
Shita masih duduk di pangkuan Mark.
"Ku bilang diam! Kenapa kau nakal!" Bentak Mark, karena Shita turun dari pangkuannya.
"Aku lapar." Rengek Shita.
"Oh, maafkan aku," Mark langsung meraih ponselnya, dia menelpon Gimar, untuk membelikan dia dan Shita makanan.
"Beib, ada air?" Tanya Shita.
Mark menujuk kearah lemari es mini yang ada di bawah televisi. Shita langsung membukanya, dia mengambil satu botol air mineral dingin. "Kamu mau beib?" Tanya Shita.
Mark menggeleng, dia meneruskan pekerjaannya, sedang Shita duduk di sofa menikmati Japanese cheesecake yang dia beli tadi.
"Kau makan apa?" Tanya Mark.
"Japanese cheesecake, mau?"
"Kapan kamu beli?"
"Tadi, pas aku mau kesini, mau?"
"Enggak, habiskan saja." Seru Mark. Dia kembali memandangi layar laptopnya. Sedang Shita meneruskan melahap cake nya.
Tokkk tok tok!
Suara ketukan pintu memecah keheningan dalam ruang kerja Mark. Mark segera melangkah menuju pintu, dia tidak mau Gimar melihat Shita yang nampak seksi mengenakan kemeja miliknya. Sesampai di depan pintu, Mark membuka pintunya hanya sedikit.
"Mana pesananku?" Tanya Mark langsung.
Gimar langsung memberikan yang Mark pesan.
"Terima kasih," seru Mark, dia kembali menutup pintunya.
Gimar mengerucutkan bibirnya, merasa aneh dengan tingkah Mark, baru kali ini Mark tidak mengizinkan dia masuk kedalam ruang kerja itu.
*****
Shita masih bersama Mark dalam ruangan kerja Mark, namun dia kesal, Mark malah fokos bekerja pada dirinya, hanya istirahat sebentar dengan berkasnya, lalu menyerang dia lagi dan lagi. Hingga Shita kehabisan tenaga, dia terlelap di dalam kamar khusus di ruangan itu. Sedang Mark kembali melanjutkan pekerjaannya.
Jam menunjukan jam satu malam. Mark tersenyum melihat Shita masih meringkuk di tempat tidur. Mark mendekat pada Shita. Dia kembali tersenyum, mengingat habis makan malam dia kembali menghukum istrinya itu. Mark tidak tega membangunkan Shita, akhirnya dia tidur di samping Shita, sambil memeluk wanita itu.
Jam menunjukan jam 4 dini hari, perlahan Shita membuka matanya. Dia tersenyum melihat Mark tidur di sampingnya. "Beib," bisik Shita.
"Hem," jawab Mark, dia semakin mengencangkan pelukannya.
"Aku lapar, kita pulang yukkk!" Rengek Shita.
Mark mendengus, namun dia segera bangun dan memakai pakaiannya. "Ayo, kita pulang dengan mobil kamu saja." Jawab Mark.
Setelah keduanya memakai pakaian mereka, Mark dan Shita meninggalkan kantor itu dan kembali kerumah mereka.
Sesampai di rumah Shita langsung ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya. Setelah memakai baju santainya. Tidak lupa dia memeriksa urine nya dengan testpack yang dia beli sebelumnya. Mata Shita berbinar melihat tanda positif hamil di dua testpack yang dia coba bersamaan. Senyuman terukir di wajahnya, Shita sangat bahagia menyadari kalau dirinya hamil.
Dia langsung menyimpan testpack itu, Shita segera turun ke bawah, karena tidak mampu lagi menahan perutnya yang sedang demo. Sedang Mark masih tumbang di tempat tidur.
Saat Shita kembali ke kamar, Mark sudah rapi dengan setelan kerjanya. "Tumben tidak menungguku." Seru Shita, dia langsung memeluk Mark.
