Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda

Terpaksa Menjadi Istri Tuan Muda
Bab 19 Mulai Bekerja


__ADS_3

Semua pelayan mulai melakukan pekerjaan mereka. Shita sangat heran melihat semua orang memakai topeng, hanya para pelayan saja yang tidak memakai topeng. Shita tersenyum, dia baru ingat kalau malam ini pesta topeng. "Bodohya aku!" Gerutu Shita sambil terus menjalankan tugasnya. Berkeliling di ruangan itu dengan membawa nampan yang berisi minuman. Dengan senyuman simpul Shita melayani pelanggan Club malam tersebut.


Pegal? Jangan di tanya, ber jam-jam keliling dengan membawa gelas atau makanan ringan. Namun dia tetap mengukir senyuman di wajahnya. Shita menjalankan tugasnya penuh semangat.


Ara yang sedari tadi berada di pangkuan Mark, merasa sesak, entah kenapa senyuman pelayan itu bagaikan pisau tajam yang menusuk ulu hatinya.


"Pelayan!" Seru Ara yang duduk di tempat yang nampak istimewa. Tentu Shita tidak mengenali dirinya karena dia pakai topeng.


Mark tersenyum melihat Ara, dia yakin wanitanya ini ingin melakukan sesuatu. Ara turun dari pangkuan Mark, dia duduk di samping Mark.


Shita berbalik dan berjalan ke arah itu dengan senyuman di wajahnya. Dia membawa nampan berisi minuman yang dia bawa sedari tadi, berjalan ke arah yang memanggilnya.


Shita mendekatkan nampan yang dia pegang pada wanita seksi yang memakai topeng tersebut. Wanita itu menyebutkan jenis minuman yang dia inginkan. Shita segera mengambilkan gelas minuman yang di maksud, dia menyodorkan gelas itu pada wanita seksi itu.


"Awww" ringis Shita, karena wanita itu menendangnya. Karena kaget dia mempertahankan keseimbangan nampan yang pegang, hingga satu gelas minuman yang dipegang dengan tangan yang satunya untuk di berikan pada tamu itu, tumpah membasahi paha putih mulus wanita itu.


"Arrrrggggg!" Rengek wanita itu manja.


Sedang Shita masih menahan rasa sakit karena tendangan wanita itu di kakinya dia menaruh gelas yang kosong pada nampannya.


"Kamu ada dendam apa dengan wanitaku!" Bentak pria yang bersama wanita seksi itu.


Shita hanya menunduk sambil memegang kuat nampan yang sedari tadi dia pegang.


"Beri dia hukuman!" Bentak laki-laki itu kepada anak buah yang mengelilingi dia.


"Biar aku aja," rengek wanita itu.


"Silahkan sayang," jawab laki-laki itu.


Wanita itu mengambil dua gelas minuman dari nampan yang Shita pegang.


Prash!


Seorang wanita bertopeng lainnya menyiramkan segelas minuman dengan kasar pada wanita yang ingin menyiram Shita.


Ara langsung menaruh dua gelas minuman yang dia pegang, ke meja yang ada di dekatnya. Dia menatap tajam wanita yang sudah menyiramnya.


"Hei!" Bentak Mark pada wanita yang berani menyiram Ara.


Keadaan menegang karena kejadian barusan. Semua tahu siapa yang berteriak itu.


"Kenapa kamu suka dengan wanita bodoh Mark! Dendam apa wanita bodohmu ini dengan pelayan yang tidak bersalah ini!" Bentak wanita yang menjadi pahlawan bagi Shita.

__ADS_1


"Hei!! Teriak Mark.


"Hei!" Teriak balik wanita yang menyiram Ara.


"Apa salah pelayan ini hingga kalian mau menghukum dia! Semua pelayan di sini lebih mulia dari wanita bodohmu itu. Tatapan tajam wanita itu pada Ara yang basah karena dia siram.


"Mereka bekerja keras untuk mencari sedikit dolar agar bisa melanjutkan hidup, sedang wanitamu itu, hanya tahu membuka pahanya tanpa menggunakan otaknya!" Bentak wanita yang berani pada Mark.


Mark menarik topeng wanita itu, hingga dia bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas. "Waw, putri profesor Jecco ternyata," gerutu Mark setelah melihat wajah wanita yang berani berteriak padanya.


Sedang Shita sedari tadi hanya menunduk, dia tidak melihat wajah wanita yang membelanya.


"Seret mereka berdua!" Perintah Mark.


"Biar aku saja!" Seru Abi yang baru datang. Abi langsung menyeret dua wanita itu sekaligus.


Mark dan wanitanya menatap tajam kepada dua wanita yang di seret paksa Abi.


"Kamu puas Ara sayang?" Tanya Mark.


"Puas apa? Lihat aku basah!" Rengek Ara.


