
Penyesalan selalu datang disaat ter akhir, kalau di awal namanya pendaftaran.
Cuss lanjut.
*****
Apartemen Ara.
Ara menghabiskan waktunya sendirian di apartemennya. Entah kenapa, tiba-tiba ada kekosongan dalam dirinya saat menyadari kalau Shita pasti pergi dari sisinya dan membenci dirinya. Ara memandangi dirinya di cermin, bayangan masa lalu yang begitu indah bersama Shita terbayang begitu jelas.
Air mata Ara tumpah. Menyesali perbuatannya. Selama ini Shita melakukan banyak hal untuknya, bahkan pendidikannya, andai Shita tidak membantu, pasti dia tidak akan lulus. "Shita sangat perduli padaku, dia melakukan banyak hal untukku, sekolahku, sedang aku saja tidak memperhatikan diriku sundiri." Ringisnya, menyesali semua yang sudah terjadi.
"Akkkkkrrrgggttt!" Teriak Ara, menumpahkan semua kekecewaan pada dirinya sendiri.
"Tidak ada teman sebaik Shita, tidak ada yang tulus menyayangiku seperti tante Ana dan om Sammy." Suara Ara begitu memilukan. Ara meraih botol minuman. Batinnya begitu sesak.
"Shitaaa, maafkan aku, hatiku terlalu sakit di tinggalkan oleh Gildan. Aku lupa dengan kebaikan dan semua kasih sayang kalian, juga jasa-jasa kalian padaku."
Botol minuman yang kosong berserakan di lantai. Sedang yang punya diri masih meracau tidak karuan. Tenggelam dalam duka dan penyesalannya.
**********
Di kediaman Mark.
Saat Mark keluar dari kamar mandi, Shita sudah bersih dan mengenakan setelan tidurnya, pelayan wanita yang membersihkan tubuh Shita pun sudah pergi.
Mark berjalan mendekati Shita, ternyata wanita itu masih meracau.
"Hei, kau tuan muda yang sombong itu?" Dengan susah payah untuk bangun, karena dia tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya efek mabuk. Berulang kali berusaha bangun dan hampir jatuh lagi, akhirnya dia bisa duduk di tempat tidur dengan susah payah.
"Hei, ayo kemari …." Pinta Shita dengan manjanya sambil menjentikkan jarinya ke arah Mark.
Mark tersenyum sendiri melihat tingkah Shita yang di bawah pengaruh alkohol. Dia menuruti permintaan Shita. Dia duduk di tempat tidur, wajah mereka berhadapan. Mark memandangi wajah Shita begitu lekat.
Shita menyentuh wajah Mark dengan tangannya. Mengusap wajah itu begitu lembut, membuat si punya diri tidak karuan rasa. Shita menarik sudut bibirnya, hingga terbentuk senyuman kecil di wajahnya.
"Kau sebenarnya sangat tampan, tapi kelakuanmu sangat buruk!" Shita tersenyum sambil terus mengusap lembut pipi Mark.
"Andai kau sedikiit … lebih baik, aku pasti jatuh cinta padamu, kau buruk seperti ini saja, kau mulai memasuki hatiku, eit! Aku tidak boleh jatuh cinta padamu!" Shita menempelkan dengan kasar jari telunjuknya di dahi Mark.
Mark mendengus dan tersenyum, melihat Shita bertingkah seperti itu
"Aku tidak boleh suka padamu! Kau menikahiku hanya karena Ara." Shita mendengus karena teringat Ara lagi. "Araaa aku menyayangimu, kenapa kau membenciku?" Rengek Shita. Pandangannya kosong entah kemana.
Shita menatap Mark kembali. "Kau tahu aku sangat benci kakakku si bambang itu, karena dia tidak menghargai perempuan. Coba kau bayangkan, kalau adikmu jadi mainan orang seperti kau mempermainakan banyak wanita! Bagaimana perasaanmmu? Bagaimana perasaanmu saat kau tahu adikmu hanya mainan?" Seru Shita sambil mencubit gemas hidung Mark.
Mark terdiam mencerna kata-kata Shita.
"Hormati perempuan, ingatlah, ibumu juga perempuan," Shita terus meracau tidak tentu arah. Sedang Mark mendalami kata-kata Shita barusan.
"Hei tuan muda!" Shita menampar lembut pipi Mark, membuat Mark tersadar dari lamunannya.
"Bagaimana caranya agar aku bisa mengeluarkan kamu dari otak dan hatiku?"
Mark terkejut dengan kata-kata Shita. Wajahnya terasa panas mendengar ucapan Shita.
"Sepertinya aku harus cepat keluar dari rumah ini, karena sering bersamamu, aku mulai tidak karuan rasa jika dekat denganmu."
"Apalagi, setelah kau cium aku!" Rengek Shita.
__ADS_1
Mark menggeleng melihat expresi wajah Shita."Ada baiknya juga kau mabuk seperti ini," lirih hati Mark yang terus memandangi Shita.
