
Setelah puas bersenang-senang dengan Aradi villa tersebut. Mark segera mengantar Ara ke apartemennya, lalu melanjutkan kembali perjalanannya menuju kantornya. Sesampai di kantornya, Mark dengan langkah kaki yang cepat menuju lift khususnya. Tanpa menghiraukan sapaan para pegawai yang menyapanya.
"Abi!" Teriakan Mark begitu keras. Membuat pekerja yang berkegiatan di lantai itu terperanjat karena kaget mendengar teriakan Mark.
Saat yang sama Gimar tengah memberi instruksi pada beberapa pekerja yang lainnya. Dia segera berlari menuju ke arah Mark. "Selamat sore tuan muda." Sapa Gimar.
"Mana bocah pahlawan itu? Berani sekali dia menggertakku, aku yakin dia tidak akan berani pergi."
"Abi tidak menggertak, tuan muda,"
Sorotan tajam dari mata Mark terfokus pada Gimar. Meminta penjelasan yang rinci atas hal yang Gimar ucapkan barusan.
Gimar membisu, dia tidak tahu menjawab pertanyaan Mark bagaimana, juga bingung seperti apa menjelaskan pada Mark untuk mulai dari mana. Gimar menarik nafasnya begiti dalam, menahannya sebentar dan menghembuskan seketika. "Emmm Abi sudah pergi tuan muda," ucap Gimar.
"Berani sekali dia meninggalkan aku!" Teriak Mark.
"Maaf tuan muda, semua perkerjaan di sudah dia serahkan pada saya."
"Aku mau pulang, barangkali anak itu masih di rumah, dia pasti berpamitan pada mama dan pak Iqmal."
Gimar hanya menunduk, tidak tahu harus apa dan bagaimana merespon perkataan Mark.
"Gimar! Tugas kamu, pastikan adik Gildan menikah denganku, aku akan buat hidup wanita itu laksana di bibir kawah gunung merapi yang sedang erupsi. Lihat nanti, apakah dia mampu bernafas ditengah hujan abu dan uap panas dari kawah merapiku." Mark menyeringai dengan seringai jahatnya.
"Baik tuan muda, semua proses sedang berjalan, namun semua itu tetap memerlukan campur tangan anda langsung tuan muda." Gimar masih sedikit menundukkan kepalanya.
"Tidak masalah, sedikit kebohongan dan sandiwara, hal kecil bagiku." Mark langsung pergi dari gedung Emanuel Group. Tujuannya adalah rumah besarnya.
*****
Pekerja keamanan yang tengah bertugas, langsung membuka pintu gerbang yang menjulang tinggi tersebut, saat melihat mobil tuan muda mereka mendekat kearah mereka.
Mark terus melajukan mobilnya tanpa menghiraukan petugas yang memberi hormat padanya. Dia melangkah begitu angkuh, suara sepatu yang menyapa lantai rumah itu laksana bunyi pisau yang saling beradu bagi pekerja yang di lalui Mark. Entah kenapa sosok tampan itu terasa sangat menakutkan.
__ADS_1
Langkah Mark langsung terhenti, melihat mamanya nampak santai duduk di sofa tamu. "Mamaaa" Mark langsung duduk di samping ibunya yang nampak asyik melihat majalah.
"Ada apa?" Pertanyaan Randha sangat dingin.
"Mamaaa. Abi sudah kemari?"
"Sudah, dia kemari berpamitan pada mama, pak Iqmal dan Halia."
"Sial! Anak itu benar-benar pergi!" Upat Mark.
"Abi memang lebih muda darimu, tapi perhatian dia padamu seperti seorang kakak yang ingin adiknya bahagia, tapiii kamu tidak melihat bagaimana kasih sayang Abi padamu."
"Kalau dia sayang, kenapa dia pergi meninggalkan aku?"
"Hanya kamu dan Abi yang tahu, namun menurut mama, Abi sangat peduli padamu."
"Peduli?" Mark menyeringai tidak percaya dengan ucapan mamanya.
"Seseorang yang sayang, saat melihat orang yang dia sayang minum racun serangga, apakah kamu membiarkannya?" Pertanyaan Randha membuat Mark membisu.
"Akh! Lebih baik aku pergi!" Mark langsung bangkit dan berjalan meninggalkan Randha begitu saja.
"Mark!" Teriak Randha, namun sama sekali tidak di gubris lelaki itu.
Mark langsung masuk mobil, tujuannya adalah makam papanya. Dia sangat tahu, kalau Abi dalam masalah, pasti dia menghabiskan waktu di pusara ayahnya. Mark melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, suasana jalanan yang sepi memudahkannya sampai lebih cepat di pemakanam papanya.
