Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda

Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda
Bab 11. Bukan Harapan Palsu


__ADS_3

Beberapa hari setelah acara sederhana itu, kini mereka bertemu kembali di acara perpisahan sekolah, namun keseruan itu ber akhir, karena setelah acara perpisahan, Tanny, Daniel dan Loiz juga kaka Loiz pergi ke luar negri, mereka akan menetap di sana.


Pandangan Loiz selalu tertuju pada Ara, namun Ara tidak tahu menahu dengan pandangan yang ter arah padanya.


"Jangan lupakan kami," seru Shita menepuk bahu Loiz.


"Tidak akan, aku akan tetap kasih kabar pada kalian," jawab Loiz.


Loiz, kakaknya dan kedua orang tuanya, meninggalkan negara tersebut. Semua orang melepas kepergian Loiz.


"Kak Gildan mana tante?" Tanya Ara.


Arum langsung mencubit lengan putrinya.


"Ih mama," rengek Ara.


"Ngapain kamu cari bambang?" Tanya Shita.


"Ngapain juga nanyain kamu, yang di tanya itu pasti yang tidak ada di depan mata," seru Ara.


"Sudah ah, ayo kita pulang," seru Ana.


"Ih tante jahara, pertanyaan aku gak di jawab," rengek Ara. (Jahara\=ungkapan kata jahat dalam bahasa alai)


"Gildan ada pekerjaan sayang, Gildan harus punya kerja, biar istrinya nanti nggak makan batu," seru Ana.


Ara tersenyum sendiri, bahagia mengetahui Gildan mencari usaha untuk mereka nanti.


"Ayuk pulang," seru Ana.


Mereka semua pulang ke kediaman masing-masing.


****


Di kediaman Nesya.


"Kamu yakin dengan keputusan kamu Nesya?"


"Sangat yakin papa, maafkan aku, aku sangat mencintai laki-laki itu," air mata Nesya bercucuran, dia menagis di hadapan kedua orang tuanya, mengakui rasa cintanya pada Gildan, juga menceritakan rencananya.


"Jika itu yang membuat kamu bahagia, kita semua pergi, biar orang kepercayaan papa yang menjalankan semua bisnis papa," seru Jamiel.


"Tidak perlu papa, cukup aku saja yang pergi,"


"Tidak Nesya, kita semua akan pergi, papa ikuti kemauan kamu, papa, mama akan selalu bersama kamu, bagi kami, kebahagiaan kamu segalanya Nesya." Ucap Jamiel.


"Terima kasih papa," ringis Nesya, dia langsung memeluk kedua orang tuanya.


"Kami sangat mengutamakan kebahagiaan kamu, andai kami tidak perduli, dari dulu kami akan memaksa kamu menikahi tuan muda itu," ucap Syaikha.


Jamiel mengurus surat kepindahannya keluar negri. Banginya keluar dari negara kekuasaan Mark ini lebih nyaman.


***


Dengan napas yang ngos-ngossan Abi berlari cepat memasuki kediaman Mark, dia segera masuk kedalam ruang kerja Mark yang ada di rumah Mark. "Selamat malam tuan muda," sapa Abi.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Mark tanpa menjawab salam dari Abi.


"Tuan muda, aku mendapat laporan, papa Nesya, pak Jamiel menjual beberapa perusahaannya, hanya tinggal beberapa saja yang tidak dia jual," Abi memberikan berkas yang dia bawa.


"Apa perusahaan Jamiel dalam masalah?"


"Tidak sama sekali Tuan muda, bahkan bisnis beliau sangat cemerlang, itu sebabnya saat dia menyatakan akan melepas, semua pengusaha berlomba membelinya," jawab Abi.


"Kamu cari tahu, jangan sampai Nesya mengalami masalah," perintah Mark.


"Nesya tidak dalam masalah Tuan muda, tapi Anda," lirih hati Abi.


"Tunggu apa lagi?" Bentak Mark.


Abi langsung pergi dari ruangan kerja Mark. Di depan pintu dia berpapasan dengan Shima.


"Selamat malam Nona muda," sapa Abi.


"Selamat malam," jawab Shima. "Ada masalah apa? Tumben kamu datang malam-malam begini?" tanya Shima.


"Jangan Kepo Nona," seru Abi terus berlalu meninggalkan Shima yang mematung memandanginya.


"Ih gak jelas," gerutu Shima yang memandangi kepergian Abi.


Shima mengetok pintu ruang kerja Mark.


"Masuk!" Seru Mark.


Shima masuk, dia melangkan santai mendekati kakak lelakinya itu. Dia duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Mark.


"Kakak, aku punya berita miring tentang Nesya, apa kakak yakin akan meneruskan hubungan dengan Nesya?"


"Apa maksud kamu?" Tatapan Mark begitu tajam, seketika menciutkan nyali orang yang dia pandang.


