
Shita sangat kaget, menyadari Mark melindunginya dari tembakkan. Dia menatap sayu wajah Mark yang menahan rasa sakitnya. Sedang Mark, hanya memandangi wajah Shita, dia bahagia usahanya berhasil melindungi Shita, walau peluru itu mengenai badannya.
"Mark ...." ringis Shita, bibirnya bergetar, air matanya juga terus menetes, melihat Mark tertembak karena melindungi dirinya.
Wajah Mark langsung pucat, melihat begitu banyak darah yang keluar. Sedang Shita tidak bisa menahan tangisannya.
"Mark …." Ringis Shita. Dia langsung memeluk Mark.
Sedang di depan sana keadaan langsung kacau, anak-anak panti menangis, dan beberapa pengurus panti langsung mengamankan anak-anak, juga menenangkan mereka. Tamu-tamu yang hadir juga panik, karena suara tembakan yang memecah ketenangan itu.
Ana, Ara, Loiz dan Sammy, mereka membantu Shita. Kini Shita duduk di lantai, sedang Mark bersandar di bahunya. Menunggu ambulan yang masih dalam perjalanan.
"Maafkan aku." Ringis Mark.
"Kau tidak salah, kesalahanmu hanya terlalu tampan." Ucap Shita.
Mark berusaha tersenyum, namun hal itu sangat berat.
"Aku jahat---"
Shita mencium alis Mark. "Aku memaafkanmu, aku tidak bisa marah padamu, karena aku juga mencintai kamu, ku mohon, bertahanlah."
Mark hanya menyandarkan kepalanya. Sedang Shita menahan kemarahannya pada Cindy. Hatinya terus mengutuki perbuatan Cindy.
*****
Flash back Cindy.
Saat melihat sarung senjata api milik pamannya, Cindy, langsung teringat Shita. Setelah mengetahui di mana pamannya menyimpan senjata api itu, pagi hari, saat acara tahunan panti akan berlangsung, Cindy sengaja memasak lebih awal, dia menaburkan banyak obat tidur di makanan yang akan dia suguhkan pada paman dan bibinya. Rencananya berhasil, setelah sarapan, paman dan bibi Cindy langsung bersandar di sofa tamu, karena mata mereka terasa berat, tidak lama, keduanya langsung tertidur.
Setelah memastikan keadaan paman dan bibinya, Cindy menggeledah kamar bibi Jasmine, mencari kunci laci, di mana senjata api itu disimpan. Senyum Cindy begitu lebar saat menemukan senjata api itu. Dia segera bersiap, tidak lupa dia mengambil undangan khusus milik bibinya, dia segera pergi menuju panti asuhan Emanuel Group.
__ADS_1
Sesampai di sana, Cindy bingung. Bagaimana dia melancarkan aksinya, saat melihat pelayan lalu lalang membawa minuman dan cemilan, idenya pun muncul, Cindy segera menuju ruangan yang di khususkan buat pelayan yang melayani tamu di sana, setelah mendapatkan seragam pelayan, Cindy langsung mengambil nampan yang berisi gelas minuman, dia berkeliling di tempat acara berlangsung.
Akhirnya dia bisa melihat Shita, namun Shita masih asyik bicara dengan kedua orang tuanya, juga kedua temannya. Cindy terus memantau Shita, mencari saat yang tepat, untuk menembak wanita itu.
Melihat Shita berdiri sendirian dekat jendela, hal itu sangat menguntugkan Cindy, karena sebagian besar tamu yang hadir fokus memandang ke arah panggung, menikmati pertunjukan dari anak-anak panti.
Cindy langsung mengarahkan pistol yang dia pegang ke arah Shita, dengan perasaan yang sangat bahagia, Cindy menarik pelatuk pistol yang dia curi itu. "Selamat tinggal Shita, kita lihat Mark, setelah wanita itu mati, apa kamu bisa hidup sendiri?" Gumamnya. Sambil menarik pelatuk senjata yang dia arahkan pada Shita.
Bunyi sejata api itu mengejutkan semua orang, Cindy juga terkejut, karena yang kena timah panas darinya bukan Shita, melainkan Mark. Cindy histeris, dia malah menembak laki-laki yang dia incar. "Mark!" Ringisnya.
Nampan yang dia pegang langsung terlepas begitu saja, begitu juga pistol itu. Cindy langsung lari dari tempat itu, karena keadaan mulai sangat kacau.
Flash back Cindy, off.
*****
Gimar, Abi, dan Jane, datang bersamaan dengan petugas kepolisian dan petugas kesehatan. Mereka bertiga terkejut dengan keadaan yang mereka lihat. Melihat Mark yang berdarah, Abi, Gimar, dan Jane langsung berlari kearah Mark.
"Apa yang terjadi?" Tanya mereka bertiga serentak.
