
Shita menemani Ara yang masih tidak sadarkan diri di ruang perawatannya. Dia meminta tolong pada Cindy untuk mengurus izin pada pihak kampus untuk dirinya dan Ara. Baru menaruh ponselnya, ponsel itu kembali bergetar. Tertera nama TPN yang maksudnya Tuan Pencabut Nyawa, pada layar ponsel itu. Shita mendengus, sangat malas ber urusan dengan Mark.
Dengan begitu malas Shita menggeser icon bewarna hijau tersebut dan meletakkan di dekat telinganya. "Hem." Gumamnya.
"Kenapa kau menelpon kedua orang tua mu tentang Ara?"
"Karena bagi mama dan papa, Ara juga anak mereka." Jawab Shita.
"Kau sudah tau dia ingin menyakitimu secara halus, bahkan dia ingin membunuh suamimu ini dan kau malah meminta orang tuamu datang untuk menjenguknya?"
"Ini ungkapan terima kasih ku pada Ara, karena dia berani melakukan tugas malaikat pencabut nyawa, mungkin malaikat pencabut nyawa yang bertugas, takut mendekatimu."
"Kau!" Suara Mark terdengar begitu geram.
"Kau ingin aku memenjarakan Ara? Asal kau tau! Aku punya bukti lengkap kalau Ara sengaja ingin menabrakku!" Ancam Mark.
Shita mendadak kikuk, tenggorokkannya tiba-tiba terasa seret. "Maaf," ringisnya.
Mark tidak menjawab, hanya terdengar hembusan nafas yang begitu jelas dari ujung telepon sana.
"Aku mengabari kedua orang tuaku, karena aku tidak mungkin menemani Ara setiap waktu, aku juga yakin, kedua orang tua Ara pasti tidak datang, karena memang sejak Ara kecil, mereka tidak terlalu perhatian pada Ara, mereka menyayangi Ara dengan cara mereka, untuk memberi Ara semangat, lebih baik aku panggil mama dan papaku saja."
Mark semakin kesal mendengar cerita Shita. "Hei! Apa kau tau berapa kilometer yang akan papa dan mamamu tempuh untuk sampai kemari?"
"Kau menelponku hanya membahas ini? Asal kau tau! Papa dan mamaku tidak mempermasalahkan jarak demi kesayangan mereka!" Shita langsung memutuskan panggilan teleponnya dengan Mark. Dia menyimpan kembali ponselnya dan fokus memperhatikan dan memandangi Ara yang nampak kacau.
***
Setelah kejadian kecelakaan pagi tadi, Mark langsung pergi ke kantornya.
Di Gedung Emanuel Group.
Mark memandangi beberapa berkas yang baru di antar Gimar, matanya memandang ke atas meja, tapi otaknya memikirkan kejadian tadi pagi. Bibirnya kembali melengkung, menjadi sebuah senyuman yang indah di wajah yang biasa terlihat Arogan itu.
Mark mengingat, bagaimana Shita berlari ke arahnya sesaat sebelum sebuah mobil melaju cepat di tempat dia berdiri sebelumnya. "Dia memang luar biasa, padahal dia akan bebas jika aku mati!" Mark bergumam sendiri. Mengagumi perbuatan Shita yang menyelamatkannya tadi pagi.
"Shita, aku tidak akan menutupi perasaanku lagi, aku yakin ini cinta yang sebenarnya, aku tidak akan lagi memburu l*ndir di setiap liang wanita, mulai saat ini, aku akan menjalani komitmen ini, aku hanya bercinta dengan kamu saja Shita." Mark bertekad melepaskan semua wanitanya, termasuk Cindy yang baru saja dia dapatkan kembali.
Mark meraih telepon yang ada di mejanya, dia menelpon salah satu pegawainya.
"Iya tuan muda?" Sahutan suara di ujung telepon sana.
"Tolong siapkan helicopter ke wilayah …." Mark menyebutkan nama kota tempat tinggal Sammy. Mark meminta anak buahnya menjemput Sammy dan mengantar langsung ke rumah sakit di mana Ara di rawat.
Mark kembali melamun memikirkan Shita. "Shita, ternyata Abi benar, aku salah jika aku menyakiti wanita istimewa seperti kamu."
"Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku Shita, aku akan berusaha membuatmu bahagia dan nyaman bersamaku." Mark meraih kunci mobilnya. Tujuannya saat ini adalah Apartement Cindy.
