
Tidak terasa, seminggu sudah Shita menghilang. Sedang Mark masih di rawat di rumah sakit. Setelah Mark sadar, dia minta di pindahkan kerumah sakit miliknya, tempat Ara di rawat dulu, dia di rawat di ruangan khusus, karena ruangan khusus itu saksi bisu, pertama kali dia dan Shita bersatu. Mark merasakan aura Shita begitu kuat di kamar itu.
Namun para dokter tidak bisa berbuat banyak, Mark menolak makan dan minum obat, sedang kondisi tubuhnya kian lemah. Hanya infus yang terpasang d pergelangan tangannya yang dia biarkan, sedang penanganan medis lain, dia tolak.
Mark menatap kearah Gimar yang setia menungguinya. "Gimar, kamu apakan Cindy?" Tanya Mark. Suaranya terdengar begitu lemah.
Gimar menarik begitu dalam nafasnya, batinnya sungguh tersiksa melihat keadaan Mark saat ini. "Tidak aku apa-apakan tuan muda, hanya sedikit menggertak dia, entah sekarang dia kemana, saat pagi hari aku datang ke Apartemennya, dia sangat ketakutan, sejak itu juga dia menghilang. Bukan cuma itu sih," Gimar menggaruk telinganya yang tidak gatal.
"Aku juga memutuskan semua kontrak model dengannya." Sambung Gimar.
"Baguslah, aku kira kau melempar dia dari apartemennya."
"Sebenarnya, itu yang aku pikirkan, tapi … kupikir, aku memberi dia kesempatan satu kali lagi, kalau dia macam-macam dengan tuan muda lagi, aku tidak akan memberi dia kesempatan lagi." Jawab Gimar.
"Untuk apa tuan muda peduli pada Cindy? Dia mati bukan urusan tuan muda, lihat akibatnya, karena tuan muda perduli padanya, tuan muda kehilangan nona muda." Gerutu Gimar.
"Aku ingin seperti Shita, berbuat baik pada setiap orang."
"Tapi---" Gimar mengehentikan ucapannya, karena melihat Mark mulai memejamkam matanya.
Mata Mark yang sayu terus terpejam, karena tubuhnya yang dia biarkan lemas tanpa asupan makanan.
***
Mendengar kabar Mark sakit, Abi segera menemui Mark, dia pergi kerumah sakit, setelah berkunjung kerumah mertuanya.
Abi dan Gimar berdiri tegap disisi tempat tidur Mark, mereka berdua hanya diam memandangi keadaan Mark yang nampak kacau.
Abi nampak sedih mendengar cerita dari Mark, niat ingin menyadarkan Cindy, namun malah dia kehilangan bidadarinya, karena rencana licik Cindy.
"Aku menyentuh Cindy, di bawah kendali obat, andai aku sadar, aku tidak akan menyentuh wanita manapun, selain istriku."
Abi tetap nampak santai menyimak semua cerita Mark, dan pengakuan cinta Mark, pada wanita yang bernama Rashita itu.
"Aku baru sadar, tidak ada gunanya semua ini, aku punya segalanya, bisa berlaku apa saja, tapi aku tidak bisa menemukan istriku yang kabur!" Gerutu Mark, dia tidak bisa bersuara lantang.
"Lihat, aku mengerahkan kekuasaanku, tapi, tidak satupun yang berhasil menemukan di mana istriku." Mark terdengar sulit menyampaikan kata-katanya.
"Maafkan kami tuan muda, kami tidak bisa berbuat banyak hal." Jawab Gimar.
"Abi, kau benar, ternyata Shita adalah wanita special, wanita itu sudah mengisi hatiku, namun kebejadan ku, aku malah membuat dia pergi dariku." Ringis Mark.
"Tuan muda, sebaiknya anda makan, dan minum obat anda, kalau anda sehat, akan sangat mudah untuk mencari nona muda." Abi berusaha membujuk.
"Aku tidak akan berusaha sehat, jika kabar Shita belum aku dapatkan." Jawab Mark.
Abi dan Gimar hanya bisa diam, mereka berdua berusaha membujuk, namun Mark tetap tenggelam dalam dukanya kehilangan wanita yang sangat dia cinta.
***
Di sudut Negara yang lain.
Tidak ada yang bisa Gildan tulis pada kertas kosong yang ada di depan matanya. Bayangan Ara entah kenapa menari-manari dalam lamunannya. Tidak satu coretanpun Gildan tulis, pikirannya begitu kacau.
Gildan melepaskan pena dan pencil yang dia pegang, dia berjalan menemui Nesya istrinya.
"Beb …." Gildan memanggil Nesya.
Nesya tersenyum padanya, dan berjalan kearahnya. "Iya." Jawab Nesya.
"Bolehkah aku pulang ke Negara kita? Aku ingin menyelesaikan satu masalah lagi."
