Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda

Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda
Bab 60 Menghilangkan Jejak


__ADS_3

Setelah memindahkan Shita ke kamar tamu, Abi langsung mengamankan mobil Shita. Dia mengeluarkan mobilnya dari garasi dan memasukan mobil Shita, setelah itu dia tutup mobil itu dengan bermacam benda. Abi kembali masuk kedalam rumah.


"Kamu sedang apa? Tanya Jane, dia heran melihat Abi menggeledah tas Shita.


"Mencari ponsel Shita," jawab Abi.


"Untuk apa?"


"Mark pasti akan melacak Shita dari ponsel ini, aku harus menghilangkan jejak Shita," jawab Abi.


"Kau benar sayang," rengek Jane.


"Jangan biarkan Shita keluar rumah, katakan padanya kalau Mark mengarahkan seluruh kekuasaannya untuk mencari dia, hanya di sini tempat aman yang tidak di ketahui oleh Mark."


"Iya sayang, aku akan pastikan Shita tidak pergi kemanapun."


Setelah mendapatkan ponsel Shita, Abi segera keluar rumah, dia memikirkan satu tempat untuk menyembunyikan ponsel itu.


Lama membelah jalanan, akhirnya Abi sampai di rumah kecil yang dulu menjadi tempat tinggal Shita. Karena masih malam, keadaan sangat sepi. Perlahan Abi merusak kunci rumah itu, setelah berhasil, Abi masuk kedalam dan meninggalkan ponsel Shita di sana, selesai dengan tujuannya. Abi segera kembali kerumahnya.


Suasana jalan nampak ramai, bahkan mobil polisi juga ikut patroli di jalanan. Abi memelankan laju mobilnya. Karena salah satu polisi lalu lintas memintanya berhenti. Abi langsung membuka kaca mobilnya dan memberikan kelengkapan surat berkendaranya.


Karena tidak ada masalah polisi itu mempersilahkan Abi untuk melanjutkan perjalanan.


"Ada apa pak? Kenapa patroli menjelang subuh begini?" Tanya Abi.


"Ini instruksi langsung dari tuan muda Emanuel Group, karena istrinya kabur, seluruh kota ini sudah kami jaga, dan sekarang tuan muda itu mulai menelpon keamanan wilayah lain, untuk memperluas pencarian istrinya. Kalau anda melihat nona muda ini," polisi memperlihatkan foto Shita. "Tolong hubungi kami, biar kita semua bisa tenang kembali." Seru polisi itu.


Abi hanya tersenyum, dia meneruskan kembali perjalanannya. Setelah berkendara cukup jauh, Abi langsung mengirim pesan pada Jane.


[Jane, aku tidak langsung pulang kerumah kita, aku pulang kerumah kecil dulu, aku takut orang-orang suruhan Emanuel Group mengikutiku.]


Tidak lama Abi mendapat pesan balasan dari Jane.


[Iya aku mengerti, jaga dirimu.]


Abi meneruskan perjalanannya, menuju rumah kecil, di mana rumah itu alamat yang dia berikan pada Gimar. Yang Abi pakai sebagai Kantornya, jika Gimar berkunjung.


Sesampai di rumah, Abi langsung masuk dan memejamkan matanya. Namun baru merapatkan kelopak matanya, poselnya kembali berdering. Terlihat di layar nama Gimar yang tertera.


"Ada apa Gimar? Kenapa kau menelponku? Ini masih pukul 05:00!" Gerutu Abi.


"Terjadi kekacauan." Jawab Gimar.


"Kalau berkaitan dengan tuan muda, itu pasti kacau!" Jawab Abi.


"Bukan cuma itu, Shita kabur!" Seru Gimar.

__ADS_1


"Gadis itu tidak akan berani kabur! Bukankah kalian sudah membelenggu dia?"


"Ceritanya panjang Abi, Shita sekarang hamil, dan dia pergi dari tuan muda, saat ini tuan muda sangat kacau. Isi rumah besar ini sudah berantakan karena amukannya."


"Aku harus apa?" Jawab Abi.


"Akh, aku juga bingung, sekarang aku sedang menghubungi ahlinya, untuk melacak ponsel nona muda."


"Semangat bekerja Gimar, aku tidak bisa bantu banyak, aku bukan pekerja Emanuel Group lagi. Oh, ya, kamu sudah cek tempat Ara dan orang tua Shita? Atau ke luar negri tempat Gildan?"


"Usulmu luar biasa, terima kasih Abi." Gimar langsung menutup panggilan teleponnya. Sedang Abi kembali melanjutkan tidurnya.


