
Tidak bisa ditahan, air mata Cindy terus mengalir, baru sadar kalau Ara adalah wanita Mark juga. Cindy masuk kedalam mobilnya dan membanting pintu mobilnya sangat keras saat menutupnya kembali.
"Kenapa! Kenapa harus ada penghalang lagi! Dulu Nesya! Sekarang Ara!" Teriak Cindy dalam mobilnya, menumpahkan semua rasa sesak di hatinya.
"Hei, Shita, Shita tidak berbahaya, kenapa aku tidak pakai Shita untuk mengusir Ara dari pelukan Mark? Wanita seperti Ara yang berbahaya, dia seperti Nesya yang bisa memenangkan hati Mark.
Cindy menghapus air matanya, dia segera menelpon Shita untuk melanjutkan rencananya.
***
Setelah berbicara dengan Cindy, Shita berlari kecil menemui Pak Iqmal.
"Ada apa Nona muda?" Sapa Iqmal.
"Pak Iqmal, tolong hubungi suami saya, tanyakan pada dia apa saya boleh keluar," pinta Shita.
"Kenapa tidak telepon sendiri Nona muda?" Ucap pak Iqmal lirih.
"Saya takut ...." ringis Shita.
Pak Iqmal segera menelpon Mark. Mendapat jawaban dari Mark, Iqmal segera menyimpan ponselnya. "Kata Tuan muda anda boleh pergi dan menginap di rumah teman Anda," terang Iqmal.
"Yeayyy!" Teriak Shita begitu girang. Sambil berlari kecil kembali ke kamarnya, Shita langsung mengirim pesan pada Cindy, untuk ketemuan di sebuah Coffee shop langganan mereka.
"Ada apa anak itu?" Tanya Randha, dia begitu heran melihat Shita begitu girang.
"Seperti biasa Nyonya besar, keinginannya di izinkan Tuan muda," Jawab Iqmal yang sambil menunduk.
Tidak terasa, bibir Randha melengkung membentuk sebuah senyuman, melihat kelakuan Shita yang begitu polos dan menggemaskan menurutnya.
****
Sampai di Coffee shop yang di janjikan Cindy, Shita menengok kanan-kiri mencari sosok teman barunya itu.
"Kita berangkat sekarang, apa nanti?" Suara yang begitu manja terdengar dari samping.
Shita memutar sedikit wajahnya, menoleh ke sampingnya.
"Kita datang kemari, ngopi dulu yukkk!" Seru Shita.
Mereka langsung memesan yang mereka inginkan.
"Eh, kita beli cake apa buat Ara?" Shita bertanya pada Cindy, setelah selesai menyedot coffe Ice miliknya.
"Aku juga bingung, kita beli kado dulu, gimana?"
"Aku setuju!" Seru Shita.
Selesai menikmati minuman mereka, Shita dan Cindy segera menuju tempat yang menjadi tujuan mereka, untuk memberi kado buat Shita.
***
Akhinya kue dan kado sudah mereka dapat.
__ADS_1
"Shita, kamu sudah izin kan? Kalau kamu menginap di tempat aku malam ini."
"Iya Cind, aku sudah izin."
"Yuk kita ke apartemen aku dulu,
Shita istirahat di Apartemen Cindy, menunggu waktu untuk memberi kejutan ulang tahun buat Ara. Mereka menghabiskan waktu dengan obrolan santai. Mereka berbaring di tempat tidur Cindy sambil membicarakan banyak hal.
"Sejak kapan kamu kenal Ara?" Pertanyaan Cindy membuat Shita tertawa.
"Lah, kok ketewa," rengek Cindy.
"Aku dan Ara sahabatan dari kecil," jawab Shita.
"Emmm ... pantas kamu deket banget sama dia, terus kenapa kamu lupa kalau malam ini ulang tahun Ara?"
"Aku nggak lupa cantik, tapi niatnya aku mau ucapin dan rayain nya besok sepulang kuliah."