__ADS_1
"Tentu, setelah semua selesai, kembalilah, kami menunggumu."
Gildan tersenyum dan mengangguk. Gildan segera bersiap untuk kembali ke Negara kelahirannya.
***
Ara dan Loiz yang mengunjungi Ana, mereka hanya diam dan jadi pendengar yang baik, mendengari cerita-cerita Ana.
"Mulai sekarang kami akan bantu cari Shita tante." Seru Loiz.
"Terima kasih," jawab Ana begitu lemah. Dia sangat merindukan, juga sangat mengkhawatirkan Shita, terlebih saat ini Shita hamil.
Perbincangan hangat mereka langsung hening, saat melihat sosok laki-laki yang berjalan kearah mereka. Ara mematung, melihat laki-laki itu. Loiz faham akan perasaan Ara, dia memegang, dan menggenggam tangan Ara, untuk memberi semangat pada Ara.
Ara berusaha menyadarkan dirinya, karena dukungan Loiz. Dia berusaha santai saat Gildan semakin mendekat kepadanya.
Gildan langsung duduk di hadapan Ara, dia memegang tangan Ara. "Maafkan aku." Suara Gildan terdengar sangat berat.
"Aku sudah memaafkan kakak, maafkan aku juga, selama ini aku terlalu ter obsesi dengan kakak, penderitaan Shita, bukan hanya karena kak Gildan dan Kak Nesya, tapi juga karena aku." Ringis Ara.
Gildan terharu melihat keadaan dan sikap Ara yang sekarang. "Aku datang, hanya untuk meminta maaf padamu, hidup kami tidak akan pernah tenang tanpa maaf darimu."
"Teruskan hidup kaka, jaga kak Nesya." Ucap Ara, dia berusaha melengkungkan bibirnya agar membentuk sebuah senyuman. Walau hatinya masih sangat sakit, mengingat perbuatan Gildan padanya.
Gildan merasa lega mendapat maaf dari Ara. Namun dia harus bersabar, untuk mendapat maaf dari papa dan mamanya. Sangat nampak, Ana belum bisa menerima Gildan.
Dengan berat hati, Gildan kembali lagi ke bandara untuk pulang.
*****
Shita masih bersembunyi di rumah Jane dan Abi. Shita merasa tidak enak, jika selamanya dia di sini. Namun dia tidak bisa keluar dari rumah ini, keluar dari sini hanya membuat dia bertemu dengan Mark saja, apalagi saat dia melihat tayangan di televisi, Mark mencari dia kemana-mana, bahkan memberikan imbalan yang besar jika bisa memberitahu keberadaannya.
Flash back …
"Sebenarnya laki-laki itu, sebelumnya tidak mencariku saat itu sepertinya, karena dia bersama wanita yang dia cinta, andai dia mencariku, tidak ada tempat persembunyian bagiku di kota ini, aku sengaja kembali, saat ku dengar dia di khianati wanitanya."
"Sekarang dia datang padamu?" Tanya Ara.
"Iya, bahkan kami bercinta setiap malam, aku tidak menyangka kalau dia langsung mendatangiku saat aku kembali ke kehidupan lamaku."
Flash back off.
Shita menarik nafasnya begitu sulit, dadanya terasa sesak, menyadari perbuatan Mark, Cindy, dan Ara, di belakangnya selama ini. Juga menyadari, kalau Mark lah orang yang cindy ceritakan selama ini.
"Nesya … seperti apa kamu, andai kamu tidak pergi, aku dan Ara tidak akan masuk dalam pusaran masalah ini. Tapi aku juga tidak bisa menyalahkan kamu, semua ini juga kesalahan Gildan." Rengek Shita. Lamunan Shita terhenti, saat mendengar suara pintu mobil di tutup.
Shita berjalan ke arah jendela menengok siapa yang datang. Dia merasa lega, karena yang datang adalah Jane dan Gimar.
"Hai Shita," sapa Jane, saat membuka pintu dia melihat sosok Shita.
"Kak Jane," Shita balik menyapa.
"Kalian dari mana? Kenapa wajah Abi nampak muram?" Tanya Shita lagi.
"Jane baru dari rumah orang tuanya, sedang aku baru dari rumah sakit, aku menjenguk Mark, selama seminggu ini, dia tidak makan, saat ini dia dirawat di rumah sakit." Terang Abi.
Shita berusaha menyembunyikan kesedihannya, mengetahui Mark sakit. "Itu salah dia sendiri, kenapa dia tidak makan." Jawab Shita. Dia segera kembali kedalam ruangan.
Shita terus menyembunyikan kekhawatirannya. Bagaimanapun dia tidak bisa mengingkari hatinya, dia sudah terlanjur mencintai suaminya itu. Namun dia tidak bisa memaafkan Mark begitu saja. Abi dan Jane duduk di sofa di dekat Shita.
