Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda

Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda
Bab 69 Menunggu Mark


__ADS_3

Setelah mengakhiri panggilan teleponnya dengan Ara, Cindy segera keluar dari kamarnya, dia langsung menemui bibi Jasmine. "Bibi," sapanya.


"Iya sayang?" Sahut bibi Jasmine.


"Bi, aku boleh izin keluar?"


"Kau mau jalan keluar sayang?" Bibi Jasmine balik bertanya.


"Iya, bi. Boleh ya …." Rengen Cindy.


"Boleh, tapi antar bibi dulu, ya. Setelah itu, silahkan kamu jalan-jalan."


"Kemana bi?"


"Sudah nanti juga tahu, bibi mau siap-siap dulu." Wanita yang di panggil bibi Jasmine itu melangkah pergi, menuju kamarnya.


Setelah keduanya siap. Bibi Jasmine dan Cindy, langsung berjalan bersama keluar rumah.


"Mobil bibi saja," seru Jasmine sambil memberikan kunci mobilnya pada Cindy.


Cindy dan bibi Jasmine berangkat dengan mobil bibi Jasmine, yang dikemudikan oleh Cindy. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya, Cindy mengikuti arahan yang di minta bibi Jasmine itu. Akhirnya mereka sampai disebuah panti asuhan.


Mata Cindy terbelalak, saat melihat nama panti asuhan itu. "Emanuel Group?" Cindy bergumam.


"Iya, panti ini hanya namanya saja Emanuel Group, karena donator utama panti ini adalah Emanuel Group. Panti ini sekarang milik seorang pemuda yang sangat baik hati, rasanya bibi pengen kenalin kamu sama pemuda itu. Tapi sayang, bibi dengar pemuda pemilik panti asuhan ini sudah menikah."


Cindy masih mematung melihat gedung panti asuhan yang ada di depan matanya.


"Ayo turun!" Seru bibi Jasmine.


Lamunan Cindy buyar, dia segera menjawab pertanyaan bibinya. "Iya bi, bibi duluan nanti aku menyusul." Seru Cindy.


"Donatur di tempat ini sangat sulit dikenali mana yang tulus dan mana yang bulus, karena sebagian besar, mereka menyumbang hanya karena mencari muka pada pemimpin Emanuel Group itu." Gerutu bibi Jasmine, sambil mencari amplop yang akan dia berikan untuk panti asuhan ini.

__ADS_1


"Suka-suka mereka bi." Gerutu Cindy.


Bibi Jasmine menghempas nafasnya begitu kasar, dia segera turun dari mobil, dan mulai melangkahkan kaki menuju panti asuhan itu.


Cindy masih melamun dalam mobil, tangannya memegang begitu kuat setiran mobilnya. "Bagaimana ini? Sangat banyak para donatur yang datang, bagaimana kalau ada keamanan Emanul Group?" Wajah Cindy nampak ketakutan.


Mata Cindy terbelalak, saat melihat seseorang yang memakai seragam penjual ice cream yang mengenakan masker dan topi. Idenya pun muncul. Cindy meraih tasnya, dia mengambil kaca mata hitam yang ada dalam tas.


"Masker, rasanya aku ingat ada masker, tapi di mana?" Rengek Cindy. Senyumnya merekah, karena ingat di mana dia menyimpan masker itu.


Cindy memakai masker dan juga kaca mata hitam, dia segera turun dari mobil, dan berjalan menuju panti asuhan itu. Cindy menyusuri ruangan demi ruangan, tapi dia tidak bisa menemui bibinya. Dia mencegat salah satu pengurus panti yang lewat di depannya.


"Bu, permisi, di mana tempat para donatur memberikan sumbangan mereka?" Tanya Cindy.


"Di lantai tiga, itu liftnya." Jawab orang itu.


"Terima kasih." Jawab Cindy.


Orang itu pun melanjutkan langkahnya, sedang Cindy, segera melangkahkan kakinya menuju Lift.


"Sepertinya bibi masih lama, kau pergi saja duluan, nanti bibi pulang naik taksi saja."


"Baik bi, kalau begitu aku tinggal ya, bye bii." Cindy segera berdiri, dia langsung melangkah menuju lift lagi, tapi saat dia melewati jendela, matanya terfokus dengan pemandangan yang dia lihat dari jendela itu. Sosok yang sangat tidak asing lagi, Rashita, istri Mark.