"Owh ...." jawab Cindy dengan membulatkan bibirnya.
"Cind, kamu ini cantik, baik, ayolah Cind, jangan mau jadi simpanan laki-laki yang suka jajan. Mending kamu cari laki-laki yang mau berujuang sama kamu. Laki-laki yang hanya mikirin paha kamu itu, jika nanti kamu sudah tidak menarik lagi, maka dia akan pergi ninggalin kamu Cind."
Cindy mendengus mendengar ucapan Shita. "Saat ini aku punya satu lelaki saja sayang, dia tengah menjalankan ke inginannya. Setelah tujuannya terwujud, keinginannya tercapai. Aku yakin! Dia bakal nikahin aku, soalnya bertahun-tahun yang lalu, dia aku tinggal pergi. Kini kami bertemu lagi. Waktu ketemu dia, dia ngemis-ngemis gitu sama aku."
"Baguslah kalau gitu," seru Shita.
Shita menarik napasnya begitu dalam. "Aku merasa bersalah pada Ara, Ara seperti ini, pasti sakit hati karena kejadian kemaren."
Melihat wajah Shita yang nampak suram, Cindy bangun dan duduk di sampingnya dan menepuk lembut punggung Shita. "Aku juga, aku jadi j*lang seperti ini karena sakit hati, karena ditolak." Rengek Cindy.
"Sekarang kamu masih jadi pemuas nafsu orang itu?"
"Aku pergi saat dia jatuh cinta dengan wanita j*lang sepertiku. Aku sedih, dia meninggalkanku, hanya karena dia jatuh cinta. Katanya dia cinta dengan wanitanya, ternyata kesedihanku tidak sampai di situ saja, saat aku jatuh cinta lagi pada seseorang, saat aku sembunyi dari laki-laki sebelumnya. Tapi laki-laki yang baru aku cinta, dia juga meninggalkanku dengan alasan cinta, dia memilih meneruskan hubungan dengan wanitanya yang dia cinta. Huh, cinta lagi, cinta lagi." gerutu Cindy.
Keadaan hening, hanya dera napas yang terdengar.
"Sebenarnya laki-laki sebelumnya tidak mencariku saat itu sepertinya, karena dia bersama wanita yang dia cinta. Andai dia mencariku, tidak mungkin ada tempat persembunyian bagiku di kota ini, aku sengaja kembali, saat ku dengar dia di khianati wanitanya."
"Sekarang dia datang padamu?" Tanya Shita.
"Iya, bahkan kami bercinta setiap malam, aku tidak menyangka kalau dia langsung mendatangiku saat aku kembali ke kehidupan lamaku."
Shita menggeleng mendengar perkataan Cindy barusan. "Kenapa kalian begitu mudah menyerahkan tubuh kalian." Rengek Shita.
"Kau masih perawan?"
"Iya, aku sangat menjaga diriku," jawab Shita.
Cindy berusaha menahan tawanya. "Kalau Ara, sakit hati kenapa?" Tanya Cindy mencoba mengubah arah pembicaraan.
"Dulu, Ara dan kakakku Gildan akan menikah, tat--"
"Gildan? Kok aku rada tidak asing dengan nama itu." Cindy memotong kata-kata Shita.
__ADS_1
Shita mengambil ponselnya, lalu memperlihatkan foto Gildan. "Dia Gildan, kakak aku," seru Shita.
Cindy mencoba tenang saat melihat wajah laki-laki pada layar ponsel Shita. Ternyata kakak Shita laki-laki yang juga memutuskannya. "Sepertinya aku tidak kenal," Cindy mengembalikan ponsel Shita. Hatinya sedikit sakit, teringat Gildan memutuskannya, karena alasan jatuh cinta dan akan segera menikah dengan orang yang dia cinta.
"Itu kakak aku, kelakuannya sama dengan Mark, tapi aneh, kenapa para wanita mengejar mereka. Dulu Ara akan menikah dengan Gildan, namun saat pernikahan mulai di persiapkan, kakakku pergi, dia kabur dengan wanita lain."
