
Setelah merasa cukup berguling-guling bebas, berdua, melepas semua kerinduan. Shita dan Mark larut dalam tidur mereka.
Tidak terasa, kini sudah sore. Di ruangan dokter Andreas. Dokter kamdungan yang nantinya akan memeriksa Shita, mulai bosan menunggu.
"Ini sudah dua jam, dokter Andreas, sebaiknya besok saja." Pinta dokter kandungan itu.
"Tunggu sebentar lagi, aku sudah berjanji pada Mark," pinta dokter Andreas.
Andreas meraih ponselnya, dia langsung menelpon Mark. Namun tidak mendapat jawaban dari Mark. Beberapa kali menelpon, akhirnya panggilannya di angkat Mark juga.
"Ada apa?" Sahutan suara di ujung telepon sana.
"Kapan kau membuka kunci pintu kamarmu? Ini dokter Tedy, sudah dari tadi menunggu, dia menunggu untuk memeriksa keadaah Shita dan calon bayi kalian." Seru dokter Andreas.
"Baikah, 10 menit lagi, aku akan membawa Shita kesana. Sekalian, kami juga mau pulang, kami berdua baik-baik saja." Seru Mark.
"Baiklah, karena kau selalu benar, lakukanlah apa yang kau mau." Balas Andreas. Panggilan mereka pun ber akhir.
********
Tepat seperti yang dikatakan Mark, 10 menit kemudian dia dan Shita datang keruangan dokter Andreas. Tidak banyak bicara, dokter Andreas, langsung mengajak pasangan suami istri itu ke ruangan dokter Tedy. Dokter Tedy pun langsung melakukan pemeriksaan pada Shita. Mendengar semuanya baik-baik saja, Mark sangat lega. Selesai pemeriksaan, Mark langsung membawa istrinya pulang kerumah.
Kini Shita kembali lagi kerumah Mark, melihat siapa yang datang, Pak Iqmal langsung meminta pembantu di sampingnya agar memberi kabar pada Randha dan Shima atas kedatangan Mark dan Shita.
"Selamat malam nona muda, tuan muda." Sapa Pak Iqmal lebih dulu.
"Selamat malam juga Pak." Jawab Mark dan Shita bersamaan.
Mereka langsung melewati pak Iqmal, dan masuk kedalam rumah. Sesampai di dalam rumah, dua orang wanita tersenyum menyambut Shita dan Mark. Randha dan Shima, langsung mendekati Shita, keduanya langsung memeluk Shita.
Mark menarik Shita dari pelukan mama dan adiknya. "Hey, nanti saja lepas kangennya, izinkan istriku istirahat, kasian Mark yang tengah bertumbuh di sini karena kelelahan." Serunya, sambil memegang perut Shita yang masih rata.
Randha dan Shita hanya tersenyum.
"Pak Iqmal, tolong antarkan makan malam buat kami kekakamar," pinta Mark.
"Tapi, lebih baik kalian pindah kamar, kasian Shita turun naik tangga, kamar itu sudah bu Halia siapkan buat kalian," seru Randha sambil menunjuk kearah kamar tamu, yang ada di lantai dasar rumah itu.
__ADS_1
"Mama, calon nenek terbaik." Seru Mark, sambil mencium pipi mamanya.
Randha hanya tersenyum karena ulah Mark. Sedang Mark dan Shita, berjalan menuju kamar baru mereka.
Selesai makan malam berdua, di kamar mereka. Shita pergi mengganti pakaiannya, melihat Mark nampak santai duduk bersandar di tempat tidur, Shita langsung duduk di samping Mark yang sudah duduk di tempat tidur, Shita langsung bersandar di dada Mark.
"Kau tau? Ini adalah tempat ternyaman, yang sangat aku rindukan." Ucap Shita.
Mark hanya tersenyum, dia melingkarkan tangannya di belakang Shita. Dia juga merasa nyaman, jika Shita bermanja seperti itu padanya.
"Ayo kita tidur, aku lelah." Rengek Mark. Mereka berdua langsung berkelana kealam mimpi.
******
Tidak ada yang berbeda, matahari masih terbit dari ufuk timur, namun ada yang berbeda dari kediaman keluarga Emanuel itu, rumah itu terasa lebih hidup dari biasanya, semua orang yang menghirup udara di rumah itu merasa, udara pagi ini begitu segar, tidak seperti sebelumnya.
Mark mengerjapkan matanya, dia kaget melihat Shita tidak ada di sampingnya, di bangkit dari posisinya, dan langsung berjalan menuju kamar mandi, dia ganti baju dengan setelan kerjanya, lalu keluar dari kamar, kaki Mark melangkah menuju dapur, senyumannya merekah, saat melihat istrinya sudah cantik, terlihat Shita nampak menikmati sesuatu.
