Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda

Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda
Bab 50 Layani Aku!


__ADS_3

Bab Uhukkk! Bijaklah dalam membaca, cukup Authornya yang enggak bijak 😆😆😆😆😆


Jomblo baper, skiip aja ya 😅


*****


Shita berlari mengejar Loiz, tepat di depan lift, Shita berhasil mendahului langkah Loiz. dia berhenti di depan Loiz menahan langkah Loiz dengan posisi merentangkan kedua tangannya. "Jujur padaku tentang perasaanmu!"


Saat yang sama pintu lift terbuka. Membuat mata seseorang melotot, karena mendengar sedikit pembicaraan dua orang di depannya dan melihat pemandangan di depan matanya itu.


Mendengar suara pintu lift terbuka, mata Shita ter alih memandang ke arah Lift, wajahnya nampak terkejut saat melihat sosok Mark melotot kearahnya. Shita segera menurukan tangannya yang tadi merentang menahan Loiz.


Loiz juga memandang ke arah lift. Dia melempar senyum pada Mark. Sedang Mark berjalan santai menuju arah mereka. Tatapan tajam mata Mark pada Shita, membuat Shita semakin ketakutan. Setelah berdiri di samping Shita, Mark melingkarkan tangannya di pinggang Shita dan menarik tubuh Shita hingga menempel pada tubuhnya. Shita hanya mematung membiarkan Mark melakukan apapun yang dia mau.


"Beib, bisakah kau ikut denganku? Aku ada perlu sama kamu." Ucap Mark begitu halus sambil mendaratkan ciumannya di kepala Shita.


Astaga? Apa dia akan menghukumku karena melihatku dengan Loiz? Jerit hati Shita.


"Bisa aku pamit pada papa dan mama?" Shita berusaha santai.


Ku mohon ... izinkan aku mengucapkan salam perpisahan pada kedua orang tuaku, aku yakin setelah ini kau ingin menghabisiku. Ringis batin Shita.


"Tidak perlu, nanti kita akan kembali lagi," ucap Mark.


Kembali lagi? Huhh, sukurlah. Shita bergumam dalam hati.


Shita menarik napasnya dalam, dan menghembuskan perlahan. "Tapi nanti mama mencari aku, kalau Loiz kembali sendirian," kilah Shita


"Jangan khawatir, aku akan sampaikan kalau kau pergi dengan suami kamu," sela Loiz menyela.


"Ayoo beib." Mark menarik Shita berjalan menuju lift.


Melihat Shita dan Mark masuk lift, Loiz kembali kekamar perawatan Ara.


"Mana Shita?" Ana kaget melihat Loiz kembali sendirian.


"Dia pergi bersama suaminya," jawab Loiz.


"Oh, tante senang, melihat Shita mendapat suami yang penuh kasih sayang padanya." Ana tersenyum membayangkan Shita dan Mark.


"Tante benar, Mark terlihat sangat menyayangi Shita, perlakuannya pada Shita membuat jiwa jombloku meronta!" Keluh Loiz sambil menjatuhkan dirinya di sofa, dia duduk di samping Ana.


Ara diam mendengarkan pembicaraan Loiz dan Ana.


****


Dalam lift, Shita sangat ketakutan melihat wajah Mark yang nampak tidak ramah, walaupun dirinya menempel pada tubuh Mark, namun yang menggandeng itu seolah ingin mencabik-cabiknya di tempat yang tepat. Bulu kuduk Shita merinding.


"Ikut aku!" Suara Mark sangat menakutkan bagi Shita.


Tapi, Shita hanya diam, membuat Mark geram dan menarik paksa Shita. Dengan susah payah Shita mengimbangi langkah kaki Mark yang berjalan terlalu cepat menurutnya, sedang wajah laki-laki itu masih nampak marah.


Shita terpana melihat lantai tempatnya berada. "Lantai ini sama persis dengan lantai khusus saat pertama kali aku bertemu Gimar di Rumah Sakit lain, tempat papaku di rawat dulu." Gumam hati Shita.


"Kenapa tidak ada perawat di lantai ini?" Shita mencoba bicara.


"Karena tidak ada yang sakit." Jawab Mark ketus. Suara Mark mencerminkan yang punya diri sedang marah dan kesal.


"Kalau tidak ada yang sakit, kenapa kita kemari?"