"Bukan Mark, dia ingin menembakku, tapi Mark melindungiku." Ringis Shita.
Mereka tidak bisa bicara banyak hal, membawa Mark kerumah sakit saat ini lebih utama. Gimar segera meng instruksikan orang-orang Emanuel Group mencari Cindy, sedang beberapa anggota kepolisian langsung olah TKP.
Abi dan keluarga Shita, langsung mengikuti Mark yang akan dibawa kerumah sakit.
"Nona muda, sebaiknya anda ikut bersama keluarga anda, posisikan diri anda dengan nyaman, jangan terlalu tertekan, kasihan calon bayi kalian, barangkali, bayi yang sedang bertumbuh dalam kandung itu penyemangat buat tuan muda. Biar aku yang menemani tuan muda." Seru Abi.
Shita menuruti saran Abi, dia satu mobil dengan kedua orang tuanya, sedang Ara dan Loiz mengikuti dengan mobil Loiz.
Mobil Sammy dan mobil Loiz melaju cepat di jalanan, mengikuti mobil ambulan yang melaju membawa Mark, menuju rumah sakit. Mobil Ambulan melaju cepat tanpa hambatan, sedang mobil Loiz dan Sammy, jauh tertinggal.
***
Di Panti Asuhan, para petugas kepolisian sudah mengamankan pistol yang di pakai penembak, untuk menembak Mark, mereka juga mengamankan beberapa bukti lainnya. Selesai olah TKP petugas kepolisian langsung kembali kekantor mereka, untuk penyelidikan lebih lanjut.
Setelah sampai di kantor polisi, beberapa petugas lainnya, langsung melakukan tugas mereka, melacak pemilik senjata api tersebut, karena pistol itu tercatat milik kepolisian.
__ADS_1
"Lapor! Senjata api ini milik petugas yang bernama Gobby Gwesder." Seru petugas yang melacak senjata itu.
"Kalian bertiga, periksa rumah Gobby, karena petugas itu izin sakit." Perintah atasan mereka.
Tiga orang petugas kepolisian langsung menuju rumah Gobby, suami Jasmine. Setelah sampai di sana, petugas kepolisian bingung, karena tidak ada jawaban dari sana.
"Lebih baik kita lapor komandan, jika instruksi dari komandan dobrak, maka kita harus lakukan."
Salah satu dari mereka menelpon atasan mereka. Ketiga poilisi yang mendatangi rumah Gobby mendapat izin, untuk masuk kedalam rumah itu. Mereka segera membuka pintu rumah Gobby, dengan cara mereka.
Setelah ketiganya masuk, mereka mendapati Gobby dan istrinya tidak sadarkan diri. Mereka berusaha membangunkan, namun keduanya tidak tebangun. Salah satu polisi pun langsung menelpon ambulan, untuk membawa Gobby dan istrinya kerumah sakit.
*****
Di Rumah Sakit tempat Mark dirawat.
Shita masih duduk di salah satu kursi yang berjejer, menunggu penanganan medis yang di jalani Mark. Melihat Abi keluar dari ruangan itu. Shita langsung mendekati Abi.
"Bagaimana keadaan Mark?" Tanya Shita langsung, pada Abi.
Abi menggeleng. "Semoga semangatnya masih ada, harapannya untuk pulih sangat kecil." Wajah Abi nampak kecewa.
Mendengar penjelasan Abi, Shita langsung menangis. Ana berusaha menenangkan putrinya itu. Dia memeluk Shita yang terus menangis.
Seorang dokter keluar dari kamar tempat Mark medapatkan penanganan medis. "Nona Shita, tuan muda sadar, dia mencari anda, gunakan kesempatan yang sangat sedikit ini nona, waktu yang dimiliki tuan muda tidak banyak." Seru dokter itu.
Tanpa permisi pada siapapun, Shita langsung masuk kedalam ruangan Mark. Shita berjalan cepat mendekat pada Mark.
"Beib, ku mohon, bertahanlah." Ringis Shita, dia memegang erat tangan Mark.
Mark berusaha menarik bibirnya agar membentuk senyuman, tapi itu sulit. "Untuk apa aku bertahan, jika kalian pergi dariku." Ucap Mark, terdengar sangat lemah.
"Kami tidak akan pergi darimu, aku sangat---" ucapan Shita terhenti, saat melihat Mark memejamkan matanya, layar monitor juga menujukan garis lurus diiringi bunyi yang tutt yang panjang.
"Mark!!!" Teriak Shita.
Mendengar teriakan Shita, semua orang yang menunggu di luar berlarian masuk menghampiri Shita. Melihat keadaan Mark, dokter Andreas langsung meminta semuanya keluar, sedang dia dan para perawat langsung memastikan keadaan Mark.
__ADS_1