
Ayolah, jempolnya jangan lupa, yang sudah mendarat makasih 🥰🥰🥰
*****
"Aaaarrrgggh …." Leguhan suara sendawa begitu panjang dan keras dari belakang Gimar membuat wajah Gimar masam mendengarnya.
"Apakah anda tidak ada elegan-elegannya jadi wanita nona?" Gimar protes. Namun perkataannya tidak di gubris Shita.
"Hei turunkan aku di sini!" Seru Shita.
Gimar perlahan menepikan mobil dan berhenti di badan jalan. "Beberapa meter lagi kampus anda nona, kenapa anda minta turun di sini, apa anda mau kabur? Ingat nona, yang di siksa tuan muda adalah kedua orang tua anda jika anda macam-ma---" Mulut Gimar menganga, ternyata wanita yang dia ajak bicara sudah turun dari mobil tanpa menutup pintu mobilnya.
"Sial! Sepertinya tuan muda memilih wanita yang salah!" Gerutu Gimar yang sambil turun dari mobilnya, dia berjalan memutar untuk menutup pintu mobil yang masih terbuka.
"Dari mana wanita itu dapat keberanian? Apa dia di gigit laba-laba juga seperti spiderman?" Gerutu Gimar sambil melihat-lihat keadaan dalam mobilnya.
"Bersih, tidak ada laba-laba," gumamnya, dia segera menutup pintu mobil tersebut dan langsung kembali ke kursi kemudinya, lalu segera melaju meninggalkan area tersebut menuju gedung Emanuel Group.
Shita berjalan memasuki area kampus.
"Pengantin baru, apa kabar?" Seru seorang wanita yang langsung melingkarkan pergelangan tangannya di bahu Shita. Langkah kaki Shita terhenti, karena beberapa teman kampusnya mencegatnya.
"Aku baik," jawab Shita dengan lengkungan senyuman di wajahnya.
"Kamu jahat Shita, kenapa tidak undang kami?" Tanya temannya yang lain.
"Maafkan aku, pernikahan kami karena perjodohan kedua orang tua kami, padahal suamiku pun belum siap untuk menikah, tapi mau bagaimana? Kalau orang tua sudah berkehendak, maka itulah yang terjadi," jawab Shita.
"Kan bisa undang kami," rengek teman Shita yang lain.
"Ada hal yang harus di jaga oleh suamiku, katanya ikatan pekerjaan, dia tidak diperbolehkan menikah selama beberapa tahun ini, tuntutan pekerjaan membuat kami harus merahasiakan pernikahan ini," jawab Shita menambah kebohongannya.
"Maafkan kami, harusnya kami mengerti kalau keadaan yang membuatmu harus seperti ini," rengek yang lain.
"Ayo masuk, aku sudah lama ketinggalan kelas ini," seru Shita.
Langkah kaki mereka terhenti saat melihat kerumunuan.
"Eh, ada apa?" Tanya Shita mencegat mahasiswa yang lain.
"Oh ada mahasiswa baru," jawab orang yang di cegat Shita.
"Kita ke ruangan kita saja yukk!" Seru Shita.
Shita dan teman-temannya pergi menuju ruang kelas mereka, tidak perduli dengan kerumunan mahasiswa yang mengerumuti mahasiswa baru tersebut.
****
Jam istirahat.
Shita terlihat bengong duduk sendiri di taman kampus.
"Hei! Kekantin yukkk!" Seru Ara yang tiba-tiba datang mengejutkannya dengan santainya dia duduk di samping Shita.
"Ara, kamu bikin kaget!"
"Lagian melamun terus, mikirin percintaan tadi malam ya," goda Ara.
"Huss! Kamu ini," rengek Shita.
Pandangan mata Shita tertuju pada gadis cantik yang berdiri di samping Ara. "Wah, teman kamu cantik banget Ra," seru Shita.
__ADS_1
"Oh, kenalin, dia Cindy, anak baru di kampus ini, dia juga model di tempat aku, tapi baru bergabung tadi malam," seru Ara.