Mark langsung mendekatinya, dan memeluknya dari belakang. "Makan apa?" Bisik Mark.
Mark terus memeluk istrinya, tidak perduli dengan tatapan mata semua pekerja yang memandangi mereka. Mark mengangkat wajahnya dari ceruk leher Shita. "Kalau kalian ingin mata kalian masih pada tempatnya, keluar dari sini!"
Langsung saja para pembantu yang memasak mematikan kompor mereka dan keluar dari area dapur.
Shita menggeleng melihat kelakuan suaminya. Sedang Mark kembali menenggelamkan wajahnya di tempat favorite nya itu.
"Hari ini kau bekerja?" Tanya Shita.
"Iya, aku harus bekerja, tapi hanya sebentar, ku harap kau kuat menahan rindu karena aku tinggal."
"Dasar!" Seru Shita sambil mencubit tangan Mark yang melingkar di perutnya.
"Kenapa? Kau tidak rindu aku?" Mark melepaskan pelukannya, dan merubah arah tubuh Shita untuk menghadapnya.
__ADS_1
"Aku tidak pernah rindu padamu, yang ada kau yang selalu rindu padaku." Seru Shita.
"Kau benar, aku selalu merindukan kamu, bahkan setiap detik, aku selalu merindukan kamu." Mark mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Shita.
Di luar dapur.
Randha heran melihat para pembatu berdiri berjejer di luar dapur.
"Kenapa kalian tidak memasak!" Randha membentak.
"Tuan muda mengusir kami, nyonya besar." jawab salah satu pembantu.
Randha geram sendiri. Dia berjalan cepat ke arah dapur. "Apa kamar mereka tidak bisa digunakan? Kenapa dia mengusir para pembantu yang mengerjakan pekerjaan mereka!" Gerutunya.
"Mark Lewiz Emanuel!" Teriak Randha, yang tiba-tiba masuk ke area dapur. Membuat Mark batal mencium istrinya.
Mark tidak menjawab mamanya, dia langsung menarik Shita keluar dari area dapur. Sedang Randha menggeleng melihat kelakuan putranya itu, dia memanggil kembali para pelayan yang tadi di usir Mark. Para pelayan pun melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda.
*****
Sejak kembalinya Shita kerumahnya, kehidupan Mark terasa sempurna, hanya kebahagiaan yang dia rasa, menemani Shita, dan menikmati bersama momen kehamilan istrinya itu. Apalagi, hormon kehamilan Shita yang selalu meminta lagi dan lagi hal itu, pada Mark, membuat Mark merasa sangat di untungkan, keinginan Shita yang satu itu, dengan senang hati Mark memenuhi permintaan Shita.
Waktu terus berlalu, sesekali Mark dan Shita menginap di rumah Sammy. Berkumpul dengan kedua orang tuanya membuat Shita sangat bahagia.
Mark sangat terkejut, saat mengetahui, Abi sudah menikah dengan Jane, dia sungguh tidak menyangka, Abi dan putri profesor itu memiliki hubungan. Hubungan Mark dan Abi pun membaik. Tapi Abi tetap bekerja sendiri, dia tidak mau bekerja pada Emanuel Group. Mark tidak menentang keputusan Abi, dia menghormati pilihan Abi.
Setiap akhir pekan, Mark dan Abi bersama-sama mengunjungi makam Haka Emanuel, papa Mark. Abi sangat bahagia, akhirnya dia bisa membatu Mark kembali, menemukan jalan pulang, yang selama ini Mark tinggalkan.
Abi dan Jane, sengaja menunda untuk punya bayi, karena mereka berdua masih mengejar mimpi mereka. Sedang Ara dan Loiz, mereka masih nyaman dengan ikatan persahabatan.
Tidak terasa, karena kebahagiaan yang menyelimuti setiap orang, membuat waktu berjalan terasa begitu singkat, kini kehamilan Shita memasuki bulan kesembilan. Mark dan Shita sama-sama tegang, karena hari kelahiran anak pertama mereka semakin dekat.
Mark tidak lagi bekerja kekantor, dia hanya bekerja di rumahnya saja, sambil menemani Shita. Dia selalu setia berada di samping Shita.
Mark pasrah, karena Shita bersikeras ingin melahirkan secara Normal, padahal di ingin Shita melahirkan dengan cara Ceasar, agar bisa menentukan tanggal kelahiran anaknya.
__ADS_1
Mark dan Shita duduk di ruang tamu, Mark asyik dengan laptopnya, sedang Shita asyik memandangi Mark yang sibuk bekerja.