Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda

Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda
Bab 71 Pelindung


__ADS_3

Cindy segera mengambilkan obat buat pamanya, dan membantu pamannya meminum obat tersebut. Saat Cindy ingin keluar dari kamar itu, matanya melirik sesuatu. Hingga dia memikirkan hal yang liar, yang tiba-tiba ada dalam benaknya.


Namun, mendengar suara pintu mobil yang di tutup, Cindy yakin, itu bibi Jasmine yang datang, segera dia membatalkan keinginannya. Dia segera keluar menemui bibi Jasmine.


"Bagaimana urusan bibi?" Sapa Cindy, ketika melihat bibinya.


"Semua lancar sayang." Jawab bibi Jasmine.


"Apa paman sudah minum obat?"


"Baru bi, oh ya bi, apa aku masih boleh ikut, keacara panti Asuhan itu?"


"Tentu sayang, acaranya dua hari lagi."


"Semoga paman sembuh ya bi, biar kita bisa pergi."


"Kalau pamam belum sembuh, nanti kamu aja yang gantiin bibi."


"Semoga paman sudah sembuh, biar kita bisa pergi sama-sama."


***


Gedung Emanuel Group.


Abi sudah berada di ruangan Mark, dia masih menunggu kedatangan tuan muda itu. Seperti biasa, Mark baru kembali kegedung Emanuel Group, setelah sandiwara jualan ice cream selesai. Abi membuka laptopnya, dan mengerjakan beberapa tugasnya, sambil menunggu kedatangan Mark. Cukup lama ia menunggu, namun belum terlihat tanda-tanda kedatangan tuan mudanya itu.


"Beruntungnya aku, karena kau di sini!" Suara itu mengejutkan Abi. Abi segera menutup laptopnya, lalu menyimpannya.


"Tuan muda," sapa Abi.


"Apa yang terjadi pada Shita?"


"Apa maksud tuan muda?" Abi bingung dengan pertanyaan Mark.


"Shita terlihat sedih, dia tidak seceria biasanya."


"Owh, aku sudah bicara pada nona muda, aku meminta kalian menyelesaikan masalah. Tuan muda tidak bisa selamanya menjadi penjual ice cream, begitu juga nona muda, tidak mungkin dia selamanya sembunyi di panti Asuhan. Dia sudah setuju, untuk bertemu dengan tuan muda."


"Pasti dia takut, kalau-kalau aku memaksanya kembali padaku."


"Mungkin itu yang nona khawatirkan, tapi aku meyakinkan dia, kalau tuan muda, akan mengikuti apa yang dia inginkan."


"Kau hebat Abi, aku memang akan mengikuti apa yang dia mau, namun sebelum menurutinya, aku ingin menujukkan rasa cintaku padanya. Tapi aku tidak tahu harus dengan cara apa."


"Untuk hal itu, aku akan bantu, tepat sebelum acara panti Asuhan berlangsung, temui aku di tempat ini." Abi memberikan sebuah alamat pada Mark.


"Terima kasih Abi,"


"Sama-sama, tuan muda."

__ADS_1


Abi langsung pergi dari ruangan Mark, akhirnya, dia bisa bertemu Shita, tanpa menyembunyikan dirinya lagi.


****


Di rumah bibi Jasmine.


Cindy hanya berdiri melihat bibinya, menyuapi pamannya makan.


"Cindy, tolong ambilkan obat paman, yang ada dalam botol tutup biru itu." Pinta bibi Jasmine.


Segera Cindy melangkahkan kakinya menuju meja kecil, tempat obat pamannya disimpan. Setelah mengambil obat, Cindy langsung memberikan obat itu pada bibinya.


Cindy melihat pamamnya sudah selesai minum obatnya, dibantu bibi Jasmine.


"Paman, kenapa senjata api paman ditaruh di sana, bagaimana kalau ada yang mecuri?" Tanya Cindy.


"Itu hanya sarungnya Cindy, senjata apinya sudah disimpan paman, dalam laci itu, lacinya juga di kunci," seru bibi Jasmine.


"Huh, aku lega bi, aku hanya takut,"


"Pamanmu sangat menjaga itu, apalagi pistol itu milik kepolisian, harus extra hati-hati."


Cindy hanya tersenyum.


********


Akhirnya hari yang ditinggu tiba juga. Acara tahunan Panti Asuhan Emanuel Group. Semua pengusaha yang ingin cari muka dengan petinggi Emanuel Group pasti datang kesana. Lantai dasar gedung panti asuhan itu mulai dipenuhi banyak tamu. Keadaan sungguh ramai.


"Shita," sapa seseorang, sapaan orang itu, mambuat Shita menoleh padanya.


"Ara, mamah?" Shita langsung memeluk kedua orang itu bergantian.