"Aku bodoh! Bodoh! Bodoh! Aku tidak boleh jatuh cinta padamu," Shita merem*s rambutnya. "Hei tuan muda sombong! Laki-laki bajing*n! Keluar!" Teriak Shita yang mulai meng acak-acak rambutnya sendiri.
Mark sudah tidak tahan mendengar ocehan orang mabuk ini. "Diam!" Bentak Mark.
Shita menegakkan wajahnya. "Kau galak lagi." Rengek Shita.
"Ya ampun! Kapan wanita ini diam!" Mark geram sendiri.
"Shita! Diam apa ku cium kau!" Bentak Mark.
"Cium? Sini cium aku di tempat yang benar! Kau mengambil ciuman pertamaku di toilet! Dasar otak kotor! Kau tahu kau sama kotornya dengan toilet itu!"
Mark mendengus kesal, namun melihat wajah Shita yang menantangnya untuk dicium, membuatnya semakin merasakan sesuatu yang aneh itu, dia mendekatkan wajahnya pada wajah Shita yang sengaja menantangnya. Dia pun langsung mendorong tubuh Shita, hingga wanita itu terbaring di kasurnya.
Mark mematung, dia tidak melanjutkan untuk mencium Shita. Memastikan perasaan aneh itu, namun perasaan itu kian besar, seakan meledak-ledak saat dia sedekat ini dengan Shita.
Shita mulai meracau lagi, tiba-tiba Shita bungkam, saat Mark sudah mengunci bibir Shita dengan bibirnya. Mark memejamkan matanya, mendalami pangutannya. Darahnya kian mendidih karena kegiatannya.
Mark menarik bibirnya, menatap sayu wajah Shita. "Kenapa diriku? Apa yang terjadi padaku? Kenapa gadis ini kadang membuat perasaanku damai, namun juga kadang membuat perasanku kacau." Mark tersenyum sendiri."Berbulan-bulan ini aku mencari rasa yang saat ini yang aku rasa pada setiap wanita, namun perasaan ini malah hadir saat bersama dia." Lirih hati Mark.
Mark melanjutkan cumb*annya pada Shita. Sedang Shita tidak membalas sama sekali. Mark tersenyum, dia sadar, Shita gadis yang benar-benar polos. Semakin lama cumbu*n itu semakin dalam. Tiba-tiba terdengar suara dengkuran. Mark menarik wajahnya. Ternyata wanita yang dia cium dengan ganas malah tertidur.
"Sial!" Gerutu Mark, dia kesal melihat Shita tertidur begitu saja. Mark segera berbaring di samping Shita dan memeluknya. Perasaan itu kian bergejolak. Mark tersenyum sendiri. Pertama kalinya dia tidur memeluk istri yang dia nikahi berbulan-bulan.
*****
Mentari pagi menyinari bumi kembali. Namun ada sinaran yang baru bersinar di wajah seseorang. Mark membuka matanya, senyum yang mengambang di wajahnya sangat sulit untuk di hilangkan. Satu ciuman lembut dari bibir Mark, dia daratkan di kepala Shita. Pikiran nakal tiba-tiba muncul, Mark menyeringai sendiri dia bangkit dari posisinya. Satu per satu yang melekat pada tubuh Shita dia lucuti. Hingga gadis itu tidak mengenakan apapun lagi di balik selimut itu.
"Sial! Aku hanya mengerjainya, aku malah sebahagia ini, padahal aku tidak bercinta dengannya, tapi mengapa aku sangat puas dan bahagia?" Mark bergumam sendiri.
Mark menelusuri lekuk leher Shita, ber aktivitas lama disana. Dia sengaja meninggalkan banyak tanda di bagian leher dan beberapa wilayah lainnya. Merasa puas, Mark segera bangun untuk aktivitas paginya. Sedang Shita masih terlelap dalam tidurnya. Sepajang aktivitas mandi Mark selalu tersenyum. Dia memandangi dirinya di cermin. Mark bergumam. "Apa aku harus meng akhiri semuanya?" Tiba-tiba bibirnya melengkung kembali membuat suatu senyuman di wajahnya.
Shita mulai membuka matanya. "Huahhh," dia menggeliat. Perlahan Shita bangun dan duduk bersandar di sandaran tempat tidurnya.
"Akhh! Kepalaku pusing!" Rengeknya.
"Tadi malam kau mabuk," sela Mark.
Seketika mata Shita membelalak mendengar suara Mark. Shita mengingat kejadian tadi malam, hal terakhir yang dia ingat, dia minum minuman keras bersama Cindy. Namun pikiran itu buyar saat tangannya menyentuh tubuhnya, hanya kulit sama kulit yang bertemu. Shita langsung mengintip di balik selimut itu. Perasaannya begitu kacau menyadari dirinya tidak mengenakan apapun.
"Apa yang terjadi tadi malam!?" Teriak Shita.
Mark berusaha menahan tawanya. Dia memasang wajah datarnya. "Tadi malam? Apalagi? Kau memaksaku untuk menyentuhmu, karena kau istriku, apa salahnya aku memenuhi ke inginannmu?" Jawab Mark begitu santai.
