringis hati Shita yang melihat kepergian Ara dengan orang yang menjemputnya. Shita sangat yakin, Ara seperti ini karena sakit hati akibat ulah kakanya, Gildan.
"Baiklah Ara, jika itu yang membuat kamu bahagia, aku mundur dari hidup kamu, aku menyerah Ra," ringis hati Shita.
Di salah satu ruangan.
"Selamat siang, bisa di pastikan, tikus sudah masuk perangkap!" Seru seseorang yang berbicara di telepon.
"Saat yang tepat eksekusi segera!" Perintah dari seberang telepon.
***
__ADS_1