Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda

Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda
Bab 39 Bicara Pada Tembok


__ADS_3

Jempol nya sobat, kasih semangat si remahan rengginang ini sama jempolnya.🤭


****


Shita memasuki kamar itu. Matanya sungguh terpana melihat keadaan kamar Mark. Baru melangkah beberapa langkah suara seseorang mengejutkannya.


"Maafkan saya nona muda," sapa orang itu.


"Tidak apa-apa," jawab Shita.


"Saya Halia, istri pak Iqmal, saya di tugaskan tuan muda untuk menemani anda," pelayan wanita itu terus mendekat.


"Saya Shita bu."


Pelayan itu tersenyum dan mengangguk. "Kalau nona muda ingin ganti baju, ini ruangan khusus tempat semua pakaian anda dan tuan muda, kamar mandi di sana dan beberapa perlengkapan lainnya ada di sana," seru Halia sambil menunjukkan arahnya.


"Pakaian? Saya tidak bawa apa-apa bu," rengek Shita.


"Semua sudah kami persiapkan atas perintah tuan muda."


Shita langsung berlari ke arah ruang ganti pakaian, dia membuka satu persatu pintu lemari tersebut. "Huhhh," Shita merasa lega, karena isi lemari itu pakaian yang normal, bukan pakaian yang dia takutkan.


"Ada apa nona muda?"


Shita hanya membalas dengan senyuman.


"Nona muda perlu apa?"


"Saya tidak perlu apa-apa bu," jawab Shita.


"Kalau begitu saya permisi," pelayan wanita itu keluar, setelah selesai memberitahu sudut-sudut yang ada dalam kamar Mark.


***


Mark pulang kerumahnya, jam sudah menunjukkan jam delapan malam, dia menyeret langkah kakinya yang terasa sangat berat.


"Apa tuan muda akan makan malam di rumah?"


Pertanyaan dari pelayan tertua yang bekerja di rumahnya menyambutnya.


"Iya pak, saya akan makan malam, setelah selesai nanti panggil saja saya," jawab Mark, di berlalu begitu saja, melewati pak Iqmal.


Sesampai di kamar Mark melihat Shita begitu nyaman berbaring di tempat tidurnya. Mark melepas jas nya dan melempar ke arah sofa, namun Shita tidak menoleh padanya. Dia menggulung lengan kemejanya sambil berjalan mendekati Shita yang cuek dengannya.


"Istri macam apa kau ini! Suami datang kau asyik dengan dirimu sendiri!" Bentak Mark.


Shita tidak menghiraukan Mark, dia pura-pura memejamkan matanya.


"Hei! Aku bicara padamu!"


"Owh, aku kira kamu bicara pada tembok," jawab Shita.


Mark kesal, dia langsung mengurung Shita yang berbaring di atas tempat tidur.



Shita kaget, dia tidak menyangka Mark akan mendekatinya seperti ini, pandangan keduanya beradu pandang, hembusan nafas yang terasa di permukaan kulit keduanya seakan menjadi hipnotis diantara keduanya.


Mark semakin mendekatkan wajahnya. Shita merasa sesuatu seakan mengikat dadanya, terasa sangat sulit untuk bernafas, tanpa dia sadari, dia memejamkan matanya, tidak sanggup membalas tatapan mata Mark. Sedang Mark terus mendekatkan wajahnya, bibir merah merekah itu menjadi pusat tujuannya. Jarak bibir antara keduanya sangat dekat. Mark menatap sayu wajah yang di depan matanya. Mark meneruskan ke inginannya untuk menikmati bibir indah itu.


Tok tok tok!

__ADS_1


Suara ketukan pintu menyadarkan keduanya. Mark langsung menarik dirinya sedang Shita langsung bangun dan duduk bersandar di tempat tidurnya, meredakan dentuman irama jantung yang seakan konser.


Sedang Mark berjalan menuju pintu dan membukakan pintu. Untuk mengusir rasa canggung karena kejadian barusan.


"Maaf tuan muda, makan malam sudah siap,"


"Iya bu, saya segera turun." Jawab Mark berusaha santai. Padahal jantungnya masih berdetak tidak menentu.


"Kalau kau mau makan ikut aku," teriak Mark, dia keluar kamar lebih dulu, agar Shita tidak melihat wajahnya.


Shita berusaha santai dan menahan nafasnya. Setelah Mark pergi dia melepaskan nafas yang dia tahan barusan."Bisa mati kena serangan jantung ini aku," gerutu Shita sambil mengusap dadanya. Berusaha menenangkan detakan jantung yang seakan yang punya diri selesai lomba lari maraton.


Selesai makan malam Mark langsung pergi lagi setelah mengganti pakaiannya. Sedang Shita menikmati kesendiriannya di kamar Mark.