***


Suasana benar-benar menegangkan di rumah besar Mark, semua orang nampak ketakutan. Mark langsung masuk keruangan kerjanya mengurung diri di sana, menanti laporan orang-orang yang dia kerahkan untuk mencari Shita.


Di bagian luar.


Gimar menghampiri "Pak Iqmal, mana tuan muda?"


"Tuan muda mengurung dirinya di dalam ruangan kerjanya, sampai saat ini belum keluar." Jawab Iqmal.


Gimar berlari menuju ruang kerja Mark. "Tuan muda, kami melacak signal telepon seluler nona muda ada di rumah kecil mereka dulu!" Teriak Gimar dari balik pintu ruang kerja Mark.


Pintu itu terbuka sedikit.


Gimar sangat terkejut melihat wajah Mark, dia tidak pernah melihat Mark sekacau itu. "Baik tuan muda." Gimar segera melangkah pergi.


"Gimar, apa Shita tidak ada di rumah kedua orang tuanya?"


Gimar langsung menghentikan langkahnya. "Tidak ada tuan, kami sudah cek pagi-pagi," jawab Gimar.


Mark kembali menutup pintu ruangan kerjanya. Dia mengurung diri disana.


*****


Di rumah tinggal Jane dan Abi.


Shita mulai membuka kedua matanya. Dia melihat sosok Jane duduk di sofa sambil membaca buku.


"Pagi Shita," sapa Jane.


"Pagi kak Jane." Shita berusaha bangun. Dengan Sigap Jane langsung membantunya.


"Kamu sarapan dulu ya, setelah sarapan kamu minum vitamin dulu." Seru Jane.


"Aku tidak bisa kak," air mata Shita kembali menetes.

__ADS_1


"Lupakan Mark, kamu harus teruskan hidup kamu dan bayi kamu." Seru Jane.


"Mana suami kakak?" Wajah Shita nampak takut karena tidak melihat sosok Abi.


"Dia membuang ponsel kamu, Mark pasti akan melacak ponsel kamu, untuk mencari kamu." Seru Jane.


"Terima kasih kak." Ringis Shita.


"Iya, tapi makan dulu, kalau nggak makan aku akan telepon Mark,"


"Iya kak, aku makan." Shita langsung meraih makanan yang ada di sampingnya.


Jane dengan setia menemani Shita. Terlihat Shita sudah menghabiskan makanannya.


"Shita, untuk sementara sembunyi di sini, Mark sudah mengepung kota ini, kalau kamu keluar, Mark akan sangat mudah menemukan kamu."


"Tapi kak Jane, tidak selamanya aku bisa sembunyi di sini. Aku tidak mau merepotkan kalian."


"Urusan nanti, kita pikirin nanti juga, saat ini kamu aman sembunyi di sini, Mark tidak akan tahu tempat ini."


Shita hanya bisa menuruti usul Jane, dia benar-benar tidak bisa untuk melihat Mark. Hatinya sudah terlalu sakit.


*****


Di rumah Mark.


Mark kembali mengamuk, saat dia mendapat laporan kalau hanya ada ponsel Shita yang ada di rumah itu. Semua tempat sudah Mark cari, dari rumah Ara sampai rumah Loiz, juga rumah orang tua Jane, bahkan menggeledah Apartemen Cindy, namun Mark tidak juga menemukan Shita istrinya.


Ketenangan rumah Mark benar-benar hilang, yang ada hanya suara teriakan dan suara barang-barang yang pecah karena amukan Mark, yang menumpahkan kekesalan dan kekecewaannya.


*****


Apartemen Ara.


Ara menelpon Ana, menanyakan di mana Shita, namun Ara mendapat jawaban, kalau Shita sedang liburan dengan Shima dan Randha.


"Oh, gitu ya tante, pantas Shita nggak masuk kuliah." Seru Ara menutupi kecanggungannya.


"Iya sayang, tadi pagi Gimar datang kerumah, tante juga khawatir saat melihat Gimar datang, ternyata dia hanya memberi kabar itu." Terang Ana.


Ara terdiam, dia langsung meng akhiri panggilan teleponnya, setelah mengucapkan salam perpisahan. Ara langsung mengirim pesan pada Loiz.


[Lou, jangan kasih tau siapa-siapa Shita kabur, nanti kesehatan om Sammy terganggu, kita cari Shita nanti, aku baru tahu kalau tante Ana tidak tau kalau Shita kabur.]


Pesan jawaban dari Loiz pun masuk ke ponsel Ara.


[Okey, aku ikuti apa katamu.]

__ADS_1


Ketegangan sungguh terasa di kediaman Mark, maupun gedung Emanuel Group. Semua pekerja terasa sulit bernafas, karena kemarahan tuan muda itu bisa mengenai siapa saja.


__ADS_2