Cindy mematung mendengari cerita Shita. "Kenapa dunia ini begitu sempit? Dulu lepas dari om ku, aku jadi mainan Mark, Mark pergi dariku karena Nesya. Lalu aku jatuh cinta pada Gildan. Tapi, Gildan malah memutuskan ku dengan alasan akan menikah, wait! Apakah Ara wanita yang membuat Gildan memutuskanku?" Gumam hati Cindy.
"Shi---" Cindy tidak jadi melanjutkan kata-katanya, saat melihat Shita memejamkan matanya.
"Gila ni anak, enak banget ya buat tidur gitu," rengek Cindy.
"Satu ayunan tongkat, dua bola yang akan melayang, satu adik Gildan, tentu Gildan akan merasa sakit jika adiknya di sakiti, yang satu wanita yang membuatku patah hati, karena Gildan meninggalkan aku karena dia. Kemudian bonusnya adalah Mark, jika aku berhasil menyingkirkan Ara dari pelukan Mark." Gumam hati Cindy.
Cindy tersenyum sendiri. Dia segera merebahkan tubuhnya dan ikut memejamkan matanya seperti Shita. "Kali ini aku akan berjuang, memperjuangakan untuk dapat cintamu Mark." Gumam batin Cindy.
*
Selesai berdandan dan mempersiapkan hal yang lainnya. Cindy dan Ara, segera menuju apartemen Ara, untuk merayakan ulang tahun Ara tersebut.
****
Dalam Apartemen Ara.
Ara tampil sangat seksi, memanjakan mata Mark. Mereka tengan berdansa di iringi musik yang romatis. Di meja tamu itu sudah tertata minuman, makanan dan cake ulang tahun Ara.
"Beib, kamu tidak memberi kado buatku?" Ucap Ara dengan nada manja. Dia mendekatkan bibirnya pada bibir Mark. Satu kecup*n dan persilatan lidah begitu dalam liar mewarnai obrolan mereka.
Mark melepaskan mulutnya dari mulut Ara. "Aku memberi kado special buatmu." Seru Mark.
"Apa itu?" Wajah Ara berbinar, penasaran dengan hadiah Mark.
Mark meraih sesuatu dari balik saku jas nya. Lalu memberikannya pada Ara. "Kebebasanmu, kamu bukan boneka s*ks ku lagi, aku membebaskanmu dari perjanjian kita." Mark sambil menyerahkan kertas perjanjian yang pernah ditanda tangani Ara.
"Oh, kau melepaskanku karena bosan padaku?" Rengek Ara.
"Bukan, hanya saja kamu berhak menjalani kehidupan normal kamu, tenang saja, aku tidak akan mengambil apapun yang sudah kamu berikan." Seru Mark.
"Kau tidak bisa membatalkan perjanjian begitu saja!" Teriak Ara.
Saat yang sama Shita dan Cindy batal masuk ke apartemen Ara, padahal pintu sudah mereka buka.
"Kau belum membuat Shita menderita! Bukankah kau sudah berjanji akan membuat Shita menderita!" Teriak Ara.
"Kau menikmati tubuhku, tapi sampai saat ini kau belum berhasil membuat Shita menderita!"
"Aku ingin Shita merasakan sakit hati dan penderitaan yang sangat pedih! Karena pengkhianatan!" Teriak Ara lagi.
Mark mulai membuka mulutnya ingin berteriak membalas Ara. "Kau!!!---" mulut Mark menganga saat melihat dua sosok berdiri di depan pintu apartemen yang mematung melihat dia dan Ara.
"Keinginanmu terkabul!" Seru Mark sambil menunjuk ke arah pintu.
Ara memutar tubuhnya menghadap Arah yang Mark tuju. Mulutnya menganga melihat Shita dan Cindy berdiri di depan pintu.
__ADS_1
***