Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda

Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda
Bab 6 Menepati janji


__ADS_3

Waktu terus bergulir, setiap hari Ara di rumahnya menghabiskan waktu. Ara merasa bosan, untung Gildan selalu datang menjenguknya. Perhatian dari Gildan membuat Ara sembuh lebih cepat.


Mark menepati janjinya pada Ara, dia merekrut Ara jadi salah satu model di agency yang ada dibawah naungannya. Ara sangat gembira, akhirnya mimpinya jadi model terwujud. Hanya sebentar saja memasuki dunia modeling, karena nama Mark, Ara jadi model yang dipinang banyak iklan dan projet lainnya. Kesibukan Ara membuat Ara tertinggal banyak pelajaran, akhirnya Shita juga ikutan sibuk, dia tidak rela pendidikan sahabatnya terbengkalai hanya karena kesibukan dunia modeling yang Ara geluti.


Kebahagiaan Ara semakin lengkap, saat mengetahui dari orang tuanya kalau permintaannya tempo lalu di kabulkan papanya, Gildan bersedia menikah dengannya, karena proyek Impian Gildan di sanggupi oleh Pram, orang tua Ara. Entah kenapa rengekan Ara untuk dinikahkan dengan Gildan membuat Pram takut, belum lagi saat menemukan beberapa koleksi majalah pria dewasa di kamar putrinya, membuat Pram semakin yakin menikahkan Ara dengan Gildan, jika Ara lulus SMA nanti. Ara baru sadar, ternyata perhatian Gildan selama ini karena tahu kalau Ara calon istrinya.


Proyek impian Gildan adalah menjadi Arsitek pembangunan gedung yang akan di bangun tidak jauh dari kotanya. Perusahaan Pram pemenang tender proyek tersebut. Gildan yang mati-matian mengejar target pembangunan itu demi melejitkan namanya rela melakukan apa saja demi mimpinya.


Gildan selalu memberi perhatian lebih pada Ara, bahkan sering mengantar jemput Ara yang mulai sibuk melakukan pemotretan.


Sepulang sekolah Shita sibuk memilah milih buku yang akan dia berikan pada Ara, saat Ara lewat didepannya. "Ra, ini beberapa tugas kemaren sudah aku kerjakan," seru Shita sambil memberikan buku pelajaran dan buku tugas pada Ara. Ara berbalik mendekati Shita, Mereka berjalan bersama meninggalkan area sekolah, karena jam pelajaran sudah ber akhir.


"Terima kasih sayangku," Ara langsung memeluk Shita.


"Sebentar lagi kita lulus, kurangi dikiiit aja kesibukan kamu Ra, pleaaas! Ini demi masa depan kamu juga," pinta Shita.


"Jangan bawel sayang, aku akan kurangin kok," seru Ara sambil berjalan ke arah mobilnya.


"Kalau kamu gak memperhatikan pendidikan kamu, aku akan lapor sama tante Arum!" Teriak Shita.


"Iyaaa!" Teriak Ara. Ara terus meninggalkan Shita menuju mobilnya. Bayangan Ara saat ini harus pulang, karena sebentar lagi Gildan akan menjemputnya untuk melakukan pemotretan sore ini.


Tangan seseorang melingkar di bahu Shita. "Kamu kenapa?" Tanya orang yang menggandeng Shita.


"Loiz?" Shita kaget dengan kedatangan Loiz.


"Siapa lagi? Yang paling ganteng di sekolahan ini cuma aku," seru Loiz.


"Ihhh," seru Shita, dia langsung pergi meninggalkan Loiz.


***


Nesya selalu memperhatikan Ara, karena kelucuan dan kemanisan anak itu, Ara sangat di sukai beberapa model di sana. Namun bukan itu yang menyita perhatian Nesya, tapi perhatian Gildan buat anak baru itu. Karena dia sering melihat Gildan mengantar jemput anak itu. Pikiran Nesya terbang entah kemana, memikirkan siapa Ara dan memikirkan bagaimana agar bisa bersama Gildan.