"Kenapa wajahmu cemas seperti ini?" Tanya Ana.


"Mark akan hadir di acara ini." Jawab Shita.


"Kamu ingin kabur? Aku bantu." Seru Ara.


"Selama ini aku salah faham, ternyata Mark dijebak Cindy." Ringis Shita.


"Apa? Wanita yang bersama Mark malam itu Cindy?" Wajah Ara nampak begitu kaget.


Shita hanya mengguk santai.


"Untung saja aku tidak bilang di mana kamu, aku hanya bilang kamu di rumah kedua orang tuamu, walau kau dan Mark belum berbaikan.


"Apa kau akan kembali pada Mark?" Tanya Ana.


"Aku tidak tau mah, aku harus meyakinkan perasaanku dulu, kalau Mark memang menginginkan kami." jawab Shita

__ADS_1


Musik di ruangan itu mulai bermain, pertujukan dari anak-anak panti asuhan pun, di mulai.


Pembicaraan mereka langsung terhenti, mereka langsung menonton pertunjukan tersebut.


"Apa tujuan panti ini mengadakan acara tahunan?" Tanya Ara.


"Setahu aku, untuk mengenalkan bakat-bakat anak-anak yang ada di sini, sudah banyak anak-anak di sini yang mendapat tawaran kerja atau beasiswa, karena talenta mereka." Jawab shita. Mereka pun terus menonton acara tersebut.


Di bagian luar panti asuhan.


Mark melamun dalam mobilnya, antara siap dan tidak, untuk bertemu Shita. Mark segera turun, bagaimanapun masalah ini harus selesai, dengan kebahagiaan Shita mau kembali bersamanya, atau melepaskan Shita, dan mengembalikan wanita itu kepada kedua orang tuanya nanti.


Wajah Mark tiba-tiba nampak marah, saat melihat seseorang wanita juga nampak memasuki gedung panti Asuhan itu. Dia berlari secepat yang dia bisa, Mark yakin, wanita itu mengintai Shita. Wanita itu tidak lain adalah Cindy.



Mark berada dalam gedung panti asuhan itu, mencari keberadaan Shita, dan Cindy yang dia lihat di depan tadi. Mark nampak frustrasi, karena belum menemukan Cindy dan Shita. Mark masih mencari-cari dua sosok itu, saat matanya memandang kearah jendela, terlihat seorang wanita berdiri seorang diri, dia adalah Shita.


Mark kembali memandangi area itu, satu wanita yang sangat berbahaya bagi Shita, belum dia lihat. Mark langsung menelpon Gimar. Dia terus melangkah medekat kearah Shita, namun matanya masih memandangi area itu, mencari sosok Cindy.


"Iya tuan muda." Sahutan di ujung telepon sana.


"Kerahkan petugas keamanan kita, hatiku mengatakan Shita dalam bahaya, Cindy datang keacara tahunan panti asuhan Emanuel Group."


"Astaga!" Gerutu Gimar. Gimar langsung mengerahkan petugas keamanan Emanuel Group. Bahkan Gimar mengirim satu unit Ambulan, untuk jaga-jaga.


Melihat seseorang mendekat padanya, di luar kesadarannya, Shita tersenyum melihat sosok yang sangat dia rindukan berjalan kearahnya.



Namun tidak dengan orang itu wajahnya panik, saat melihat seseorang berjalan memegang nampan yang berisi gelas. Bukan orangnya yang membuat Mark tegang, tapi benda yang tersembunyi di bawah nampan yang ter arah pada Shita membuat Mark mempercepat langkahnya mendekati Shita.



Apalagi, wanita itu mulai mengarahkan yang dia pegang kearah Shita, wanita itu adalah Cindy. Saat Mark tiba di hadapan Shita, saat yang sama, suara dari senjata api itu membuat suasana menjadi kacau. Semua orang yang ada di ruangan itu berteriak karena mendengar suara tembakan.


Sedang di dekat jendela sana, seorang laki-laki, menjadi pelindung bagi wanita yang dia cintai dari timah panas yang keluar dari senjata api yang di tembakkan Cindy kearah Shita.



Shita sangat kaget, menyadari Mark melindunginya dari tembakkan. Dia menatap sayu wajah Mark yang menahan rasa sakitnya. Sedang Mark, hanya memandangi wajah Shita, dia bahagia usahanya berhasil melindungi Shita, walau peluru itu mengenai badannya.


"Mark ...." ringis Shita, bibirnya bergetar, air matanya juga menetes, karena Mark tertembak karena melindungi dirinya.


*****


Bersambung dulu.


Eh masih gantung ya?

__ADS_1


Nanti ya, kita cari oksigen yang banyak dulu, jujur Author aja ngerasa sesak gitu.


sampai jumpa di hari akan datang 😚🤪


__ADS_2