Mark tidak menghiraukan pertanyaan Shita, mereka sampai di suatu ruangan, Mark membuka pintu itu dan langsung mendorong Shita masuk kedalam ruangan itu.


"Untuk memutilasi dirimu!" Seru Mark, sambil mengunci pintu kamar itu.


Mata Shita melotot mendengar perkataan Mark. "Apa salahku?" Ringis Shita.


Wajah Mark masih nampak tidak ramah. Dia melonggarkan dasinya dan melepas jas nya, dia melempar jas yang dia lepas kesembarang Arah.


Shita melangkah mundur melihat Mark berjalan ke arahnya. Pandangan mata Shita menyapu keadaan sekitar. "Ini Rumah Sakit apa hotel?" Shita berguman sendiri dalam hati.


Shita! Kamu bodoh! detik terakhir hidupmu, bisa-bisanya kau mengagumi keindahan di sekitar kamu! Shita memaki dirinya sendiri.


"Layani aku!" Suara tegas dari Mark membuat lamunan Shita mengagumi keindahan kamar itu buyar. Langkah mundurnya juga terhenti. Kedua mata Shita melotot.


"Aa--apa?" Shita tergagap mendengar perintah Mark.


"Kau istriku, layani aku dengan baik sebagai seorang istri!"


Sekujur tubuh Shita langsung terasa panas. "A--akku, tidak pernah dan aku tidak tau." Rengek Shita.


"Kalau kau tidak mau, aku akan memenjarakan Ara sekarang!" Bentak Mark. Mark meraih ponselnya.

__ADS_1


"Babb---baik! Aku akan menuruti permintaanmu."


Mark tersenyum, dan menyimpan kembali ponselnya. "Anak pintar," seru Mark.


"Tapi, jujur, aku belum pernah, saat kau bilang kita sudah menghabiskan malam bersama, saat itu aku mabuk, bagaimana aku tau?" Rengek Shita. Batinnya langsung kacau mendengar ancaman Mark.


"Kau belum pernah bercinta?" Mark semakin mendekati Shita. Dia berdiri di belakang Shita, menyibakkan rambut Shita yang tergerai menutupi ceruk lehernya itu, hingga dengan mudah Mark menenggelamkan wajahnya di lekuk leher Shita.


"Maafkan aku, aku belum pernah, bagaimana aku melayanimu." Shita menahan napasnya, perbuatan Mark padanya membuat darahnya seakan mendidih.


"Baiklah, kalau begitu biar aku yang melayanimu. Tapi satu hal, biarkan insting alami dalam dirimu memandumu. Ingat pembicaraan kita malam itu?" Mark yang memulai keinginannya.


Shita hanya menahan napasnya, dia bingung harus apa. Melawan hanya berdampak buruk pada Ara atau kedua orang tuanya.


"Sudah cukup aku memberimu waktu untuk bebas, kini kau harus jadi istriku yang sesungguhnya."


Mark merubah posisi Shita secara perlahan, kini posisi mereka saling berhadapan. Mark menyatukan bibir mereka, sedang Shita hanya diam, membiarkan Mark, melakukan apa yang dia mau.


Mark mengangkat tubuh Shita menuju tempat tidur, tanpa melepas cium*nnya. Dia terus melakukan apa yang dia mau.


"Kenapa dia selembut ini?" Gumam hati Shita, matanya terpejam, karena perbuatan Mark padanya


Mark memulai kegiatan utamanya, "Maafkan aku, karena ini pertama kali bagimu, pasti ini akan sangat sakit."


Shita bingung harus apa, perbuatan Mark membuat lidahnya kelu, dia hanya memandang wajah Mark yang tepat didepan matanya. Sedang Mark memandu sesuatu agar menuju tempat yang tepat.



Mark merasa kesulitan, namun dia tetap memasang senyuman manis pada Shita. Ada hal aneh yang Mark rasa, ini bukan yang pertama bagi Mark. Namun perasaan ini baru Mark rasa. Darahnya seakan mendidih, sekujur tubuhnya terasa memanas. Dia menatap lekat wajah istrinya itu.


Tubuh Shita langsung menegang, saat dia merasakan sesuatu yang aneh dari dalam dirinya, walaupun dia merasakan rasa sakit di bawah sana. Tanpa sadar dia mencengkr*m kuat bahu Mark, ketika Mark berhasil menerobos pertahanannya. Melihat reaksi tubuh Shita yang menegang, membuat Mark tersenyum kecil.