"Kak Jane, adakah tempat aman yang lain selain di sini? Aku tersiksa berkurung diri di sini." Rengek Shita.
__ADS_1
"Aku akan carikan tempat lain, tidak mungkin juga kami mengurung kamu selamanya di sini." Jawab Abi.
***
10 hari berlalu, Abi melamun duduk di sofa sambil memandangi layar laptopnya. Namun pikirannya hanya memikirkan dua orang, Shita yang tersiksa karena bersembunyi, juga keadaan Mark yang semakin hari semakin memprihatinkan. Abi bingung, dia ingin kedua orang itu bahagia dengan cara mereka masing-masing.
Abi mendapatkan ide. Dia memanggil Shita dan Jane. Untuk menyampaikan rencananya.
"Shita, kau bilang kau ingin tinggal di tempat lain kan?" Tanya Abi.
Shita tersenyum dan mengangguk.
"Aku ada ide, ada tempat yang aman, aku yakin Mark tidak akan mencarimu di sana. Tapi, untuk rencana itu, aku perlu waktu, dan kemungkinan aku tidak pulang dulu untuk menyusun rencanaku," seru Abi.
"Shita, apa kau tidak bisa tinggal di sini saja, aku senang punya teman," rengek Jane.
"Suatu saat Mark akan menemukan aku, bahaya bagi kalian berdua, jika Mark menemukan aku di sini." jawab Shita.
Jane mendengus, nafasnya terasa berat. "Kau benar Shita." Rengek Jane.
"Abi, aku ikut rencana kamu, di manapun aku rela, asal jangan sama kalian selamanya." Seru Shita
Abi mengangguk, dia langsung mengambil kunci mobil, dia pamit pada Jane dan Shita. Langkah Abi terhenti saat dia ingat sesuatu. Abi masuk kegarasi rumahnya, dia menyingkirkan benda-benda yang menutupi mobil Shita, selesai dengan kegiatannya dalam garasi, Abi langsung menuju mobilnya, dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
***
Sesampai di rumah sakit, ada Shima dan Randha yang menemani Mark. Hati Abi terasa sakit, saat melihat wajah Mark begitu pucat. Sangat jelas keadaannya kian melemah. Semua orang tidak bisa berbuat banyak, karena Mark sendiri yang menolak penanganan medis yang di berikan.
"Ada kabar baru Abi?" Pertanyaan Mark membuat Abi tersentak dari lamunannya.
"Aku punya kabar baik dan kabar buruk." Jawab Abi.
"Langsung saja Abi." Jawab Mark.
"Aku menemukan Nona muda, tapi jika aku memaksanya kembali pada tuan muda, sepertinya tuan muda akan kehilangan calon bayi kalian, nona muda kekeh tidak mau kembali, andai aku memaksa, kemungkinan nona juga kehilangan nyawanya karena---"
"Aku tidak akan memaksanya kembali padaku jika dia tidak mau." Mark langsung memotong kata-kata Abi.
"Kalau tuan muda bisa berjanji padaku, aku akan bawa nona muda ketempat yang lebih baik, namun jika suatu saat tuan muda bersikeras menemui nona muda, jika nona muda nekad, itu bukan salahku." Seru Abi.
"Bawa dia ketempat yang aman Bi, aku tidak akan mengganggunya." Jawab Mark.
"Tapi ada syaratnya." Seru Abi.
"Apalagi!" Gerutu Mark.
"Tuan muda harus sembuh dulu, baru aku akan membawa nona muda." Seru Abi.
"Apa bedanya aku sembuh dan sakit, jika Shita tidak mau kembali padaku!"
"Jika tuan muda sembuh, tuan muda bisa melihat nona muda dari kejauhan, apa tuan muda tidak mau melihat proses kehamilan nona muda, atau pertumbuhan bayi kalian? Yah … tapi dari kejauhan." Seru Abi.
"Dari kejauhan?! Aku tidak mau!"
"Kalau anda tidak mau, anda tidak akan melihat nona muda selamanya, setahuku, dia sudah keluar dari perbatasan kota." Seru Abi.
"Baiklah! Aku tidak akan mendekatinya, aku juga akan berusaha untuk sembuh, tapi awas kau jika bohongi aku!" Bentak Mark.
Abi tersenyum, akhirnya dia menemukan cara, agar Mark bisa sehat, dan Shita akan tinggal di tempat Baru. Setelah pulang dari rumah sakit, Abi melajukan mobilnya menuju rumah kecilnya, dugaan Abi tepat, anak buah Mark pasti membuntuti dirinya. Abi tersenyum penuh kemenangan, karena dia sudah tau apa rencana Mark.
"Kau tidak akan menemukan Shita, kalau kau tidak menepati janji kamu Mark!" Gerutu Abi sambil melihat mobil yang membuntutinya.
__ADS_1