"Ralat! Aku bukan anak baru, aku mahasiswi lama disini, tapi aku rehat karena ada urusan," sela Cindy.
"Senang berkenalan denganmu, aku Cindy," serunya sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Shita," jawabnya sambil menerima uluran tangan Cindy, Shita dan Cindy berkenalan.
"Makan yukkk," ajak Ara.
"Aku nggak punya uang Ra, kamu aja sana," rengek Shita.
"Apa?! istri seorang Awwwh!" Jerit Ara ketika Shita mencubitnya.
"Jangan bawa-bawa nama suami," bisik Shita.
"Ya sudah aku traktir kalian berdua," seru Ara, sambil mengel*s-elus bekas cubitan Shita.
Mereka bertiga berjalan bersama menuju kantin.
Ara masih menggeleng, mengingat Mark tidak memberi Shita apapun, padahal Shita istri Mark, sedang dirinya hanya mainan Mark, Mark memberikan apapun, bahkan tanpa di minta.
******
Gedung Emanuel Group.
Mark berulang kali menarik nafasnya begitu dalam. Perasaan yang aneh tertuju pada Shita membuatnya bingung. Berulang kali dia memijat lehernya dan kadang memijat alisnya. Terbayang sosok Shita membuat dia membenci dirinya sendiri.
Hembusan nafas Mark begitu berat. "Aku bersama Ara, bahkan menikmati setiap centi tubuh Ara, tapi kenapa perasaan itu tidak hadir saat aku bersama dengan Ara? Sedang Shita, hanya memandangnya saja membuat darahku mendidih, Arggggt!" Keluh Mark.
Suara ketukan pintu membuat Mark langsung memasang wajah sombongnya. Mark menekan tombol, lampu hijau yang ada di depan ruanganya pun menyala. Tidak lama pintu terbuka, salah satu petugas keamanan Mark datang.
Namun Mark tidak menjawab, dia hanya memberi isyarat agar petugas keamanan itu duduk. Petugas keamanan Mark mendudukkan tubuhnya disalah satu kursi yang ada di depan meja kerja Mark.
"Tuan muda, ingat wanita yang menghilang dulu? Tadi malam dia kembali ke apartemennya." serunya sambil memberikan satu berkas pada Mark.
Mark menerima berkas yang di berikan petugas itu, senyuman mengambang di wajahnya mengetahui siapa yang kembali ke negara dan tinggal kembali di kota nya.
"Hem, jadi kamu kembali menampakkan diri barbie ku?" Gumam Mark. Sambil memandangi foto wanita yang menempel di halaman depan berkas yang dia buka.
Mark membolak balik setiap laporan tentang itu. "Ada keterangan lain dari wanita ini? Kalau ada cepat katakan, kalau tidak ada kau boleh pergi," seru Mark.
"Semua laporan sudah lengkap dalam berkas itu tuan muda, kalau begitu saya permisi, selamat siang," petugas keamanan itu segera pergi dari ruangan Mark.
Mark hanya menggerakkan telapak tangannya, sedang matanya fokus memandangi foto wanita yang ada dalam laporan anak buahnya.
"Mari kita coba bermain bersama barbie ini, semoga saja rasa ini juga hadir saat aku bersama barbie," lengkungan bibir yang menjadi sebuah senyuman sangat jelas di wajah Mark.
Mark melihat-lihat laporan tentang wanita itu lebih detil lagi, senyuman terus terukir, karena wanita itu masih tinggal di apartemen lama, namun tiba-tiba matanya membulat saat melihat nama fakultas yang sama di mana Ara dan Shita kuliah.
"Aku harus kesana!" Seru Mark, dia meraih jas nya lalu berjalan cepat meninggalkan ruang kerjanya.
*****
Sesampai di kampus di mana wanita yang di carinya itu kuliah, Mark langsung berjalan menyusuri area kampus itu. Beberapa yang mengetahui siapa laki-laki yang berjalan menyusuri lorong itu merasa takut, karena mereka khawatir membuat laki-laki itu marah. Namun Mark berlalu begitu dingin, matanya masih melirik sana sini mencari sosok yang dia cari.