Mark menatap Shita lekat. Dia mendekatkan wajahnya. "Biarkan insting alami yang ada dalam dirimu membimbing kamu beib, lepaskan, jangan kau tahan, biarkan dia bebas." bisik Mark di telinga Shita.


Shita bungkam, perbuatan Mark membuatnya tidak bisa apa-apa lagi, tangannya masih kuat mencengkr*m bahu Mark.


Tanpa Shita sadari, air matanya juga menetes begitu saja, menahan perasaan yang campur aduk karena kegiatan mereka. Perasaan benci pada dirinya sendiri, karena menikmati semua perbuatan Mark padanya. Suara isakan tangis dari mulut Shita, menyatu dengan suara yang lain. Membuat Mark semakin semangat.


Sedang Mark, tidak perduli lagi dengan air mata Shita, kecemburuannya pada Shita, membuat dia ingin menahan gadis ini di sisinya selamanya, dengan menjadikan wanita yang meringis di bawah tubuhnya ini, menjadi istrinya yang sesungguhnya.


"Terserah padamu Shita, kau berada di sisiku dengan keterpaksaan atau kebahagiaan, tapi yang pasti, aku pastikan kamu selalu disisiku dan tidak akan kuberi kesempatan kamu pergi dari sisiku." Guman hati Mark, matanya menatap sayu wajah Shita yang mulai menikmati kegiatan mereka. Mark terus melakukan tugasnya.


"Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku, atau mengkhianatiku." bisik Mark sambil menciumi leher Shita.


***********


Mark tertidur di samping Shita, terlihat wajah itu nampak bahagia. Sedang Shita masih bingung dengan perasaannya. Shita melirik jam dinding yang ada. "Ha? Dua jam? Kami melakukan ini dua jam?" Lirih hati Shita.


Shita berusaha bangkit. "Tubuhku … kenapa sekujur tubuhku terasa remuk?" Rengek Shita, dia berjalan perlahan menuju kamar mandi.


Shita berendam dalam bathtubh. "Kenapa tubuhku selemas ini, apa Mark menyedot energiku? Apa dengan cara ini dia memperpendek umurku?" Rengek Shita.


Berendam dalam bathtubh membuatnya sedikit lebih nyaman, dia menyandarkan kepalanya pada sandaran yang ada sambil memejamkan kedua matanya.


Merasakan sentuhan tangan pada tubuhnya membuat Shita terkejut, dan refleks membuka kedua matanya. "Mark?" Gumamnya saat melihat Mark duduk di sisi bathtubh, sedang tangan Mark terus melakukan kegiatan yang membuatnya gemas.


Mark tersenyum, dia masuk kedalam bathtubh juga, memulai lagi kegiatan seperti di atas kasur.


*******


Shita berdiri di bawah pancuran air Shower, sedang Mark membantu menggosok bagian tubuh itu, namun dengan selingan yang lain.


"Apa dia ingin membunuhku pelan-pelan? Tenagaku sudah habis, kenapa dia kuaras lagi." Rengek hati Shita.


"Kau suka?" Tanya Mark.


Shita terkejut. "Hem ...." Jawab Shita sambil mengangguk.


"Sekarang kau gosok tubuhku." Perintah Mark.


"Tapi aku tidak bisa menggosok seperti kamu menggosok seluruh tubuhku." Shita berharap Mark membebaskannya dari perintah itu.


"Lakukan apa yang kau bisa." Jawab Mark.


Shita mengangkat kedua tangannya yang gemetaran, karena dia harus menyentuh tubuh Mark, perlahan Shita melakukan apa yang Mark pinta. Tangan mungil itu menggosok bagian dada dan leher Mark.


"Kau suka dengan tubuhku?" Goda Mark.


Shita diam, dia hanya fokus melakukan tugasnya.


"Kau tidak suka?! Kau lebih suka tubuh orang lain?" Bentak Mark.

__ADS_1


"Ti--tidak, saya sangat menyukai Anda." Jawab Shita gagap.


"Panggil aku beib!" Perintah Mark.


Wajah Shita nampak masam, kedua matanya juga melotot.


"Panggil aku beib di manapun!" Bentak Mark lagi.


"Iya." Jawab Shita.


