Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda

Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda
Bab 57 Virus Kesombongan


__ADS_3

Sesampai rumah Mark, Shita segera menuju kamarnya, langkahnya terhenti saat melihat wajah Randha dan Shima nampak murung.


"Mama dan Shima kenapa?" Tanya Shita.


"Kami stres kaka ipar," rengek Shima.


Shita segera duduk di sofa bergabung dengan mertua dan adik iparnya.


"Sebentar lagi ulang tahun Mark, sedang mama dan Shima malam ini harus pergi keluar negri, ada urusan penting." Ucap Randha.


"Kalian urus saja urusan kalian, setelah selesai, baru kita atur untuk pesta yang tertunda, pas hari jadinya, biar aku saja yang kasih kejutan kecil, nanti aku pikirin," seru Shita.


Shima dan Randha mengangguk, menyetujui usul Shita.


***


Mark sudah menelpon Shita, kalau malam ini dia lembur. Shita, Shima, dan Randha makan malam bersama, tanpa Mark. Shita kembali meminta salad buah pada pembantunya.


"Salad buah lagi?" Shima menggeleng.


"Bolehkan?" Rengek Shita.


"Iya boleh." Jawab Randha.


Pembantu datang membawa satu mangkok ukuran meduim yang penuh dengan salad buah.


"Bi keju--" ucapan Shita terhenti ketika pembantu yang satunya membawakan keju dan parutanya.


"Sini, biar aku parut sendiri kejunya." Seru Shita.


Shima dan Randha menggeleng melihat tumpukan keju parut di atas salad buah Shita.


"Ya ampun, emang enak? Kalau kejunya over dosis gitu?" Gerutu Shima.


"Enak banget malah." Jawab Shita yang mulai menyendok salad buahnya, dia memasukan sendok yang penuh potongan buah itu ke mulutnya.


"Hemmm!" Wajah Shita menggambarkan kenikmatan yang luar biasa, karena menikmati salad buahnya.


"Aku malah eneg lihat keju sebanyak itu." Rengek Shima.


Mereka bertiga meneruskan makan malam mereka.


****


Mark pulang kerumah jam 2 dini hari, seperti biasa, rumah sangat sepi. Dia langsung melangkahkan kakinya menuju kamar. Terlihat Shita nampak nyenyak tidur di tempat tidur mereka.


Mark langsung pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Setelah selesai mandi dan mengenakan baju tidurnya, Mark segera berbaring di samping Shita. Dia bermanja di sekujur tubuh istrinya, hingga Shita terbangun karena ulah nakalnya.

__ADS_1


"Beib, baru pulang?" Tanya Shita dengan suara paraunya.


"Hem," jawab Mark, namun dia terus melakukan kegiatannya. Shita berusaha membuka kedua matanya, karena dia faham apa akhir dari kegiatan Mark.


***


Shita dan Mark sama-sama bangun kesiangan, karena kegiatan mereka tadi malam. Setelah selesai mandi bersama, Shita dan Mark langsung turun ke bawah. Di meja makan tidak ada siapapun.


"Selamat pagi tuan muda, nyonya besar dan Nona Shima sudah berangkat pagi-pagi sekali." Sapa Pak Iqmal.


"Oh iya, aku lupa kalau mama dan Shima berangkat ke luar negri. Ayo beib, kita sarapan dulu." Seru Mark.


"Pak Iqmal, boleh aku minta salad seperti kemaren?" Tanya Shita.


"Apa? Salad lagi?" Mark mendengus.


"Nona, makan sesuatu dulu baru nanti siang salad." Usul Pak Iqmal.


"Makan dulu yang ini." Mark memberikan roti tawar yang sudah dia oles selai pada Shita. Namun Shita malah menggeleng.


"Kalau kau tak mau makan ini, kau tak boleh makan salad buah!" Bentak Mark.


Dengan wajah masam Shita mengambil roti yang Mark suguhkan.


"Pak Iqmal, buatkan istriku salad buah sesuai permintaannya, dengan taburan keju parut yang menggunung bukan?" Seru Mark.


Shita tersenyum, dia mengangguk dengan semangat.


Shita memaksa mulutnya mengunyah roti itu, demi salad buah yang sangat menggugah seleranya itu.


Selesai sarapan dan mendapatkan satu wadah yang penuh salad buah. Shita dan Mark berangkat dengan mobil mereka masing-masing.


***


Shita begitu ceria menyetir mobilnya, namun teringat sesuatu, dia menepuk jidadnya. "Sial! Aku lupa tes urin aku tadi pagi!" Rengeknya sendiri.