*****
Di rumah sakit.
__ADS_1
Shita masih duduk melamun memikirkan keadaan Ara. Lamunannya tersentak, saat pintu ruang perawatan Ara terbuka, terlihat seorang wanita cantik datang membawa beberapa bungkusan di tangannya.
"Shita …." Sapa Cindy, dia meletakkan kantong-kantong yang dia bawa ke meja yang ada di samping Shita, kemudian memeluk gadis itu.
"Cindy, kamu tidak kuliah?" Tanya Shita sambil melepaskan pelukannya.
Mata Cindy membelalak melihat bintik merah yang memenuhi leher Shita. Cindy berusaha keras agar bisa nampak normal. "Aku tidak bisa kuliah, aku hanya memikirkan kalian berdua, apapun masalah diantara kalian, aku tidak punya urusan, aku tetap teman kalian." Seru Cindy.
"Terima kasih." Ucap Shita.
"Shita …." Cindy memanggil Shita yang nampak terus memandang ke arah Ara yang masih tidak sadarkan diri.
"Hem," jawab Shita yang merubah arah wajahnya, kini wajanya menghadap ke arah Cindy.
"Kejadian tadi malam---"
"Aku memaafkan dia, bagaimanapun semua ini karena kesalahan kakakku." Shita langsung memotong kata-kata Cindy.
"Apakah dia dan Mark juga berbaikan? Jangan-jangan tadi malam mereka bercinta liar, lihat lehernya." lirih hati Cindy.
Cindy menarik nafasnya begitu dalam. Mengusir rasa sesak yang mulai memenuhi dadanya. "Bagaimana dengan …?"
"Bisa kita tidak membahas itu? Sekarang kesembuhan Ara yang terpenting, apalagi kata dokter jiwa Ara begitu tertekan." Jawab Shita yang kembali memandang ke arah Ara.
Pintu kamar ruangan Ara terdengar terbuka lagi.
"Sayang, apa yang terjadi pada Ara?" Suara itu mengejutkan Shita dan Cindy.
Ana dan Sammy saling pandang melihat Shita, mereka tersenyum melihat leher Shita. Namun Ana berusaha santai, agar putrinya tidak malu.
Cindy nampak sedih melihat tiga orang berpelukan di depan matanya. "Shita, kamu beruntung banget, orang tua kamu ternyata begitu perhatian padamu, sedang aku?" Cairan bening lepas begitu saja dari mata Cindy, dia segera menghapusnya, sebelum ada yang melihatnya.
"Kami bisa datang karena suami kamu menjemput kami, kami mendarat di atas sana." Seru Ana.
"Maksud mama?"
"Kami kemari terbang sayang." Jawab Sammy.
"Bagaimana keadaan Ara?" Tanya Ana, dia langsung berjalan ke arah Ara.
"Kata dokter, Ara baik-baik saja, hanya mengalami tekanan kejiwaan atau apa itu aku nggak ngerti."
"Kamu sudah telepon tante Arum?" Tanya Ana pada Shita.
Shita menjawab pertanyaan Ana dengan menggelengkan kepalanya. Mata Ana tertuju pada sosok cantik yang berdiri di samping Ara. "Siapa dia sayang?" Tanya Ana.
"Dia Cindy, teman model Ara, juga teman kuliah kami." Jawab Shita.
Ana dan Cindy berkenalan, Cindy begitu kagum dengan sikap Ana. "Beruntung sekali kamu Shita, ternyata papa mama kamu orang yang penuh kasih sayang." Rintih hati Cindy. Dia begitu kagum, bagaimana Ana bersikap padanya dan perhatian Ana pada Ara.
"Shita, aku pulang saja ya, aku lega mengetahui Ara baik-baik saja." Ucap Cindy.
__ADS_1
"Iya Cind, sampai ketemu lagi," Shita memeluk Cindy.
Cindy langsung pergi dari ruangan itu, batinnya begitu tersiksa melihat kasih sayang antar keluarga itu, mengingat dirinya punya segalanya, tapi kedua orang tuanya malah tidak perduli sedikitpun padanya.
Setelah meninggalkan rumah sakit, Cindy melajukan mobilnya menuju Apartement. Sesampai di basement tempat parkir penghuni bangunan yang tinggi itu, Cindy melamun, merenungi dan mengingat nasibnya. Nafasnya terasa sesak mengingat kembali bagaimana kebahagiaan Shita dengan keluarganya.