"Kak, aku tidak masalah jika kaka bahagia bersama Nesya, tapi yang aku dengar, Nesya selama ini menjadi simpanan beberapa pengusaha, kaka siap dengan---"


"Setelah menjadi istriku, tidak akan ada orang yang membuka aib Nesya, jika ada, aku jamin ku robek mulutnya!" Bentak Mark.


"Kalau kaka sudah tahu tidak masalah dan tidak mempermasalahkan aku lega, aku hanya takut nanti ada masalah yang timbul karena kabar buruk ini, jujur, aku sangat sakit saat orang mengatakan kaka bodoh, karena mencintai Nesya," ucap Shima.


"Apa lagi?" Tanya Mark datar.


"Tidak ada, hanya itu, aku pergi kak, selamat malam," tutu Shima, dia pergi meninggalkan Mark.


****


Di klub malam yang biasa di datangi Nesya dan teman-temannya, Nesya tengah menunggu kedatangan Gildan. Senyum Nesya langsung merekah melihat sosok yang dia rindukan.


"Beib ...." Nesya berlari kearah Gildan dan langsung memeluknya.


Gildan melepas paksa pelukan Nesya. "Lepaskan, terima kasih atas harapan palsu yang kamu berikan beberapa bulan lalu," seru Gildan.


"Ini bukan harapan palsu beib, aku benar-benar mencintai kamu beib, aku tidak memberimu harapan palsu beiby," rengek Nesya manja.


"Kamu akan menikah dengan Tuan muda itu, aku tidak mau ber urusan dengannya!"

__ADS_1


"Beib, aku menepati janjiku, kita pergi dari negara ini, aku sudah mempersiapkan semuanya, tenang … kedua orang tuaku mendukung langkah kita, impianmu juga terkabul," Nesya memberikan satu berkas pada Gildan.


Mata Gildan berbinar membaca isi lembaran-lembaran kertas tersebut. "Ini?" Gildan sangat bahagia.


"Maafkan aku, aku menghilang karena mengurus semua ini," ucap Nesya manja.


"Maafkan aku beiby, aku putus asa, aku kira kamu juga menorehkan luka yang sama pada hatiku," ucap Gildan.


"Kita tidak bisa bersama jika di negara ini, ayo kita pergi beib," rayu Nesya.


"Kapan?" Tanya Gildan,


"Malam ini, penerbangan jam 1 malam, aku tunggu kamu di bandara," seru Nesya.


"Aku akan datang," ucap Gildan.


Gildan segera pulang, dia mempersiapkan kepergiannya bersama Nesya.


***


Di rumah Gildan. Setelah memasukkan beberapa baju dalam kopernya, juga mempersiapkan surat-surat dirinya, Gildan segera memesan taksi, rumah nampak sepi, karena semua orang berada di kamar masing-masing. Gildan menaruh kopernya di depan rumah, dia mengenakan baju biasa, untuk menemui orang tuanya.


Tokkk tokk tokkk!


Gildan mengetuk pintu kamar papa mamanya.


"Ada apa Gildan?" Ana heran melihat Gildan malam-malam mendatangi kamarnya.


"Ma, aku cuma ingin ber andai-andai, andaikata aku memutuskan perjodohan ini, apa--"


"Jangan main-main sayang, semua perencanaan pernikahan sedang berjalan," Ana langsung memotong kata-kata Gildan.


"Hanya itu mah yang ingin aku tanya, agar kedepannya aku lebih hati-hati," ucap Gildan.


"Kamu bikin mama takut," ringis Ana.


"Kamu jangan macam-macam Gildan, Pram sudah menghabiskan jutaan dolar karena melepas proyeknya, kamu jangan menambah kerugian Pram lagi," seru Sammy yang bediri di belakang Ana.


"Aku mau ke kamar pah, mah," ucap Gildan.


Melihat Gildan berjalan ke arah kamarnya, Ana menutup kembali pintu kamarnya.


Gildan menengok, memastikan kalau kedua orang tuanya sudah menutup pintu. Melihat pintu kamar yang tertutup Gildan langsung lari menuruni tangga, sesampai di depan pintu, mobil taksi sudah menunggunya, Gildan menyeret kopernya dan langsung masuk ke mobil taksi tersebut.


"Bandara pak, cepat!" Pinta Gildan sambil memberikan segulungan uang pada supir taksi tersebut.


"Baik pak," jawab supir taksi, melihat uang yang lumayan banyak sebagai pembayaran, supir taksi langsung menambah kecepatan mobilnya membelah jalanan menuju bandara.


Sesampai bandara Gildan langsung menuju ruangan Vip, di sana sudah ada Neysa dan kedua orang tuanya. Gildan berkenalan ulang dengan kedua orang tua Nesya.


"Kamu mencintai Nesya?" Tanya Jamiel.


"Saya rela meninggalkan negara saya agar bisa berasama Nesya om," jawab Gildan.


Setelah semua selesai, mereka berempat pergi meninggalkan negara tersebut.

__ADS_1


__ADS_2