"Ada yang bisa kami bantu tuan muda?" Sapaan seseorang mengejutkan Mark.
"Biarkan saya menjelajahi kampus ini, kalau kalian ganggu akan kupastikan---"
"Maafkan saya tuan muda," orang itu langsung undur diri sebelum Mark selesai mengucapkan ancamannya.
__ADS_1
Mark meneruskan langkahnya, hingga dia sampai di area terbuka. "Aku bodoh! Ini jam makan siang, pasti semua orang di kantin!" Gerutunya, dia melangkahkan kaki menuju kantin yang ada di kampus itu.
Di ujung sana terlihat tiga orang wanita yang semuanya dia kenal berjalan bersama, dengan senyuman di wajah ketiganya, siapa lagi, dia Ara, Shita dan Cindy. Jantung Mark berdetak tidak menentu melihat ketiga wanita itu. Senyuman kembali melengkung. "Apa ku bilang, aku hanya butuh mainan baru untuk menghadirkan perasaan ini," guman Mark.
Saat ketiga wanita itu semakin dekat, Mark bersembunyi, melihat tanda toilet, Mark masuk keruangan itu.
***
Shita Ara dan Cindy masih mengobrol santai. Kadang tawa mereka menghiasi obrolan mereka.
"Shita, bagaimana malam pertama mu?" Tanya Ara.
"Jangan tanya pernikahanku Ara, pernikahan yang …." Shita berhenti bicara saat dia sadar ada Cindy, Cindy teman barunya, tidak mungkin dia berbicara hal rahasia di hadapan Cindy.
"Pernikahan karena perjodohan ya gini, kadang semua orang menerima, namun sepertinya kami tidak bisa menerima, bahkan suamiku tidak ada di kamar kami saat malam pernikahan, kemana dia masa bodoh!" Jawab Shita begitu entengnya.
"Perjodohan?" Rengek Ara.
"Awwwh!" Rintih Ara ketika Shita mencubitnya lagi.
Ara mengerti kalau Shita menutupi sebab pernikahan yang sebenarnya.
"Eh, aku permisi ke toilet ya, kalian duluan aja, lagian setelah ini aku nggak ada kelas lagi," seru Shita.
"Mau pulang bareng?" Tanya Ara.
"Nggak perlu, kereta kencana akan menjemputku!" Jawab Shita. Bibirnya mengerut masam teringat akan kembali kerumah Mark.
"Kalau gitu kami duluan ya," seru Ara.
Shita mengangguk.
"Apa kami tunggu aja?" Tanya Cindy.
"Makasih Cind, tapi nggak usah deh," jawab Shita.
"Ya sudah, bye," seru Cindy.
Cindy dan Ara melanjutkan langkah mereka, sedang Shita langsung masuk kedalam toilet.
**
"Eh, masih ada ya yang jodohin anak zaman sekarang?" Seru Cindy.
"Mungkin orang tua Shita terdesak, secara suami Shita adalah pemilik tunggal Emanuel Group!" Ara langsung menutup mulutnya karena keceplosan.
"Apa? Mark Lewiz? Tuan muda Emanuel Group?" Wajah Cindy sungguh syok.
"Ku harap kamu jangan cerita, tidak ada yang tahu pernikahan mereka di kalangan seperti kita, hanya sebagian kecil kalangan atas saja yang tahu, ku mohon jaga rahasia ini." Rengek Ara.
Dengan wajah yang masih Syok, Cindy mengangguk pelan.
"Terima kasih," seru Ara.
Mereka terus melanjutkan langkah mereka.
Dalam toilet.
Baru masuk beberapa langkah ke area toilet, Shita fokus melihat tanda toilet perempuan. Tanpa dia sadari ada orang lain di dalam sana.
"Emmpph!" Mulut Shita di bekap orang itu, dia menyeret Shita masuk ke toilet perempuan dan mengunci dirinya dan Shita di dalam sana.
__ADS_1