Mark langsung melangkahkan kakinya menuju puasara papanya. Perasaan Mark terasa kacau, entah siapa anak papanya. Dia sangat jarang ke makam ini, bisa di katakan setahun sekali, itupun saat peringatan hari kematian papanya. Sedang Abi, setiap akhir pekan dia datang ke makam Haka dan membawa bunga Anyelir putih. Mata Mark membulat saat melihat bunga Anyelir putih yang masih nampak segar di makam tersebut.
"Sial! Anak itu sudah kemari," tanpa berkata sepatah kata pun Mark pergi begitu saja dari pemakan papanya. Tujuan Mark adalah apartemen mewah, tempat tinggal semua pegawai yang menjabat posiai penting di Emanuel Group.
***
Baru sampai tempat parkir, seorang petugas keamanan berlari ke arah Mark.
__ADS_1
"Permisi tuan muda, tadi tuan Abi menitipkan ini," petugas keamanan tersebut memberikan dua kunci pada Mark. Melihat tatapan mata Mark yang tidak ramah sama sekali, membuat petugas keamanan tersebut takut. "Cuma itu tuan muda, saya permisi." Ucapnya.
Mark memandangi dua kunci yang dia pegang. "Abi, kita lihat, seberapa kuat kau bertahan tanpa aku," ucap Mark. Sedang tangannya menggenggan kuat kunci yang di pegang.
Seringai licik kembali terpaut di wajah Mark saat dia mengingat sesuatu. Mark meraih ponselnya dan menelpon Gimar. Mendapat jawaban yang memuaskan dari Gimar, Mark segera tancap gas menuju sebuah tempat. Tempat yang sangat berharga bagi Abi. Yang pastinya Abi rela menukar dengan apa saja dan melakukan apa saja, demi tempat tersebut agar lepas dari genggaman Mark.
***
Di rumah tinggal Abi.
Abi baru selesai mandi, dia segera meraih ponselnya, karena ponsel itu berulang kali berdering. "Aku harus cepat-cepat mengganti nomer ini, atau hidupku nanti tidak tenang." gerutunya. Matanya langsung membulat melihat panggilan video dari tuan mudanya.
Dengan sangat terpaksa Abi menggeser icon yang berwarna hijau tersebut. Nampak wajah Mark yang begitu angkuh, ada seringai licik dari wajah itu.
"Hai Abi, kau benar-benar pergi rupanya! Tapi kau tidak berpamitan padaku!" Seru Mark yang berbicara via video call pada Abi.
Abi membisu, dia sangat hafal dimana Mark berada sekarang. Perasaan takut menyelimuti hati Abi.
"Kurasa kau sudah tau dimana aku berada bukan? Kau sangat bodoh Abi! Bertahun-tahun yang lalu aku memintamu memindah semua aset dan gedung panti asuhan ini atas namamu, tapi tidak kau hiraukan sama sekali. Tapi kebodohanmu menjadi ke untungan bagiku!" Seru Mark.
Sedang Abi masih saja membisu. Dia sangat menyesal berlama-lama mengurus balik nama panti asuhan tempat dia dirawat dulu. Kini Mark mengancam dirinya dengan panti Asuhan tersebut.
"Jika kau membiarkan rencanaku mulus, aku akan membebaskan panti ini dan membalik semua hak atas namamu, tapi … jika kau mengacaukan rencanaku, maka aku akan membuat semua penghuni panti ini, kehujanan dan kepanasan di jalanan. Ah! Sudahlah, kau orang pintar, bye" seru Mark yang langsung meng akhiri panggila videonya dengan Abi.
"Shit!" Upat Abi begitu kesal.
"Maafkan aku Jane, aku tidak bisa membantumu melindungi Shita. Biarlah Shita berkorban untuk nasib ratusan anak panti yang butuh tempat bernaung." Gerutu Abi.
*****
Shita berjalan begitu semangat, saat mengetahui papanya baik-baik saja, Shita merasa sangat lega setelah menerima telepon dari ibunya barusan. Gadis itu berjalan santai menuju halte bus. Dia harus segera pulang untuk istirahat, karena malam harinya dia butuh tenaga extra untuk bekerja nanti malam di Club malam Bo'im.
"Emmppph!" Shita tidak mampu berteriak, saat dua orang pria menangkap tubuhnya dan memasukan tubuh kecilnya dengan paksa kedalam mobil. Shita tidak bisa melawan, orang yang menyekapnya ini berbadan tegap. Seperti seorang tentara. Menurutnya.
__ADS_1
Mobil yang membawa Shita sampai di sebuah hotel mewah. Sebelum turun, mata Shita di tutup oleh orang itu. Selesai menutup mata Shita, yang lainnya langsung menggendong tubuh mungil itu.