"Iya Apa!"


"Iya, aku akan memanggil kamu beib," Jawab Shita.


Mark tersenyum penuh kemenangan. Dia menyudutkan Shita ke bagian tembok dekat Shower itu. Tidak bisa di hindari, Shita hampir kehabisan napas karena perbuatan Mark padanya.


***


Selesai Mandi Shita melangkah keluar, dia mulai memunguti baju yang berserakan di mana-mana.


"Jangan pakai lagi! Itu sudah kotor!" Bentak Mark.


"Terus? Apa kita hanya pakai handuk ini sepanjang waktu?" Tanya Shita.


"Tunggu sebentar, aku sudah menelpon pelayan agar mengantarkan baju ganti buat kita."


Shita duduk si sofa, Mark juga duduk di samping Shita.


"Duduk di sini." Mark menepuk p*hanya.


"Sebaiknya aku di sini saja, aku ini berat, nanti kamu cedera." Tolak Shita begitu lembut.


Melihat tatapam tajam dari Mark, Shita bangkit, dan langsung duduk di pangkuan Mark. Mark membuka handuk yang melilit. Tangannya mulai nakal. Namun, semua itu terhenti ketika mendengar suara ketukan pintu.


Shita langsung pindah, dia duduk di sofa sambil membenarkan handuknya, sedang Mark segera berjalan ke arah pintu dan membukakan pintu. Benar saja, pelayan Mark mengantarkan baju ganti buat mereka.


Setelah pelayan itu pergi, Mark langsung memberikan baju ganti pada Shita, keduanya langsung mengenakan baju mereka.


*****


Mark memandangi Shita yang tengah becermin. Dia berdiri di belakang Shita dan memeluknya dari belakang. "Terima kasih, kau sudah menjalankan tugasmu." Mark kembali menenggelamkan wajahnya di ceruk leher itu, sedang tangannya menjelajahi bagian tubuh yang lain.


Mark mengangkat wajahnya. "Kau sudah selesai?" Tanya Mark.


"Selesai apa?"


"Kalau kau sudah selesai bersiap, kalau sudah, ayo kita temui papa dan mamamu, setelah itu kita pulang." Bisik Mark.


Shita hanya mengangguk kecil. Mark menarik Shita dalam pelukannya, dia berjalan sambil menggandeng Shita.


****


Kedatangan Mark dan Shita membuat Ana canggung, apalagi melihat Shita yang nampak pucat dan kesulitan berjalan. "Kalian dari mana?" Tanya Ana mencoba mengusir kecanggungannya.


"Cuma jalan-jalan sebentar," jawab Mark.


"Bagaimana keadaan kamu Ara?" Tanya Shita.


"Aku membaik, sebentar lagi aku boleh pulang." Jawab Ara.


"Tuan muda, kenalkan, ini Loiz, sahabat Ara dan Shita sejak kecil," ucap Sammy.


Mark dan Loiz bersalaman dan saling mengenalkan diri. Mark merasa malu pada dirinya sendiri, salah mengira, sebelumnya dia kira Loiz kekasih Shita.


"Huh, untung saja aku menghukum Shita dengan meminta hak ku, bukan memarahinya karena kecemburuanku," gumam hati Mark.


Mereka menghabiskan waktu sebentar di ruangan Ara. Sedang Shita merasa risih, karena Mark tidak mau melepaskan dirinya. Tangan Mark selalu menempel di bahu Shita dan kadang di pinggul Shita.


Berulang kali Shita menurunkan tangan itu, namun percuma, Mark akan melingkarkan lagi tangan itu pada pinggul Shita, tanpa merasa malu pada Ana ataupun Sammy.


Sedang Ara, memilih membuang pandangannya ke arah lain, melihat wajah Mark, dia teringat kembali perbuatan hina nya bersama Mark.


Sedikitpun Mark tidak memberi Shita kesempatan untuk jauh dari sisinya, kemana Shita melangkah, Mark senantiasa melingkarkan tangannya di pinggul Shita, membuat tubuh Shita selalu menempel pada tubuhnya. Membuat mata yang melihatnya jadi tersenyum, merasa malu sendiri.


"Sudah malam, ayo kita pulang," ajak Mark.


Apalagi yang Shita mampu, tentu mengikuti apa kemauan Mark.


*******


Bersambung.

__ADS_1


******


__ADS_2