"Aku harus menghukum diriku, karena aku selalu meneror dirimu. Tapi, itu di luar kemampuanku beib, aku tidak mampu menahan."
"Aku senang kok," seru Shita.
Mark tersenyum dan menarik Shita masuk kedalam pelukannya. "Terimakasih, sejak kehadiranmu, kamu memberi banyak warna dalam kehidupanku yang suram ini." Ringis Mark.
"Sebentar lagi kehidupan kita semakin berwarna beib," gumam hati Shita.
Mark melepaskan pelukannya. "Beib, kamu sarapan sendiri ya, aku harus langsung pergi," ciuman Mark mendarat di pucuk kepala Shita. Shita memgangguk dan tersenyum. Melihat Mark sudah pergi Shita langsung mengambil testpack kehamilannya tadi. Dia memilih salah satunya untuk jadikan kado ulang tahun Mark malam ini.
Selesai membuat bingkisan kecil yang isinya testpack kehamilannya, Shita langsung bersiap untuk pergi kuliah.
*********
__ADS_1
Beberapa bulan ini Cindy memata-matai Shita, hatinya semakin hancur melihat Mark benar-benar berubah, bahkan Mark tidak lagi datang ketempat hiburan. Padahal dulu, Mark selalu menghabiskan waktu di Club malam. Ternyata Mark benar-benar melepas semua wanitanya. Cindy melamun membandingkan nasibnya dan nasib Shita.
Air matanya terus menetes, dia meraih botol minuman yang ada di mini bar, lalu membawanya ke sofa, air matanya terus berlinang, dia meratapi nasibnya sambil menegak minuman langsung dari botolnya.
****
Sedang Shita, dia menjalani rutinitas seperti biasanya. Senyumnya begitu permanen melekat di wajahnya, membuat mata yang memandang ikutan tersenyum.
Lengan seseorang melingkar di bahu Shita. "Ara," rengek Shita langsung.
"Kenapa kau tau kalau itu aku," seru Ara.
"Karena bau badanmu itu tajam, seminggu ini kau tidak mandi ya?" Ledek Shita.
Wajah Ara masam mendengar perkataan Shita.
"Aku bercanda, justru wangi tubuhmu itu khas." Seru Shita. Wajah Ara langsung ceria, dia langsung memeluk sahabatnya itu.
Ara melepas pelukannya. "Kau terlihat berbeda, ada apa?" Tanya Ara.
"Nggak ada apa-apa, memangnya kenapa?" Shita balik bertanya.
"Kamu terlihat lebih segar dan lebih ceria dari biasanya," seru Ara.
"Kalau aku bahagia bagus dong." Seru Shita.
"Banget! Justru aku selalu berharap kamu bahagia selamanya."
Mereka berdua menruskan langkah mereka.
***
Sepulang kuliah Shita kembali ke toko kue, untuk mengambil kue pesanannya. Dia kembali kemobil dan melanjutkan perjalanannya untuk mencari kado lain buat Mark.
Setelah mendapat semua yang dia inginkan, Shita kembali kerumah mereka, suasana rumah terasa Sepi karena Randha dan Shima belum kembali. Shita merehatkan tubuhnya menunggu waktu yang tepat untuk memberi Mark kejutan ulang tahun malam ini, di kantor Mark nanti.
*****
Pekerjaan Mark kali ini sungguh banyak, dia fokus menyelesaikan pekerjaannya, dia sengaja membalap semua pekerjaannya, agar bisa menghabiskan waktu bersama Shita.
Di sela-sela pekerjaannya, ponsel Mark berdering, terlihat nama pemanggil Cindy, Mark mengabaikan panggilan itu. Namun poselnya terus berdering.
Mark yang sibuk dengan semua tumpukan berkas pekerjaan terpaksa harus mengangkat teleponya, karena berulang kali panggilan dari orang yang sama selalu menelpon dirinya. Mark mengangkat panggilan telepon itu.