Mark mengambil gelas minuman lagi, dia menyiramkan minuman itu ke kepala Ara. Hal itu membuat Ara kaget, namun perlakuan Mark yang menjil*t setiap tetesan yang berjatuhan itu dari samping telinga Ara, membuat Ara bungkam.


"Kita lanjut pesta lagi," bisik Mark di telinga Ara sambil menggigit lembut daun telinga Ara.


"Kamu kembali ke ruang istirahat kamu, kalau tuan muda dan wanitanya belum kembali, kamu jangan bekerja dulu," ucap Abi menatap tajam pada Shita.


Sedang wanita yang menolong Shita di tarik Abi menuju pintu belakang club malam tersebut. Abi dan wanita itu berada di gang yang sepi, yang berada di belakang club malam tersebut.


"Kenapa kamu cari gara-gara dengan tuan muda!" Bentak Abi sambil menghempaskan tangan wanita yang dia pegang sedari tadi.


"Aku tidak suka Ara berbuat kasar, setahu aku Ara itu sahabat Shita."


"Jane, tolong jauhi tuan muda, jangan membuat masalah dengannya, semakin kamu buat masalah semakin lama waktu yang kita butuhkan agar bisa bersama," ucap Abi.


"Aku tidak akan tinggal diam jika dia semena-mena!" Jawab Jane.


"Apa itu luapan balas dendam kamu," seringai senyuman kecil dari wajah Abi terukir


"Aku kangen," rengek Jane sambil memeluk Abi.


Abi melepaskan pelukan kekasihnya yang selama ini dia sembunyikan. "Aku sedikit menyesal karena terlambat mengenalkan kamu pada tuan besar, namun aku merasa benar karena menyembunyikan kamu, andai kita menikah lebih dulu, hatiku akan sangat sakit meninggalkan istriku ini demi tuan muda itu."

__ADS_1


"Tapi apa daya, ayah tuan muda itu berjasa besar dalam hidupku, aku hanya bisa patuh Jane, tolong mengerti aku,"


Jane tersenyum dan mencim pipi kanan dan kiri Abi.


"Aku beruntung bisa mengenal kamu dan dicintai kamu," seru Jane.


"Tapi tidak beruntung, karena kita belum bisa bersama di tengah orang banyak," seru Abi.


"Tapi … aku suka kok kucing-kucingan kayak gini,"


Abi menggeleng mendengar kata-kata Jane. "Aku sudah mempersiapkan baju buatku dan buatmu, ayo kita ganti, kita bisa ikut pesta tanpa di kenali siapapun," seru Abi.


Abi dan Jane berjalan menuju mobil Abi, setelah mengganti pakaian, mereka berdua kembali lagi ke pesta topeng dan ikut berpesta di dalam sana.


***


Pesta terus berlangsung, sedang Shita melanjutkan pekerjaan di bagian dapur. Dia tidak di izinkan Bo'im keluar atas permintaan Abi, karena wanita Mark ingin mengganggu Shita.


"Selamat malam Shita," sapa seorang wanita yang datang mendekati Shita.


"Kak Jane!" Shita sangat kenal wanita itu, dia kakak tingkat sekolahnya dulu.


"Senang bertemu kembali denganmu," Jane langsung memeluk Shita.


Jane melepaskan pelukan mereka. "Apa yang terjadi pada kamu? Kenapa kamu menjadi pelayan? Dan kenapa kamu belum masuk ke fakultas yang kamu datangi waktu itu?" Tanya Jane.


"Kami dapat musibah, perusahaan papa tiba-tiba bagkrut, sekarang papa masih di rumah sakit, jangankan kuliah kak, cukup untuk biaya hidup kamu sudah sangat beruntung, ini sebabnya aku bekerja jadi pelayan," jawab Shita.


"Ya ampun Shita, anak cerdas seperti kamu harus mengubur mimpimu, aku tidak akan diam saja, aku akan membantu kamu mengejar mimpi kamu," ucap Jane semangat.


"Nggak usah repot-repot kak, aku bahagia kok walau kayak gini," ucap Shita dengan mengukir senyuman manis di wajahnya.


"Tapi aku tidak, semoga aku bisa membantu kamu Shita, aku pulang dulu, sampai jumpa," seru Jane.


"Kak Jane!" Shita memanggil Jane.


Jane berbalik ke arah Shita. "Iya," jawab Jane.


"Tidak jadi, aku kira kakak penolong aku tadi, tapi pakaian kakak beda,"


"Kamu orang baik Shita, dimanapun pasti ada orang yang akan menolong kamu,"


Shita tersenyum pada Jane.

__ADS_1


"Sampai jumpa," seru Jane.


Shita hanya mengukir senyuman melihat Jane yang mulai meninggalkan area dapur itu.


__ADS_2