***


Tidak ada yang istimewa dalam keseharian Shita, hanya makan siang bersama dua orang wanita yang tidak menganggap dia ada, lalu kembali lagi ke kamarnya.


Waktu malam pun Mark hanya pulang sebentar, bahkan tidak perduli padanya. Mark hanya ganti baju, kadang makan bersama di rumah, kadang langsung pergi begitu saja.


Sama seperti saat di hotel, Shita cuek dengan dirinya. Status istri Mark, tapi sedikitpun Mark tidak memandangnya. "Masa bodoh!" Gumam Shita. Dia langsung berbaring di tempat tidur merehatkan tubuh dan pikirannya.


Seminggu sudah Shita menjalani kehidupan sebagai istri tuan muda, namun tidak ada yang indah. Hal indah itu ada ketika mama dan papanya menghubunginya via video call, bahkan setiap hari, itulah menit-menit terindah yang Shita rasa. Setiap hari Ana dan sammy selalu menghubungi Shita, melepaskan rindu walau hanya saling pandang lewat layar ponsel.


Setiap malam Mark pulang kerumah antara jam 2 atau jam 3 malam, tentunya setelah menghabiskan malam bersama Ara dan beberapa wanita manapun yang dia inginkan. Melampiaskan perasaan aneh yang timbul dan berusaha dia buang.


Setiap pulang kerumah, Mark selalu memandangi wajah Shita yang tertidur pulas. Hatinya mengatakan kalau ada yang berbeda dari wanita itu. Namun geritik ke egoisannya berusaha memungkiri perasaan yang hatinya rasa.


***


Shita menjalankan rutinitas paginya dengan semangat membara. Hari ini ada pemacu semangat baru dalam dirinya, setelah lama libur, dia akhirnya bisa kuliah kembali.


Mark memandanginya dari kejauhan Shita yang tengah merias dirinya di depan cermin.


"Tentu akau semangat, hari ini aku kuliah lagi, aku lelah di kurung di sangkar emas ini," jawab Shita.


Mark berusaha tidak memperdulikannya, karena memandangi Shita hanya membuat perasaan aneh muncul kembali di hatinya dan menyeruak lagi dan lagi, lebih baik bersikap cuek pada istrinya itu.


"Kau akan di antar jemput Gimar, awas! Jangan pernah pamer kalau kau istriku, kalau kau berani mengaku, akan ke pastikan kedua orang tuamu celaka!" Bentak Mark.


"Yah, padahal aku ingin seluruh dunia tahu kalau aku ini wanita yang beruntung," seru Shita.


Mark mengeratkan rahangnya, menahan kekesalan karena merasa gagal. "Sial! Dia sama sekali tidak sedih! Malah bangga, aku harus bicara pada Ara!" Gerutu hati Mark.


Sedang Shita masih memasang senyuman di wajahnya.


"Kau pergi sekarang! Jangan makan bersama kami! Seharusnya aku tidak perlu membawamu ketempat ini!"


"Awhhh, jangaaan, aku lapar," rengek Shita dengan expresi wajah mengejek.


Mark semakin geram. Di langsung pergi dari kamarnya meninggalkan Shita. Sedang Shita merasa puas melawan tuan muda yang sombong itu. Merasa yakin Mark sudah pergi, Shita tersenyum bahagia. "Akhirnya, aku tidak perlu bertemu makhluk-makluk dingin itu," gerutu Shita begitu senangnya. Dia segera melangkah menuju box yang berada di sudut kamar Mark, karena isi box itu keperluan kuliahnya.


"Oke Shita, saatnya menyegarkan otakmu yang selama ini engap berkurung di rumah ini." Gumamnya.


Shita keluar dari kamar Mark, dengan wajah yang riang dan langkah kaki yang begitu semangat di menuruni satu persatu anak tangga. Terlihat di meja makan tiga orang yang menikmati sarapan mereka.


Shita melangkah mendekati meja makan, sebenarnya rasa takut menyelimuti hatinya, namun menabuh sedikit genderang perang di pagi ini sepertinya itu menyenangkan menurutnya. Dengan wajah polos tanpa rasa malu dan tanpa merasa bersalah, Shita mendekati meja makan.


"Ku bilang sana pergi! Kau tak boleh sarapan bersama kami!" Bentak Mark.


Shita menadahkan tangannya ke arah Mark. "Minta uang!" Ucap Shita begitu polos.

__ADS_1


Mark menyatukan kedua alisnya mendengar perkataan Shita. "Apa?" Tanya Mark seolah tidak percaya.


"Aku perlu uang, buat sarapan dan makan siang nanti," ucap Shita begitu polos.


"Kau tidak tahu aku siapa? Kau meminta recehan padaku?!" Mark mulai emosi.


"Tau, kau laki-laki yang menikahiku, makanya kau yang menanggung kebutuhanku, sini! Bagi duit!" Seru Shita sambil menggerakkan telapak tangannya yang masih menadah.