"Ada apa? Bukankah sudah aku katakan, sudahi hubungan ini, aku benar-benar mencintai Shita, aku berhenti dari semua hobby ku, sekarang cukup Shita dalam hidupku."
Kalau kamu tidak datang sekarang, maka besok kamu hanya menemukan mayatku," seru Cindy di seberang telepon sana.
"Kamu jangan nekat!" Teriak Mark.
"Tergantung kamu, kalau kamu tidak mau bersamaku malam ini, kamu akan melihat mayatku besok hari,"
"Tolong lanjutkan hidupmu," pinta Mark.
"Aku butuh dirimu beb, bukan nasehatmu," Cindy langsung memutuskan panggilan teleponnya.
Mark panik, dia sangat mengenal bagaimana Cindy. Dia akan melakukan hal nekat, bahkan tidak takut menyakiti dirinya sendiri. Mark meraih kunci mobilnya, segera berlari meninggalkan ruangan dan lupa mengunci ruangan kerjanya.
Setelah mengebut di jalanan, Mark sampai disebuah club malam, club malam yang biasa dia datangi dengan wanita-wanitanya.
"Tuan muda!" Sapa seorang penjaga.
"Maaf, aku buru-buru,"
"Santai dulu tuan muda, selama tiga bulan ini anda tidak pernah kemari, kemana saja?"
"Maaf ya, kali ini benar-benar penting, nanti ya," Mark menepuk bahu penjaga itu dan segera berlari masuk kedalam club malam tersebut.
Mark menghampiri Cindy yang asyik dengan minumannya. Saat Cindy mengambil gelas minuman yang baru Mark merebutnya.
"Hei itu punya---" Cindy tersenyum melihat sosok Mark.
"Apa maksud kamu?" Tanya Mark.
__ADS_1
"Beib aku kangen," Cindy langsung memeluk Mark.
"Aku sudah bilang bukan tiga bulan yang lalu, kalau hubungan kita ber akhir."
"Aku gak mau, aku cinta sama kamu beib,"
"Ini bukan cinta, ini hanya …"
"Beri aku kesempatan terakhir, setelah itu aku akan berusaha pergi dari kamu, tapi aku gak janji kalau akan berhasil, setidaknya aku sudah berusaha. Cindy meraih gelasi yang berisi minuman, dia meminum minuman itu, lalu langsung menyerang langsung bibir Mark dengan memasukan minuman yang ada pada mulunya kemulut Mark.
Mark merasa aneh dengan ciuman Cindy. Dia tidak bisa bernafas, akhirnya minuman yang mengalir dari mulut Cindy masuk kerongga mukutnya.
"Apa ini?" Mark menyentuh mulutnya.
"Obat biru beib, kini kita dalam kendali si biru," wanita itu menyeringai.
"Kamu gila!" Bentak Mark.
"Iya aku gila, sekarang kamu mau melakukannya denganku, apa dengan yang lain?"
Perasaan Mark mulai aneh. "Ayo kita kekantorku saja," Mark menarik Cindy meningalkan club malam tersebut. Mereka berjalan cepat menuju mobil Mark.
"Andai jarak ke rumah lebih dekat, aku akan menumpahkan reaksi obat ini dengan kamu sayang," lirih hati Mark membayangkan Shita istrinya.
Mark mengebut di jalanan sambil menahan perasaannya yang mulai meledak ledak. Sesampai area Kantor efek obat itu semakin kuat. Keringat mulai bercucuran. Mereka berdua memasuki lift, Mark dan Cindy ber aksi liar dalm lift, keduanya melepas reaksi obat itu dalam lift. Pintu lift terbuka, mereka terus berjalan Mark menggendong wanitanya sambil memangut wanita dalam gendongan itu. Mark dan Cindy terus menempelkan bibir mereka sambil berjalan menuju ruangan Mark.
Saat yang sama Shita yang dari tadi menunggu kedatangan Mark, langsung sembunyi di salah satu sudut ruangan, menunggu Mark, dia sudah mempersiapkan kejutan ulang tahun buat Mark.