Cindy langsung berhenti, untuk meyakinkan dirinya, kalau yang dia lihat itu benar-benar Shita. Cindy mematung berdiri di dekat jendela. "Itu benar-benar Shita." Gumamnya.


Di bawah sana, Shita nampak santai bicara dengan laki-laki yang memakai seragam, topi dan Masker, dia penjual ice cream itu. Melihat hal tersebut, Cindy tersenyum, dia langsung pergi meninggalkan panti asuhan itu.


******


Dari jam tiga sore, Cindy memarkirkan mobilnya di tepi jalan, yang biasa Mark lalui, dia sengaja menunggu Mark pulang bekerja di jalanan itu, niatnya ingin mencegat Mark. Berulang kali Cindy melihat jam tangannya, namun mobil yang dia tunggu-tunggu belum terlihat juga.


Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, akhirnya berjam-jam penantian Cindy tidak cuma-cuma, Cindy melihat mobil Mark dari kaca spion mobilnya, melaju dari arah belakangnya. Cindy segera menghidupkan mesin mobilnya.

__ADS_1


Terlihat mobil Mark melaju santai menyusuri jalanan itu, Cindy langsung melajukan mobilnya, lalu menyalip mobil Mark, dan langsung berhenti tepat di depan mobil Mark, untung saja Mark berhasil mengerem laju mobilnya, hingga mobilnya dan mobil yang tiba-tiba menghalanginya itu tidak tabrakan.


Terlihat Mark turun dari mobilnya, wajahnya nampak tidak ramah. Dia terus berjalan menuju mobil yang menghalangi jalannya.


Mark menggedor kaca mobil yang menghalangi jalannya itu. "Hey! Apa kau sudah bosan hidup!" Teriak Mark, dia berdiri di samping pintu mobil itu.


Cindy langsung membuka pintu mobilnya. "Hai beib." Sapa.Cindy.


Wajah Mark langsung berubah, matanya menatap tajam pada Cindy. "Berani-beraninya kau muncul di hadapanku!" Bentak Mark.


Cindy, turun dari mobilnya, dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Sedang Mark nampak jijik padanya, mengingat dua kali Cindy memperdayanya dengan obat perangsang, Mark langsung jaga jarak dengan Cindy.


"Beib, aku tahu, Shita tidak mau kembali lagi padamu, bukankah … lebih baik kita lanjutkan hubungan kita?" Ucap Cindy dengan begitu percaya diri.


"Walaupun aku tidak bersama Shita, maka aku akan menghabiskan umurku sendirian! Tanpa wanita manapun!" Mark langsung pergi dari hadapan Cindy. Dia langsung masuk mobilnya, dan mulai menghidupkan mesin mobilnya.


"Minggir! Atau ku tabrak kau!" Teriak Mark.


"Tabrak saja!" Tantang Cindy.


"Aku tidak perduli lagi dengan nyawamu, sudah dua kali aku menolong, yang ketiga ini, kalau perlu, aku yang jadi malaikat pencabut nyawamu!" Teriak Mark.


"Kenapa kau tidak mau kembali padaku!?" Teriak Cindy.


"Karena aku tidak mencintai kamu, aku hanya mencintai istriku, apa kau dengar itu!" Teriak Mark, suara mesin mobil Mark mulai meninggi.


Melihat Mark, dari sorot matanya, dia bukan sedang bercanda, membuat Cindy takut, dia langsung masuk mobilnya dan melajukannya lebih dulu, meninggalkan jalanan itu. Dari pada, Mark menabraknya lebih dulu.


Melihat Cindy kabur, Mark menggeleng, mengingat kelakuan Cindy. "Dasar wanita gila!" Upatnya.


Mark langsung melajukan mobilnya, menuju arah pulang.


*******

__ADS_1


Cindy langsung pulang kerumah bibi Jasmine. Suasana nampak sepi, karena menjelang malam, biasanya bibi dan pamannya menghabiskan sore di halaman belakang rumah itu. Sedang Cindy langsung masuk kekamar yang disediakan buatnya.


"Mark, Shita sudah melupakan kamu, bahkan dia mulai dekat dengan pelayan ice cream itu, kenapa kau tak mau menerimaku." Cindy meringis meratapi nasibnya.


__ADS_2