"Gara-gara Mark, aku kelupaan." Gerutunya lagi, namun bibirnya melengkung, hingga jadi sebuah senyuman, teringat akan kegiatan pagi yang hangat bersama Mark. Shita menggeleng sendiri, jika teringat kegilaan dia dan Mark akhir-akhir ini.


***


Setelah jam kuliah ber akhir, Shita langsung menuju toko kue untuk memesan kue ulang tahun buat Mark. Selesai menentukan pilihannya, Shita langsung membayat kue tersebut. Tiba-tiba ponselnya berdering dengan nada dering yang khusus. Sambil menerima nota pembayaran bukti lunas, Shita menggeser icon berwarna hijau pada layar ponselnya.


"Iya beib." Jawab Shita.


"Kamu kuliah?" Tanya Mark


"Sudah selesia, ini aku mau pulang."

__ADS_1


"Jangan pulang, kamu temani aku ke kantor, aku rindu kamu," rengek Mark di ujung telepon sana.


"Iya," jawab Shita, setelah menutup panggilan teleponnya, satu jenis Cake menyita perhatiannya, Shita langsung membeli kue yang membuat air liurnya hampir menetes.


Dengan semangat Shita berjalan menuju mobilnya, setelah sampai mobil, Shita tidak sabar lagi, dia langsung memakan cake yang dia beli tadi.


Japanese cheesecake, Shita hampir menghabiskan separu cake itu. Merasa puas, Shita langsung menuju gedung Emanuel Group untuk menemui Mark.


***


Sesampai di pintu utama gedung itu, Shita di sambut oleh Gimar. "Selamat datang nona muda." Sapa Gimar.


Entah kenapa Shita sangat tidak suka pada Gimar. Dia berlalu begitu saja melewati Gimar.


"Nona muda, anda harus punya kartu ini untuk masuk, sebab itu saya menunggu anda di sini," seru Gimar sambil memperlihatkan satu kartu yang dia pegang.


Shita berbalik, dia melangkah mendekati Gimar, dan langsung mengambil kartu tersebut. "Terima kasih." Seru Shita. Dia kembali meneruskan langkahnya.


"Rupanya virus kesombongan tuan muda mulai menyebar pada anda, apa anda tau di mana ruangan tuan muda." Seru Gimar. Gimar tersenyum sendiri, perkataannya berhasil menghentikan langkah nona muda itu. Gimar melangkah lebih dulu, sedang Shita mengikutinya dari belakang.


Akhirnya Shita sampai di lantai tempat ruangan Mark berada. "Silahkan buka pintu itu dengan kartu itu nona muda, selamat berpetualang." Seru Gimar.


Shita tidak memperdulikan Gimar, dia langsung membuka pintu itu.


"Bahaya, ternyata virus sombong itu benar-benar menular." Gerutu Gimar yang terus berjalan menuju ruangannya.


**


Senyuman Mark mengambang, saat melihat sosok yang masuk kedalam ruangannya. Mark langsung melepas pekerjaannya, dia berjalan cepat menuju Shita. "Beib, aku kangen." Rengek Mark yang terus menghujani Shita dengan cuiman di manapun dia mau.


"Ya ampun beib, seperti nggak ketemu setahun aja." Rengek Shita, dia protes karena perbuatan Mark padanya.


"Aku nggak tau, kenapa aku rindu banget sama kamu." Rengek Mark.


Mark meneruskan pekerjaannya, tapi bukan pekerjaan kantor, tapi bekerja di sekujur tubuh istrinya, di kamar khusus yang ada di ruangan kerjanya.


Selesai bekerja sama dengan Shita, mark kembali melanjutkan pekerjaannya, sedang Shita sudah terkulai lemas dibalik selimut itu.


Entah berapa lama dia tertidur, Shita mulai mengerjapkan kedua matanya, setelah berhasil membuka lebar kedua matanya, Shita meraih baju yang ada di dekatnya, ternyata itu kemeja Mark, dia memakai kemeja itu dan melangkahkan kakinya menyusul Mark.


"Sudah bangun beib?" Sapa Mark.


Shita mengangguk dan tersenyum.


"Ayo kemari," pinta Mark sambil menepuk pahanya. Shita segera mendekat pada Mark, dan duduk di pangkuan Mark. Shita bersandar di bahu Mark, sedang Mark tetap fokus melanjutkan pekerjaan dengan laptopnya.


"Aku tunggu di sofa saja ya." Pinta Shita.

__ADS_1


"Enggak! Aku suka gini." Seru Mark.


Shita pasrah, dia tahu kalau Mark pasti menderita karena memangku dirinya. Tapi apa boleh buat, Mark yang menginginkan itu.


__ADS_2