Ceklek!
Suara pintu terbuka.
Mata Shita langsung melotot melihat dua orang yang baru masuk keruangan itu.
"Beib, sampai kapan kamu membuang waktumu? aku dan Shita memiliki hubungan baik, saatnya kamu menjalani hidupmu,"
"Aku sangat cinta sama kamu Mark, aku tidak keberatan selamanya seperti ini, aku punya segalanya Mark, tapi kenapa aku tidak bisa memiliki kamu."
Mark dan Cindy semakin mendalami ciuman mereka. Tautan lidah itu terlihant sangat liar, terdengar kecapan mulut yang begitu buas.
"Beib, aku mohon tinggalin aku, jalani hidup kamu," lirih Mark.
"Tidak Mark, aku hanya ingin kamu," wanita itu menyerang bibir Mark lagi.
Rashita yang bersembunyi di sudut ruangan merasa sangat hancur melihat suaminya bersama wanita lain. Dia menutup mulutnya dengan satu telapak tanganya, agar rintihan tangisnya tidak keluar. Dia tidak menyangka, kalau Cindy dan Mark memiliki hubungan khusus
Butiran crystal begitu cepat keluar dari ujung mata Shita. Sedang di depan matanya sana dua orang begitu nampak liar. Bertaut bibir begitu buas dan melakukan kegiatan lainnya.
Mark tenggelam dalam area dada wanita itu yang sudah tersibak keluar dari tempat persembunyiannya. Menikmati kekenyalan benda di depan matanya sambil menghirup kuat aroma tubuh wanitanya dengan sangat liar, tidak dapat dihindari, suara leguhan dari mukut Cindy, keluar begitu indah, membuat Mark yang menikmati tubuh itu kian semangat. Apalagi Mark dibawah kendali obat.
Sedang di sudut gelap sana, seorang wanita berusaha menahan isak tangisnya atas apa yang dia lihat.
"Sejak kamu bisa bercinta dengan istrimu, kamu tidak datang padaku lagi," rengek Cindy.
"Aku bilang tinggalin hubungan ini beib, aku …." Mark mendesah karena perbuatan Cindy padanya.
Prakkkkk!
Suara barang-barang yang jatuh dari meja Mark, berbarengan suara jatuhnya kue ulang tahun yang di pegang Rashita. Mark menyapu meja kerjanya, hingga bersih, dia merebahkan tubuh Cindy di atas meja kerja itu dan memulai percintaan mereka.
Hati Rashita semakin terasa sakit, tidak ada per ibaratan kata yang bisa menggambarkan rasa sakitnya melihat suaminya bercinta liar didepan matanya. Suara desahan dari mulut Cindy semakin membuat hatinya terluka.
Mark mengangkat tubuh Cindy tanpa melepas apa yang sudah menempel, dia masuk kedalam ruangan pribadinya. Tanpa menutup pintu kamarnya, dan terus menumpahkan reaksi obat itu bersama Cindy.
Rashita keluar dari tempat persembunyiannya. Dia melangkah perlahan meninggalkan ruan kerja Mark, dengan airmata yang terus mengalir membasahi wajah cantiknya. Dia terus melangkahkan kakinya menuju mobilnya. Sampai mobilnya pun dia tidak sanggup melajukan mobil tersebut, dia menenggelamkan wajahnya di setiran mobil itu, menumpahkan sedikit rasa sakit hatinya.
Irama bunyi hujan yang jatuh ke muka bumi ini seakan menemani isakan tangis seorang wanita dalam mobilnya.
"Kamu jahat banget Cindy! Apa salah aku?" Ringisnya.
Shita terus menangis mengingat hal barusan, melihat Cindy dan Mark bercinta liar di depan matanya. Isakan tangis Shita terdengar amat memilukan.
[Ini cerita detailnya di epesode 1 ya 😁]
__ADS_1