Mark duduk di samping Nesya yang melamun. "Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Mark.


"Kamu beneran jadiin tu bocah SMA jadi model," gerutu Nesya.


"Semua bukti jelas, kalau kamu menabrak mobil anak itu dengan sengaja, aku gak mau kamu ber urusan dengan hukum,"


"Mark, kenapa kamu selalu melindungiku?"


Mark tersenyum mendengar pertanyaan Nesya. "Apalagi, cuma satu, aku sangat cinta sama kamu," ucap Mark lirih.


"Ampun Mark, kamu tahu bukan? Aku tidak bisa cinta sama kamu."


"Aku tahu, setidaknya biarkan aku memberikan cintaku padamu, itu sudah cukup Nesy," ucap Mark.


Pandangan Nesya terfokus pada seorang laki-laki yang berjalan santai memasuki ruangan dimana dia dan Mark berada. "Kamu kerja sama dengan orang itu?" Tanya Nesya pada Mark.

__ADS_1


Mark merubah arah pandangannya, memandang ke arah yang di pandangi Nesya, Mark kembali memandangi Nesya, setelah melihat laki-laki yang di maksud Nesya tersebut. "Itu laki-laki yang satu lift sama kita waktu pulang dari rumah sakit bukan?" Tanya Mark balik.


"Owh, jadi gak ada kerja sama ama dia? Kudengar dia pemenang tender proyek di kota sebelah," seru Nesya.


Mark tidak tertarik membahas laki-laki yang di maksud Nesya.


Nesya mendekatkan wajahnya kesamping wajah Mark. "Jika kamu berhasil menjatuhkan usaha laki-laki itu, aku bersedia menjadi wanita kamu Mark," bisiknya.


"Hanya itu?" Mark menyeringai.


"Cukup itu," sahut Nesya santai.


Mark langsung mengotak-atik ponselnya mengirim pesan pada orang yang dia tuju. "Ke inginan kamu akan segera terwujud, ayo tepati janjmu, aku ingin kamu menepati janji kamu," seru Mark.


Nesya kaget, secepat itu Mark menagih janjinya. Namun demi melihat kehancuran Gildan, dia akan melakukan apa saja, karena Gildan menolak untuk bersamanya.


****


Nesya dan Mark sampai di sebuah rumah yang nampak seperti istana. Nesya memang kenal Mark lama, namun dia tidak mengenal Mark dekat. Keluarga Mark pun dia tidak tahu. Media hanya menyorot Mark saja.


"Ini rumah kamu?" Nesya berusaha santai.


"Iya, ini rumah aku, perdana aku bawa pulang seorang wanita," jawab Mark.


Gerbang yang menjulang tinggi langsung terbuka, karena petugas pengamanan hafal betul dengan mobil majikan-majikan mereka.


Mark turun dari mobil lebih dulu, dia membukakan pintu mobil buat Nesya, Nesya dan Mark melangkahkan kakinya memasuki rumah Mark yang sangat mewah tersebut. Dengan bangga Mark menggandeng Nesya berjalan bersama menyusuri tiap ruangan yang di lalui.


"Ayo duduk Nesy," seru Mark.


Nesya segera duduk di sofa tamu yang ada di ruangan itu, dia duduk di sebelah Mark.


"Pak Ikmal, tolong panggilkan mama, aku ingin memperkenalkan calon istriku," perintah Mark.


Laki-laki yang di panggil Mark segera berjalan menuju kamar nyonya besarnya. Tidak lama pelayan itu pergi, seorang wanita yang masih kelihatan cantik melangkahkan kakinya menuruni tangga. "Ada apa sayang?" Sapanya.


"Mama, perkenalkan, dia Nesya calon istriku," ucap Mark begitu bangga.