"Itu tidak mungkin! Pasti kau yang memperkosaku!" Teriak Shita.
"Di perkosa itu sakit, tadi malam kau yang mengemis dan memohon, bisa di bilang kau yang memperkosaku." Jawab Mark.
Wajah Shita nampak merah. Entah perasaan apa yang dia rasa saat ini.
"Daripada kau meminta orang lain yang memenuhi permintaanmu, lebih baik aku yang menuruti permintaanmu." Jawab Mark.
Shita merasakan bagian tubuhnya yang lain memang tidak terasa sakit, hanya kepalanya saja yang terasa pusing dan berat.
Mark berusaha kuat agar wajah sombongnya tidak tersenyum. "Sepanjang malam kau memujiku, kau selalu bergumam sepanjang percintaan kita, kau mengatakan aku ganteng dan kau bilang kau cinta padaku, apa kamu yakin jatuh cinta dengan lelaki bej*t sepertiku?"
Shita menganga mendengar penjelasan Mark. Dia meraih bantal, lalu menenggelamkan wajahnya di bantal itu. "Aku ingin mati saja!" Rengekan suara Shita tertahan oleh bantal.
Mark meninggalkan Shita di kamar itu, dia segera turun menuju meja makan untuk sarapan. Wajah Mark begitu bersinar, apalagi bibirnya selalu melengkung, mengukir senyuman indah yang menghiasi wajahnya.
__ADS_1
"Selamat pagi mama, pagi Shima." Sapa Mark, dia menarik kursinya dan langsung duduk di sana.
Sedang Shima dan Randha saling pandang. Ada yang aneh pagi ini dari Mark, menurut mereka.
Shima memberanikan diri untuk bertanya. "Mana kaka ipar?"
"Dia masih tidur, pasti dia kelelahan, biarkan saja dia tidak kuliah hari ini."
"Bu Halia," Randha memanggil pembantu kepercayaannya.
"Iya nyonya besar."
"Antarkan sarapan buat menantuku kekamarnya." Perintah Randha.
"Jangan lupa minuman segar, tadi malam dia mabuk." Seru Mark.
Halia hanya mengangguk.
Setelah selesai sarapan Mark segera masuk ke ruangan kerjanya. Sedang Shima dan Randha meneruskan kegiatan mereka.
***
Di kamar Mark.
Setelah Mark pergi, Shita melangkah perlahan menuju kamar mandi. "Aakkk!!!" Teriaknya ketika melihat bagian leher dan dadanya di penuhi bintik yang bewarna merah.
"Minuman sialan! Gara-gara aku mabuk, aku ... Aaarrgggt!" Teriaknya lagi.
Shita menyegarkan tubuhnya di bawah guyuran air Shower, sambil meratapi dirinya yang kini sudah di sentuh Mark, juga kekecewaannya pada Ara.
Setelah merasa puas, Shita segera berpakaian dan berjalan menuju meja riasnya. Dia mematung di depan cermin. Wajahnya sangat masam melihat bintik merah yang hampir memenuhi lehernya. "Mark sial*n!" Gerutunya.
Suara pintu kamar yang terbuka menyadarkan Shita dari lamunannya yang terus mengutuki Mark. Seorang perempuan paruh baya, di ikuti dua pelayan lainnya masuk kedalam kamar Mark.
"Selamat pagi nona muda," sapanya.
"Pagi semua," sapa Shita sambil melempar senyuman kecilnya.
"Nona muda sarapan dulu." Sapa Halia sambil menyiapkan sarapan di meja kecil yang ada di kamar itu. Sedang dua pelayan yang lain langsung masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih di sana.
Shita tidak bicara sedikitpun, dia menghabiskan sarapannya secepat dia bisa, membuat Halia melongo, melihat nona mudanya itu menghabiskan sarapan yang dia bawa.
"Nona muda mau kemana?" Tanya Halia saat melihat Shita meraih tas dan beberapa buku.
"Aku mau kuliah," jawab Shita.
"Kata tuan muda-"
"Aku tidak perduli apa katanya!" Jawab Shita. Dia segera meninggalkan kamarnya. Sedang Halia berjalan cepat menuju ruang kerja Mark.
***
Apartemen Ara.
Semalaman gadis itu tidak tidur, dia menghabiskan malam dengan minumannya. Wajahnya juga nampak kacau.
"Aku telah membuatmu jatuh dalam dasar neraka. Shita, maafkan aku, aku tidak bisa menarikmu keluar dari dasar yang penuh siksa itu setelah mendorongmu, tapi … akan berusaha memadamkan kobaran api itu. " Ara meraih tas dan kuci mobilnya. Dengan langkah sempoyongan Ara berusaha keluar dari Apartemennya.
***
Author masih sibuk, ini cuma Author usaha in agar Author nggak lupa ama Shita.
__ADS_1
jempolny jangan lupa.
Kalau ada waktu longgar pasti up lagi, kapan? Author pun tak tau. See you papai😘