Dengan langkah kaki yang begitu lemas Cindy berjalan menuju Apartement nya. "Shita, kenapa kamu sangat beruntung, aku juga pengen mempunyai keluarga yang penuh kasih sayang." Ringis Cindy. Wajah cantik itu nampak murung. Jarinya juga begitu malas menekan kode access keamanan Apartement nya.
Seketika matanya membelalak, saat melihat Mark sudah ada dalam Apartemennya. "Kau?" Cindy begitu terkejut.
"Hai," sapa Mark dengan mengukir senyuman di wajahnya.
"Kenapa kau kemari?" Tanya Cindy, dia setengah berlari mendekati Mark, dan langsung menggelayut manja di tubuh Mark.
"Aku ingin bicara hal pribadi padamu."
"Pribadi?" Cindy mengerutkan kedua alisnya. Dia mendekatkan bibirnya pada bibir Mark, namun laki-laki itu malah menghindar.
"Cindy, aku ingin meng akhiri petualangan kita."
Ucapan Mark barusan bagaikan petir di siang bolong yang mengejutkan jiwanya. Rasa sedih karena yang dia lihat di rumah sakit barusan saja belum hilang, kini malah Mark, laki-laki yang dia incar selama ini mengatakan akan meninggalkan dirinya untuk yang kedua kalinya.
"Mark, ku mohon, pikirkan lagi, kamu itu sangat mudah menafsirkan cinta, kamu ingat, cintamu pada Nesya saja keliru, tolong Mark, pikirkan lagi, mungkin saja kamu hanya penasaran pada istrimu itu." Rengek Cindy, sambil mencoba menggoda Mark.
"Ini beda Cind, aku yakin ini cinta yang sebenarnya bukan obsesi." Mark tidak perduli pada Cindy yang mulai membuka bajunya.
"Kau sangat mudah menyimpulkan perasaanmu Mark, selama ini pasti kamu merasa cinta aku kan? Ternyata kamu salah lagi, Mark, tolong, jangan menyimpulkan begitu mudah." Cindy kembali mencoba menggoda Mark.
"Cindy, aku menjalin hubungan denganmu karena aku putus asa dengan perasaan yang selama ini aku rasa, maafkan aku Cind, aku pergi."
Cindy menahan lengan Mark. "Mark, walaupun kau cinta Shita, ku mohon, jangan tinggalin aku, aku rela walau jadi simpanan kamu selamanya, aku tidak akan cemburu pada istrimu, tolong, aku sangat terluka saat kau tinggalkan aku saat kau memilih Nesya, tolong … kali ini jangan Mark, jangan tinggalin aku lagi, aku benar-benar mencintai kamu, aku tersiksa selama jauh dari kamu." Rengek Cindy.
"Maaf Cindy, hubungan kita selama ini di belakang Shita sudah keterlaluan. Keputusanku sudah mutlak, aku akan setia pada istriku, aku tidak akan bercinta lagi dengan wanita manapun, kecuali istriku."
"Mark! Kita bisa melakukannya seperti itu, lihat Shita tidak tahu," ringis Cindy
"Maaf Cindy, aku sangat mencintai Shita." Mark pergi begitu saja dari Apartemen Cindy.
"Mark!!!" Teriak Cindy, teriakannya amat memilukan. Mark sama sekali tidak tergida lagi dengan tubuh indahnya. Mark terus tetap pergi meninggalkan Cindy yang nampak kacau.
Cindy menangis sambil memeluk kedua betisnya.
"Aaakkk!" Jeritnya.
"Kenapa!? Kenapa cinta lagi … cinta lagi! Orang yang aku sayang malah pergi dengan cinta mereka."
Cindy nampak kacau dan mulai mengamuk di Apartemennya, menumpahkan rasa sakit di hatinya.
***
Mark berjalan begitu semangat, entah kenapa hatinya merasa lega, setelah memutuskan banyak hubungan dengan wanita-wanitanya.
__ADS_1
"Demi kamu Shita, aku berjanji pada diriku, aku hanya setia buatmu." Mark sambil mengetik pesan di ponselnya, untuk dia kirim pada perempuannya, sedang di wajahnya selalu terukir senyuman. Dia masih tidak habis pikir, dia sering menekan perasaan Shita. Namun, Shita malah menyelamatkannya pagi ini.