Randha begitu bahagia melihat keceriaan yang terpancar dari wajah Mark, Randa melangkah mendekati calon menantunya tersebut. "Siapa namamu sayang?" Tanya Randha sambil memegang tangan Nesya.


"Nesya, tante," jawabnya.


"Kamu sangat cantik, pantas anak tante tergila-gila padamu, di usia yang ke 30 tahun ini, dia masih setia dengan kesendiriaannya," seru Randha.


Tidak ada penolakan sedikitpun dari Randha, karena baginya, kebahagiaan Mark adalah kebahagiaan semua orang. Siapapun dia akan terima, asal putranya yang melanjutkan perjuangan semua tugas perusahaan yang ditinggal oleh suaminya selalu bahagia. Kebahagiaan Mark kunci kebahagiaan semua orang.


Obrolan Randha dan Nesya begitu hangat. Para pelayan terus melayani mereka bertiga. Tidak terasa jam sudah menujukkan jam tujuh malam, sedang Randha dan Nesya terus asyik mengobrol.


"Selamat malam mama, malam kaka," sapa seorang gadis yang baru pulang.

__ADS_1


"Dari mana kamu?" Tanya Mark begitu dingin.


"Nona Shima baru selesai meeting tadi sore tuan," jawab Abi, sekretaris Mark, yang Mark tugaskan mengawasi Shima.


"Aku lupa Bi, kalau kamu aku tugaskan mengawasi Shima, Shima, ayo kenalan dengan calon istri kakak," seru Mark.


Mata Abi melotot mendengar perkataan Mark barusan. Dia sangat tidak suka pada Nesya, tapi entah kenapa bosnya itu tergila-gila pada wanita itu.


"Ya ampuun, ini Kak Nesya, kak Nesya ini model ternama mamaaa," seru Shima. Dia langsung ingin memeluk Nesya.


"Jangan main peluk, cukup salaman," seru Mark menahan Shima yang ingin memeluk Nesya.


"Ihhh," rengek Shima karena di larang kakaknya tersebut.


Pembicaraan semakin seru karena kedatangan Shima. Mark tersenyum memandangi kebahagiaan dari ketiga wanita yang terpenting dalam hidupnya saat ini.


Seorang pelayan yang selalu berada di samping Mark berdiri dekat Mark, dia membungkukkan sedikit badannya. "Tuan, makan malam sudah siap, mau makan malam sekarang apa nanti?" Tanya nya.


"Hei, kita lanjut ngobrolnya di meja makan," seru Mark.


Obrolan tiga wanita itupun berlanjut di meja makan.


***


Jam menunjukkan jam sembilan malam, Mark merasa kasihan dengan Nesya yang terus di uber pertanyaan dari ibunya dan kadang dari adik perempuannya.


"Nesya, mau pulang sekarang?" Tanya Mark.


"Astaga, sudah jam sembilan, maafkan kami sayang," seru Randha.


"Nanti kita sambung lagi ya kak," seru Shima.


Nesya hanya mengangguk dan tersenyum. Setelah berpamitan dengan adik dan ibu Mark, Nesya segera pulang diantar oleh Mark. Perjalanan begitu indah, ini juga hari yang paling bahagia dirasa oleh Mark.


Mobil Mark berhenti di depan pintu pagar rumah Nesya. Nesya tersenyum pada Mark. "Terima kasih, ini hari yang indah," ucap Nesya.


"Ini juga hari yang indah buatku," sahut Mark.


"Terima kasih atas segalanya Mark,"


"Jangan ada terima kasih, semua ini aku lakukan karena aku cinta padamu," Mark meraih tangan Nesya dan mencium jemari Nesya.


"Mau mampir dulu?" Tanya Nesya.


"Lain kali, selamat istirahat,"


Cups!


Sebuah kecupan dari bibir Mark mendarat di ubun-ubun Nesya.

__ADS_1


Nesya tersenyum, dia langsung turun dari mobil Mark.


__ADS_2