Shima dan Randha menahan tawa mereka, melihat kelakuan Shita dan reaksi wajah Mark.


"Tanganku pegal, ternyata kau miskin, beri aku uang buat jajan saja tidak bisa," rengek Shita.


Mark menarik nafasnya begitu kasar.


"Kau bilang aku tidak boleh makan bersama kalian, tapi kasih aku uang buat jajan aja, kamu nggak mampu, nasib! Huh, ya sudah, aku ambil ini saja," seru Shita. Dia mengambil serbet makan yang masih berlipat, lalu dia buka dan memasukan beberapa potong roti dan menumpahkan selai dengan asal, lalu menggulungnya dengan serbet makan itu agar mudah membawanya.


Mark, Shima dan Randha menganga melihat kelakuan Shita.


"Permisi aku berangkat dulu," seru Shita begitu polosnya.


"Hei! Kau jangan membuatku malu!" Teriak Mark.


"Kau sendiri yang mempermalukan dirimu tuan muda! Masa nggak mampu kasih istri uang dan sarapan!" Jawab Shita yang terus berjalan tanpa menghiraukannya.


"Didd--dia!" Mark sangat geram melihat polah Shita.


"Mama, aku berangkat," seru Shima sambil mencium pipi Randha, dia tidak sanggup lagi menahan tawanya. Setelah membalikkan tubuh membelakangi Mark, Shima melepas tawanya, namun masih dia tahan agar tidak mengeluarkan suara.


Sedang Randha hanya bisa menahan nafas, agar tawanya tidak lepas, selama ini tidak ada orang yang berani membuat wajah Mark sekesal barusan. Hanya di tadah minta uang istrinya, Mark begitu kesal.


"Wanita seperti apa yang aku nikahi, berani-beraninya minta uang seperti itu." Gerutu Mark sambil menggigit rotinya begitu kasar.


"Kau sudah kasih dia kartu debit?"


Pertanyaan Randha membuat Mark mematung, mulutnya menganga, seketika roti yang dia kunyah keluar jatuh dari mulutnya. "Sial! Kenapa aku ceroboh! Harusnya dari awal aku kasih dia kartu debit, agar dia tidak menadah padaku, apa-apaan aku ini!" Mark mengutuki dirinya karena kecerobohannya.


"Bukan salah dia meminta uang, salahmu karena kau tak memberi dia lebih dulu," seru Randha sambil me lap bagian mulutnya dengan tisu. Dia segera pergi dari meja makan.


Mark melempar roti yang dia pegang ke piringnya begitu kasar. "Sial! Aku sendiri yang mempermalukan diriku ini." Gerutu Mark.


***


Sedang di luar rumah wajah Shita nampak sangat ceria, melakukan kebodohan barusan membuatnya sangat bahagia, namun senyuman itu mendadak hilang, saat melihat seorang laki-laki berdiri di samping pintu mobil yang sudah terbuka.


"Selamat pagi nona muda," sapanya.


"Selamat pagi juga Gimar!" Seru Shita dengan mamasang senyumannya.


"Apa itu?" Gimar menunjuk yang Shita pegang.


"Oh ini, ini sarapanku, ternyata tuan mudamu itu miskin, masa sarapanku saja di bungkus serbet makan, apa dia tidak mampu beli kotak makan?" Seru Shita sambil berlalu, dia masuk kedalam mobil, duduk manis di sana, membuka serbet makan itu, lalu mulai menikmati rotinya.


Gimar masih bingung dengan ungkapan Shita, namun dia segera menutup pintu mobil. Dia segera masuk kedalam mobil, menghidupkan mesin mobilnya dan perlahan meninggalkan halaman luas rumah Mark dan keluar dari pintu pagar yang menjulang tinggi tersebut.


"Astaga! Aku lupa bawa minum, Gimar tolong mampir di minimarket dan belikan aku minuman!" Seru Shita.


"Apa?" Seru Gimar sambil menginjak rem mobilnya.


"Astaga main rem mendadak, untung sarapanku tidak jatuh." rengek Shita.


"Kenapa anda sarapan di mobil? Dan kenapa juga---" Gimar heran dengan nona mudanya.

__ADS_1


"Tuan mudamu itu tidak memberiku uang dan tidak mengizinkan aku sarapan di rumahnya. Aku ambil roti sarapan di jalan, apa salahku? Aku lupa bawa air minum, nah kamu belikan air buatku, atau aku mati keselek di dalam mobil ini, kalau aku mati di sini bersamamu, aku yakin kariermu akan hancur seketika!" Seru Shita.


"Bayak bicara!" Gimar mendengus kesal. Baru kali ini dia merasa di permainkan oleh majikannya. Dia melanjutkan kembali tujuannya, saat menemukan minimarket, dia membelikan air mineral untuk Shita.


__ADS_2